Jumat, 29 Juli 2022
Perceived Quality (skripsi, tesis, disertasi)
Sikap Konsumen (skripsi, tesis, disertasi)
Perilaku seseorang itu mencerminkan sikapnya terhadap sesuatu
obyek. Jika seseorang mempunyai sikap yang positif terhadap suatu obyek,
maka dia akan mendukung berlakunya/terjadinya obyek tersebut. Sebaliknya
jika sikapnya negatif, maka dia akan selalu mencoba mengahalangi atau
paling tidak mengabaikan berlakunya/terjadinya obyek tersebut. Anggapan
lebih lanjut adalah bahwa sikap konsumen itu dapat diukur melalui
pernyataan-pernyataan yang diberikannya berkenaan dengan stimuli
(rangsangan) pemasaran atau obyek tertentu. (Milawati, 2009)
Menurut Ajzen (2005),sikap disebut juga sebagai konsep yang
paling khusus dan sangat dibutuhkan dalam psikologis sosial kontemporer.
Sikap juga merupakan salah satu konsep yang paling penting yang digunakan
pemasar untuk memahami konsumen.
Menurut Thurstone (1993), sikap sebagai salah satu konsep yang
cukup sederhana yaitu jumlah pengaruh yang dimiliki seseorang atas atau
menentang suatu obyek.
Paul dan Olson (1999) menyatakan bahwa “Sikap merupakan
Evaluasi konsep secara menyeluruh yang dilakukan seseorang.
Memungkinkan orang berespon dengan cara menguntungkan atau tidak
menguntungkan secara konsisten berkenaan dengan obyek atau alternative
yang terkait.
Schifman dan Kanuk (2004) menyatakan bahwa “Sikap adalah
ekspresi perasaan (Inner Feeling) yang mencerminkan apakah seseorang
senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, dan setuju atau tidak
terhadap suatu obyek.”
Jika dianalogikan dengan sikap konsumen terhadap suatu merek
berart sikap terhadap merek yaitu mempelajari kecenderungan konsumen
untuk mengevaluasi merek baik disenangi ataupun tidak disenangi secara
konsisten. Dengan demikian, konsumen mengevaluasi merek tertentu secara
keseluruhan dari yang paling jelek sampai yang paling baik.
Setiap konsumen memiliki sikap berbeda-beda terhadap suatu
obyek. Menurut Loundon dan Bitta (1993) terdapat empat karakteristik sikap
yaitu :
a. Sikap memiliki obyek
Artinya sikap mempunyai hal yang dianggap penting. Obyek sikap
berupa konsep abstrak seperti konsumerisme atau berupa suatu yang
nyata.
b. Sikap memiliki arah, derajat dan intensitas
Artinya sikap seseorang terhadap suatu obyek akan menunjukkan arah
terhadap suatu obyek. Arah seseorang terhadap suatu obyek dapat
mendekat atau menjauh. Kecuali itu sikap seseorang memiliki derajat
tertentu yaitu sampai sejauh mana orang merasa senang terhadap suatu
obyek, sedangkan intensitas sikap ditunjukkan oleh tingkat pendiriannya.
c. Sikap mempunyai struktur
Artinya sikap merupakan kerangka organisasi dari beberapa sikap yang
ada pada seseorang. Masing-masing sikap mempunyai tingkatan yang
berbeda, sedangkan hubungan masing-masing sikap mungkin selarasa
antara satu dengan yang lainnya. Tetapi sikap mempunyai
kecenderungan untuk maji pada suatu stabilitas dan mengelompok
membentuk struktur sikap.
d. Sikap mempunyai proses yang dipelajari
Artinya sikap dibentuk dari pengalaman individu terhadap realitas
sedangkan pengalaman dapat bersifat langsung atau tidak.
Laohapensang (2009) menyatakan bahwa ada tiga faktor yang
mempengaruhi minat beli konsumen pada bisnis online shop. Ketiga faktor
tersebut adalah sikap (attitude), norma subyektif, dan persepsi pengendalian
perilaku. Dalam penelitian Laohanpensang (2009) yang menjelaskan bahwa
kemudahan seorang konsumen untuk melakukan transaksi bisnis melalui
internet dan intensitas konsumen dalam menggunakan internet untuk
melakukan belanja secara online memberikan kontribusi positif pada minat
belanja konsumen
Perceived Risk pada Online Shopping (skripsi, tesis, disertasi)
Persepsi konsumen dalam pembelian produk dari internet sangat
berhubungan dengan pengalaman. Penelitian mengenai perceived risk yang
sudah mengkombinasikan konsumen yang sudah berpengalaman dan
konsumen yang belum berpengalaman belum banyak dilakukan (Pires, et al
2004).
Peranan pengalaman sangat diperlukan dalam penelitian
selanjutnya mengenai perceived risk dalam berbelanja secara online melaui
internet (Jarvenva, 1999). Dalam penelitian sebelumnya mengenai perceived
risk dengan perhatian utamanya seperti faktor keamanan, harga dan reabilitas
16
untuk konsumen online yang potensial menjadi bukan hal yang penting bagi
konsumen yang sudah mempunyai pengalaman dalam berbelanja secara
online (Pires, et al 2004). Hal ini dikarenakan karena konsumen yang sudah
mempunyai pengalaman dalam berbelanja secara online di internet
mempunyai persepsi yang berbeda dengan mereka yang tidak mempunyai
pengalaman dalam berbelanja di internet sehingga tingkat risiko yang
dirasakan antara online shoppers dan non-online shoppers berbeda.
Jenis-Jenis Perceived Risk Konsumen
Menurut Shiffman & Kanuk (2008) tipe resiko utama yang
dirasakan para konsumen ketika mengambil keputusan mengenai produk
meliputi :
1. Risiko keuangan adalah risiko bahwa produk tidak akan seimbang
dengan harganya.
2. Product risk mengacu pada kualitas sebuah produk, kinerjanya,
kepalsuan produk dan masalah lain yang berhubungan dengan produk
tersebut.
3. Risiko fungsional adalah risiko bahwa produk tersebut tidak mempunyai
kinerja seperti yang diharapkan.
4. Risiko fisik adalah risiko terhadap diri dan orang lain yang dapat
ditimbulkan produk
5. Risiko sosial adalah risiko bahwa pilihan produk yang jelek dapat
menimbulkan rasa malu dalam lingkungan sosial.
6. Risiko psikologis adalah risiko bahwa pilihan produk yang jelek dapat
melukai ego konsumen.
17
7. Risiko waktu adalah risiko bahwa waktu yang digunakan untuk mencari
produk akan sia-sia jika produk tersebut tidak bekerja seperti yang
diharapkan.
Dalam penelitian Naiyi (2004) yang berjudul “Dimensions of
Consumer’s Perceived Risk in Online Shopping”, dimensi perceived risk
yangdigunakan adalah ;
1. Fraud risk mengacu pada perhatian konsumen mengenai kepercayaan
terhadap penjual pada online shopping
2. Delivery risk mengacu pada perhatian konsumen mengenai proses
pengiriman barang
3. Financial risk mengacu pada perhatian kosumen mengenai kemungkinan
kehilangan uang ketika berbelanja melaui internet
4. Process dan time risk mengacu pada pandangan terhadap waktu,
kemudahan dan kenyamanan konsumen mengenai berbelanja melalui
internet
5. Privacy risk mengacu pada perhatian konsumen mengenai keamanan
dari informasi pribadi ketika berbelanja secara online.
6. Information risk mengacu pada perhatian konsumen terhadap
ketidaksesuaian informasi menganai penjual ataupun produk.
