Jumat, 31 Mei 2024

Pengukuran Kinerja Keuangan


Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan
diatas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain.
Analisis kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap
review data, menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan memberi solusi
terhadap keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu.
Kinerja keuangan dapat dinilai dengan beberapa alat analisis. Berdasarkan
tekniknya, analisis keuangan dapat dibedakan menjadi 8 (delapan) macam,
menurut Jumingan (2006:242) yaitu:

  1. Analisis Perbandingan Laporan Keuangan, merupakan teknik analisis
    dengan cara membandingkan laporan keuangan dua periode atau lebih
    dengan menunjukkan perubahan, baik dalam jumlah (absolut) maupun
    dalam persentase (relatif).
  2. Analisis Tren (tendensi posisi), merupakan teknik analisis untuk
    mengetahui tendensi keadaan keuangan apakah menunjukkan kenaikan
    atau penurunan.
  3. Analisis Persentase per-Komponen (common size), merupakan teknik
    analisis untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing
    aktiva terhadap keseluruhan atau total aktiva maupun utang.
  4. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja, merupakan teknik
    analisis untuk mengetahui besarnya sumber dan penggunaan modal
    kerja melalui dua periode waktu yang dibandingkan.
  5. Analisis Sumber dan Penggunaan Kas, merupakan teknik analisis untuk
    mengetahui kondisi kas disertai sebab terjadinya perubahan kas pada
    suatu periode waktu tertentu.
  6. Analisis Rasio Keuangan, merupakan teknik analisis keuangan untuk
    mengetahui hubungan di antara pos tertentu dalam neraca maupun
    laporan laba rugi baik secara individu maupun secara simultan.
  7. Analisis Perubahan Laba Kotor, merupakan teknik analisis untuk
    mengetahui posisi laba dan sebab-sebab terjadinya perubahan laba.
  8. Analisis Break Even, merupakan teknik analisis untuk mengetahui
    tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak mengalami
    kerugian

Jenis Inovasi


Menciptakan inovasi harus bisa menentukan inovasi seperti
apa yang seharusnya dilakukan dalam meningkatkan pelayanan
publik di Kecamatan Tegalrejo, agar inovasi tersebut dapat
berguna dan berjalan sebagaimana mestinya. Jenis-jenis inovasi
diharapkan dapat memberikan masukan yang positif dalam
menciptakan inovasi layanan publik (Robertson dalam Nugroho
& Siahaan, 2005), jenis-jenis inovasi tersebut antara lain:
1) Inovasi terus menerus
Adalah modifikasi dari produk yang sudah ada dan bukan
pembuatan produk yang baru sepenuhnya. Inovasi ini
menimbulkan pengaruh yang paling tidak mengacaukan
pola perilaku yang sudah mapan. Contohnya,
memperkenalkan perubahan model baru, menambahkan
mentol pada rokok atau mengubah panjang rokok.
2) Inovasi Terusmenerus secara dinamis
Mungkin melibatkan penciptaan produk baru atau
perubahan produk yang sudah ada, tetapi pada umumnya
tidak mengubah pola yang sudah mapan dari kebiasaan
belanja pelanggan dan pemakaian produk. Contohnya
antara lain, sikat gigi listrik, compact disk, makanan
alami dan raket tenis yang sangat besar.
3) Inovasi terputus
Melibatkan pengenalan sebuah produk yang sepenuhnya
baru yang menyebabkan pembeli mengubah secara
signifikan pola perilaku mereka. Contohnya, komputer,
videocassete recorder.

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja perusahaan dapat dikatakan sebagai suatu usaha formal yang
dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas
perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Menurut Sucipto
(2003:6) pengertian kinerja keuangan adalah “penentuan ukuran-ukuran tertentu
yang dapat mengukur keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan dalam
menghasilkan laba”.
Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai “performing measurement“,
yaitu kualifikasi dan efisiensi serta efektifitas perusahaan dalam pengoperasian
bisnis selama periode akuntansi. Dengan demikian pengertian kinerja adalah suatu
usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisien dan
efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu
tertentu (Hanafi, 2007:69).
Penilaian kinerja menurut Srimindarti (2006:34) adalah “penentuan
efektivitas operasional, organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran, standar dan
kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya secara periodik”. Ada dua macam
kinerja, yakni kinerja opeasional dan kinerja keuangan. Kinerja operasional lebih
ditekankan pada kepentingan internal perusahaan seperti kinerja cabang/divisi
yang diukur dengan kecepatan dan kedisiplinan. Sedangkan kinerja keuangan
lebih kepada evaluasi laporan keuangan perusahaan pada waktu dan jangka
tertentu.
Untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan maka secara umum perlu
dilakukan analisis terhadap laporan keuangan, yang menurut Brigham dan
Houston (2007:78) mencakup (1) pembandingan kinerja perusahaan dengan
perusahaan lain dalam industri yang sama dan (2) evaluasi kecenderungan posisi
keuangan perusahaan sepanjang waktu. Laporan keuangan perusahaan
melaporkan baik posisi perusahaan pada suatu waktu tertentu maupun operasinya
selama beberapa periode yang lalu.

Pengukuran Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan perusahaan berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian
kinerja. Pengukuran kinerja adalah kualifikasi dan efisiensi serta efektivitas
perusahaan dalam pengoperasian bisnis selama periode akuntansi.
Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan di atas
kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Analisis
kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap review
data, menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan memberi solusi terhadap
keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu.
a. Rasio Likuiditas
Menurut Kasmir (2012:130) Rasio likuiditas atau sering juga disebut
dengan nama rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan. Caranya adalah dengan
membandingkan komponen yang ada di neraca, yaitu total aktiva lancar
dengan total passiva lancar (utang jangka pendek). Penilaian dapat
dilakukan untuk beberapa periode sehingga terlihat perkembangan
likuiditas perusahaan dari waktu ke waktu.
Tujuan dan manfaat rasio likuditas untuk perusahaan menurut Kasmir
(2012:132) adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau
    utang yang secara jatuh tempo pada saat ditagih. Artinya, kemampuan
    untuk membayar kewajiban yang sudah waktunya dibayar sesuai jadwal
    batas waktu yang telah ditetapkan (tanggal dan bulan tertentu).
  2. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
    pendek dengan aktiva lancar secara keseluruhan. Artinya jumlah
    kewajiban yang berumur di bawah satu tahun atau sama dengan satu
    tahun, dibandingkan dengan total aktiva lancar.
  3. Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
    pendek dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan sediaan atau
    piutang. Dalam hal ini aktiva lancar dikurangi sediaan dan utang yang
    dianggap likuiditasnya lebih rendah.
  4. Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada
    dengan modal kerja perusahaan.
  5. Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk
    membayar utang.
  6. Sebagai alat perencanaan ke depan, terutama yang berkaitan dengan
    perencanaan kas dan utang.
  7. Untuk melihat kondisi dan posisi likuiditas perusahaan dari waktu ke
    waktu dengan membandingkannya untuk beberapa periode.
  8. Untuk melihat kelemahan yang dimiliki perusahaan, dari masing-
    masing komponen yang ada di aktiva lancar dan utang lancar.
  9. Menjadi alat pemicu bagi pihak manajemen untuk memperbaiki
    kinerjanya, dengan melihat rasio likuiditas yang ada pada saat ini.

Pengertian Inovasi


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2009), inovasi
diartikan pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru;
penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang
sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Inovasi
organisai bisa didefinisikan sebagai cara-cara baru dalam
pengaturan kerja, dan dilakukan dalam sebuah Organisasi untuk
mendorong dan mempromosikan keunggulan kompetitif. Inti dari
inovasi organisasi adalah kebutuhan untuk memperbaiki atau
mengubah suatu produk, proses atau jasa (Sutarno, 2012).
Inovasi merupakan sebuah ide, praktek, atau objek yang
dianggap baru oleh individu satu unit adopsi lainnya (Rogers,
2003) . Sedangkan menurut (Damanpour dalam Suwarno, 2008)
menjelaskan bahwa sebuah inovasi dapat berupa produk atau jasa
baru, teknologi proses produksi yang baru, sistem struktur dan
administrasi baru atau rencana baru bagi anggota organisasi.
Pada suatu Inovasi tidak bisa terlepas dai beberapa proses
yang harus dijalani baik di sektor publik maupun sektor swasta.
Proses inovasi adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh
individu atau organisasi, mulai dari sadar atau tahu adanya
inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi. Inovasi
sebagai suatu proses digambarkan sebagai proses yang siklus dan
berlangsung terus menerus, meliputi fase kesadaran,
penghargaan, adopsi, difusi dan implementasi (De Jong, Hartog,
& N. Deanne, 2003).
Strategi yang perlu diperhatikan dalam memunculkan
inovasi pertama perlu mempertimbangkan pertambahan
keuntungan yang akan dicapai (Hussey, 2003). Hal ini dapat
dilakukan melalui pengukuran sampai sejauh mana kompetitor
akan sulit mengikuti langkah yang diambil. Kedua apakah ada
kemungkinan untuk memperluas keuntungan yang akan
diperoleh. Dengan demikian, bagian akhir dari sebuah inovasi
adalah sejauh mana langkah yang diambil dapat menguntungkan
dan tidak diambil keuntungannya oleh pesaing dan mendapatkan
keuntungan.
Setelah para ahli menjelaskan terkait pengertian Inovasi,
namun sampai saat sekarang ini tidak ada satu kesepemahaman
definisi mengenai Inovasi, namun secara umum dapat
disimpulkan bahwa inovasi memiliki atribut (Rogers dalam
Suwarno, 2008) :
1) Relative Advantage atau keuntungan relative
Sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai
lebih dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Selalu
ada sebuah nilai kebaruan yang melekat dalam inovasi
yang menjadi ciri yang membedakannya dengan yang
lain. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi
dapat diukur berdasarkan nilai ekonominya, atau
mungkin dari faktor status sosial (gengsi), kesenangan,
kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang
sangat penting. Makin menguntungkan bagi penerima,
makin cepat tersebarnya inovasi.
2) Compatibility atau kesesuaian
Inovasi memiliki tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai
atau (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari
penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai atau
norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima
secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada.
Misalnya penyebarluasan penggunaan alat KB
dimasyarakat yang keyakinan agamanya melarang
penggunaan alat tersebut, maka tentu saja penyebaran
inovasi akan terhambat.
3) Complexity atau Kerumitan
Adalah tingkat kesukaran untuk memahami dan
menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang
mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima
akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar
dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akan
lambat proses penyebaranya. Misalnya masyarakat
pedesaan yang tidak mengetahui tentang teori
penyebaran bibit penyakit melalui kuman, diberitahu
oleh penyuluh kesehatan agar membiasakan memasak
air yang akan diminum, karena air yang tidak dimasak
jika diminum dapat menyebabkan sakit perut. Tentu saja
ajakan itu sukar diterima. Makin mudah dimengerti
suatu inovasi akan makin cepat diterima oleh
masyarakat.
4) Triability atau kemungkinan dicoba
Inovasi hanya bisa diterima apabila telah teruji dan
terbukti mempunyai keuntungan atau nilai dibandingkan
dengan inovasi yang lama. Sehingga sebuah produk
inovasi harus melewati fase “uji publik”, dimana setiap
orang atau pihak mempunyai kesempatan untuk menguji
kualitas dari sebuah inovasi.
5) Observability atau Kemudahan diamati
Sebuah inovasi harus juga dapat diamati, dari segi
bagaimana sebuah inovasi bekerja dan menghasilkan
sesuatu yang lebih baik. Suatu inovasi yang hasinya
mudah diamati akan makin cepat diterima oleh
masyarakat, dan sebaliknya inovasi yang sukar diamati
hasilnya, akan lama diterima oleh masyarakat.
Pada penelitian yang pernah dilakukan oleh Borins (2001)
melalui survey tentang inovasi di sektor publik mendapatkan
kesimpulan bahwa :
1) 50% Inovasi di Sektor Publik merupakan inisiatif dari
front line staff dan manager tingkat menengah (middle
manager).
2) 70% Inovasi yang dihasilkan bukan merupakan respon
dari krisis.
3) 60% Inovasi melewati organisasional (Cut Cross
Organizational Boundaries).
4) Inovasi hadir lebih dikarenakan oleh motivasi untuk
dikenali atau dihargai (recognition) dan kebanggaan
daripada sekedar penghargaan finansial

Tujuan Analisis Rasio Keuangan


Analisis rasio keuangan digunakan untuk melihat prospek dan risiko
perusahaan pada masa yang mendatang. Faktir prospek dalam rasio tersebut
Akan memperngaruhi harapan investor terhadap perusahaan pada masa-masa
mendatang (Hanafi, 2013:75).

Analisis Rasio Keuangan


Analisis Rasio Keuangan merupakan angka yang diperoleh dari hasil
perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang
mempunyai hubungan relevan dan signifikan (berarti). Analisis rasio
keuangan merupakan salah satu Cara untuk menilai kinerja perusahaan di
masa lalu dan masa sekarang (Harahap, 2011:297).

Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan


Tujuan pengukuran kinerja keuangan sangat penting untuk diketahui karena
pengukuran yang dilakukan dapat mempengaruhi perilaku pengambilan
keputusan dalam perusahaan. Pengukuran kinerja keuangan suatu perusahaan
tergantung pada sudut pandang yang diambil dan tujuan analisis. Karena
alasan itu, pihak manajemen perusahaan sangat perlu menyesuaikan kondisi
perusahaan dengan alat ukur penilaian kinerja yang akan digunakan serta
tujuan pengukuran kinerja keuangan tersebut.
Ada empat tujuan dilaksanakannya pengukuran kinerja keuangan perusahaan
(Munawir 2004:31) yakni untuk:

  1. Mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
    memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera diselesaikan pada saat
    ditagih.
  2. Mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut
    dilikuidasi, kewajiban keuangan yang dimaksud mencakup keuangan
    jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Mengetahui tingkat profitabilitas atau rentabilitas, yaitu kemampuan
    perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dengan
    menggunakan aktiva atau modal secara produktif.
  4. Mengetahui tingkat stabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
    menjalankan dan mempertahankan usahanya sehingga tetap stabil.
    Kemampuan yang dimaksud diukur dari kemampuan perusahaan
    membayar pokok hutang dan beban bunga tepat pada waktunya.
    Dengan tujuan tersebut, penilaian kinerja keuangan mempunyai beberapa
    peranan bagi perusahaan. Penilaian kinerja keuangan dapat mengukur
    tingkat biaya dari berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh perusahaan,
    untuk menentukan atau mengukur efisiensi setiap bagian, proses atau
    produksi serta untuk menentukan derajat keuntungan yang dapat dicapai
    oleh perusahaan yang bersangkutan, untuk menilai dan mengukur hasil
    kerja pada tiap-tiap bagian individu yang telah diberikan wewenang dan
    tanggungjawab, serta untuk menentukan perlu tidaknya digunakan
    kebijaksanaan atau prosedur yang baru untuk mencapai hasil yang lebih
    baik (Wild dan Halsey, 2005; Munawir, 2002).

Penilaian Kinerja Keuangan


Menurut Srimindarti (2006:34) penilaian kinerja keuangan yaitu penentuan
efektivitas operasional, organisasi, dan karyawan berdasarkan sasaran,
standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya secara periodik.
Pengukuran kinerja diaplikasikan perusahaan untuk melaksanakan perbaikan
atas kegiatan operasionalnya supaya bisa bersaing dengan perusahaan lain.
Untuk investor, informasi mengenai kinerja keuangan perusahaan dapat
digunakan untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi
mereka di perusahaan tersebut atau mencari alternatif lain. Apabila kinerja
perusahaan baik maka nilai usaha akan tinggi. Dengan nilai usaha yang tinggi
membuat para investor melihat perusahaan tersebut untuk menanamkan
modalnya sehingga akan terjadi kenaikan harga saham atau dapat dikatakan
bahwa harga saham merupakan fungsi dari nilai perusahaan.
Sedangkan bagi perusahaan, informasi kinerja keuangan perusahaan dapat
dimanfaatkan untuk hal-hal sebagai berikut:

  1. Untuk mengukur prestasi yang dicapai oleh suatu organisasi dalam suatu
    periode tertentu yang mencerminkan tingkat keberhasilan pelaksanaan
    kegiatannya.
  2. Dapat digunakan sebagai dasar penentuan strategi perusahaan untuk masa
    yang akan datang.
  3. Memberi petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan organisasi
    pada umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada khususnya.
  4. Sebagai dasar penentuan kebijaksanaan penanaman modal agar dapat
    meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan.

Kualitas Pelayanan Publik


Kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan
dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas serta
lingkungan yang memenuhi harapan pelanggan atau konsumen
menurut Garvin dalam Nasution (2001). Selanjutnya Menurut
Buddy dalam (Wahyuningsih, 2002), kualitas adalah strategi
dasar bisnis yang menghasilkan barang dan jasa yang memenuhi
kebutuhan dan kepuasan konsumen internal dan eksternal, secara
eksplisit dan implisit. Dalam hal ini, kualitas berarti soal
memenuhi harapan pelanggan. Selanjutnya konsep tersebut
dikenal dengan kepuasan pelanggan (customer satisfication).
Kualitas juga dapat diartikan sebagai hasil persepsi dari
perbandingan antara harapan dengan kinerja aktual yang diterima.
Crosby, Lehtimen dan Wyckoff dalam Zauhar (2001:22)
menyatakan bahwa : “Kualitas adalah penyesuaian terhadap
perincian-perincian (conformance to specification) dimana
kualitas ini dipandang sebagai derajat keunggulan yang ingin
dicapai, dilakukanya control terus-menerus dalam mencapai
keunggulan tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan”.
Berdasarkan poin-poin yang sudah dijelaskan dapat
disimpulkan bahwa kualitas merupakan hasil persepsi dari
perbandingan antara harapan dengan kinerja aktual yang diterima
mengenai tingkat baik buruknya sesuatu derajat atau taraf
kepandaian atau kecakapan dan sebagainya.
Pelayanan publik merupakan suatu upaya membantu dan
atau memberi manfaat kepada publik melalui penyediaan barang
dan atau jasa yang dibutuhkan oleh pelanggan. Pada sektor publik
pelayanan pemerintah diartikan sebagai pemberian pelayanan
oleh agen pemerintah melalui pegawainya (the delivery of service
by government agency using own employees) (Savas, 1987)
Saat ini konsep pelayanan perlu dibudayakan dalam
lingkungan birokrasi publik. Prinsip-prinsip keahlian proposional
dan demokratisasi dapat diwujudkan dalam sektor pelayanan
publik, Serta perlu juga digalahkan sistem kemitraan
(partnership) antara pihak pemerintah dan pengguna jasa/swasta
perlu juga diupayakan secara serius berupa pemberdayaan
terhadap pengguna jasa pengguna pelayanan publik itu sendiri.
Konsep pelayanan publik harus rasional, efektif dan efisien
yang dilakukan melalui manajemen terbuka, dilakukan secara
ilmiah berdasarkan kajian dan penelitian serta didukung oleh
cabang-cabang ilmu lainya. Pelayanan publik harus memiliki
inovatif yakni pembaharuan yang dilakukan terus menerus untuk
menghadapi lingkungan yang dinamis, berubah dan berkembang,
berorientasi kepada hasil kerja yang optimal, dan dilakukan
secara professional, menggunakan tenaga kerja professional,
terampil dan menggunakan teknologi modern yang tepat guna.
Kualitas pelayanan (service quality) adalah hasil persepsi
dari perbandingan antara harapan dengan kinerja aktual yang
diterima pelanggan. Zauhar (2005), menjelaskan bahwa Kualitas
pelayanan adalah penyesuaian terhadap perincian-perincian
(conformance to specification) dimana kualitas ini dipandang
sebagai derajad keunggulan yang ingin dicapai, dilakukannya
kontrol terus menerus dalam mencapai keunggulan tersebut
dalam rangka memenuhi kebutuhan pengguna jasa. Pelayanan
merupakan respon terhadap kebutuhan manajerial yang hanya
terpenuhi jika pengguna jasa itu mendapatkan produk yang
mereka inginkan.
Albert & Zemke (1985) telah mengemukakan pandangannya
tentang kualitas pelayanan publikyang merupakan hasil interaksi
dari berbagai aspek, yaitu sistem pelayanan, SDM pemberi
layanan, strategi, dan pelanggan (customers)

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan dalam konteks dunia usaha mengandung pengertian yang
sangat luas. Pengertian kinerja keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia
(2007) adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengendalikan
sumber daya yang dimilikinya.
Kinerja keuangan merupakan gambaran kondisi keuangan perusahaan pada
suatu periode tertentu menyangkut aspek penghimpunan dana maupun
penyaluran dana, yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal,
likuiditas, dan profitabilitas (Jumingan, 2006:239).
Kinerja keuangan merupakan gambaran dari pencapaian keberhasilan
perusahaan dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atas berbagai
aktivitas yang telah dilakukan. Dapat dijelaskan bahwa kinerja keuangan
adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu
perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan
pelaksanaan keuangan secara baik dan benar (Fahmi, 2012:2).
Menurut Rudianto (2013:189) kinerja keuangan adalah hasil atau prestasi
yang telah dicapai oleh manajemen perusahaan dalam menjalankan fungsinya
megelola aset perusahaan secara efektif selama periode tertentu. Kinerja
keuangan sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk mengetahui dan
mengevaluasi sampai dimana tingkat keberhasilan perusahaan berdasarkan
aktivitas keuangan yang telah dilaksanakan.

Kelebihan dan Kelemahan ROI


Kelebihan ROI antara lain (Abdullah 2002:50 dalam Anugrahani, 2007) :
a. Selain ROI berguna sebagai alat control juga berguna untuk
keperluan perencanaan. ROI dapat digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan apabila perusahaan akan melakukan
ekspansi.
b. ROI dipergunakan sebagai alat ukur profitabilitas dari masing-masing
produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan menerapkan sistem
biaya produksi yang baik, maka modal dan biaya dapat dialokasikan
ke dalam produk yang dihasilkan oleh perusahaan, sehingga dapat
dihitung masing-masing.
c. Kegunaan ROI yang paling prinsip adalah berkaitan dengan efisiensi
penggunaan modal, efisiensi produk dan efisiensi penjualan. Hal ini
dapat dicapai apabila perusahaan telah melaksanakan praktik akutansi
secara benar dalam artian mematuhi sistem dan prinsip-prinsip
akutansi yang ada .
Kelemahan ROI antara lain (Abdullah 2002:51 dalam Anugrahani, 2007) :
a. Mengingat praktek akutansi dalam perusahaan seringkali berbeda
maka kelemahan prinsip yang dihadapi adalah kesulitan dalam
membandingkan rate of return suatu perusahaan dengan perusahaan
lain.
b. Dengan menggunakan analisa rate of return atau return on investment
saja tidak dapat dipakai untuk membandingkan dua perusahaan atau
lebih dengan memperoleh hasil yang memuaskan.
Sistem Du Pont dan ROI sedikit berbeda karena pada Du Pont, ROI
merupakan Net Profit Margin dikalikan dengan perputaran aktiva. Perusahaan
yang mengembangkan sistem analisis ini sehingga sering disebut dengan sistem
Du Pont atau ROI dengan pendekatan Du Pont. Analisis ini lebih menekankan
pada seberapa banyak laba yang bisa diperoleh dengan seluruh kekayaan yang
dimiliki oleh perusahaan

Pengertian Return On Investment


Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih
berdasarkan tingkat aset yang tertentu. Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi
manajemen aset, yang berarti efisiensi manajemen (Hanafi dan Halim, 2007:84).
Darsono dan Ashari (2005:57) menyatakan dengan mengetahui rasio ini,
bisa menilai apakah perusahaan ini efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam
kegiatan operasional perusahaan. Rasio ini juga memberikan ukuran yang lebih
baik atas profitabilitas perusahaan karena menunjukkan ukuran yang lebih baik
atas profitabilitas perusahaan karena menunjukkan efektivitas manajemen dalam
menggunakan aktiva untuk memperoleh pendapatan.
Besarnya ROI dipengaruhi oleh dua faktor :
(a) Tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk operasi.
(b) Profit Margin, Yaitu besarnya keuntungan operasi yang
dinyatakan dalam prosentase dan jumlah penjualan bersih. Profit Margin
ini mengukur tingkat keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan
dihubungkan dengan penjualannya (Anugrahani, 2007)

Pendekatan Du Pont System


Sistem Du Pont sering digunakan untuk pengendalian divisi, prosesnya
disebut dengan pengendalian terhadap tingkat pengembalian investasi (ROI). Jika
ROI untuk divisi tertentu berada di bawah angka yang ditargetkan, melalui sistem
Du Pont dapat ditelusuri sebab–sebab terjadinya penurunan ROI.
Tahap-tahap dalam melakukan analisis Du Pont adalah sebagai berikut:

  1. Menghitung rasio aktifitas yaitu Total Assets Turn Over (TATO)
    Total Assets Turn Over (TATO) atau perputaran aktiva digunakan untuk
    mengukur efisiensi penggunan aktiva untuk menghasilkan penjualan.
    Rumus yang digunakan dalam menghitung perputaran aktiva adalah
    sebagai berikut:
    Total Assets Turnover = Penjualan Bersih / Total Aktiva
  2. Menghitung profit margin
    Profit margin digunakan untuk untuk mengukur kemampuan perusahaan
    dalam menghasilkan keuntungan. Operating profit margin mengukur
    persentase dari profit yang diperoleh perusahaan dari tiap penjualan
    sebelum dikurangi dengan biaya bunga dan pajak. Pada umumnya semakin
    tinggi rasio ini maka semakin baik. Rumus yang digunakan dalam
    menghitung net profit margin adalah sebagai berikut:
    Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak (EAT) / Penjualan Bersih
  3. Menghitung Return On Investment (ROI)
    Rumus yang digunakan dalam menghitung perputaran aktiva adalah
    sebagai berikut:
    Return on Investment = Net profit margin x Assets turnover
    Menurut Harahap (2010:335), Du Pont menganggap penting angka Return
    on Investment (ROI) sehingga ia memulainya dari langkah ini

Prinsip-Prinsip Pelayanan Publik

Saat ini sudah seharusnya pelayanan publik yang diberikan

oleh Birokrasi hendaknya berdasarkan prinsip-prinsip dasar

berikut ini yang telah dikemukakan oleh Sulistio & Budi (2009) :

1. Rasional, efektif dan efisien yang dilakukan melalui

manajemen terbuka.

2. Ilmiah, berdasarkan kajian dan penelitian serta didukung

oleh cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya.

3. Inovatif, pembaruan yang dilakukan terus-menerus untuk

menghadapi lingkungan yang dinamis, berubah dan

berkembang.

4. Produktif, berorientasi kepada hasil kerja yang optimal.

5. Profesionalisme, penggunaan tenaga kerja profesional,

terampil dalam istilah “The Right Man in The Right

Pleace”.

6. Penggunaan teknologi modern yang tepat guna.

Islamy dalam Sulistio dan Budi (2009:41) menyatakan

bahwa pelayanan publik harus dilaksanakan oleh Birokrasi

Pemerintah berdasarkan kepada prinsip-prinsip pelayanan prima

berikut ini:

1. Appropriateness (kesesuaian)

2. Accesibility (keterjangakauan)

3. Continuity (keberlanjutan)

4. Technically (teknis)

5. Profitability (menguntungkan)

6. Equitability (adil)

7. Transparency (terbuka)

8. Accountability (bertanggungjawab)

9. Effectiveness and Efficiency (efektif dan efisien)

Berbeda dengan pendapat ahli lainnya, yang menjelaskan

terkait prinsip prinsip pelayanan publik yang harus diterapkan

oleh pemerintah diantaranya (Ibrahim, 2008) :

1. Persamaan keuntungan dan logika usaha

Pelanggan atau masyarakat mampu diberikan kualitas

pelayanan yang baik sehingga mampu memberikan

keuntungan.

2. Kewenangan dalam pengambilan keputusan

Untuk pengambilan keputusan harus mampu

didesentralisasikan sedapat mungkin antara organisasi dan

pelanggan.

3. Fokus pengorganisasisan

Organisasi harus terstruktur dan berfungsi, sehingga

tujuan utama dapat menggerakan sumberdaya yang ada

dan dapat mendukung garis depan operasional.

4. Kontrol atau Pengawasan

Pemimpin dan pengawasan harus memperhatikan dan

memberikan dorongan semangat dan dukungan kepada

setiap karyawan agar tercapainya kinerja yang baik untuk

pemenuhan kepuasan oleh masyarakat.

5. Sistem Penghargaan/ganjaran

Wujud kualitas yang dirasakan pelanggan merupakan

fokus dari sistem penghargaan atau ganjaran.

6. Fokus pengukuran

Kepuasan pelanggan dengan kualitas pelayanan harus

menjadi fokus dan pengukuran yang ingin dicapai.

Pandangan para ahli menggunakan berbagai pendekatan

dalam menerapkan prinsip pelayanan publik, ada yang

menggunakan pendekatan masyarakat sebagai pelanggan atau

menggunakan penerapan New Public Management. Selain itu

para ahli ada yang menggunakan pendekatan New Public Service

yang memposisikan masyarakat sebagai warga negara yang lebih

mengedepankan kepuasan tanpa harus membeda bedakan

pelayanan yang diberikan.

Jika merujuk kepada Keputusan Menteri Pendayagunaan

Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2003 tentang Pedoman

Penyelenggaraan Pelayanaan terdapat prinsip pelayanan publik

yaitu:

1. Kesederhanaan

Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah

dipahami dan mudah dilaksanakan.

2. Kejelasan

Yaitu persyaratan teknis administratif pelayanan publik,

unit kerja atau pejabat yang berwenang dan

bertanggungjawab memberikan pelayanan dan

penyelesaian keluhan atau persoalan dalam pelaksanaan

pelayanan, serta kejelasan rincian biaya pelayanan dan

tata cara pembayaran.

3. Kepastian Hukum

Yaitu pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun

waktu yang telah ditentukan.

4. Akurasi

produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan

sah.

5. Keamanan

Yaitu proses dan produk pelayanan publik memberikan

rasa aman dan kepastian hukum.

6. Tanggungjawab

Pimpinan penyelenggaraan pelayanan publik atau pejabat

yang ditunjuk bertanggungjawab atas penyelenggaraan

pelayanan dan penyelesaian keluhan atau persoalan dalam

pelaksanaan pelayanan publik.

7. Kelengkapan sarana dan prasarana

Yaitu tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan

kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk

penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan

informatika.

8. Kemudahan Akses

Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan memadai,

mudah dijangkau oleh masyarakat.

9. Kedisiplinan, kesopanan dan keramahan

Yaitu pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan

santun, ramah serta memberikan pelayanan dengan ikhlas.

10. Kenyamanan, pelayanan harus tertib, teratur disediakan

ruang tunggu yang nyaman, bersih, rapi serta dilengkapi

fasilitas pendukung pelayanan seperti tempat parkir, toilet

dan tempat sampah.

Secara umum para ahli bahkan sampai menteri sudah

menjelaskan tetang prinsip yang harus dikedepankan oleh

penyedia layanan. Prinsip tersebut menjadi acuan dan patokan

untuk menyelenggarakan pelayanan demi terwujudnya kepuasan

masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan. Pada intinya

prinsip pelayanan bertujuan untuk membuat standarisasi

kesetaraan pelayanan di setiap penyedia pelayanan agar

terwujudnya kesejahteraan masyarakat.


Kegunaan Analisis Du Pont System


Menurut Munawir (2007:91) ada beberapa kegunaan dari menganalisis
laporan keuangan dengan metode Du Pont System yaitu :
a. Sebagai salah satu kegunaannya yang bersifat prinsipil ialah sifatnya
yang menyeluruh. Manajemen bisa mengetahui tingkat efisiensi
penggunaan modal, efisiensi bagian produksi, dan efisiensi bagian
penjualan.
b. Dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas masing-masing produk
yang dihasilkan perusahaan sehingga dapat diketahui produk yang
potensial.
c. Apabila perusahaan mempunyai data industri sehingga diperoleh rasio
industri, maka dengan analisis ini perusahaan dapat membandingkan
efisiensi penggunaan modal pada perusahaan dengan perusahaan lain
yang sejenis.
d. Untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan suatu unit atau bagian.
e. Dapat digunakan untuk keperluan kontrol dan perencanaan, misalnya
digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan

Komponen-Komponen Penyelenggaraan Pelayanan Publik


Standard pelayanan publik dari sebuah unit pelayanan publik
harus mencantumkan komponen-komponen dasar dalam
pelayanan agar setiap masyarakat paham dan mengerti terkait hak
mereka yang didapatkan saat mendapatkan pelayanan. Dalam
pelaksanaannya standard pelayanan publik menjadi sebuah acuan
bagi para pelaksana pelayanan publik sebagai standard dalam
melaksanakan pelayanan (Mukarom & Laksana, 2015).
Jones (1996:114) menjelaskan bahwa komponen dalam
standard pelayanan publik sekurang-kurangnya memiliki unsur
sebagai berikut :
1) Dasar Hukum, adalah peraturan perundang-undangan
yang menjadi dasar penyelenggaraan pelayanan.
2) Persyaratan, adalah syarat (dokumen atau hal lain) yang
harus dipenuhi dalam pengurursan suatu jenis pelayanan,
baik persyaratan teknis maupun administratif.
3) Sistem, mekanisme, dan prosedur adalah tata cara
pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan penerima
pelayanan, termasuk pengaduan.
4) Jangka waktu penyelesaian, adalah jangka waktu yang
diberlalukan untuk menyelesaikan seluruh proses
pelayanan dari setiap jenis pelayanan.
5) Biaya/tarif, adalah ongkos yang dikenakan kepada
penerima layanan dalam mengurus dan/atau memperoleh
pelayanan dari penyelenggara yang besarnya ditetapkan
berdasarkan kesepakatan antara penyelenggara dan
masyarakat.
6) Produk pelayanan, adalah hasil pelayanan yang diberikan
dan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
7) Sarana, prasarana, dan/atau fasilitas, adalah peralatan dan
fasilitas yang diperlukan dalam penyelenggaraan
pelayanan, termasuk peralatan dan fasilitas pelayanan bagi
kelompok rentan.
8) Kompetensi pelaksana, adalah kemampuan yang harus
dimiliki oleh pelaksana meliputi pengetahuan, keahlian,
keterampilan dan pengalaman.
9) Pengawasan internal, adalah sistem pengendalian internal
dan pengawasan langsung yang dilakukan oleh pimpinan
satuan kerja atau atasan langsung pelaksana.
10) Penanganan pengaduan, saran, dan masukan, adalah tata
cara pelaksanaan penanganan pengaduan dan tindak
lanjut.
11) Jumlah pelaksana, adalah tersedianya pelaksana sesuai
dengan beban kerja. Informasi mengenai komposisi atau
jumlah petugas yang melaksanakan tugas sesuai
pembagian dan uraian tugas.
12) Jaminan pelayanan, adalah memberikan kepastian
pelayanan dilaksanakan sesuai dengan standard
pelayanan.
13) Jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan, adalah
dalam bentuk komitmen untuk memberikan rasa aman,
bebas dari bahaya, resiko, dan keragu-raguan.
14) Evaluasi kinerja pelaksanan, adalah penilaian untuk
mengetahui seberapa jauh pelaksanaan kegiatan sesuai
dengan standard pelayanan.
Beberapa hal diatas merupakan standar pelayanan publik
yang harus dipenuhi oleh penyedia pelayanan dan dalam hal ini
adalah Pemerintah. Setelah unsurpelayanan publik tersebut
terpenuhi, selanjutnya penyedia pelayanan harus
mempublikasikan kepada masyarakat agar mereka mengerti dan
paham terkait hak dan kewajiban yang diterima saat mendapatkan
pelayanan publik. Dengan dipublikasikan terkait standar
pelayanan yang ada, masyarakat juga bisa menilai baik atau
buruknya pelayanan yang diberikan. Apabila pelayanan yang
didapatkan tidak sesuai dengan standar pelayanan yang ada, maka
masyarakat berhak untuk protes atau melaporkan unit pelayanan
publik yang bersangkutan kepada pengawas atau layanan
pengaduan yang ada

Metode Pembanding Analisis Rasio Keuangan


Menurut Atmaja (2008:417- 418), pada pokoknya ada dua cara yang dapat
dilakukan di dalam membandingkan ratio financial perusahaan, yaitu antara lain :
a. Comparative Analysis (Cross Section Analysis)
Comparative analysis adalah membandingkan rasio keuangan perusahaan
dengan rasio rata-rata industri.
b. Trend Analysis (Time Series Analysis)
Trend analysis adalah pendekatan yang menggunakan perbandingan rasio
keuangan perusahaan dari waktu ke waktu (misal, dari tahun ke tahun).
Jika trend membaik disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan
relatif baik, demikian sebaliknya.

Macam-macam Rasio Keuangan


Menurut Sartono (2011:114) ada empat kelompok rasio keuangan yang
digunakan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan. Empat kelompok rasio
keuangan tersebut adalah :
a. Rasio Likuiditas, yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada
waktunya.
b. Rasio Aktivitas, menunjukkan sejauh mana efisiensi perusahaan dalam
menggunakan assets untuk memperoleh penjualan.
c. Financial Leverage Ratio, menunjukkan kapasitas perusahaan untuk
memenuhi kewajiban baik itu jangka pendek maupun jangka panjang.
d. Rasio Profitabilitas, dapat mengukur seberapa besar kemampuan
perusahaan memperoleh laba baik dalam hubungannya dengan penjualan,
assets maupun laba bagi modal sendiri.

Pengertian Rasio Keuangan


Menurut Tampubolon (2013:39) analisis rasio keuangan merupakan alat
utama dalam analisis keuangan, karena analisis dapat digunakan untuk menjawab
berbagai pertanyaan tentang keadaan keuangan korporasi.
Menurut Harahap (2010:297) Rasio Keuangan adalah angka yang
diperoleh dari hasil perbandingan dari suatu pos laporan keuangan dengan pos
lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti).
Menurut James C.van Horne dalam buku Kasmir (2010:93) rasio
keuangan merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan
diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka yang lainnya.Rasio
keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja
perusahaan

Metode Analisis Laporan Keuangan


Menurut Kasmir (2010:95-96) dalam praktiknya terdapat dua macam
metode analisis laporan keuangan yang bisa dipakai, yaitu:

  1. Analisis vertikal (statis)
    Analisis vertikal merupakan analisis yang dilakukan terhadap hanya 1
    periode laporan keuangan saja.Analisis dilakukan antara pos-pos yang
    ada, dalam suatu periode.
  2. Analisis horizontal (dinamis).
    Analisis horizontal,merupakan analisis yang dilakukan dengan
    membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode

Pola Pelayanan Publik


Pola pelayan publik dapat dibedakan dalam 5 macam seperti
yang telah dijelaskan dalam bukunya Ratminto & Winarsih (2005
: 24-26), yaitu:
a) Pola pelayanan teknik fungsional
Yaitu pola pelayanan masyarakat yang diberikan oleh satu
instansi pemerintah sesuai dengan tugas, fungsi, dan
kewenangannya.
b) Pola pelayanan satu pintu
Pola Pelayanan terpadu satu pintu diselenggarakan pada satu
tempat yang meliputi berbagai jenis pelayanan yang memiliki
keterkaitan proses dan dilayani melalui satu pintu.
c) Pola pelayanan satu atap
Diselenggarakan dalam satu tempat yang meliputi berbagai
jenis pelayanan yang tidak mempunyai keterkaitan proses dan
dilayani melalui beberapa pintu.
d) Pola pelayanan terpusat
Merupakan pola pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh
satu instansi pemerintah yang bertindak selaku koordinator
terhadap pelayanan instansi pemerintah lainnya yang terkait
dengan bidang pelayanan masyarakat yang bersangkutan.
e) Pola pelayanan elektronik
Adalah pola pelayanan yang menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi yang merupakan otomasi dan
otomatisasi pemberian layanandan bersifat online sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan keinginan dan kapasitas pelanggan

Pengertian dan Tujuan Analisis laporan Keuangan


Menurut Harahap (2010:189-190) Analisis laporan keuangan terdiri dari
dua kata yaitu Analisis dan Laporan Keuangan. Untuk menjelaskan pengertian ini,
kita dapat menjelaskan masing-masing kata. Kata analisis adalah memecahkan
atau menguraikan suatu unit menjadi berbagai unit terkecil. Sedangkan laporan
keuangan adalah Neraca, Laba/Rugi dan Arus Kas (Dana). Kalau dua pengertian
ini digabungkan, analisis laporan keuangan berarti:
“Menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih
kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau mempunyai
makna antara yang satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif
maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi
keuangan yang lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan
keputusan yang tepat.”
Menurut Bernstein (1983) dalam buku Harahap (2010:190) :“Analisis laporan
keuangan mencakup penerapan metode dan teknik analitis atas laporan keuangan
dan data lainnya untuk melihat dari laporan itu ukuran-ukuran dan hubungan
tertentu yang sangat berguna dalam proses pengambilan keputusan”.
Menurut Harahap (2010:195-197) secara lengkap kegunaan/tujuan analisis
laporan keuangan adalah sebagai berikut :

  1. Dapat memberikan informasi yang lebih luas,lebih dalam daripada
    yang terdapat dari laporan keuangan biasa.
  2. Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata
    (explicit) dari suatu laporan keuangan atau yang berada di balik
    laporan keuangan. (implicit).
  3. Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan
    keuangan.
  4. Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam
    hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikaitkan
    dengankomponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan
    informasi yang diperoleh dari luar perusahaan.
  5. Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan
    model-model dan teori-teori yang terdapat dilapangan seperti untuk
    prediksi,peningkatan (rating).
  6. Dapat memberi informasi yang diinginkan oleh para pengambil
    keputusan.
  7. Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut kriteria
    tertentu yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
  8. Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain
    dengan periode sebelumnya atau dengan standar industri normal atau
    standar ideal.
  9. Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami
    perusahaan, baik posisi keuangan,hasil usaha,struktur keuangan dan
    sebagainya.
  10. Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan
    dimasa yang akan datang

Pengguna Laporan Keuangan


Pihak-pihak yang berkepentingan dalam laporan keuangan (Agustin,
2014:39) adalah:

  1. Manager
    Bagi manager laporan keuangan digunakan sebagai alat pengukuran
    kinerja keuangan telah dicapai perusahaan dan sebagai pedoman dalam
    perencanaan masa depan.
  2. Pemilik perusahaan
    Bagi pemilik perusahaan laporan keuangan berguna untuk menilai
    kesuksesan pihak manajemen dalam menjalankan perusahaan .
  3. Para investor
    Para investor menggunakan laporan keuangan untuk mengetahui prospek
    keuangan dimasa yang akan datang untuk jaminan investasinya.
  4. Kreditor
    Kreditor memerlukan laporan keuangan untuk mengetahui kemampuan
    perusahaan dalam melunasi pinjamannya

Macam-macam Laporan Keuangan


Kasmir (2010:67) dalam praktiknya kita mengenal beberapa macam
laporan keuangan seperti:
a. Neraca
b. Laporan laba rugi
c. Laporan perubahan modal
d. Laporan arus kas
e. Laporan catatan atas laporan keuangan
Dan masing-masing laporan memiliki komponen keuangan tersendiri dan
tujuan dan maksud tersendiri pula.
Menurut Brigham & Houston (2006:46) Neraca adalah sebuah laporan
tentang posisi keuangan perubahan pada suatu titik waktu tertentu.
Menurut Kasmir (2010:67) Neraca, merupakan laporan yang menunjukkan
jumlah aktiva (harta), kewajiban (hutang) dan modal perusahaan (ekuitas)
perusahaan pada saat tertentu.
Secara garis besar komponen neraca dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Aktiva lancar terdiri dari:
    a. Kas;
    b. Rekening pada bank (rekening giro dan rekening
    tabungan);
    c. Deposito berjangka (time deposite)
    d. Surat-surat berharga(efek-efek)
    e. Piutang;
    f. Persediaan
    g. Biaya yang dibayar dimuka;
    h. Pendapatan yang masi harus diterima;
    i. Aktiva lancar lainnya.
  2. Aktiva tetap terdiri dari:
    a. Aktiva tetap berwujud,yaitu
  3. Tanah
  4. Mesin
  5. Bangunan
  6. Peralatan
  7. Kendaraan
  8. Akumulasi Penyusutan;dan
  9. Aktiva tetap lainnya;
    b. Aktiva tetap tidak berwujud yaitu:
  10. Goodwill
  11. Hak cipta
  12. Lisensi;dan
  13. Merek dagang
  14. Aktiva lainnya terdiri dari antara lain:
  15. Gedung dalam proses
  16. Tanah dalam penyelesaian
  17. Piutang jangka panjang
  18. Uang jaminan
  19. Uang muka investasi;dan
  20. Lainnya.
    Kemudian komponen utang (kewajiban) serta modal (ekuitasa) tergambar
    dalam posisi passiva sebagai berikut :
  21. Utang lancar (kewajiban jangka pendek) terdiri dari:
    a. Utang dagang
    b. Utang wesel
    c. Utang bank
    d. Utang pajak
    e. Biaya yang masi harus dibayar
    f. Utang sewa guna usaha
    g. Utang dividen
    h. Utang lancar lainnya.
  22. Utang jangka panjang terdiri dari:
    a. Utang hipotek
    b. Utang obligasi
    c. Utang bank jangka panjang;dan
    d. Utang janghka panjang lainnya.
  23. Ekuitas terdiri dari:
    a. Modal saham
    b. Agio saham
    c. Laba ditahan
    d. Cadangan laba ;dan
    e. Modal sumbangan.
    Secara lengkap informasi yang disajikan dalam neraca meliputi:
  24. Jumlah rupiah masing-masing jenis aktiva
  25. Jenis-jenis aktiva atau harta (asset) yang dimiliki
  26. Jenis-jenis kewajiban atau hutang (liability)
  27. Jumlah rupiah masing-masing jenis kewajiban atau utang.
  28. Jenis-jenis modal
  29. Serta jumlah rupiah masing-masing jenis modal
    Menurut Brigham & Houston (2006:50) laba rugi adalah laporan yang
    mengiktisarkan pendapatan dan pengeluaran perusahaan selama satu periode
    akuntansi, yang biasanya selama satu kuartal atau satu tahun

Pola Pelayanan Publik


Pola pelayan publik dapat dibedakan dalam 5 macam seperti
yang telah dijelaskan dalam bukunya Ratminto & Winarsih (2005
: 24-26), yaitu:
a) Pola pelayanan teknik fungsional
Yaitu pola pelayanan masyarakat yang diberikan oleh satu
instansi pemerintah sesuai dengan tugas, fungsi, dan
kewenangannya.
b) Pola pelayanan satu pintu
Pola Pelayanan terpadu satu pintu diselenggarakan pada satu
tempat yang meliputi berbagai jenis pelayanan yang memiliki
keterkaitan proses dan dilayani melalui satu pintu.
c) Pola pelayanan satu atap
Diselenggarakan dalam satu tempat yang meliputi berbagai
jenis pelayanan yang tidak mempunyai keterkaitan proses dan
dilayani melalui beberapa pintu.
d) Pola pelayanan terpusat
Merupakan pola pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh
satu instansi pemerintah yang bertindak selaku koordinator
terhadap pelayanan instansi pemerintah lainnya yang terkait
dengan bidang pelayanan masyarakat yang bersangkutan.
e) Pola pelayanan elektronik
Adalah pola pelayanan yang menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi yang merupakan otomasi dan
otomatisasi pemberian layanandan bersifat online sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan keinginan dan kapasitas pelanggan.

Prinsip Dasar Akuntansi Keuangan


Dalam buku karangan (Harahap, 2010:141) APB Statement No.4
dijelaskan beberapa prinsip atau sifat dan elemen dasar dari akuntansi (keuangan).
Prinsip-prinsip ini mendasari setiap sifat dan ciri laporan keuangan dan output
akuntansi lainnya. Prinsip itu adalah sebagai berikut:

  1. Accounting Entity (entitas)
    Yang menjadi fokus perhatian akuntansi adalah “entity” tertentu atau
    lembaga tertentu yang akan dilaporkan,bukan lembaga lainnya.
  2. Going Concern (Kontinuitas operasi)
    Dalam penyusunan laporan keuangan harus dianggap bahwa perusahaan
    (entity) yang dilaporkan terus beroperasi di masa-masa yang akan datang.
    Jika perusahaan dianggap tidak mampu melanjutkan usahanya harus
    diungkapkan oleh akuntan.
  3. Measurement (Pengukuran)
    Akuntansi adalah sebagai media pengukuran sumber-sumber ekonomi
    (Economy Resource) dan Keawajiban (Liability).Akuntansi harus
    mengukur hasil transaksi, ukuran yang dipakai adalah unit moneter.
  4. Time Period (Periode Waktu)
    Laporan keuangan menyajikan informasi untuk waktu atau periode
    tertentu.Laporan harus memiliki batas waktu yang jelas.
  5. Monetary Unit (Unit Moneter)
    Pengukuran transaksi adalah dalam bentuk nilai atau unit uang.
  6. Accrual
    Penentu pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan
    berdasarkan kejadian tanpa melihat apakah transaksi pembayaran atau
    penerimaan kas telah dilakukan atau belum.
  7. Excahange Price (Harga Pertukaran)
    Nilai yang terdapat dalam laporan keuangan didasarkan pada harga
    pertukaran pada saat terjadinya transaksi.
  8. Aproximation (Penaksiran)
    Dalam akuntansi tidak dapat dihadirkan penaksiran-penaksiran.Seperti
    taksiran harga,pemilihan prinsip,dan sebagainya.
  9. Judgement (Pertimbangan)
    Dalam penyusunan laporan keuangan banyak diperlukan petimbangan-
    pertimbangan berdasarkan keahlian, baik pertimbangan memilih alternatif
    prinsip maupun pemilihan cara penyajian dalam laporan keuangan.
  10. General Purpose (Bertujuan Umum)
    Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang dihasilkan
    akuntansi keuangan ditujukan buat pemakai secara umum, bukan pemakai
    khusus.
  11. Interrelated Statement (laporan yang sangat terkait)
    Neraca, Daftar Laba/Rugi dan Laporan Sumber dan Penggunaan Kas
    mempunyai hubungan yang sangat erat dan berkaitan.Angka dan neraca
    laba/rugi saling terkait.
  12. Subtance Over Form
    Akuntansi lebih menekankan kenyataan ekonomis suatu kejadian daripada
    bukti legalnya atau formalnya.
  13. Materiality (materialitas)
    Laporan keuangan hanya memuat informasi yang dianggap penting. Dan
    dalam setiap pertimbangan yang dilakukannya tetap melihat
    signifikansinya secara umum.Indikator materialitasnya adalah dikalikan
    dengan dampaknya terhadap laporan keuangan.

Pengertian Pelayanan Publik

Pelayanan publik merupakan tolak ukur yang bisa dilihat
dengan nyata oleh masyarakat terkait kinerja pemerintah saat ini,
karena pelayanan publik menjadi ujung tombak interaksi antara
masyarakat dan pemerintah. Pelayanan publik itu sendiri adalah
suatu pelayanan atau pemeberian terhadap masyarakat yang
berupa penggunaan fasilitas-fasilitas umum, baik jasa maupun
non jasa, yang dilakukan oleh organisasi publik dalam hal ini
adalah pemerintah (Arif, Sa'id, aRohman, & Purnomo, 2010).
Secara sederhana, istilah service bisa di artikan sebagai
“melakukan sesuatu bagi orang lain”. Akan Tetapi ada 3 kata
yang bisa mengacu pada istilah tersebut, yakni jasa, layanan dan
service. Sebagai jasa, service umumnya mencerminkan produk
tidak berwujud fisik (intangible) atau sektor industri spesifik.
Sedangkan sebagai pelayanan, service menyiratkan segala
sesuatu yang dilakukan oleh pihak tertentu (individu maupun
kelompok) kepada pihak lain (individu maupun kelompok lain)
(Tjiptono, 2012).
Pelayan publik atau pelayanan umum dapat didefinisiakan
sebagai segala bentuk jasa pelayanan baik dalam bentuk barang
publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi
tanggung jawab dan dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah
pusat,daerah, dan lingkungan Badang Usaha Milik
Negara/Daerah, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan
masyarakat maupun dalam rangka pelasanaan ketentuan
peraturan perundang-undangan (Ratminto & winarsih, 2010).
Menurut Moenir yang di sebut dengan pelayanan publik
adalah kegiatan yang di lakukan oleh seseorang atau sekelompok
orang dengan landasan faktor materil melalui sistem, prosedur
dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi kepentingan
orang lain sesuai dengan haknya (Moenir, 1999). Adapun ciri-ciri
pelayanan publik adalah :
1) Tidak dapat memilih konsumen
2) Perannnya dibatasi oleh peraturan perundang-undangan
3) Politik menginstitusionalkan
4) Pertanggungjawaban yang kompleks
5) Sangat diteliti
6) Semua tindakan harus mendapat justifikasi

Tujuan dan Sifat Laporan Keuangan

Menurut Fahmi (2011:5), tujuan laporan keuangan adalah untuk
memberikan informasi kepada pihak yang membutuhkan tentang kondisi
suatu perusahaan dari sudut angka-angka dalam satuan moneter menyediakan
informasi yang bermanfaat bagi pembuatan keputusan bisnis dan ekonomis
oleh investor yang ada dan yang potensial, kreditor, manajemen, pemerintah
dan pengguna lainnya.
Menurut Kasmir (2010:86) secara umum laporan keuangan bertujuan
untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan, baik pada saat tertentu
maupun pada periode tertentu.
Kasmir (2010:87) berikut ini, beberapa tujuan pembuatan atau penyusunan
laporan keuangan yaitu :

  1. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta)yang
    dimiliki perusahaan pada saat ini.
  2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal
    yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
  3. Memberikan informasi tentang jumlah pendapatan yang diperoleh
    pada suatu periode tertentu.
  4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang
    dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.
  5. Memberikan informasi tentang perubahan yang terjadi terhadap
    aktiva,pasiva,dan modal perusahaan.
  6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam
    suatu periode.
  7. Memberikan informasi tentang catatan atas laporan keuangan.
  8. Informasi keuangan lainnya.
    Kasmir (2010:88) Dalam praktiknya sifat laporan keuangan dibuat:
  9. Bersifat historis
    Bersifat historis artinya bahwa laporan Keuangan dibuat dan disusun dari
    data masa lalu atau masa yang sudah lewat dari masa sekarang.
  10. Meyeluruh
    Bersifat Meyeluruh maksudnya laporan keuangan dibuat selengkap
    mungkin.

Pengertian dan Arti pentingnya Laporan Keuangan


Menurut Harahap (2010:105) Laporan Keuangan adalah laporan yang
menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat
tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis keuangan yang lazim dikenal
adalah: Neraca atau Laporan Laba/Rugi, atau hasil usaha, laporan perubahan
ekuitas, laporan perubahan posisi keuangan dan catatan dan laporan lain serta
materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Bagi para analis, Laporan keuangan merupakan media yang paling penting
untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan. Pada tahap ini
seorang analis tidak akan mampu melakukan pengamatan langsung ke suatu
perusahaan, seandainya dilakukan ia tidak akan dapat mengetahui banyak tentang
perusahaan. Selain itu dengan laporan keuangan akan tergambar jelas posisi
keuangan pada periode tertentu

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan
suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga
dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaaan keuangan suatu perusahaan
yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu.
Pengertian kinerja keuangan menurut Fahmi (2011:2) adalah suatu
analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah
melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan yang
telah memenuhi standard dan ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi
Keuangan) atau GAAP (General Accepted Accounting principle)”.
Menurut Sutrisno (2009: 53) “Kinerja keuangan perusahaan merupakan
prestasi yang dicapai perusahaan dalam suatu periode tertentu yang
mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut”.
Menurut Jumingan (2006:239) “Kinerja keuangan merupakan gambaran
kondisi keuangan pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek
penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan
indicator kecukupan modal, likuiditas dan profitabilitas”

Rasio Aktivitas


Kasmir (2018:172), mengungkapkan bahwa “ rasio aktivitas adalah rasio
yang digunakan untuk mengukur kelangsungan hidup perusahaan dalam
memanfaatkan sumber dayanya”.
Rasio yang membedakan tingkat kesepakatan dan minat pada sumber daya
untuk suatu periode. Artinya, adalah normal bahwa akan ada keseimbangan
seperti yang diinginkan antara kesepakatan dan sumber daya seperti saham,
piutang, dan sumber daya tetap lainnya. Kapasitas eksekutif untuk memanfaatkan
dan meningkatkan sumber daya yang diklaim adalah target mendasar dari rasio ini
Dalam penelitian ini sang penulis menggunakan rasio aktifitas berupa Fixed
Assets Turn Over (FATO) dan Total Assets Turn Over (TATO) yang merupakan
indikator dalam rasio aktifitas

Innovativeness dalam rantai pasokan memiliki pengaruh positif terhadap tingkat integrasi rantai pasokan.


