Minggu, 29 Agustus 2021
Pendapatan Petani (skripsi dan tesis)
Menurut Hermanto ( 1994 ), besarnya pendapatan akan diperoleh dari
suatu kegiatan usahatani tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya
seperti luas lahan, tingkat produksi, identitas pengusaha, pertamanan dan efisiensi
penggunaan tenaga kerja. Dalam melakukan usaha tani, petani berharap dapat
meningkatkan pendapatannya sehingga kebutuhan hidup sehari-hari dapat
terpenuhi. Harga dan produktivitas merupakan sumber dari faktor ketidakpastian,
sehingga bila harga dan produksi berubah maka pendapatan yang diterima petani
juga berubah (Soekartawi,1990).
Menurut Gustiyana ( 2003), pendapatan dapat dibedakan menjadi dua
yaitu pendapatan usaha tani dan pendapatan rumahtangga. Pendapatan merupakan
pengurangan dari penerimaan dengan biaya total. Pendapatan rumah tangga yaitu
pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usahatani ditambah dengan pendapatan
yang berasal dari kegiatan diluar usahatani. Pendapatan usahatani adalah selisih
antara pendapatan kotor (output) dengan biaya produksi (input) yang dihitung
dalam per bulan, per tahun, dan per musim tanam. Pendapatan luar usahatani
adalah pendapatan yang diperoleh sebagai akibat melakukan kegiatan diluar
usahatani seperti berdagang, mengojek dan lain – lain. Menurut Asep Suwana ( 2007 ) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa
terdapat pengaruh yang positif dan signifikan hal- hal yang berhubungan dengan
profil petani, kelembagaan petani, ekonomi petani, serta kebijakan pemerintah
terhadapt produktivitas petani.
Soekartawi (2008), pendapatan usaha tani merupakan selisih antara
penerimaan dan semua biaya atau dengan kata lain pendapatan meliputi
pendapatan kotor atau penerimaan total dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor
atau penerimaan total adalah nilai produksi komoditas pertanian secara
keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi. Pengelolaan sumberdaya
usahatani oleh petani menyangkut pengaturan masukan, proses produksi, serta
keluaran sehingga mencapai produktivitas yang tinggi. Usaha pertanian sendiri
meliputi kegiatan – kegiatan input produksi dan output ( Uphoff, 1986). Dalam
pengeloaan faktor-faktor produksi, proses produksi, sampai dengan pengolahan
hasil diperlukan kelembagaan petani.
Menurut Bahari Ningsih (2015) pendapatan adalah penghasilan seseorang
baik berupa pendapatan utama ataupun tambahan. Sedangkan menurut Arsyad
(2004), pendapatan seringkali digunakan sebagai indikator pembangunan selain
untuk membedakan tingkat kemajuan ekonomi antara negara – negara maju
dengan negara yang sedang berkembang.
Dalam mengukur kondisi ekonomi seseorang atau rumah tangga, salah
satu konsep pokok yang sering digunakan yaitu melalui tingkat pendapatan.
Pendapatan menunjukkan hasil atau uang material lainnya yang dicapai dari penggunaan kekayaan atau jasa yang diterima seseorang dalam waktu tertentu
pada suatu kejadian ekonomi ( Winardi, 1998).
Menurut pelopor ilmu ekonomi klasik, Adam Smith dan David Ricardo,
distribusi pendapatan digolongkan dalam tiga kelas sosial yang utama yaitu
pekerja, pemilik modal dan pemilik lahan. Ketiganya menentukan tiga faktor
produksi yaitu tenaga kerja, modal dan tanah. Penghasilan yang diterima setiap
faktor dianggap sebagai pendapatan masing-masing keluarga terlatih terhadap
pendapatan nasional.
Pendapatan di dalam usahatani dibagi menjadi dua, yaitu pendapatan kotor
dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor adalah pendapatan yang belum
dikurangi dengan biaya produksi atau biasanya disebut dengan penerimaan.
Pendapatan bersih adalah pendapatan yang sudah dikurangi oleh biaya produksi (
Tumoka, 2013. Besarnya jumlah pendapatan yang diterima oleh petani merupakan
besarnya penerimaan dan pengeluaran selama proses produksi. Terdapat beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi besar kecilnya pendapatan yang diterima oleh
petani, antara lain skala usaha, tersedianya modal, tingkat harga output,
tersedianya tenaga kerja, sarana produksi, dan sistem pemasaran ( Faisal, 2015 ).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar