Indikator pada kapasitas absorptive di adopsi dari penelitian yang
telah dilakukan oleh (Lau & Lo, 2015) & (Tzokas et al., 2015), yaitu :
a) Perolehan pengetahuan baru
b) Analisa perubahaan pasar
c) Pengelolahan pengetahuan
d) Transformatif pengetahuan
e) Peran dan tanggung jawab
Sabtu, 24 September 2022
Indikator Kapasitas Absorptive (skripsi, tesis, dan disertasi)
Dimensi Kapasitas Absorptive (skripsi, tesis, dan disertasi)
1) Akuisisi
Akuisisi pengetahuan adalah tahap awal dalam proses
penyerapan pengetahuan (Xie, Zou, & Qi, 2018). Menurut Liu et
al. (2018) Akuisisi pengetahuan terutama mengacu pada
kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi dan memperoleh
pengetahuan yang dihasilkan secara eksternal yang sangat penting
untuk operasi, seperti preferensi pelanggan, informasi operasi
pemasok dan perkembangan teknologi baru, melalui prosedur
formal dan informal
Akuisisi mengacu pada kemampuan perusahaan untuk
memulai, mengidentifikasi, menilai, memperoleh, dan
mengumpulkan pengetahuan yang relevan yang penting untuk
operasinya dari sumber eksternal (Ali, Anderson, Kan, & Sarstedt,
2016). Kemampuan akuisisi mewakili kemampuan perusahaan
untuk mencari dan mengidentifikasi pengetahuan yang relevan
dengan organisasi. "Setelah pengetahuan baru diidentifikasi dan
dirasakan memiliki nilai, itu ditransfer melintasi batas
perusahaan" (Chaudhary & Batra, 2018).
2) Asimilasi
Kemampuan mengasimilasi pengetahuan eksternal dapat
mempercepat laju penyelesaian masalah dan mempersingkat
siklus pengembangan produk baru. Selain itu, mengasimilasi
pengetahuan eksternal dapat menghindari pekerjaan yang
berulang-ulang, memperbarui cadangan pengetahuan perusahaan
dan meningkatkan inovasi dan daya saing perusahaan (Xie et al.,
2018).
Menurut Lau (2015) asimilasi mengacu pada rutinitas dan
proses yang digunakan perusahaan untuk menganalisis,
memproses, menafsirkan dan memahami informasi yang
diperoleh. Asimilasi ini membantu perusahaan untuk memahami,
menginternalisasi, dan lebih jauh mengklasifikasikan pengetahuan
(Ali et al., 2016).
3) Transformasi
Kale, Aknar, & Ba (2018) mengatakan transformasi berarti
mengembangkan dan menyempurnakan rutinitas ini sehingga
lebih mudah untuk menggabungkan pengetahuan yang ada dengan
pengetahuan yang diperoleh dan berasimilasi untuk penggunaan di
masa depan. Transfer pengetahuan terjadi dalam konteks sosial,
dan sumber daya dan peluang untuk mentransfer pengetahuan itu
sering berada dalam hubungan sosial (Xie et al., 2018)
Transformasi mengacu pada kemampuan perusahaan untuk
membangun dan memurnikan rutinitas yang menggabungkan
pengetahuan yang ada dengan keahlian yang baru diperoleh (Lau
& Lo, 2015)
4) Eksploitasi
Eksploitasi mengacu pada kapasitas perusahaan untuk
mengembangkan, memperluas, dan menggunakan rutinitas,
kompetensi, dan teknologi yang ada untuk menciptakan sesuatu
yang baru berdasarkan pengetahuan "yang diubah" (Kale et al.,
2018)
Menururt Xie et al. (2018) penelitian telah menemukan bahwa
ada hubungan erat antara kapasitas eksploitasi pengetahuan dan
output inovasi perusahaan. Karena menerapkan pengetahuan
secara efektif untuk menyelesaikan masalah dapat mewujudkan
nilai pengetahuan itu, perusahaan dengan kapasitas eksploitasi
pengetahuan yang kuat dapat terus menerjemahkan pengetahuan
baru dan yang sudah ada menjadi produk inovatif dan layanan.
Lebih lanjut di sisi lain, kapasitas eksploitasi pengetahuan
perusahaan dapat membantu mereka mempromosikan hasil
inovasi mereka dengan meningkatkan kinerja kreativitas individu
(Xie et al., 2018)
Akhirnya, eksploitasi mengukur kemampuan perusahaan
untuk menggunakan dan mengimplementasikan pengetahuan yang
diperoleh, berasimilasi, dan ditransformasikan, bersama dengan
rutinitas, operasi, kompetensi, dan teknologi yang ada (Ali et al.,
2016)
Definisi Kapasitas Absorptive (skripsi, tesis, dan disertasi)
Konsep AC diciptakan di bidang ekonomi makro oleh Alder pada
tahun 1965, yang menggambarkannya sebagai kemampuan ekonomi
untuk memanfaatkan dan menyerap informasi dan sumber daya
eksternal (X. Liu et al., 2018).
Kemudian Tzokas, Ah, Akbar, & Al-dajani (2015) mendifinisikan
kapasitas absorptive memungkinkan perusahaan untuk merespon lebih
baik, hal ini bertindak sebagai mekanisme penyaringan untuk secara
produktif memanfaatkan pengetahuan eksternal untuk keuntungan
organisasi. Pada gilirannya, basis pengetahuan perusahaan adalah
fungsi dari pengalaman perusahaan sebelumnya. Kapasitas Absorptf
yang menentukan tingkat keterbukaan suatu perusahaan, diidentifikasi
sebagai salah satu faktor penting yang memberikan keunggulan
kompetitif dalam industri yang sama (Dwi & Alon, 2017).
Chaudhary & Batra (2018) Kapasitas absorptif adalah konstruksi
multidimensi, dengan beberapa peneliti secara khusus berusaha
mendefinisikan dimensinya dalam banyak cara. awalnya
mendefinisikan AC sebagai "kemampuan perusahaan untuk
menciptakan pengetahuan baru", yang memungkinkannya "belajar
untuk melakukan sesuatu yang sangat berbeda. Lebih lanjut AC
sebagai "kemampuan dinamis yang berkaitan dengan penciptaan dan
pemanfaatan pengetahuan" dan mendefinisikannya sebagai
"serangkaian rutinitas dan proses yang diperoleh perusahaan,
berasimilasi, mengubah dan mengeksploitasi pengetahuan. Istilah
"dinamis" mengacu pada kemampuan organisasi untuk "memperbarui
kompetensi sehingga mencapai keselarasan dengan lingkungan bisnis
yang berubah (Chaudhary & Batra, 2018).
Definisi Kemampuan TI (skripsi, tesis, dan disertasi)
Telah begitu banyak penilitian yang secara empiris telah
membahas peran teknologi dalam perkembangan bisnis. Bahkan
penggunaan teknologi merupakan pembahasan yang sangat vital bagi
setiap pelaku bisnis. Hal ini disebabkan oleh keyakinan para pelaku
bisnis akan penggunaan teknologi informasi dapat mempermudah
dalam pengelolaan sumberdaya perusahaan. Hal ini telah
diungkapkan oleh beberapa peneliti antara lain yaitu : Kemampuan
teknologi informasi adalah kemampuan organisasi untuk
menghasilkan nilai bisnis menggunakan aset dan pengetahuan TI-nya
(Chae, Koh, & Park, 2018), kemampuan untuk memobilisasi dan
menggunakan sumber daya berbasis TI dalam kombinasi dengan
sumber daya dan kemampuan organisasi lainnya (Chen, Wang, Nevo,
Benitez-amado, & Kou, 2015), dan kemampuan TI sebagai
kompetensi organisasi utama yang mampu memobilisasi dan
menggunakan sumber daya berbasis TI dalam kombinasi dengan
sumber daya dan kemampuan organisasi lainnya (Ferraris et al.,
2018). Sehingga dapat kita simpulkan bisnis dan kemampuan IT dapat
menjadi sebuah kekuatan untuk perusahaan dalam mengelolah
sumberdaya perusahaan dalam meningkatkan bisnis yang saat ini
sedang digelutinya.
Kemampuan teknologi informasi dapat dilihat dari beberapa
dimensi yaitu fleksibilitas infrastruktur TI, Integrasi TI, penyelarasan
bisnis TI, dan manajemen TI (Chen et al., 2015). infrastruktur TI
adalah kelompok teknologi bersama yang diperlukan untuk fondasi
semua aplikasi bisnis. Selain itu, infrastruktur TI mencakup sumber
daya, artefak, dan alat yang berkontribusi pada akuisisi, pemrosesan,
penyimpanan, distribusi, dan penggunaan informasi (Aydiner,
Tatoglu, Bayraktar, & Zaim, 2019), kemampuan integrasi TI eksternal
mengacu pada kemampuan perusahaan untuk mengeksploitasi sumber
daya TI untuk mengembangkan koneksi berbasis TI tahan lama
dengan mitra bisnis untuk merasakan dan merespons peluang pasar
(Bi et al., 2018), penyelarasan bisnis TI adalab hubungan yang ada
antara TI dan sumber daya lainnya dan kemampuan organisasi yang
memediasi proses penciptaan nilai (Felipe & Leidner, 2019), dan
Manajemen TI mengacu pada kemampuan perusahaan untuk secara
efektif mengimplementasikan kegiatan terkait TI seperti manajemen
proyek TI, pengembangan sistem, serta evaluasi dan pengendalian TI
(Chen et al., 2015).
Dalam sebuah bisnis, TI dapat mengelolah informasi, produk &
proses bisnis agar dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Chae et al.
(2018) mengatakan Peran TI dalam beberapa industri adalah
mengubah cara tradisional dalam berbisnis dengan mendefinisikan
kembali proses dan hubungan bisnis. Industri tersebut mengalami
perubahan dramatis karena perkembangan baru dalam TI termasuk
Internet, aplikasi perusahaan, dan komputasi mobile. Begitupun
dengan (Queiroz, Tallon, Sharma, & Coltman (2017) mengatakan
keunggulan kompetitif dalam NPD tergantung pada kemampuan
dinamis yang diaktifkan TI dan kompetensi fungsional.dan juga
Aydiner et al. (2019) Infrastruktur TI menyediakan akses mudah dan
cepat ke informasi yang diperlukan dan memungkinkan transfer
pengetahuan. Sehingga penggunaan TI dengan tepat dapat menjadi
sebuah keunggulan kompetitif untuk perusahaan.
Namun menurut Chae et al. (2018) ada tiga sudut pandang
berbeda tentang bagaimana kemampuan TI memengaruhi kinerja
perusahaan dalam industri: positif, netral, dan negatif. kemampuan TI
dapat membuat perusahaan rentan untuk beradaptasi karena basis
perusahaan TI warisan yang ada akan meningkatkan biaya pengalihan
mereka dengan mengadopsi teknologi baru. Chen et al. (2013)
mengatakan TI tidak menciptakan nilai bisnis dengan sendirinya dan
harus berinteraksi. Sehingga dibutuhkan faktor lain dalam
mempengaruhi kinerja bisnis..
Indikator Inovasi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Inovasi akan dikur menggunakan 4 indikator yang diadopsi dari
(Martinez-conesa, Soto-acosta, & Palacios-manzano, 2017), yaitu:
a) Inovasi produk
b) inovasi proses
c) Riset dan Pengembangan
d) Launching produk
Dimensi Inovasi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Inovasi pada produk merupakan penunjang dalam kinerja pada
bisnis. Inovasi produk dapat dipahami dalam literatur saat ini sebagai
proses yang berkesinambungan dan inter-fungsional yang melibatkan
dan mengintegrasikan sejumlah besar kompetensi dan kegiatan baik
di dalam maupun di luar organisasi itu sendiri, yang menciptakan
tingkat kinerja bisnis yang lebih tinggi (Kafetzopoulos dan Psomas,
2015).
Inovasi proses mengacu pada melakukan aktivitas bisnis dengan
cara yang baru dan inovatif (Akgün, Keskin, Byrne, & Lynn, 2014).
Inovasi pada proses berarti menjadi inovatif dalam setiap proses yang
terkait dengan desain dan pengembangan produk. Inovasi proses dapat
dianggap sebagai tingkat peningkatan proses bisnis serta tingkat
pendekatan baru dan pengembangan proses bisnis (Turulja &
Bajgoric, 2018).
Inovasi dalam pemasaran biasanya didefinisikan sebagai
kemampuan perusahaan untuk mengiklankan dan menjual produk dan
layanan yang ada dalam organisasi, menyesuaikannya dengan
preferensi dan kebutuhan klien, pelanggan, tingkat persaingan, biaya,
manfaat dan tingkat kinerja bisnis perusahaan. Akibatnya, inovasi
dalam pemasaran adalah dimensi atau kemampuan inovasi yang
memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan tingkat kinerja bisnis
mereka (Maldonado-guzmán et al., 2018).
Inovasi manajerial umumnya dianggap sebagai penerapan metode
dan praktik manajemen yang baru atau lebih baik dalam organisasi
kerja dan hubungan internal dan eksternal perusahaan (Maldonadoguzmán et al., 2018). Akibatnya, inovasi manajerial memungkinkan
perusahaan untuk secara signifikan meningkatkan tingkat kinerja
bisnis mereka dengan mengurangi biaya transaksi dan administrasi,
meningkatkan kepuasan karyawan dan pekerja bisnis, meningkatkan
tingkat produktivitas mereka, menciptakan pengetahuan internal,
memperoleh pengetahuan eksternal, dan mengurangi biaya mengelola
pemasok (Kafetzopoulos & Psomas, 2015). Demikian pula, inovasi
manajerial sering melibatkan serangkaian perubahan dalam proses
administrasi dan struktur organisasi perusahaan, terutama UKM, yang
secara langsung terkait dengan kegiatan kerja dan manajemen yang
dibuat di dalam perusahaan (Kafetzopoulos & Psomas, 2015).
Definisi Inovasi (skripsi, tesis, dan disertasi)
adalah sesuatu yang tidak berwujud tetapi sangat penting
untuk semua bisnis. Seperti yang dikatakan Azar & Drogendijk
(2014) inovasi adalah konstruk beragam yang meliputi generasi,
pengembangan, dan implementasi ide atau perilaku yang baru bagi
organisasi. Mempertahankan konsep inovasi tidak mudah karena
subjek ini telah dipelajari dari berbagai pendekatan: teknologi,
organisasi, administrasi, dll. Namun, tampaknya ada konsensus untuk
memperlakukan inovasi sebagai pengetahuan dan ide-ide baru yang
diubah menjadi produk dan / atau layanan baru , teknologi baru,
proses baru dan bentuk atau struktur organisasi baru (Soto-acosta et
al., 2015). Sehingga inovasi dianggap dalam literatur saat ini sebagai
kemampuan yang paling umum digunakan oleh perusahaan untuk
memperoleh lebih banyak keunggulan kompetitif, mendapatkan
kinerja bisnis yang lebih tinggi (Maldonado-guzmán et al., 2018).
Inovasi melibatkan mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai
atau masalah yang harus dipecahkan (Amabile & Pratt, 2016).
Prosesnya terdiri dari cara dan sarana yang melaluinya
memungkinkan inovasi dapat terjadi. Dua proses khusus untuk
membangun inovasi adalah proses inovasi itu sendiri dan proses
pengembangan produk, yang keduanya harus mencakup fase
pengiriman / eksekusi untuk menjadi inovasi (Kahn, 2018). Lebih
lanjut kahn mengunkapkan semakin individu atau organisasi
menunjukkan pemahaman yang lebih penuh tentang inovasi, semakin
besar kecenderungan untuk mencapai inovasi. Ini berarti bahwa ada
pemahaman bahwa inovasi adalah hasil, proses, dan pola pikir, di
mana hasil muncul dari proses inovasi yang ditekankan oleh pola
pikir.
Indikator Kinerja Bisnis (skripsi, tesis, dan disertasi)
Berdasarkan penilitian terdahulu, kita dapat mengukur persepsi
kinerja menggunakan pendekatan yang diadopsi dari (Terziovski,
2010) yaitu,
1) Keberhasilan meluncurkan produk baru,
2) Pengurangan limbah,
3) Peluang pasar meningkat,
4) Inovasi produk yang ditingkatkan,
5) Metode dan proses kerja yang ditingkatkan,
6) Peningkatan kualitas
Pengukuran Kinerja (skripsi, tesis, dan disertasi)
Pengukuran kinerja sebagai proses mengukur efisiensi dan
efektivitas tindakan. Pengukuran kinerja adalah proses yang
digunakan untuk menentukan status suatu atribut atau atribut dari
objek pengukuran (Saunila, 2017), Pengukuran kinerja berasal dari
dunia bisnis, dengan Performance Measure System (PMS) awalnya
dirancang dan dibuat dari perspektif bisnis berbasis laba (Arena,
Azzone, & Bengo, 2014).
Yeniyurt et al. (2019) menjelaskan kinerja pasar dapat diukur
sebagai indeks komposit yang mencakup pertumbuhan penjualan,
pangsa pasar, pengembangan produk, dan pengembangan pasar
sementara kinerja keuangan didefinisikan mengenai profitabilitas,
ROI, dan arus kas dari operasi.
Kinerja bisnis diukur oleh tiga dimensi, termasuk kinerja
keuangan, kepuasan pelanggan dan kinerja operasional potensial
(peningkatan produk atau proses). Metode-metode ini melibatkan
kinerja bisnis jangka pendek dan jangka panjang, yang mewakili
kinerja terintegrasi dan daya saing perusahaan (Liu, Zhao, Zhao,
2018)
Menurut Tadeu et al. (2016) Seleksi dan pengembangan ukuran
penting untuk memastikan analisis yang andal dari kinerja proses
yang diprediksi dan penyebaran yang sesuai dari niat strategis, tetapi
ini sulit, terutama jika nilai proses berasal dari intangible.
Analisa PEST (Political, Economic, Social-Culture, and Technological) (skripsi, tesis, dan disertasi)
PEST biasanya terkait dengan pengaruh lingkungan pada suatu bisnis. Analisa
PEST merupakan suatu cara atau alat yang bermanfaat untuk meringkas
lingkungan eksternal dalam operasi bisnis. PEST harus ditindaklanjuti dengan
pertimbangan bagaimana bisnis harus menghadapi pengaruh dari lingkungan
politik, ekonomi, sosial, dan teknologi. (Koumparoulis, Dimitrios Nikolaou. 2013)
Faktor Politik
Dalam hal ini yang menjadi faktor politik termasuk peraturan pemerintah seperti
aturan kerja karyawan, peraturan lingkungan serta kebijakan pajak. Faktor lain
dalam politik seperti regulasi pembatasan aturan perdagangan hingga stabilitas
politik.
Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi dipengaruhi oleh biaya yang menjadi modal serta sumber
kekuatan utama dalam sebuah organisasi. Termasuk di dalamnya seperti
pertumbuhan ekonomi, inflasi serta nilai tukar mata uang.
Faktor Sosial-Budaya
Faktor ini berdampak pada kebutuhan serta potensi dari customer dalam hal ini
kaitannya dengan masyarakat yang menjadikan sebuah organisasi menyediakan
layanan yang baik (good service).
Faktor Teknologi
Faktor teknologi mempengaruhi banyak hal diantaranya membuat sebuah
keputusan, inovasi dari sebuah investasi seperti proses otomatisasi di setiap
bisnis proses yang dijalankan oleh sebuah organisasi, insentif investasi dan
pertumbuhan perusahan disebabkan perubahan teknologi.
Analisa PEST bisa diklasifikasikan sebagai lawan atau ancaman dari analisa
SWOT. Ini bisa dilihat dari seringnya kelengkapan analisa menggunakan PEST
dibandingkan menggunakan SWOT. (Koumparoulis, Dimitrios Nikolaou. 2013)
Perencanaan Strategi Sistem Informasi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Perencanaan Strategi Sistem informasi merupakan proses identifikasi portfolio
aplikasi sistem informasi berbasis komputer yang akan mendukukng organisasi
dalam pelaksanaan rencana bisnis dan merealisasikan tujuan bisnisnya.
Perencanaan Strategi sistem informasi mempelajari pengaruh sistem informasi
terhadap kinerja bisnis dan kontribusi bagi organisasi dalam memilih langkahlangkah strategis. Selain itu Perencanaan Strategis sistem informasi juga
menjelaskan berbagai tools, teknik dan kerangka kerja bagi manajemen untuk
menyelaraskan Strategi sistem informasi dengan Strategi Bisnis, bahkan
mencarai kesempatan baru melalui penerapan teknologi inovatif.
Beberapa karakteristik dari Perencanaan Strategi SI antara lain :
1) Adanya Misi utama : Keunggulan strategi/kompetitif dan kaitannya dengan
strategi bisnis.
2) Adanya Sasaran kunci : mengejar kesempatan dan integrasi sistem informasi
dan Strategi bisnis.
3) Adanya arahan dari eksekutif manajemen senior dan penggguna.
4) Serta pendekatan utama berupa inovasi pengguna dan kombinasi
Teknologi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Teknologi informasi adalah satu dari banyak alat yang digunakan
manajer untuk menghadapi perubahan. Teknologi tersebut
diantaranya :
1) Peranti keras komputer adalah peralatan fisik yang digunakan
untuk kegiatan input, pemrosesan dan output dalam sebuah
sistem informasi.
2) Peranti lunak komputer terdiri atas detail instruksi program yang
mengawasi dan mengoordinasikan komponen peranti keras
dalam sebuah sistem informasi.
3) Teknologi manajemen data terdiri atas peranti keras yang
mengatur organisasi data pada media penyimpanan fisik
4) Teknologi telekomunikasi dan jaringan terdiri atas perangkat
fisik dan peranti lunak, menghubungkan berbagai macam peranti
keras dan memindahkan data dari satu lokasi fisik ke lokasi
lainnya. Perangkat komunikasi dan komputer dapat dihubungkan
dalam jaringan untuk berbagi suara, data, gambar, bunyi, dan
video.
5) Jaringan, menghubungkan dua atau lebih komputer untuk
berbagi data atau sumber daya seperti printer
Manajemen (skripsi, tesis, dan disertasi)
Tugas manajemen adalah untuk berusaha memahami banyak keadaan
yang dihadapi oleh organisasi, mengambil keputusan dan merumuskan
rencana kegiatan untuk memecahkan permasalahan organisasi. Para
manajer melihat adanya tantangan bisnis dari lingkungan, mereka
membuat strategi organisasi untuk merespon tantangan tersebut, dan
mengalokasikan dan mengoordinasikan sumber daya manusia dan
keuangan untuk bekerja sama mencapai keberhasilan.
Organisasi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Menurut Liddell-Hart, B. H. (1967) dalam bukunya “strategy 2
nd edition” yaitu
“A strategy is a plan of action designed to achieve a particular goal. The word
strategy has military connotations, because it derives from the Greek word for
general” . Strategi merupakan sebuah rencana yang disusun dalam bentuk aksi
untuk mencapai sebuah tujuan yang jelas. Kata strategi biasanya dikaitkan
dengan militer dikarenakan pada masa lalu istilah tersebut digunakan dari pada
jenderal perang bangsa yunani.
Selain itu, masih banyak pengertian dari strategi diantaranya :
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya
dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut serta prioritas alokasi
sumber daya .(Chandler. 1962)
Strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan
bersaing (Porter, 1985).
Dari pengertian di atas bisa disimpulkan bahwa pengertian perencanaan
strategis adalah proses penentuan sasaran masa depan dari organisasi sebagai
respon terhadap kesempatan dan ancaman yang diketahui serta dengan
mengenali kekuatan dan kelemahan organisasi, untuk selanjutnya dipilih
aktifitas-aktifitasnya dan alokasi sumber daya untuk mencapai sasaran tersebut.
(Boar, B. 2001).
Perencanaan Strategi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Menurut Liddell-Hart, B. H. (1967) dalam bukunya “strategy 2
nd edition” yaitu
“A strategy is a plan of action designed to achieve a particular goal. The word
strategy has military connotations, because it derives from the Greek word for
general” . Strategi merupakan sebuah rencana yang disusun dalam bentuk aksi
untuk mencapai sebuah tujuan yang jelas. Kata strategi biasanya dikaitkan
dengan militer dikarenakan pada masa lalu istilah tersebut digunakan dari pada
jenderal perang bangsa yunani.
Selain itu, masih banyak pengertian dari strategi diantaranya :
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya
dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut serta prioritas alokasi
sumber daya .(Chandler. 1962)
Strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan
bersaing (Porter, 1985).
Dari pengertian di atas bisa disimpulkan bahwa pengertian perencanaan
strategis adalah proses penentuan sasaran masa depan dari organisasi sebagai
respon terhadap kesempatan dan ancaman yang diketahui serta dengan
mengenali kekuatan dan kelemahan organisasi, untuk selanjutnya dipilih
aktifitas-aktifitasnya dan alokasi sumber daya untuk mencapai sasaran tersebut.
(Boar, B. 2001).
Strategi Intensif (skripsi, tesis, dan disertasi)
Dalam tipe ini dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Penetrasi Pasar (Merket Penetration)
Strategi perusahaan yang di tujukan untuk meningkatkan pangsa-pasar atas
produk atau jasa, sehingga adanya peningkatkan usaha secara intensif.
Strategi ini dilakukan ketika industri sedang tumbuh sedangkan pesaing
mengalami penurunan. Dalam siklus hidup produknya, produk atau jasa yang
ditawarkan perusahaan juga masi dalam fase kejenuhan. Strategi ini berpusat
pada, konsumen yang mau meningkatkan pembelianya pada produk yang telah
di tawarkan perusahaan.
b. Pengembangan Pasar (Market Development)
Dengan meningkatkan penjualan melalui perbaikan produk. Strategi ini
dilakukan apabila tersedia jaringan distribusi bermutu dan tidak mahal. Selain
itu, munculnya pasar-pasar baru yang memiliki daya tarik memberikan
dorongan bagi perusahaan untuk melakukan pengembangan pasar. Strategi ini
dapat digunakan sebagai altermatif ketika produk yang beredar di pasar sudah
mulai jenuh, sedangkan di daerah lain sedang mengalami pertumbuhan.
Strategi pengembanga pasar tidak hanya meliputi pasar secara geografis
ataupun pisikografis merupakan strategi pengembangan pasar.
c. Pengembangan Produk (Product Development)
Strategi perusahaan yang meningkatkan penjualan dengan melakukan
perbaikan dan pengembanga produk atau jasa. Perusahaan perlu menggunakan
strategi ini padasaat produknya telah mengalami penurunan yang diakibatkan
oleh banyaknya produk baru yang muncul di pasar. Produk produk baru
mungkin menawarkan nilai lebih tinggi dari selama ini yang di tawarkan
perusahaan, misalnya memiliki mutu yang lebih baik atau memiliki harga
yang lebih rendah, untuk menerapkan strategi ini perusahaan tentu
mengembangkan kemampuan litbangnya. Dngan perkembangan yang sangat
pesat produk yang ditawarkan ke pasar yang memiliki siklus hidup sangat
pendek dari sebelumnya.
3. Strategi Diversivikasi
Dalam katagori ini, tipe-tipe strategi dibagi menjadi tiga macam yaitu:
a. Diversivikasi Konsentrik
Dapat di definisikan sebagai strategi perusahaan perusahaan, dengan cara
menambahkan produk atau jasa baru. Yang masih adakaitanya dengan
produk atau jasa lama. Strategi ini, digunakan ketika bersaing di industri
yang pertumbuhanya lambat. Sementara produk yang ada mengalami
tahapan penurunan.
b. Diversifikasi Konglomerat
Strategi ini digunakan ketika pasar yang ada mengalami stagnasi atau
penurunan melalui titik jenuhnya. Secara umum, industri yang selama ini
dilayani juga mengalami penurunan sementara industri yang lain sedang
mengalami pertumbuhan sehingga menyediakan peluang baru bagi
perusahaan.
c. Diversifikasi Horizontal
strategi yang menambahkan produk dan jasa baru yang tidak berkaitan
strategi ini dilakukan padasaat penawaran produk baru, diperkirakan akan
ada peningkatkan penerimaan produk yang sudah beredar di pasar sehingga
jaringan distribusi dapat dimanfaatkan untuk memasarkan produk baru
kepada pelanggan yang sudah.
4. Strategi Defensif
Dalam tipe ini ada empat macam yaitu:
a. Bekerja Sama (Joint Venture)
Strategi yang dilakukan untuk membentuk kerjasama Sementara atau
konsorsium dalam memanfaatkan beberapa peluang. dalam joint venture
kedua perusahaan akan membentuk anak perusahaan. strategi ini digunakan
ketika perusahaan tidak mampu bersaing dengan market leader.
Keunggulan berbeda dari dari masing perusahaan dapat saling melengkapi.
strategi ini juga diterapkan ketika perusahaan akan memasuki pasar
internasional dan kerjasama joint venture dipakai akan dapat memberikan
kemudahan-kemudahan dari pemerintah setempat.
b. Pengarungan (Retrenchment)
Strategi defensif yang dilakukan perusahaan dengan mengelompokkan
ulang bisnis melalui pengurangan biaya dan aset perusahaan untuk
menanggulangi turunnya penjualan dan keuntungan. strategi ini dapat
digunakan ketika perusahaan memiliki kemampuan tertentu, tetapi selalu
gagal memenuhi tujuan dan sasaran. perusahaan perlu melakukan strategi
ini karena mereka ketidak efisien, karyawan buruk, dan keuntungan
rendah sehingga posisi menjadi paling lemah dalam industri.
c. Divestasi
menjual sebuah unit bisnis atau sebagian perusahaan kepada pihak lain.
strategi ini bisa dilakukan jika perusahaan setelah menerapkan strategi
pengurangan namun tidak menunjukkan hasil perbaikan yang yang
memuaskan sementara sebuah unit bisnis dan divisi membutuhkan lebih
banyak sumber daya untuk tetap bersaing. strategi ini biasanya dilakukan
ketika perusahaan memerlukan jumlah uang secara mendasak sementara
dana tidak dapat diperoleh dari sumber-sumber lain atau perusahaan
merasa tidak mampu lagi mengelola bisnis tersebut secara menguntungkan.
namun dalam beberapa kasus strategi ini dapat diterapkan karena pemilik
perusahaan ingin beralih ke bisnis lain yang dianggap lebih menarik.
d. Likuidasi
menjual seluruh aset perusahaan bahan atau menutup sebuah perusahaan.
strategi dapat dilakukan setelah strategi pengurangan dan divestasi tidak
berhasil dilakukan. likuidasi adalah upaya pemegang saham untuk
meminimalisir kerugiannya dengan menutup dan menjual semua harta
perusahaan.
Strategi Integrasi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Tipe ini dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Integrasi Kedepan (Forward Integration)
Strategi perusahaan dalam mencarikepemilikan atau meningkatkan kontrol
atas distributor atau kepemilikan yang benar. Strategi ini digunakan ketika
jalus distibusi yang adasangat mahal, mutunya terbatas, dan tidak dapat
mendistribusikan produk dengan cepat. Untuk mengelola bisnis baru,
penerapan strategi ini perlu mempertimbangkan kemampuan modal dan
sumber daya manusia yang tersedia dalam organisasi. Dari sisi laba,
perusahaan perlu melihat apakha bisnis distribusi atau eceran mempunyai
margin keuntungan yang tinggi bila dikelola sendiri.
b. Integrasi Kebelakang (Backward Integration)
Dapat didefinisikan sebagai strategi perusahaan yang mencari kepemilikan
atau meningkatkan kontrol atas pemasok perusahaan. Tujuan strategi ini untuk
memastikan bahwa pemasoka produk yang dibutuhkan dapat dipenuhi sesuai
dengan spesifikasi dan jumlah yang dibutuhkan serta di sampaikan pada waktu
yang sesuai pula sehingga tidak mengganggu proses produksi atau operasi
perusahaan.
Strategi Integrasi Kebelakang dilakukan ketika jumlah pemasok sedikit
sementara pesaing sangat banyak. Dengan menguasai pemasok, perusahaan
dapat menekan harga bahan baku sehingga dari sisi biaya, perusahaan akan
lebih kompotitif dibanding pesaing. Namun tentu saja perusahaan perlu
mempertimbangkan apakha margin keuntungan serta sumber daya yang
dibutuhkan tersedia ketika akan menerapkan strategi ini.
c. Integrasi Horizontal
Integrasi tipe ini dapat didefinisikan sebagai strategi perusahaan yang mencari
kepemilikan atau meningkatkan kontrol atas pesaing. Strategi ini dapat
digunakan ketika perusahaan bersaing di industi yang sedang berkembang.
Denga demikian integrasi hirizontal dapat meningkatkan skala ekonomi
uantuk mendukung keunggulan bersaing. Penerapan strategi ini perlu
memperhatikan apakha perusahaan dapat menjadi kekuatan monopoli tapa
melanggar peraturan pemerintah. Selain itu perusahaan juga perlu
memperhatikan sumberdaya yang cukup untuk melakukan ekspansi.
Fungsi Manajemen Strategi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Manajemen Strategik berfungsi sebagai acuan atapun sarana dalam
merancang sebuah tujuan, gagasan, kreativitas, prakarsa, inovasi dan informasi
serta merespon perubahan dan perkembangan lingkungan nasional dan global.
Pada semua pihak terkait sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya.
Dengan demikian maka akan memudahkan dalam menyepakati sebuah perubahan
atau pengembangan strategi yang akan diterapkan. Sesuai dengan keunggulan
yang akan diwujudkan oleh perusahaan.
Jadi dapat disimpulkan secara garis besar bahwa dalam menentukan tujuan
dan arah dari sebuah organisasi dengan mempertimbangkan resiko-resiko yang
harus diambil. Dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang maka perusahaan
harus melakukan sebuah perencanaan strategi, yang bertujuan untuk membentuk
sebuah strategi serta menyempurnakan sebuh produk perusahaan, sehingga dapat
bertumbuh dan memenuhi target.
Pola Pikir Strategi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Menurut “Musa Hubeis Dan Mukhadam Najib dalam buku manajemen
strategik 2014” Pola pikir Manajemen strategi sebagai suatu konsep yang terkait
dengan faktor waktu melibatkan suatu proses yang kontinu dan interatif dalam
mencapai tujuan organisasi yang sesuai dengan lingkungan yang di hadapinya.
Oleh karena itu, manajemen strategi dapat digunakan untuk mengidentifikasi
kegiatan yang menjanjikan dapat berfokus pada sumber daya (alam, manusia dan
buatan). Untuk pengembangan jangka panjang serta Menguntungkan. sebagai
literasi, dengan meningkatkan sumberdaya ayang dialokasikan ke suatu jaringan
bisnis, kekuatanya dapat di tunjukan dalam bentuk superioritas idiologi, biaya
rendah, atau posisi pasar yang kuat.
Sebagai ilustrasi, untuk memenangkan persaingan bisnis dalam kondisi
pasar yang semakin tersegmentasi kecil, baik penanganan produk secara nyata
(pabrik peningkatan mutu, layanan informal, kerjasama dengan pihak terkait,
diversivikasi pasar, promosi, dan lain-lain) maupun penerapan polapikir terpadu.
Pengertian Manajemen Strategi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Manajem Strategi adalah Suatu pendekatan holistik (Tingkat koperasi bisnis
dan operasional) dalam pengambilan keputusan manajerial yang dapat pembantu
mengidentifikasi isi pokok dan masalah kompleks, pemberian alternatif tindakan
yang mungkin diambil, penyusunan rekomendasi, aksi kedepan, (misalnya
koordinasi, pengembangan, fleksibilitas, dan respons) dalam jawaban keputusan
strategi ( apa, siapa, bagaimana, dan mengapa) Dalam praktiknya proses tersebut
melibatkan hal-hal kreatif, fleksibel, optimis, dan penuh imajinasi atas fase-fase
redefinisi, revisi, reformasi, kerja ulang, mendaur ulang yang berbasis pada data
dan informasi kualitatif ataupun kuantitatif pada kondisi tidak pasti untuk
beradaptasi dengan cepat lingkungan yang kompleks dan berubah-ubah.
Pengertian Strategi Pemasaran (skripsi, tesis, dan disertasi)
Strategi pemasaran menurut Kurtz (2008) adalah keseluruhan program
perusahaan dalam menentukan target pasar dan memuaskan konsumen dengan
membangun kombinasi elemen dari marketing mix; produk, distribusi, promosi dan
harga. Sedangkan menurut Philip Kotler pengertian strategi pemasaran adalah suatu
mindset pemasaran yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pemasaran,
dimana di dalamnya terdapat strategi rinci mengenai pasar sasaran, penetapan
posisi, bauran pemasaran dan budget untuk pemasaran. Strategi pemasaran menurut
Kotler (Kotler and Amstrong,2012, p.72) adalah logika pemasaran dimana
perusahaan berharap dapat menciptakan nilai bagi customer dan dapat mencapai
hubungan yang menguntungkan dengan pelanggan. Maka secara umum strategi
pemasaran adalah usaha memasarkan produk agar permintaan produk dipasaran
mencapai sasaran.
Umumnya terdapat 5 konsep dari strategi pemasaran secara luas yang sering
digunakan oleh perusahaan – perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Market Segmenting (Segmentasi Pasar)
Pada proses ini yaitu mengelompokkan target nasabah menjadi
kelompok – kelompok segmentasi berbeda dengan faktor pengelompokkan
tertentu.
2. Market Positioning (Penentuan Posisi Pasar)
Pada proses ini perusahaan melakukan upaya untuk mendesain dan
mengemas produk agar dapat menempati sebuah posisi yang unik dan
menarik agar lebih mudah mendapatkan konsumen.
3. Market Entry Strategy (Strategi Masuk Pasar)
Strategi yang dapat digunakan perusahaan untuk masuk pada
segmen pasar baru misalnya bekerja sama dengan perusahaan lain.
4. Marketing Mix Strategy (Strategi Bauran Pemasaran)
Strategi bauran pemasaran merupakan penggabungan dan pengendalian
variable – variable yang berpengaruh pada kesuksesan pemasaran.
Variable yang terdapat dalam marketing mix:
a. Product (Produk)
Produk merupakan segala bentuk hasil usaha yang ditawarkan kepada pasar
untuk digunakan atau dikonsumsi sehingga bisa memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Jika ingin strategi berjalan dengan baik maka produk
yang dihasilkan harus dengan kualitas dan keunikan tersendiri. Dengan
begitu, produk tersebut dapat bersaing dipasaran.
b. Price (Harga)
Penetapan harga merupakan suatu hal penting. Penetapan harga dapat
memengaruhi pendapatan total dan biaya. Harga merupakan faktor utama
penentu positioning produk dan harus diputuskan sesuai dengan pasar
sasaran, bauran ragam produk, pelayanan dan persaingan. Harga yang
ditawarkan juga harus membuat konsumen merasa pengeluarannya sesuai
dengan apa yang yang akan ia dapat.
c. Place (Tempat)
Jangkauan tempat menjadi suatu yang harus dipertimbangkan secara
matang, tempat – tempat yang strategis tentu memiliki peluang akses publik
yang lebih baik sehingga memudahkan konsumen dalam bertransaksi
sehingga penjualan lebih mudah terjadi.
d. Promotion (Promosi)
Promosi adalah suatu tindakan untuk memperkenalkan, memberitahukan
suatu produk, barang atau jasa yang bertujuan untuk meningkatkan
perminatan atau penjualan.
Menurut Rambat Lumpiyoadi (2016: 25):
“Promosi merupakan salah satu variable dalam bauran pemasaran yang
sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk
jasa. Bukan hanya sebagai alat komunikasi, akan tetapi kegiatan promosi
juga berfungsi untuk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian
atau penggunaan jasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya
Pengertian Pemasaran (skripsi, tesis, dan disertasi)
Pandangan yang sempit dalam pengertian pemasaran menyebabkan banyak
pengusaha atau dunia usaha masih berorientasi pada produksi atau berfikir dari segi
produksi. Mereka menekankan produk apa yang dapat dihasilkan, bukan produksi
apa yang dapat dipasarkan. Produk yang diusahakan oleh perusahaan, dirancang
oleh tenaga teknisi, diolah atau dihasilkan. William J. Stanton mendefinisikan
pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan – kegiatan bisnis yang
ditunjukkan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan
mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli
yang ada maupun pembeli yang potensial.
Pada dasarnya pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial
dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan
inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai dengan yang lain
(Kotler dan Keller,2012:6). Secara umum berdasarkan definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa pemasaran adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dan
perminatan dengan cara menciptakan dan menawarkan produk yang diproduksi
agar dapat diterima oleh konsumen. Dengan demikian kegiatan pemasaran
memiliki cakupan luas. Kotlerr & Keller (2012:8) dan Sucherly (2015:27)
mengemukakan sejumlah faktor yang menunjukan luasnya cakupan kegiatan
pemasaran, sebagai berikut:
1) Melibatkan berbagai pihak
2) Melibatkan fungsi manajerial
3) Yang dipasarkan tidak hanya barang tetapi produk dalam arti luas
termasuk gagasan, jasa, informasi dan pengalaman
4) Sasaran yang ingin dicapai adalah kepuasan pihak – pihak yang terlibat
dalam pertukaran.
Strategi Fungsional (Functional Strategy) (skripsi, tesis, dan disertasi)
Merupakan strategi yang terjadi dilevel fungsional seperti
operasional, pemasaran, keuangan, sumber daya manusia. Riset dan
pengembangan dimana strategi ini akan meningkatkan area fungsional
perusahaan sehingga mendapat keunggulan bersaing. Strategi ini harus
mengacu pada strategi bisnis dan stratei korporasi. Memfokuskan pada
memaksimumkan produktivitas sumber daya yang digunakan dalam
memberikan value terbaik untuk pemenuhan kebutuhan pelanggan
(customer). Strategi fungsional sering juga disebut Value-based-strategy.
Strategi Bisnis (Business Strategy) (skripsi, tesis, dan disertasi)
Merupakan strategi yang terjadi pada tingkat produk atau unit bisnis
dan merupakan strategi yang menekankan pada perbankan posisi bersaing
produk atau jasa pada spesifik industry atau segmen pasar tertentu. Ada 3
macam strategi yang dapat digunakan pada strategi bisnis ini yaitu strategi
keunggulan biaya, strategi deferensiasi dan strategi fokus.
Strategi Korporasi (Corporate Strategy) (skripsi, tesis, dan disertasi)
Merupakan strategi yang mencerminkan seluruh arah perusahaan
dengan tujuan menciptakan pertumbuhan bagi perusahaan secara
keseluruhan dan manajemen berbagai macam bisnis lini produk. Ada 3
macam strategi yang dapat dipakai pada strategi tingkat korporasi ini, yaitu
strategi pertumbuhan (growth strategy) yaitu strategi berdasarkan terhadap
tahap pertumbuhan yang sedang dilalui perusahaan. Strategi stabiltas
(stability strategy) yaitu strategi dalam menghadapi kemrosotan
penghasilan yang sedang dihadapi oleh suatu perusahaan. Dan retrenchment
strategy adalah strategi yang diterapkan untuk memperkecil atau
mengurangi usaha yang dilakukan perusahaan.
Pengertian Strategi (skripsi, tesis, dan disertasi)
Strategi berasal dari Bahasa Yunani strategia (stratos yang berarti militer dan
ag yang artinya memimpin) yang artinya seni atau ilmu untuk menjadi seorang
jendral. Strategi bisa diartikan sebagai suatu rencana untuk pembagian dan
penggunaan kekuatan militer dan material pada daerah – daerah tertentu untuk
mencapai tujuan tindakan tertentu. Pada awalnya kata ini dipergunakan untuk
kepentingan militer saja namun kemudian berkembang ke berbagai bidang yang
lain seperti strategi bisnis, pemasaran, olahraga, ekonomi, perdagangan,
manajemen strategi, dan lain – lain.
Strategi dalam suatu bisnis atau usaha pemasaran sangatlah dibutuhkan untuk
pencapaian visi misi yang sudah diterapkan oleh perusahaan, maupun untuk
pencapaian sasaran atau tujuan baik tujuan jangka pendek ataupun tujuan jangka
panjang. Pearce II dan Robinson (2008:2) mendefinisikan strategi adalah rencana
berskala besar, dengan orientasi masa depan, guna berinteraksi dengan kondisi
persaingan untuk mencapai tujuan.
Siagian (2004) memberikan penjelasan tentang strategi yaitu:
“Strategi merupakan metode atau rencana yang dipilih untuk membawa masa
depan yang diharapkan misalnya pencapaian tujuan dan solusi untuk masalah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi adalah suatu rencana
yang disusun oleh manajemen, untuk mencapai tujuan yang diinginkan baik
untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang”
Malcolm Baldrige Criteria for Education (skripsi, tesis, dan disertasi)
Malcolm Baldrige merupakan sebuah metode yang digunakan dalam meningkatkan
kinerja organisasi secara menyeluruh. Malcolm baldrige juga dapat berperan aktif
dalam peningkatan kinerja secara terus-menerus dengan menggunakan sebuah
pengukuran dan pemberian feedback dalam kinerja organisasi tersebut. Malcolm
Baldrige Criteria for Education dapat dijadikan sebuah pedoman bagi institusi
pendidikan dalam mengembangkan kualitas dari sumber daya manusia yang ada.
Pengembangan sumber daya manusia itu sendiri tak terlepas dari kinerja sekolah
dan manajemen dari sekolah itu sendiri. Dalam hal untuk meningkatkan mutu suatu
organisasi. Malcolm Baldrige memiliki 7 kriteria yang dapat digunakan dalam
rangka pendekatan yang terintegrasi dengan semua area manajemen
(www.nist.gov/baldrige diakses tanggal 26 februari 2017)
1. Leadership
Kategori kepemimpinan bertanya bagaimana tindakan pribadi pemimpin
senior dan panduan sistem pemerintahan dan mempertahankan organisasi.
2. Strategy
Kategori ini bertanya bagaimana mengembangkan tujuan strategis dan rencana
aksi, menerapkan dan mengubah mereka jika keadaan membutuhkan, dan
mengukur kemajuan. Kategori menekankan bahwa keberhasilan jangka
panjang organisasi dan lingkungan kompetitif adalah isu-isu strategis utama
yang perlu bagian integral dari perencanaan secara keseluruhan. Membuat
keputusan tentang kompetensi inti organisasi dan sistem kerja merupakan
bagian integral untuk memastikan keberhasilan organisasi sekarang dan di
masa depan, dan karena itu keputusan ini adalah keputusan strategis.
3. Customers
Kategori ini bertanya bagaimana melibatkan siswa dan pelanggan lainnya
untuk keberhasilan pasar dalam jangka panjang, termasuk bagaimana
mendengarkan suara pelanggan, melayani dan melebihi harapan siswa dan
pelanggan lain, dan membangun hubungan dengan siswa dan pelanggan
lainnya.
Kategori menekankan keterlibatan pelanggan sebagai hasil penting dari
belajar dan keunggulan kinerja strategi secara keseluruhan. Hasil untuk siswa
dan kepuasan pelanggan lainnya dan ketidakpuasan memberikan informasi
penting untuk memahami siswa, pelanggan lainnya, dan pasar. Dalam banyak
kasus, suara pelanggan memberikan informasi yang berarti tidak hanya pada
siswa dan pelanggan lain tetapi dilihat juga pada tindakan mereka dan perilaku
pasar dan pngan-pngan ini dapat berkontribusi untuk perilaku organisasi agar
dapat sukses saat ini dan masa depan.
4. Measurement, analysis, and knowledge management
Dalam istilah sederhana, kategori 4 adalah "pusat otak" untuk penyelarasan
operasi dengan tujuan strategis. Ini adalah titik utama dalam Kriteria
Pendidikan untuk semua informasi penting tentang efektif mengukur,
menganalisis, dan meningkatkan kinerja dan mengelola pengetahuan
organisasi untuk mendorong perbaikan, inovasi, dan daya saing organisasi.
Sentral untuk penggunaan data ini dan ketersediaan informasi yang berkualitas.
21
Selain itu, karena informasi, analisis, dan manajemen pengetahuan sendiri
menjadi sumber utama keunggulan kompetitif dan pertumbuhan produktivitas,
kategori ini juga termasuk pertimbangan strategis tersebut.
5. Workforce
Kategori ini membahas praktek kunci tenaga kerja yang diarahkan dapat
menciptakan dan memelihara lingkungan kinerja yang tinggi dan tenaga kerja
terlibat untuk mengaktifkannya dan organisasi dapat beradaptasi dengan
perubahan sehingga berhasil. Untuk memperkuat keselarasan dasar manajemen
tenaga kerja dengan strategi secara keseluruhan, Kriteria Pendidikan juga
mencakup perencanaan tenaga kerja sebagai bagian dari perencanaan strategis
secara keseluruhan.
6. Operations
Kategori ini bertanya bagaimana fokus pada pekerjaan organisasi, program dan
layanan pendidikan, desain dan pengiriman, inovasi, dan efektivitas
operasional untuk mencapai keberhasilan organisasi sekarang dan di masa
depan.
7. Results
Kategori ini menyediakan sistem fokus yang mencakup semua hasil yang
diperlukan untuk mempertahankan sebuah organisasi pendidikan, hasil belajar
siswa dan proses kunci, hasil yang berfokus pada siswa dan pelanggan lainnya,
hasil kerja, hasil kepemimpinan dan sistem pemerintahan, dan secara
keseluruhan anggaran, keuangan, dan kinerja pasar. Fokus sistem ini
mempertahankan tujuan dari nilai Baldrige Excellence. Kerangka tersebut
dapat dilihat oleh siswa, pelanggan yang lain, dan pasar, kinerja organisasi
yang unggul sebagaimana tercermin dalam belajar siswa dan indikator
operasional dan pembelajaran organisasi dan pembelajaran oleh anggota
tenaga kerja. Kategori 7 demikian menyediakan “real-time” informasi
(langkah-langkah kemajuan) untuk mengevaluasi, meningkatkan, dan proses
program pendidikan dan layanan berinovasi, sejalan dengan strategi organisasi
secara keseluruhan. Sementara kategori 7 bertanya tentang hasil luas, harus
menempatkan premi pada hasil monitoring yang merupakan konsekuensi dari
kinerja operasional dan berfungsi sebagai prediktor kinerja masa depan.
Malcolm Baldrige Criteria (skripsi, tesis, dan disertasi)
Malcolm Baldrige Criteria merupakan sistem manajemen kualitas formal yang
berlaku di Amerika Serikat, diciptakan pertama kali pada saat US Congress pada
tahun 1987 sebagai penghormatan kepada Malcolm Baldrige, Commerce
Department Secretary. Baldrige sendiri adalah menteri perdagangan Amerika
Serikat (1981-1987) di era Presiden Ronald Reagan yang memiliki berkontribusi
besar pada peningkatan mutu dalam berbagai aspek jangka panjang di Amerika
Serikat (Gaspersz, 2007:195-196). Pada setiap tahunnya Malcolm Baldrige
memberikan Award terhadap organisasi yang mengimplementasikan Malcolm
Baldrige Criteria untuk sebuah keunggulan kinerja yang ada di perusahaan.
Penghargaan ini dikelola oleh Lembaga Standar dan Teknologi Nasional (The
National Institute of Standard and Technology).
Kerangka Baldrige dalam pelaksanaannya dapat membantu mengelola
semua komponen organisasi sebagai kesatuan yang utuh, sehingga rencana, proses
dan tindakan organisasi dapat konsisten. Blok bangunan sistem adalah kriteria
Baldrige untuk Keunggulan Kinerja, nilai dan konsep inti, dan pedoman penilaian.
Tujuan kerangka Baldrige adalah untuk membantu organisasi yang diwakili oleh
tujuh aspek penting dalam pengelolaan dan pelaksanaan sebagai sebuah organisasi
(National Institute Of Standart And Technology (NIST), 2015):
1. Kepemimpinan
2. Strategi
3. Pelanggan
4. Pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan
5. Tenaga Kerja
6. Operasi
7. Hasil
Baldrige mempromosikan perspektif sistem yang berarti mengelola semua
komponen organisasi sebagai kesatuan yang utuh untuk mencapai kesuksesan yang
berkelanjutan. Blok bangunan sistem dan mekanisme pengintegrasian adalah nilai
dan konsep inti, ketujuh kategori yang saling terkait dan pedoman penilaian.
Baldrige memiliki dampak nasional dan global sehingga kerangka dan kriteria
Baldrige dapat memainkan tiga peran dalam memperkuat daya saing (Sadikin,
2005:3) :
1. Membantu meningkatkan kapabilitas dan kinerja organisasi..
2. Memfasilitasi komunikasi dan berbagi informasi praktik terbaik diantara
semua jenis organisasi.
3. Menyediakan working tools untuk pemahaman dan pengelolaan kinerja, serta
program perencanaa dan pelatihan.
Pengukuran Kinerja (skripsi, tesis, dan disertasi)
Pengukurn kinerja adalah komponen paling penting dari sebuah sistem
pengendalian manajemen. Menurut (Moeheriono, 2012:96) Pengukuran kinerja
(performance measurement) yang secara singkat dapat dirumuskan sebagai
kegiatan pengumpulan data dan informasi yang releva dengan sasaran-sasaran atau
tujuan program evaluasi. Dengan pengukuran kinerja kita dapat mengetahui kinerja
organisasi sudah berjalan dengan baik atau bahkan berlainan arah dengan visi dan
misi dari organisasi yang telah ditentukan. Oleh sebab itu, pengukuran kinerja
diharapkan dapat digunakan dalam melakukan perbaikan-perbaikan guna
meningkatkan daya saing organisasi. Menurut Wibowo (2007:319) Pengukuran
terhadap kinerja perlu dilakukan untuk mengetahui apakah selama pelaksanaan
kinerja terdapat deviasi dari rencana yang telah dilakukan, atau apakah kinerja
dapat dilakukan sesuai jadwal waktu yang ditentukan, atau apakah hasil kinerja
telah tercapai sesuai dengan yang diharapkan
Kinerja (skripsi, tesis, dan disertasi)
Kinerja atau performance merupakan gambaran mengenai tingkat hasil pencapaian
pelaksanaan suatu program kegiatan atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran,
tujuan, visi dan misi organisasi yang dituangkan melalui perencanaan strategis
suatu organisasi (Moeheriono, 2012:95). Menurut Wilson Bangun (2012:231)
kinerja atau performance adalah hasil pekerjaan yang dicapai seseorang
berdasarkan persyaratan-persyaratan pekerjaan (job requirement).
Kinerja merupakan gambaran mengenai sejauh mana keberhasilan atau
kegagalan organisasi dalam menjalankan tugas dan fungsi pokoknya dalam rangka
mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misinya. Dengan kata lain, kinerja
merupakan prestasi yang dapat dicapai oleh organisasi dalam periode tertentu.
Menurut Rivai (2013:604) Kinerja merupakan suatu istilah secara umum yang
digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi
pada suatu periode dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-biaya masa
lalu atau yang diproyeksikan, denga dasar efisiensi, pertanggungjawaban atau
akuntanbilitas manajemen dan semacamnya. Kinerja dalam bahasa indonesia
disebut juga prestasi kerja. Kinerja atau prestasi kerja diartikan sebagai ungkapan
kemampuan yang didasari pengetahuan, sikap, keterampilan, dan motivasi dalam
menghasilkan sesuatu.
Menurut Banarwi dan Mohammad Arifin (2012:13) menyatakan bahwa
kinerja adalah tingkat keberhasilan seseorang atau kelompok dalam melaksanakan
tugas dan wewenangnya berdasarkan standart kerja yang ditetapkan selama periode
tertentu dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Menurut Wibowo (2007:7)
kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dn hasil yang dicapai dari pekerjaan
tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara
mengerjakannya. Menurut Rivai (2013:548) kinerja merupakan suatu fungsi dari
motivasi dan kemampuan.
Peran Mediasi Job Satisfaction Terhadap Hubungan Talent Management dan Employee Engagment (skripsi, tesis, dan disertasi)
Peningkatan employee engagement dipengaruhi juga dengan peningkatan job
satisfaction (Lu et al., 2016). Seorang pekerja yang merasa senang terhadap
pekerjaannya akan muncul rasa memiliki pada tempat kerja tersebut. Kepuasan
karyawan terhadap tempat kerjanya dipangaruhi oleh bagaimana mereka
diperlakukan dalam organisasi. Konsep pengelolaan sumber daya manusia
berdasarkan konsep talent mangement akan memaksimalkan peran sumber daya
manusia untuk mencapai tujuan organisasi dengan membangun situasi kerja yang
nyaman bagi karyawan dengan sistem kompensasi yang sesuai. Lingkungan yang
kondusif ini akan meningkatkan kepuasan karyawan (Benitez-amado et al., 2015;
Van Zyl et al., 2017; Muduli, 2016).
Peran Madiasi Employee Engagement Terhadap Hubungan Talent Management dan Workforce Agility (skripsi, tesis, dan disertasi)
Penelitian Julia dan Rog (2008) menunjukkan bahwa penerapan talent
management memiliki dampak positif terhadap peningkatan employee engagement.
Hasil ini sesuai dengan konsep dan tujuan dari penerapan talent management yaitu
memaksimalkan pengelolaan sumber daya manusia dan menempatkan sumber
daya manusia pada posisi strategis organisasi. Hal ini mendorong perawat memiliki
pemahaman penuh terhadap perannya.
Dampak positif employee engagement terhadap peningkatan kinerja
dijelaskan dalam penelitian Lu et al. (2016). Penelitian tersebut menjelaskan bahwa
karyawan yang memiliki keterikatan yang terhadap organisasi akan dapat bekerja
dengan lebih baik.
Pengaruh Employee Engagement Terhadap Workforce Agility (skripsi, tesis, dan disertasi)
Benedicto (2017) menjelaskan bahwa keterikatan kerja akan meningkatkan
produktivitas pekerja di instansi kesehatan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa
keterikatan kerja akan meningkatkan kemampuan kerja seseorang. Seorang
karyawan yang memiliki engagement akan memiliki sikap positif terhadap
organisasinya. Keterikatan akan meningkatkan kesadaran terhadap bisnis
organisasi dan mampu bekerja sama untuk meningkatkan kinerja untuk keuntungan
organisasi. Kondisi ini adalah wujud rasa kepemilikan karyawan terhadap
organisasi. Hal ini akan memudahkan organisasi untuk mengarahkan karyawan
sesuai rencana strategis organisasi. Karyawan akan lebih termotivasi untuk
mencapai target kerja sesuai dengan kebutuhan strategis organisasi (Benitez-amado
et al., 2015). Dalam penelitian ini, engagement perawat akan dapat memotivasi
perawat untuk meningkatkan keterampilannya untuk mencapai tujuan organisasi
yang telah ditetapkan.
Pengaruh Job Satisfaction Terhadap Employee Engagement (skripsi, tesis, dan disertasi)
Seorang karyawan yang memiliki ketidakpuasan terhadap institusinya akan
memiliki kecenderungan pasif dan menunjukkan kemalasannya (absenteeism),
dalam tingkatan yang ekstrem pekerja akan memilih untuk keluar dari
organisasinya (exit) (Robbins dan Judge, 2013:116). Sebaliknya, seseorang yang
merasa puas akan menunjukkan respons yang aktif atau positif dalam melakukan
pekerjaannya (voice) atau dalam tingkatan yang lebih tinggi akan menunjukkan
loyalitas. Karim dan Rehman (2012:94) menyatakan bahwa karyawan yang merasa
puas memiliki loyalitas lebih besar terhadap organisasi. Kepuasan kerja para
karyawan akan dapat menumbuhkan motivasi para karyawan untuk tetap tinggal
dalam organisasi tersebut yang berdampak pada peningkatan employee
engagement.
Pengaruh Talent Management Terhadap Workforce Agility (skripsi, tesis, dan disertasi)
Workforce agility atau ketangkasan kerja merupakan wujud dari
kemampuan diri seorang pekerja. Menemukan seorang pekerja dengan kompetensi
yang sesuai merupakan peran penting dari talent management. Pencapaian agility
karyawan dapat dicapai melalui proses penugasan pekerjaan. Talent management
melalui proses pengembangan bakat akan membantu karyawan mencapai
kompetensi yang diharapkan organisasi. Penelitian Muduli (2016) menjelaskan
bahwa agility dapat dicapai melalui serangkaian aktivitas yang meliputi sistem
penghargaan, pembelajaran organisasi, dan keterlibatan karyawan. Melalui praktik
tiga aspek talent management aktivitas (working culture, working condition, dan
talent development), organisasi akan berhasil meningkatkan kemampuan kerja
karyawan (Benitez-amado et al., 2015). Dengan demikian, dalam penelitian ini,
penerapan talent management akan meningkatkan workforce agility seorang
perawat dalam tugasnya.
Pengaruh Talent Management Terhadap Job Satisfaction dan Employee Engagement (skripsi, tesis, dan disertasi)
Penerapan talent management bertujuan untuk mencapai posisi strategis
organisasi. Peran sumber daya manusia perlu dikelola dengan baik supaya dapat
selaras dengan tujuan organisasi. Proses penerapan yang meliputi budaya
organisasi, kondisi kerja, dan pengembangan bakat karyawan, talent management
akan membantu mengarahkan perawat untuk mencapai posisi terbaik sesuai strategi
organisasi. Melalui pengembangan budaya organisasi seorang perawat dapat
terlibat pembuatan keputusan dan penyelesaian masalah yang terkait dengan
pekerjaan mereka (Hughes, 2008). Menciptakan kondisi kerja yang baik merupakan
bagian dari proses talent management. Dengan kondisi kerja yang baik seorang
karyawan dapat nyaman bekerja. Kondisi tersebut penting untuk pengembangan
dan peningkatan kinerja perawat dalam pelayanan terhadap pasien. Posisi
karyawan memiliki peran yang penting dalam konsep talent management. Oleh
karena itu kompetensi karyawan akan terus dikembangkan sesuai dengan rencana
strategis organisasi. Kompetensi perawat akan dikembangkan melalui pelatihan
yang terstruktur dan penyesuaian kompensasi yang tetap. Semua proses ini akan
meningkatkan posisi karyawan dalam organisasi. Penelitian Lu et al., (2016)
menunjukkan bahwa job satisfaction dan employee engagement dipengaruhi oleh
posisi karyawan. Dalam penelitian ini, penerapan talent management akan
meningkatkan posisi perawat dalam instansi kesehatan yang akan berpengaruh pada
job satisfaction dan employee engagment
Workforce Agility (skripsi, tesis, dan disertasi)
Seiring dengan peningkatan persaingan bisnis, banyak organisasi menyadari
bahwa ketangkasan tenaga kerja merupakan faktor yang penting untuk menjaga
kelangsungan bisnis organisasi (Muduli, 2016). Walaupun demikian, pemahaman
makna ketangkasan kerja dipahami secara beragam. Alavi et al. (2014) menjelaskan
bahwa penelitian terdahulu memiliki perbedaan dalam mendefinisikan ketangkasan
tenaga kerja baik dari kemampuan khusus, yaitu perilaku karyawan atau dalam
perspektif lingkungan bisnis yang kompetitif. Ketangkasan tenaga kerja juga
dimaknai sebagai kemampuan tenaga kerja. Dalam hal ini, ketangkasan tenaga
kerja dapat meliputi dua faktor, yaitu: kemampuan respon tenaga kerja terhadap
perubahan dengan cara yang tepat dan pada waktunya, dan kemampuan tenaga
kerja untuk memanfaatkan perubahan sebagai peluang bagi mereka untuk
berkembang (Muduli, 2016; Alavi et al., 2014).
Dari perspektif sikap, Sherehiy dan Karwowski (2014) menjelaskan bahwa
karyawan yang memiliki ketangkasan kerja juga memiliki sikap positif terhadap
pembelajaran dan pengembangan diri; kemampuan pemecahan masalah yang baik;
nyaman dengan perubahan, ide-ide baru dan teknologi baru; kemampuan untuk
menghasilkan ide-ide inovatif dan selalu siap untuk menerima tanggung jawab
baru. Selain itu, workforce agility dapat didefinisikan sebagai kelincahan tenaga
kerja dapat dipandang sebagai perilaku proaktif, adaptif dan generatif tenaga kerja
(Muduli, 2016; Sherehiy dan Karwowski, 2014). Perilaku proaktif terdiri dari dua
aspek, yaitu memulai dan berimprovisasi. Inisiatif proaktif merupakan bentuk
pencarian aktif atas peluang untuk berkontribusi pada keberhasilan organisasi dan
memimpin dalam mengejar peluang yang tampak menjanjikan. Perilaku adaptif
lebih menunjukkan kemampuan pekerja untuk berperan dalam kapasitas yang
berbeda di semua tingkat kebutuhan kerja.
Definisi Job Satisfaction (skripsi, tesis, dan disertasi)
Job satisfaction (kepuasan kerja) adalah suatu sikap karyawan terhadap
pekerjaan yang berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan,
imbalan yang diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan
psikologis. Kondisi tersebut dapat di pandang sebagai suatu keadaan emosional
yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi para karyawan memandang
pekerjaan mereka. (Sutrisno, 2009). Pendapat lain menjelaskan bahwa job
satisfaction merupakan tingkatan rasa puas individu bahwa mereka mendapat
imbalan yang setimpal dari bermacam-macam aspek situasi pekerjaan dari
organisasi tempat mereka bekerja dan bagaimana karyawan memandang
pekerjaannya (Sunyoto, 2012).
Faktor Pembentuk Employee Engagement (skripsi, tesis, dan disertasi)
Wang et al. (2017) menjelaskan terdapat 3 faktor yang dapat membentuk
employee engagement, yaitu: vigor, dedication, and absorption. Ketiga aspek ini
merupakan konsep yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat employee
engagement. Vigor menggambarkan level energi dan mental resiliensi yang dimiliki
seseorang ketika bekerja. Selain itu, vigor juga menunjukkan usaha yang besar
dalam menyelesaikan pekerjaan, tidak mudah merasa lelah, dan tekun dalam
melakukan pekerjaan. Dedication menggambarkan perasaan atusias karyawan di
dalam bekerja, bangga dengan pekerjaan yang dilakukan, serta merasa terinspirasi
dan tertantang dengan pekerjaan. Absorption menggambarkan keadaan karyawan
terbenam secara total, merasa senang melakukan pekerjaannya, dan merasa sulit
untuk melepaskan diri dengan pekerjaan.
Pengertian Employee Engagement (skripsi, tesis, dan disertasi)
Employee Engagement (keterikatan karyawan) merupakan bentuk
hubungan emosional dan intelektual yang dimiliki oleh karyawan terhadap
pekerjaannya, organisasi, manajer, atau rekan kerja (Gibbons, 2006). Keterikatan
karyawan merupakan sikap positif yang ditunjukkan karyawan terhadap organisasi
dan nilai perusahaan. Seorang karyawan yang memiliki keterikatan akan lebih
memiliki kesadaran terhadap bisnis organisasi dan mampu bekerja sama untuk
meningkatkan kinerja untuk keuntungan organisasi (Robertson dan Cooper, 2010).
Gibbons (2006) menunjukkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
keterikatan karyawan, antara lain:
1. Kepercayaan dan integritas. Hal ini adalah terkait dengan sejauh mana
kepemimpinan organisasi dianggap peduli terhadap karyawan,
mendengarkan dan menanggapi pendapat mereka.
2. Sifat pekerjaan. Sifat pekerjaan merupakan kondisi sejauh mana
keterlibatan karyawan dan otonomi karyawan dalam bekerja.
3. Hubungan antara kinerja individu dan perusahaan. Hubungan ini
menunjukkan sejauh mana karyawan memahami tujuan perusahaan,
tingkat kinerja saat ini, dan bagaimana karyawan memberikan kontribusi
terbaik.
4. Peluang pertumbuhan karier. Peluang pertumbuhan karier merupakan
kondisi sejauh mana karyawan memiliki peluang untuk "pertumbuhan
karier dan promosi" atau memiliki jalur karier yang jelas.
5. Kebanggaan perusahaan. Hal ini terkait dengan sejauh mana karyawan
mendapatkan harga diri dari pekerjaan mereka.
6. Rekan kerja/anggota tim. Kondisi merupakan sikap dan perspektif rekan
kerja terhadap pekerjaan dan perusahaan mereka.
7. Pengembangan karyawan. Hal ini adalah terkait dengan sejauh mana upaya
dilakukan untuk mengembangkan keterampilan karyawan.
8. Hubungan pribadi dengan manajer seseorang, yang merupakan kondisi
sejauh mana karyawan tersebut menghargai hubungan ini.
Faktor-faktor tersebut di atas mencerminkan filosofi manajemen secara
keseluruhan, yaitu integritas manajer di semua tingkat organisasi, perlakuan
karyawan dengan hormat, komunikasi secara efektif, keterlibatan karyawan dalam
pengambilan keputusan, dan timbulnya kebanggaan dalam pekerjaan karyawan.
Employee engagement adalah bentuk sikap positif karyawan terhadap
organisasi. Seorang karyawan yang memiliki keterikatan (employee engaged)
memiliki kesadaran atau komitmen terhadap lingkungan bisnis organisasi, dan
mampu bekerja dengan orang lain untuk meningkatkan kinerja untuk kepentingan
organisasi. Wujud dari employee engagement dapat dilihat dari rasa memiliki
pekerjaan, perasaan bangga, usaha yang lebih dari biasanya, dan semangat dalam
menyelesaikan pekerjaan (Endres dan Smoak, 2008). Keadaan ini membawa
karyawan pada suatu keadaan pemenuhan diri yang positif, sehingga
menumbuhkan rasa memiliki dan pada akhirnya karyawan akan merasa sulit untuk
melepaskan diri dengan pekerjaan (Field dan Buitendach, 2011). Dampak sikap
positif karyawan terhadap organisasi adalah karyawan yang memiliki loyalitas yang
tinggi (Robertson dan Cooper, 2010).
Proses Analisis (skripsi, tesis, dan disertasi)
Proses analisis merupakan suatu proses pemahaaman informasi kasus secara
menyeluruh, menganalisis situasi dan mencari tahu isu yang sedang terjadi, serta memutuskan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Cara memahai keseluruhan
informasi yaitu dengan memahami secara detail semua informasi dan melakukan
analisis secara numerik.
Kerangka analisis kasus meliputi:
1. Memahami situasi dan informasi yang ada.
2. Memahami masalah yang terjadi baik umum maupun spesifik.
3. Menciptakan alternatif pemecahan masalah.
4. Evaluasi sisi pro dan kontra dan memberi bobot dan skor alternatif
Pengertian Analisis (skripsi, tesis, dan disertasi)
Menurut Komaruddin (2001), analisis adalah kegiatan berpikir menguraikan
keseluruhan menjadi suatu komponen sehinga dapat mengenal tanda-tanda
komponen itu sendiri, hubungan antara yang satu dengan yang lainnya dan fungsi
masing-masingnya dalam satu kesatuan yang terpadu . Menurut Harahap (2004),
analisis berarti suatu proses memecahkan atau menguraikan unit tertentu menjadi
berbagai unit terkecil . Menurut Kamus Akuntansi (2000), analisis adalah sutu
kegiatan evaluasi terhadap kondisi pos-pos atau ayat-ayat yang berkaitan dengan
akuntansi dan alasan yang mana kemungkinan perbedaan akan ditemukan di
dalamnya
Definisi Perencanaan Strategis (skripsi, tesis, dan disertasi)
Prencanaan strategis adalah kegiatan yang meliputi pengamatan hati-hati
terhadap persaingan, peraturan, tingkat inflasi, siklus bisnis, dan harapan para
konsumen serta faktor-faktor lain yang dapat mengidentifikasi peluang dan
ancaman. Tujuan utama perencanaan strategis ini ialah agar perusahaan bisa bisa
kondisi internal dan eksternal secara lebih objektif sehingga perusahaan dapat
mengantisipasi perubahan yang terjadi dilua
Pengalaman Usaha (skripsi, tesis, dan disertasi)
Pengalaman merupakan peristiwa yang tertangkap oleh panca indera
dan tersimpan dalam memori. Pengalaman dapat diperoleh ataupun
dirasakan saat peristiwa baru saja terjadi maupun sudah lama berlangsung.
Pengalaman yang terjadi dapat diberikan kepada siapa saja untuk digunakan
dan menjadi pedoman serta pembelajaran manusia. (Notoatmojodalam
Saparwati,2012).
Sedangkan menurut Mapp dalam Saparwati (2012) Pengalaman
dapat diartikan sebagai sesuatu yang pernah dialami, dijalani maupun
dirasakan, baik sudah lama maupun yang baru saja terjadi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Usaha adalah kegiatan
dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu
maksud; pekerjaan (perbuatan, prakarsa, ikhtiar, daya upaya) untuk
mencapai sesuatu.
Sedangkan dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang wajib
daftar perusahaan, usaha adalah setiap tindakan, perbuatan, atau kegiatan
apapun dalam bidang perekonomian yang dilakukan oleh setiap pengusaha
atau individu untuk tujuan memperoleh keuntungan atau laba
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengalaman
usaha adalah peristiwa yang pernah dialami oleh sesorang dimasa lalu
ataupun yang baru saja terjadi mengenai kegiatan yang mengarahkan tenaga
dan pikiran u\dalam bidang perekonomian untuk memperoleh keuntungan
atau laba.
Pengalaman dapat mempengaruhi pendapatan yang diperoleh
pelaku usaha. Pengalaman diukur dari perjalanan waktu yang telah dilalui
oleh pelaku usaha selama jangka waktu tertentu dalam mengembangkan
usahanya. Kebutuhan akan pengalaman mengelola usaha semakin
diperlukan dengan meningkatnya persaingan antar pelaku usaha. Banyak
pelaku usaha yang baru menjalankan usahanya terkadang tidak mampu
mengambil keputusan saat perusahaan sedang dilanda masalah sehingga
keputusan yang diambil tidak tepat atau lamban sehingga menghambat
produktivitas usahanya serta dapat memungkinkan terjadinya kegagalan
usaha.
Maka dari itu, pelaku UMKM wajib memiliki pengalaman usaha
agar dapat menunjang pengembangan usahanya menjadi lebih baik.
Pengalaman usaha tidak harus didapatkan dari berapa lamanya usaha telah
dilakukan, tetapi juga bisa mencontoh dari pengalaman usaha orang lain
yang sudah berhasil mengembangkan usahanya.
Metode SCOR (skripsi, tesis, dan disertasi)
SCOR (SupplyChain Operation Reference) merupakan
suatu referensi model yang digunakan untuk mengukur kinerja
dari Supply Chain. SCOR mengkobinasikan beberapa elemen
yakni Business Process Engineering, benchmarking dan aplikasiaplikasi yang mengarah kepada suatu kerangka. Secara hierarki,
model SCOR supply chain management terdiri dari proses-proses
detail yang saling terintegrasi dari supplier-nya supplier sampai
customer-nya customer dimana semua proses tersebut searah
dengan strategi operasional, material, kerja dan aliran informasi
perusahaan.
Business processs re-engineering atau menyusun kembali
proses bisnis memaparkan tentang bagaimana proses bisnis yang
dilakukan oleh perusahaan saat ini (as-is) kemudian
mendefinisikan proses yang diinginkan (to-be). Lalu,
benchmarking adalah kegiatan membandingkan antara data
kinerja operasional perusahaan dengan perusahaan sejenis yang
kinerjanya tergolong best-in-class. Sedangkan process
measurement atau pengukuran proses berfungsi untuk mengukur,
mengendalikan, dan memperbaiki proses-proses rantai pasokan
agar efektif dan efisien.
Ada 5 proses inti dalam model SCOR adalah Plan, Source,
Make, Deliver, Return. Plan yaitu proses menyeimbangkan
antara permintaan dengan sumber daya yang tersedia. Source
yaitu proses pengadaan barang dan jasa sesuai rencana. Make
yaitu proses mengubah input menjadi output sesuai kebutuhan
pelanggan. Deliver merupakan proses pengiriman permintaan
produk kepada konsumen. Return yaitu pengembalian produk
dari konsumen kepada perusahaan karena berbagai alasan yang
disetujui kedua pihak. Lima proses inti tersebut harus
didefinisikan secara jelas agar kinerja rantai pasokan dapat diukur
dengan baik
Mengelola Rantai Pasokan (skripsi, tesis, dan disertasi)
Pada dasarnya dalam mengeola rantai pasokan bukanlah hal yang
mudah, dibutuhkan ketelitian dan kedisiplinan dalam menjalankan
proses operasionalnya. Dalam pelaksanaan manajemen rantai pasokan,
pasti ada target, sasaran, atau sesuatu yang diharapkan untuk dicapai.
Oleh karena itu, dibutuhkan pengelolaan kinerja rantai pasok yang baik
dan terintegrasi. Tanpa pengelolaan yang baik dan terintegrasi, maka
perbaikan yang dilakukan kemungkinan besar tidak berpengaruh
terhadap kinerja rantai pasok menjadi lebih baik. Berikut penjelasan
lebih dalam mengenai definisi kinerja dan pengelolaan kinerja rantai
pasokan dikutip dari beberapa literatur.
Menurut Heizer dan Rander (2010), pengelolaan rantai pasokan
yang sukses adalah dimulai dengan kesepakatan tujuan bersama, diikuti
dengan kepercayaan bersama, dan dilanjutkan dengan budaya
organisasi yang sejalan.
1) Kesepakatan tujuan bersama
Sebuah rantai pasokan yang terintegrasi memerlukan kerjasama
yang baik dalam hubungan dengan anggotanya. Anggota rantai
pasokan harus menghargai bahwa satu-satunya pihak yang
menanamkan modal pada sebuah rantai pasokan adalah
pelanggan akhir. Oleh karena itu, perlu pemahaman timbal balik
mengenai misi, strategi, dan sasaran dari organisasi. Rantai
pasokan yang terintegrasi menambah nilai ekonomi dan
memaksimalkan isi total produk.
2) Kepercayaan bersama
Kepercayaan merupakan hal penting dalam rantai pasokan yang
efektif dan efisien. Anggota rantai pasokan harus masuk ke dalam
hubungan dan saling berbagi informasi. Hubungan yang
dibangun berdasar saling percaya. Hubungan antar pemasok
cenderung akan berhasil, jika risiko dan penghematan biaya
dibagi. Aktivitas seperti penelitian konsumen, analisis penjualan,
prediksi, dan perencanaan produksi merupakan aktivitas bersama.
3) Budaya organisasi yang sejalan
Sebuah hubungan yang positif diantara organisasi pembeli dan
pemasok dengan budaya organisasi yang sesuai, dapat menjadi
keuntungan nyata dalam membuat rantai pasokan menjadi lebih
baik. Dalam aktifitas operasional, sering kali tidak bisa terlepas
dengan integritas rantai pasokan mulai dari pengadaan bahan
baku sampai pengiriman kepada konsumen. Oleh karena itu untuk
mengelola rantai pasokan dibutuhkan kesepakatan tujuan
bersama, diikuti dengan kepercayaan bersama, dan dilanjutkan
dengan budaya organisasi yang sejalan.
Strategi Manajemen Rantai Pasokan (skripsi, tesis, dan disertasi)
Strategi adalah kumpulan berbagai keputusan dan aksi yang
dilakukan oleh suatu organisasi atau oleh beberapa organisasi secara
bersama-bersama (Pujawan & Mahendrawati, 2014). Dalam menyusun
strategi operasional terdapat beberapa hal yang perlu dipahami.
Menurut Heizer and Render (2010) perusahaan harus memutuskan
suatu strategi rantai pasokan dalam memperoleh barang dan jasa dari
luar. Beberapa strategi tersebut antara lain:
1) Banyak Pemasok
Dengan strategi banyak pemasok, pemasok menanggapi
permintaan dan spesifikasi permintaan penawaran, dengan
pesanan yang umumnya akan jatuh ke pihak yang memberikan
penawaran rendah.
2) Sedikit Pemasok
Strategi yang memiliki sedikit pemasok mengimplikasikan
bahwa dari pada mencari atribut jangka pendek, seperti biaya
rendah, pembeli lebih ingin menjalin hubungan jangka panjang
dengan pemasok yang setia. Penggunaan pemasok yang hanya
sedikit dapat menciptakan nilai dengan memungkinkan pemasok
memiliki skala ekonomi dan kurva belajar yang menghasilkan
biaya transaksi dan biaya produksi yang lebih rendah.
3) Integrasi Vertikal
Integrasi vertikal mengembangkan kemampuan untk
memproduksi barang atau jasa yang sebelumnya dibeli atau
membeli perusahaan pemasok atau distributor. Integrasi vertikal
dapat mengambil bentuk integrasi maju atau mundur. Integrasi
mundur menyarankan perusahaan untuk membeli pemasoknya.
Integrasi maju menyarankan produsen komponen untuk membuat
produk jadi.
4) Jaringan Keiretsu
Keiretsu merupakan sebuah istilah bahasa Jepang untuk
menggambarkan para supplier menjadi bagian dari sebuah
perusahaan. Anggota keiratsu dipastikan memiliki hubungan
jangka panjang dan karenanya diharapkan dapat berperan sebagai
mitra yang memberikan keahlian teknis dan kestabilan mutu
produksi.
5) Perusahaan Virtual
Perusahaan yang mengandalkan beragam hubungan pemasok
untuk menyediakan jasa atas permintaan yang diinginkan. Juga
dikenal sebagai korporasi berongga atau perusahaan jaringan.
Melalui pelaksanaan salah satu atau gabungan dari strategistrategi diatas, diharapkan semua rantai pasokan mampu bekerjasama
mencapai tujuan bersama dengan baik. Pemilihan strategi manajemen
rantai pasokan sebaiknya disesuaikan dengan bentuk perusahaan yang
dijalankan, agar dapat berfungsi secara optimal.
Pengertian dan Konsep Supply Chain Management (skripsi, tesis, dan disertasi)
Untuk memahami manajemen rantai pasokan secara dalam,
penulis akan menguraikan definisi dari manajemen rantai pasokan atau
supply chain management (SCM) yang diambil dari beberapa literatur.
Sampai saat ini, telah banyak literatur dan para ahli yang menjelaskan
definisi dari manajemen rantai pasokan. Berikut ini adalah pembahasan
lebih lanjut mengenai hal tersebut.
Heizer & Render (2015) mendifinisikan, manajemen rantai
pasokan adalah pengintegrasian aktivitas pengadaan bahan dan
pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk jadi,
serta pengiriman ke pelanggan. Perlu adanya koordinasi dan kolaborasi
antar perusahaan pada rantai pasokan karena pada dasarnya, semua
perusahaan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan
produk terbaik kepada konsumen. Manajemen rantai pasokan tidak
hanya melihat sisi internal, namun juga sisi eksternal yang menyangkut
hubungan perusahaan-perusahaan partner. Aktivitas yang ada dalam
manajemen rantai pasokan yaitu menemukan transportasi ke vendor,
pemindahan uang secara kredit dan tunai, para pemasok, bank dan
distributor, utang dan piutang usaha, pergudangan dan tingkat
persediaan, pemenuhan pesanan, dan berbagi informasi pelanggan,
prediksi, dan produksi.
Supply chain management adalah seperangkat pendekatan yang
mengefisienkan integrasi supplier, manufaktur, gudang dan
penyimpanan, sehingga barang diproduksi dan didistribusikan dalam
jumlah yang tepat, lokasi yang tepat, waktu yang tepat, untuk minimasi
biaya dan memberikan kepuasan layanan terhadap konsumen (SimichiLevi, 2003).
Menurut Daft (2003) Supply chain management merupakan
istilah bagi pengelolaan dari pembelian bahan baku sampai
pendistribusian barang jadi kepada konsumen akhir. Sedangkan
menurut Haming dan Nurjammudin (2012) Supply chain management
adalah proses perencanaan, penerapan dan pengendalian operasi dari
rantai pasokan dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan pelanggan
seefisien mungkin.
Employee Agility (skripsi, tesis, dan disertasi)
Employee Agility didefinisikan sebagai kemampuan karyawan untuk merespons secara
efektif dan tepat waktu terhadap perubahan yang dinamis dan terus berubah, serta mereka
memanfaatkan perubahan tersebut untuk mencapai keuntungan maksimal. Employee Agility atau
kelincahan karyawan dianggap sangat krusial untuk dimiliki karyawan dalam perusahaan. Hal ini
karena, Employee Agility diharapkan akan meningkatkan kemampuan kecepatan dalam
beradaptasi, inovasi, fleksibilitas, serta kemampuan karyawan terhadap perubahan-perubahan
baru. Kelincahan karyawan ini dapat dilihat berdasarkan perspektif perilaku karyawan itu sendiri.
Karyawan yang lincah biasanya memiliki perilaku yang proaktif, adaptif, dan generatif (Saad Mian
& Saad Mian, 2017). Pandangan ini dilihat pada bagaimana kemampuan karyawan dalam
beradaptasi, serta bagaimana kemampuanya untuk secara proaktif merespons dan mempersiapkan
perubahan demi menjadi lebih agile. Berdasarkan (Hida Syahchari et al., n.d.), bahwa perusahaan
yang memiliki karyawan yang agile akan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan dan
lonjakkan pasar, serta dapat merespons dengan tepat dan fleksible terhadap permintaan pelanggan.
Dari definisi-definisi tersebut, ruang lingkup Employee Agility ini berfokus pada kemampuan
karyawan dalam menangani ketidakpastian dan peluang baru (Bala et al., 2019). Menurut (Bala et
al., 2019), seorang yang memiliki keterbukaan dan ekstraversi (seseorang yang minatnya lebih
mengarah ke alam luar dari pada pengalaman sendiri) tinggi belum tentu lincah atau gesit di tempat
kerja. Justru, menjadi agile atau lincah di tempat kerja adalah seseorang yang dapat
memperhatikan, belajar, dan juga dapat menanggapi perubahan lingkungan pada situasi kerja.
Berdasarkan penelitian (Rawashdeh & Tibor, 2020) di sektor perbankan pun mengatakan, bahwa
karyawan dengan kemampuan agile yang tinggi, mereka akan mampu menerapkan dan
menghasilkan ouput inovatif yang lebih besar. Namun, perlu diperhatikan bahwa terdapat sebagian
besar karayawan yang tidak mampu berperilaku inovatif dalam situasi stress atau dengan jadwal
yang menuntut. Oleh karena itu, Employee Agility yang dianggap krusial ini, perusahaan harus
berusaha untuk membuat lingkungan kerja yang lebih fleksibel dan sehat demi lingkungan kerja
yang sehat, sehingga dapat membantu karyawan menjadi lebih agile bahkan dalam sitausi paling
kritis sekalipun.
Agility (skripsi, tesis, dan disertasi)
Agility atau dalam Bahasa Indonesia adalah kelincahan, didefinisikan sebagai kemampuan
sebuah perusahaan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah dengan cepat.
Kemampuan untuk beradaptasi di tengah pasar yang kompleks dan bergejolak saat ini, akan
menghasilkan keunggulan kompetitif jika perusahan berhasil merespons perubahan dengan cara
yang tepat. Penerapan pola pikir yang lebih agile dalam perusahaan inilah akan berperan besar
dalam kesuksesan perusahaan tersebut. Oleh karena itu, perusahaan berharap untuk mendorong
kecepatan serta kemampuan beradaptasi dengan menerapakn strategi agility pada para pemimpin
dan karyawan mereka. Berdasarkan (Petermann & Zacher, 2020), menilai bahwa kelincahan bagi
perusahaan adalah hal yang sangat penting, dan kelincahan ini akan semakin penting dalam tiga
tahun ke depan. Dalam linkungan perusahaan yang agile atau gesit, karyawan akan cenderung
berkomunikasi satu sama lain dengan baik demi keberhasilan perusahaan. Untuk itu, perusahaan
dengan budaya yang gesit tidak akan khawatir dan takut akan kegagalan. Bahkan, sekali pun
mengalami kegagalan, kegagalan itu akan diterima demi perbaikan yang lebih lagi. Menjadi agile
memungkin perusahaan bergerak lebih cepat dan dapat mengungguli pesaing mereka. Faktanya,
banyak perusahaan, seperti Spotify dan Zappos telah mendesain ulang perusahaan mereka agar
lebih agile (Petermann & Zacher, 2020). (Baran & Bible, 2019) juga menyarakan, bahwa
kelincahan sangat penting bagi organisasi untuk menangani perubahan yang dihadapi.
Hubungan Kepemimpinan Stratejik terhadap Strategi Bersaing (skripsi, tesis, dan disertasi)
“Strategic Leadership on CEOs are needed to get an effective strategy
competitiveness” (Rothaerment, 2015). Dalam Rothaerment (2015) CEO yang
memiliki kepemimpinan stratejik memiliki kemampuan dalam memilih strategi
yang sesuai dengan kebutuhan perusahaannya, karena pemimpin yang memiliki
kepemimpinan stratejik lebih sering berhubungan langsung dengan bawahan,
sehingga paham akan kemampuan dari perusahaannya sendiri.
Sedangkan menurut Dess et al. (2008) “executives whose vision and mission
enable their organizations to achieve competitive advantage demonstrate of
Strategic Leadership. The behaviour and styles of executives that influence other
to achieve the organization vision and mission by effective strategy”.
Tidak jauh berbeda, dalam tahapan manajemen strategi proses manajemen
strategi terdiri dari tiga tahap: perumusan strategi, implementasi strategi, dan
evaluasi strategi (David, 2008)
1. Perumusan Strategi Keputusan perumusan strategi mengikat suatu
organisasi pada produk, pasar, sumber daya, dan teknologi spesifik
selama periode waktu tertentu. Perumusan strategi termasuk memutuskan
bisnis baru apa yang perlu dimasuki, bisnis apa yang harus dihentikan,
bagaimana mengalokasikan sumberdaya, apakah memperluas operasi
atau diversifikasi, apakah akan memasuki pasar internasional, apakah
akan melakukan merjer atau membentuk usaha patungan, dan bagaimana
menghindari pengambilalihan perusahaan pesaing. Dalam hal ini
dibutuhkan pemimpin yang memiliki kepemimpian stratejik, tanggap
terhadap kebutuhan strategi perusahaan.
2. Implementasi Strategi sering disebut juga tahap melakukan tindakan
dalam manajemen strategi. Melakukan implementasi berarti,
mengarahkan atau menggerakkan manajer-manajer dan karyawankaryawan untuk menerapkan strategi yang telah diformasikan ke dalam
sebuah tindakan nyata. Strategi implementasi memiliki tiga tindakan
dasar yaitu: membuat tujuan tahunan, membuat kebijakan dan
mengalokasikan sumberdaya.
3. Evaluasi Strategi Tahap terakhir di dalam manajemen strategi adalah
evaluasi strategi. Semua strategi-strategi dapat dimodofikasi di masa
yang akan datang, sebab faktor eksternal dan internal selalu berubah. Di
dalam evaluasi strategi terdapat tiga tindakan dasar yaitu : melihat
kembali faktor-faktor internal dan eksternal untuk dasar penerapan
strategi saat ini, mengukur kinerja perusahaan mengambil tindakan
pengkoreksian. Evaluasi strategi dibutuhkan karena, keberhasilan saat ini
adalah bukan merupakan jaminan untuk berhasil di hari esok.
Strategi Kombinasi (combination) (skripsi, tesis, dan disertasi)
Oleh karena berbagai perubahan eksternal seringkali hadir secara tidak
seragam (dan bahkan terkadang sulit diduga) terhadap berbagai lini produk
(product line) yang dihasilkan suatu perusahaan seperti daur hidup produk
(product life cycle) yang tidak seragam, maka perusahaan tersebut dapat saja
melakukan kombinasi atas ketiga jenis strategi di atas secara bersama.
Dari pendapat tersebut, penulis memilih teori Porter sebagai dimensi yang
dipakai, karena dalam prapenelitian yang dilakukan di beberapa UKM kuliner di
Kota Bandung, strategi yang biasa mereka lakukan adalah strategi bersaing dari
Porter.
Strategi Stabilitas (stability) (skripsi, tesis, dan disertasi)
Pada prinsipnya, strategi ini menekankan pada tidak bertambahnya produk,
pasar dan fungsi-fungsi perusahaan karena berusaha untuk meningkatkan efisiensi
di segala bidang dalam rangka meningkatkan kinerja dan keuntungan. Strategi ini
relatif rendah resiko dan biasanya dilakukan untuk produk yang tengah berada
pada posisi matang/dewasa (maturity).
2. Strategi Ekspansi (expansion)
Strategi ekspansi menekankan pada penambahan atau perluasan produk,
pasar dan fungsi dalam perusahaan sehingga aktivitas perusahaan meningkat.
Tetapi selain keuntungan yang ingin diraih lebih besar, strategi ini juga
mengandung resiko kegagalan yang tidak kecil.
3. Strategi Penciutan (retrenchment)
Strategi penciutan dimaksudkan untuk melakukan pengurangan atas pasar
maupun fungsi-fungsi dalam perusahaan yang memiliki aliran keuangan (cashflow) negatif. Biasanya strategi ini diterapkan pada perusahaan yang berada pada
tahap menurun (decline)
Strategi Bersaing (skripsi, tesis, dan disertasi)
Persaingan bisnis yang semakin kompetitif menuntut perusahaan untuk
menerapkan strategi bisnis yang tepat dalam menghadapi lingkungan bisnis yang
turbulen, yang diindikasikan oleh proses inovasi secara terus menerus dan
tingginya tingkat perubahan selera konsumen. Menurut Kathandaraman dan
Wilson dalam Suhartati and Rosietta (2012) salah satu kunci sukses perusahaan
dalam persaingan bisnis adalah memiliki dan mempertahankan keunggulan
kompetitif yang terletak pada kemampuan perusahaan untuk membedakan diri
dengan pesaingnya dan kemampuan produksi dengan biaya yang lebih rendah.
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) strategi /stra·te·gi/ /stratégi/
adalah ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa(-bangsa) untuk
melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai; ilmu dan seni
memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam perang, dalam kondisi
yang menguntungkan. Sedangkan menurut Chandler (1965) strategi merupakan
penetapan sasaran dan tujuan jangka panjang sebuah perusahaan dan arah
tindakan serta alokasi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan
tujuan itu. Sedangkan dalam manajeman strategi yang baru, Mintzberg dalam
Porter (2015) mengemukakan 5P yang sama artinya dengan strategi, yaitu
Strategi adalah Perencanaan (Plan) Konsep strategi tidak lepas dari aspek
perencanaan, arahan atau acuan gerak langkah perusahaan untuk mencapai suatu
tujuan di masa depan. Akan tetapi, tidak selamanya strategi adalah perencanaan ke
masa depan yang belum dilaksanakan. Strategi juga menyangkut segala sesuatu
yang telah dilakukan sebelumnya. Strategi adalah Pola (Patern) Menurut
Mintzberg (2014) “strategy is patern”, yang selanjutnya disebut sebagai intended
strategy, karena belum terlaksana dan berorientasi ke masa depan. Atau disebut
juga sebagai realized strategy karena telah dilakukan oleh perusahaan. Strategi
adalah Posisi (Position) yaitu memposisikan produk tertentu ke pasar tertentuyang
dituju. Strategi sebagai posisi cenderung melihat ke bawah, yaitu ke suatu titik
bidik di mana produk tertentu bertemu dengan pelanggan, dan melihat ke luar
yaitu meninjau berbagai aspek lingkungan eksternal. Strategi adalah Perspektif
(Perspektif) jika dalam arti Pola dan Posisi cenderung melihat ke bawah dan ke
luar, maka sebaliknya dalam Perspektif cenderung lebih melihat ke dalam yaitu ke
dalam organisasi, dan ke atas yaitu melihat grand vision dari perusahaan. Strategi
17
adalah Permainan (Play) artinya strategi adalah suatu manuver tertentu untuk
memperdaya lawan atau pesaing. Suatu merek misalnya meluncurkan merek
kedua agar posisinya tetap kukuh dan tidak tersentuh, karena merek-merek
pesaing akan sibuk berperang melawan merek kedua tadi.
Cara perusahaan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif yang
berkelanjutan merupakan inti dari strategi bersaing. Pilihan strategi bersaing
didasarkan pada keunggulan kompetitif yang dapat dikembangkan oleh
organisasi. Bagaimana cara organisasi akan bersaing dalam suatu industri adalah
pilihan strategi bersaing. Menurut Porter dalam Wheelen and Hunger (2012),
strategi bersaing dapat dilakukan dengan kepemimpinan biaya, diferensiasi, dan
focus atau biasa disebut dengan strategi bersaing generik.
Dalam karyanya yang paling terkenal competitive strategy. Michael p.
Porter dalam Wheelen and Hunger (2012) mengungkapkan beberapa strategi yang
dapat digunakan perusahaan untuk bersaing. Beberapa aspek inti dari teori Porter
tersebut adalah:
1. Persaingan merupakan inti keberhasilan dan kegagalan. Hal ini berarti
bahwa keberhasilan atau kegagalan bergantung pada keberanian perusahaan
untuk dapat bersaing. Strategi bersaing dimaksudkan untuk
mempertahankan tingakat keuntungan dan pasisi yang langeng ketika
menghadapi persaingan.
2. Keunggulan bersaing berkembang dari nilai yang mampu diciptakan oleh
perusaan bagi langganan atau pembeli. Keunggulan bersaing
menggambarkan cara perusahaan memilih dan dan mengimplementasikan
strategi generik untuk mencapai dan mempertahankan keunggulan bersaing.
3. Ada dua jenis dasar keunggulan bersaing, yaitu biaya rendah dan
diferensiasi. semua keunggulan bersaing ini berasal dari struktur industri.
perusahaan yang berhasil dengan strategi biaya rendah memiliki
kemampuan dalam mendisain produk dan pasar yang lebih efisien
dibandingkan pesaing. Sedangkan diferensiasi adalah kemapuan untuk
menghasilkan barang dan jasa unit serta memiliki nilai lebih bagi pembeli
dan bentuk kualitas produk, sifat-sifat khusus, dan pelayanan lainnya.
Karakteristik Kepemipinan Stratejik (skripsi, tesis, dan disertasi)
Sedangkan Karakteristik lain dari kepemimpinan strategis disebutkan
dalam Dudin and Al-rbabah (2015) adalah :
a. Loyalty (kemampuan dan efektifitas menunjukkan kesetiaan pada visi,
kata-kata dan tindakan),
b. Keeping them updated (menjaga pembaharuan informasi tentang
organisasi),
c. Judicious use of power (bijaksana menggunakan kekuasaan dalam
mengembangkan persetujuan bagi ide-ide ketimbang memaksakan ide-ide
tersebut)
d. Have wide perspective/outlook (memiliki wawasan, ketrampilan dan
pengetahuan yang luas),
e. Motivation (memiliki semangat untuk bekerja melampaui uang dan
kekuasaan),
f. Compassion (memahami persepsi dan perasaan bawahan, keputusan
diambil setelah mempertimbangkan bawahan),
g. Self-control (memiliki potensi untuk mengendalikan suasana hati dan
keinginan yang mengganggu; berpikir sebelum bertindak)
h. Social skills (ramah dan punya sifat sosial),
i. Self awareness (potensi untuk memahami suasana hati dan emosi serta
dampaknya terhadap orang lain),
j. Readiness to delegate and authorize (menyadari bahwa delegasi akan
menghindari over-loading tanggungjawab, mengakui kenyataan bahwa
bawahan juga punya otoritas untuk membuat keputusan yang akan
memotivasi mereka),
k. Articularly (artikulasi yang cukup untuk mengkomunikasikan visi kepada
anggota organisasi dalam meningkatkan peran para anggota),
l. Constancy/ reliability (menjadikan visi organisasi menjadi komponen
budaya organisasi).
Dimensi Kepemimpinan Strategik (skripsi, tesis, dan disertasi)
Dimensi Kepemimpinan Strategik menurut Hill and Jones (2013) yang
terdiri dari :
1. Vision artina pemimpin yang kuat harus memiliki visi yang jelas dan lengkap
tentang kemana organisasi akan dibawa, memiliki kemampuan berbicara
untuk mengkomunikasikan visi kepada orang lain dalam organisasi, dan
konsisten untuk menyampaikan visi sampai menjadi bagian dari budaya
organisasi.
2. Articulations Business Model artinya memiliki kemampuan untuk
mengidentifikasi dan menyampaikan model bisnis perusahaan.
3. Convey the information well mengembangkan jaringan melalui sumber
formal dan informal yang akan menyampaikan apa yang akan sedang terjadi
di perusahaan.
4. Use their power wisely artinya pemimpin cerdik dalam menggunakan
kekuasaan dengan cara menjadi pemimpin yang demokratis dan tidak otoriter.
Pemimpin memiliki kemampuan untuk mendelegasikan secara efektif dan
bertanggung jawba, memberdayakan bawahan untuk membuat keputusan.
5. Emotional Intellegent artinya memiliki beberapa sifat lain seperti self
awareness, motivation, empathy, dan social skills.
Selain itu menurut Funda Ozer and Tinaztepe (2014) kepemimpinan
stratejik memiliki dimensi:
1. Transformational Leadership adalah jenis gaya kepemimpinan yang dapat
menginspirasi perubahan positif pada mereka yang mengikuti.
2. Transactional Leadership adalah pemimpin yang memotivasi pengikut
mereka dalam arah tujuan yang ditegakkan dengan memperjelas peran dan
tuntuan tugas atau menitikberatka pada tugas.
3. Paternalistic Leadership adalah kepemimpinan yang pada dasarnya kehendak
pemimpin juga harus berlaku, nemun dengan jalan atau melalui unsur-unsur
demokratis.
Sedangkan menurut Yulk (2006) dimensi kepemimpinan stratejik antaranya:
1. Articulating an inspiring vision, artinya pemimpin mampu menyampaikan
dan mengajak orang lain untuk mencapai tujuan pemimpin tersebut.
2. Providing individualized consideration artinya pemimpin mampu
memberikan pertimbangan dan keputusan secara individual dalam
pengambilan keputusan.
3. Encouraging Innovative, artinya pemimpin mampu dalam memberdayakan
orang lain untuk melakukan inovasi demi mencapai tujuan perusahaan
Kepemimpinan Stratejik (skripsi, tesis, dan disertasi)
“Untuk bisa bersaing di dalam pasar persaingan yang global, organisasi
membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan efektif” (Dess et al., 2008).
Kepemimpinan adalah suatu proses dimana individu mempengaruhi kelompok
untuk mencapai tujuan umum Northouse dalam Thoyib (2012). Pengertian ini
dipertajam bahwa kepemimpinan itu adalah kemampuan untuk menanamkan
keyakinan dan memperoleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai
tujuan organisasi Dubrin, A. J. Dalam Thoyib (2012). Sedangkan menurut Dess
dkk (2008) kepemimpin adalah agen perubahan yang sukses dalam meyakinkan
bagaimana mereka mengimplementasikan strategi untuk mencapai visi dan misi
mereka. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keemimpinan adalah kemampuan
seseorang untuk mempengaruhi orang lain atau anggota dalam mencapai tujuan
organisasi.
Selanjutnya Yulk (2010) kemampuan pemimpin melakukan tindakan
strategisnya bergantung pada faktor historis organisasi (budaya organisasi) yang
dipengaruhi oleh perubahan lingkungan eksternal (hadirnya kompetitor baru,
perkembangan teknologi, menurunnya permintaan jasa/produk, iklim
politik/peraturan yang berbeda), penguatan strategi dan peningkatan konsistensi
antara strategi, struktur organisasi, budaya dan sumber daya manusia. Bianco dan
Schermerhorn dalam Winerungan dan Thoyib (2012), berpendapat bahwa ciri
atau karakteristik kepemimpinan strategis yakni: terlibat dalam perubahan, lebih
proaktif dalam mengkomunikasikan perubahan, tidak bersedia mengubah
kepemimpinan menjadi konsultan eksternal serta tidak sekedar memiliki visi
perubahan namun disertai kapasitas berkelanjutan untuk implementasi perubahan,
selalu mendorong terciptanya perubahan perilaku secara positif, mandiri dan
memungkinkan orang lain melakukan hal yang sama serta berani mengambil
resiko.
Rothaerment (2015) mengatakan bahwa “Strategy Leadership is the
behaviour and styles of executives that influence others to achieve the
organization” . Sedangkan menurut Ireland and Hitt (2008) mendefinisikan
kepemimpinan strategis sebagai“the ability to anticipate, envision, maintain
flexibility and empower others to create strategic change as necessary.
Sedangkan, Sachin and Bansidhar (2013) mendefinisikan kepemimpinan strategis
sebagai “the ability to influence others to voluntarily make day-to-day decisions
that enhance the long-term viability of the organisation, while at the same time
maintaining its short-term financial stability”.