Hasil penelitian (Huang, Yen , & Liu , 2014) menunjukkan bahwa integrasi
rantai pasokan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja
pemasoki. Ditemukan bahwa ada hubungan positif antara integrasi rantai pasokan
dan Kemampuan Kompetitif dan integrasi rantai pasokan memiliki efek positif pada
Kinerja Bisnis (Özdemir, Simonetti, & Jannelli, 2015). Pada penelitian yang di
lakukan oleh (LEUSCHNER, ROGERS , & CHARVET , 2013) memberikan bukti
bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara integrasi rantai pasokan dan
kinerja perusahaan.
Integrasi rantai pasokan meningkatkan kinerja jika kompleksitas pasokan
tinggi, sedangkan pengaruh integrasi rantai pasokan yang sangat terbatas atau tidak
ada dapat dideteksi jika kompleksitas pasokan rendah (Gimenez, Vaart, & Donk ,
2012). Integrasi dalam rantai pasokan secara positif dapat mempengaruhi kinerja
rantai pasokan (Koçoğlu, İmamoğlu, İnce, & Keskin, 2011). Integrasi rantai
pasokan (indeks integrasi rantai pasokan) ditemukan secara signifikan terkait
dengan kinerja rantai pasokan (Talavera, 2017)

Rasio Solvabilitas


Rasio Solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh
mana sumber daya perusahaan dibiayai dengan kewajiban. Ini menyiratkan
seberapa besar kesulitan kewajiban yang ditanggung oleh perusahaan
dibandingkan dengan sumber dayanya. Rasio solvabilitas digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar komitmennya secara umum,
baik saat ini maupun jangka panjang dengan asumsi perusahaan dibubarkan
(dipertukarkan)

Rasio Cepat (Quick Ratio)


Demikian pula, dengan rasio saat ini, rasio ini juga digunakan untuk
mengukur kapasitas perusahaan untuk memenuhi komitmen yang berkembang.
namun, dalam rasio ini, ukuran kapasitas untuk membayar yang ditunjukkan lebih
masuk akal daripada rasio saat ini, karena dalam rasio cepat tidak semua sumber
daya saat ini dipertimbangkan, khususnya dengan menyimpan komponen stok
terlebih dahulu dan kemudian membandingkannya dan semua- keluar kewajiban
saat ini. Rasio cepat ini menggunakan sumber daya yang akan berubah menjadi
uang lebih cepat. Sebab stok dipandang sebagai sumber daya terpanjang saat ini
untuk diubah menjadi uang tunai, jumlah yang dipartisi dengan perhitungan rasio
saat ini dilarang.
Kasmir (2018: 137), menyatakn bahwa "rasio cepat adalah rasio yang
memungkinkan perusahaan untuk memenuhi atau membayar komitmen atau
kewajiban saat ini dengan menggunakan sumber daya saat ini tanpa
mempertimbangkan nilai saham"

Innovativeness dalam rantai pasokan memiliki pengaruh positif terhadap tingkat kinerja rantai pasokan.


Tingkat kualitas kemitraan dan integrasi rantai pasokan secara positif
dipengaruhi oleh mekanisme sosialisasi dan kemampuan inovasi teknologi. Dengan
meningkatnya kemampuan inovasi teknologi, tingkat integrasi rantai pasokan akan
meningkat (Lin, 2014). Produsen lebih cenderung menjadi efektif dalam integrasi
rantai pasokan ketika melakukan upaya tanpa henti untuk memahami ide-ide baru
dengan mencari peluang baru (Seo, Dinwoodie , & Kwak, 2014). Kemampuan
untuk bekerja bersama dengan mitra telah memungkinkan perusahaan untuk
mengintegrasikan dan menghubungkan operasi untuk meningkatkan efektivitas
serta memulai inovasi radikal dan tambahan (Soosay, Hyland, & Ferrer, 2008)

Rasio Likuiditas


Likuiditas merupakan salah satu unsur yang menentukan tercapai atau
tidaknya suatu perusahaan. Pengaturan uang perlu memenuhi komitmen sesaat
yang menentukan sejauh mana perusahaan menanggung bahaya atau pada
akhirnya, kapasitas perusahaan untuk mendapatkan uang tunai atau kapasitasnya
untuk mengubah sumber daya non-tunai menjadi uang tunai. Dengan
memperkirakan likuiditas, cenderung dirasakan berapa banyak uang yang dimiliki
seseorang dengan menjual kelimpahannya.
Kasmir (2018:110) menyimpulkan bahwa "rasio likuiditas adalah rasio yang
menggambarkan kapasitas perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka
pendek".
Satu lagi kapasitas rasio likuiditas adalah untuk menunjukkan atau
mengukur kapasitas perusahaan untuk memenuhi komitmen yang berkembang,
dua komitmen di luar perusahaan dan di dalam perusahaan.
Menurut Kasmir (2018:112), efek dari penilaian pengukuran rasio likuiditas
adalah:

  1. Dengan asumsi perusahaan dapat memenuhi komitmennya, dikatakan
    bahwa perusahaan itu cair.
  2. Kemudian lagi, jika perusahaan tidak dapat memenuhi komitmennya
    atau tidak bisa, maka perusahaan tersebut dianggap tidak likuid.
    Rasio likuiditas sering juga dianggap sebagai rasio modal yang berfungsi
    adalah rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas perusahaan atau tidak

Jenis Rasio Keuangan


Setiap rasio keuangan memiliki alasan tertentu, alasan dan yang berarti.
kemudian, pada saat itu, klarifikasi setiap konsekuensi dari rasio yang disengaja
untuk menyelesaikannya lebih signifikan untuk arah independen.
Menurut Kasmir (2018:107), jenis-jenis rasio keuangan adalah sebagai
berikut:

  1. Rasio Likuiditas
  2. Rasio Solvabilitas
  3. Rasio Aktivitas
  4. Rasio Profitabilitas
    Sedangkan urutan menurut Rudianto (2013: 191), adalah sebagai berikut:
  5. Rasio Produktivitas
  6. Rasio Likuiditas
  7. Rasio Solvabilitas
  8. Rasio Aktivitas

Pengertian Analisis Rasio


Analisis laporan keuangan keuangan perusahaan menggambarkan hubungan
atau keselarasan antara jumlah tertentu yang menggunakan jumlah lain.
Pemeriksaan rasio keuangan melibatkan informasi ringkasan fiskal yang ada
sebagai alasan penilaiannya, meskipun tergantung pada informasi dan kondisi
masa lalu, penyelidikan rasio keuangan mengharapkan untuk menilai bahaya di
masa depan dan pintu terbuka yang menakjubkan. Estimasi dan hubungan antara
satu hal dan satu hal lagi dalam laporan keuangan yang muncul dalam rasio
keuangan memberikan tujuan yang signifikan untuk menentukan soliditas
perusahaan.
Kasmir (2018:104), menyimpulkan bahwa "rasio keuangan adalah tindakan
untuk melihat angka-angka yang terkandung dalam laporan anggaran dengan
membagi satu angka dengan angka lainnya".
Rudianto (2013: 191), menyatakan bahwa "rasio keuangan adalah teknik
mendalam untuk menemukan korelasi antara satu catatan tertentu dan satu catatan
lagi dalam laporan keuangan suatu perusahaan dan hubungan antara catatan-
catatan ini".

Pengukuran Kinerja Keuangan


Estimasi kinerja dilibatkan oleh perusahaan untuk lebih mengembangkan
latihan fungsional mereka untuk menyaingi perusahaan yang berbeda.
Pemeriksaan pelaksanaan keuangan menyiratkan proses pemeriksaan
mendasar pada informasi, memastikan, memperkirakan, menguraikan, dan
memberikan jawaban untuk akun perusahaan untuk periode tertentu.
Menurut Jumingan (2014) kinerja keuangan dapat dinilai dengan
menggunakan beberapa perangkat berwawasan. Dilihat dari caranya, penyidikan
keuangan dapat dibagi menjadi 8 (delapan) jenis, yaitu:

  1. Analisis Perbandingan Laporan Keuangan adalah prosedur logis yang
    menggunakan pendekatan melihat laporan fiskal minimal 2 periode dengan
    menunjukkan perubahan, baik secara keseluruhan (besar) maupun secara
    tarif (cukup).
  2. Analisis Tren (kemiringan posisi), adalah strategi ilmiah untuk menentukan
    kecenderungan kondisi keuangan untuk naik atau turun.
  3. Analisis Persentase per-komponen (ukuran normal), adalah prosedur logis
    untuk memutuskan tingkat kepentingan di setiap sumber daya untuk sumber
    daya dan kewajiban agregat atau absolut.
  4. Analisis sumber dan penggunaan modal kerja, merupakan strategi yang
    tepat untuk menentukan awal dan penggunaan modal kerja melalui 2
    kerangka waktu yang ditinjau.
  5. Analisis sumber dan Penggunaan Uang, adalah strategi mendalam untuk
    memutuskan keadaan uang yang digabungkan dengan perubahan uang riil
    pada waktu tertentu.
  6. Analisis Rasio Keuangan, adalah suatu metode penyelidikan keuanganuntuk
    memutuskan hubungan antara hal-hal yang pasti dalam laporan akuntansi
    dan artikulasi pembayaran baik secara sendiri-sendiri maupun pada waktu
    yang bersamaan.
  7. Analisis Perubahan laba kotor, yang berarti strategi logis untuk mengetahui
    posisi manfaat dan penjelasan di balik penyesuaian manfaat.
  8. Analisis Break Even Point (BEP), adalah strategi logis untuk memutuskan
    tingkat kesepakatan yang harus dicapai agar perusahaan tidak mengalami
    kerugian

Kinerja Rantai Pasokan


Dalam studi (Talavera, 2017) ini, satu set langkah-langkah rantai pasokan
yang lebih holistik dikembangkan yang berusaha untuk mengukur efisiensi rantai
pasokan, responsif, fleksibilitas, kepuasan pelanggan, dan efisiensi biaya. Studi ini
juga mencoba mengukur ukuran kinerja rantai pasokan secara holistik dengan
berfokus pada dua dimensi: (a) langkah-langkah efektivitas rantai pasokan (yang
mengacu pada langkah-langkah output yang mencerminkan responsifitas rantai
pasokan untuk merespons kebutuhan mitra rantai pasokan) dan (b) langkah-langkah
efisiensi rantai pasokan (yang mengacu pada langkah-langkah berbasis biaya atau
keuangan untuk menilai efisiensi rantai pasokan).
Banyak organisasi saat ini telah menyadari bahwa metrik kinerja sangat
penting untuk mengelola bisnis dan mencapai hasil yang diinginkan. Banyak
organisasi ingin melakukan " right things " (efektivitas) dan melakukannya "right"
(efisiensi). Namun, hanya menyatakan dua tujuan tidak memadai kecuali ada metrik
spesifik dan terukur yang memungkinkan organisasi untuk mengukur apakah tujuan
ini tercapai atau tidak (Coyle, Gibson, Novack, & Langley, 2016). Ada empat
kategori utama untuk memeriksa kinerja logistik dan rantai pasokan: (1) waktu, (2)
kualitas, (3) biaya, (4) Metrik pendukung.
Dari studi yang dilakukan oleh (Akyuz & Erkan, 2010) berpendapat bahwa
metrik pengukuran kinerja harus:
1) Mencerminkan keseimbangan antara ukuran finansial dan non-finansial
2) Mampu mengukur kemitraan, kolaborasi, kelincahan, fleksibilitas,
produktivitas informasi, dan mampu mendefinisikan keunggulan bisnis
Jelas bahwa membangun dan menerapkan sistem pengukuran kinerja untuk
memenuhi semua persyaratan ini adalah tugas yang menantang yang memerlukan
pertimbangan simultan dari manajemen proses bisnis, masalah teknis dan
organisasi / manajerial. Tantangan-tantangan ini diperkuat oleh meningkatnya
tekanan untuk mengukur kemitraan, kolaborasi, kelincahan, dan persyaratan
keunggulan bisnis di era sekarang. Karena itu, masalah ini memerlukan pendekatan
'seimbang', 'luas organisasi', 'dinamis' dan 'pembelajaran berkelanjutan' berdasarkan
praktik manajemen proses bisnis yang baik (Akyuz & Erkan, 2010).
Kinerja rantai pasokan mengacu pada aktivitas rantai pasokan yang diperluas
dalam memenuhi persyaratan pelanggan akhir, termasuk ketersediaan produk,
pengiriman tepat waktu, dan semua inventaris serta kapasitas yang diperlukan
dalam rantai pasokan untuk memberikan kinerja tersebut secara responsif. Kinerja
rantai pasokan melintasi batas perusahaan karena mencakup bahan dasar,
komponen, sub-rakitan, dan produk jadi, dan distribusi melalui berbagai saluran ke
pelanggan akhir. Ini juga melintasi garis organisasi fungsional tradisional seperti
pengadaan, manufaktur, distribusi, pemasaran & penjualan, dan penelitian &
pengembangan (Hausman , 2003).
Rantai Pasokan perlu tampil di tiga dimensi utama:
  1. Layanan, berkaitan dengan kemampuan untuk mengantisipasi, menangkap dan
    memenuhi permintaan pelanggan dengan produk yang dipersonalisasi dan
    pengiriman tepat waktu; Aset melibatkan apa pun dengan nilai komersial,
    terutama inventaris dan uang tunai; dan Kecepatan mencakup metrik yang
    terkait waktu - mereka melacak respons dan kecepatan eksekusi.
    Aset, utama yang terlibat dalam rantai pasokan adalah inventaris di seluruh
    rantai. Dua metrik yang biasanya digunakan untuk inventaris adalah: Nilai
    Moneter dan Pasokan Waktu atau Perputaran Persediaan
  2. Kecepatan, Ada serangkaian metrik yang terkait dengan ketepatan waktu,
    kecepatan, daya tanggap, dan fleksibilitas. Lainnya adalah: Waktu Siklus
    (Aliran) di Node, Waktu Siklus Rantai Suplai, Siklus Konversi Tunai, dan
    Fleksibilitas "Terbalik"

Tujuan Dan Manfaat Pengukuran Pada Kinerja Keuangan


Munawir (2014), mengungkapkan alasan untuk memperkirakan kinerja
keuangan perusahaan adalah untuk:

  1. Memutuskan tingkat likuiditas, secara spesifik, kapasitas perusahaan
    untuk memenuhi komitmen keuangan harus dipenuhi dengan cepat, atau kapasitas
    perusahaan untuk memenuhi komitmen keuangannya pada jam pemilihan.
  2. Menentukan tingkat solvabilitas, untuk lebih spesifik kapasitas
    perusahaan untuk memenuhi komitmen manfaatnya untuk memenuhi komitmen
    keuangan saat ini dan jangka panjang dalam kasus likuidasi.
  3. Memutuskan tingkat profitabilitas, untuk lebih spesifik kapasitas
    perusahaan untuk mendapatkan manfaat dalam periode tertentu.
  4. Keandalan bisnis, secara spesifik: Mengetahui kapasitas perusahaan
    untuk menyelesaikan latihannya dengan mantap, diperkirakan oleh kapasitas
    perusahaan untuk membayar bunga atas komitmen ini dengan segera.
    Sementara itu, menurut Rusmanto (2011: 621), Ridhawati (2014) perkiraan
    kinerja keuangan berencana untuk:
  5. Menyampaikan data yang berharga dalam pilihan penting tentang sumber
    daya untuk digunakan dan mendorong pimpinan untuk menetapkan pilihan yang
    melayani kepentingan perusahaan
  6. Memperkirakan kinerja unit usaha sebagai elemen perjuangan
  7. Yang akan terjadi, estimasi kinerja digunakan sebagai alasan untuk
    mensurvei kemungkinan perubahan aset keuangan yang mungkin dikendalikan di
    kemudian hari.
    Kinerja keuangan memiliki keunggulan tertentu, selanjutnya adalah
    keunggulan penilaian kinerja (Mulyadi 2007:416 ; Sripeni, 2014), penilaian
    kinerja digunakan oleh manajemen diantaranya adalah:
  8. Menangani kegiatan asosiasi dengan sukses dan efektif melalui
    inspirasiperwakilan terbesar.
  9. Membantu menentukan pilihan yang terkait dengan pekerja, misalnya,
    kenaikan pangkat, perpindahan, dan pemutusan hubungan kerja.
  10. Mengenali kebutuhan persiapan dan kemajuan pekerja dan
    memberikanmodel penentuan dan penilaian program persiapan yang representatif.
  11. Memberikan kritik kepada perwakilan tentang bagaimana atasan
    mereka menilai presentasi mereka.
  12. Memberikan premis untuk distribusi penghargaan

Kinerja Keuangan


Kinerja Keuangan adalah kinerja manajemen, yang merupakan perluasan
nilai keuangan dan diperkirakan manfaatnya. Konsekuensi dari memperkirakan
penanda keuangan sangat penting sehingga mitra dapat memahami status
fungsional perusahaan dan tingkat pencapaian perusahaan.
Kinerja perusahaan adalah ukuran yang tepat yang diambil oleh perusahaan
untuk menilai kelayakan dan kecukupan latihan yang dilakukan selama jangka
waktu tertentu. Presentasi perusahaan dapat diperkirakan dari keterlibatannya
dengan menghasilkan manfaat dan kewajiban jangka panjang, menciptakan
manfaat dari sumber dayanya, dan membiayai latihannya.
Handayani (2013:6), menyimpulkan bahwa kinerja adalah penggambaran
suatu tingkatan untuk menyelesaikan pelaksanaan kegiatan/program/pendekatan
untuk memahami tujuan, tujuan, misi, dan visi perhimpunan yang dituangkan
dalam penyempurnaan rencana strategis nperusahaan (strategic plan).
Menurut Kurniasari (2014:12), kinerja keuangan adalah kemanfaatan kerja.
Area keuangan dilakukan oleh perusahaan dan ditampilkan dalam laporan
anggaran perusahaan. Anda dapat menilai hasil keuangan perusahaan
menggunakan peralatan yang berwawasan.
Menurut Rudianto (2012) “kinerja Keuangan menyiratkan apa yang akan
terjadi atau pencapaian yang telah dicapai oleh suatu perusahaan para
manajemendalam melakukan kapasitasnya dalam mengawasi sumber daya
perusahaan secara memadai selama periode tertentu”.
Dari pemahaman beberapa pakar di atas, kita dapat mencapai kesimpulan
bahwa penyajian keuangan adalah pencapaian perusahaan dalam periode yang
menggambarkan kondisi kesejahteraan keuangan perusahaan dengan
menggunakan tanda kecukupan modal, likuiditas, dan keuntungan. Dengan kinerja
keuangan, perusahaan dapat lebih efektif mengetahui kondisi keuangan
perusahaan pada setiap periode tertentu, baik dalam hal peningkatan aset atau
pengeluaran cadangan.