Dimensi-dimensi perceived risk yang lain yang dapat ditemui adalah :
Menurut Benson (Arweidya, 2011) menjelaskan bahwa
1. Financial risk
Adalah risiko bahwa produk tersebut tidak akan seimbang dengan
harganya (Shiffman &Kanuk, 2008). Sedangkan menurut Ko, et.al
18
(2004) financial risk adalah persepsi bahwa sejumlah uang tertentu bisa
hilang atau diperlukan untuk membuat sebuah produk bekerja dengan
baik, termasuk ada tidaknya biaya yang dikeluarkan ketika produk
tersebut rusak. Penjelasan lainnya mengenai financial risk yaitu menurut
Demirdogen (2010) yaitu kemungkinan bahwa sebuah pembelian
mengakibatkan kehilangan sejumlah uang atau sumber daya lainnya,
termasuk biaya tambahan yang dikeluarkan selama proses transaksi jual
beli.Naiyi (2004) menjelaskan bahwa financial risk pada jual beli di
internet berhubungan dengan perbandingan harga online dengan harga
offline, dijelaskan bahwa harga online lebih mahal dari harga offline.
Naiyi juga menjelaskan bahwa financial risk terkait dengan kesesuaian
antara harga produk dengan kualitas produk yang dijual.
2. Psychological risk
Kaplan, et.al (2010) menjelaskan bahwa psychological risk
merupakan kemungkinan bahwa sebuah produk yang di beli tidak sesuai
dengan citra diri. Sementara itu Shiffman & Kanuk (2008) menjelaskan
bahwa psychological risk berkaitan dengan terlukanya ego konsumen
akibat dari pilihan produk yang jelek. Ego konsumen ini termasuk dalam
rasa kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap produk yang dibeli melaui
internet (Ha, 2002).Naiyi (2004) menjelaskan bahwa psychological risk
juga termasuk kecemasan saat berbelanja online.
3. Product risk
Product risk mengacu pada kualitas sebuah produk, kinerjanya,
kepalsuan produk, dan masalah lain yang berhubungan dengan produk
tersebut. Hal ini diantaranya yaitu performa produk, kualitas produk,
keaslian produk (Naiyi, 2004) dan garansi produk tersebut (Ha, 2002).
4. Delivery risk
Delivery risk mengacu pada perhatian konsumen mengenai
proses pengiriman barang (Naiyi, 2004). Risiko-risiko yang
dimaksudkan dalam delivery risk ini yaitu termasuk kerusakan barang
selama prosespengantaran barang, risiko hilangnya barang dalam
pengantaran barang,risiko salah alamat dan ketepatan waktu pengiriman
barang.
Resiko Kenyamanan
Menurut Ariff, et all (2007) yang menjelaskan bahwa resiko
kenyamanan adalah tentang persepsi konsumen atas resiko bahwa produk
yang dibeli akan memakan waktu dan usaha untuk memperbaiki dan
menyesuaikan sebelum dapat digunakan. Ketika konsumen merasakan resiko
kenyamanan yang tinggi, mereka merasa sangat kesulitan untuk mereka
melakukan suatu perilaku belanja online.
Return Policy
Dalam jurnal Arya dan Mittendorf (2004) yang menjelaskan bahwa
return policy adalah aturan membangun pedagang eceran untuk mengelola
suatu proses dimana pelanggan mengembalikan atau menukarkan barang
yang tidak sesuai atau barang rusak yang telah dibeli sebelumnya. Return
policy merupakan pengembangan penyediaan layanan pelanggan ritel.
Service Infrastuktur
Service dapat diartikan sebagai kegiatan yang diperuntukkan atau
ditujukan untuk memberikan kepuasan melalui pelayanan yang diberikan
seseorang secara memuaskan. Sedangkan infrastuktur dalam wikipedia dapat
diartikan sebagai kebutuhan dasar fisik pengorganisasian sistem struktur yang
diperlukan untuk jaminan ekonomi sektor publik dan sektor privat sebagai
layanan dan fasilitas yang diperlukan agar perekonomian dapat berfungsi
dengan baik. Dapat disimpulkan dari kutipan diatas bahwa service
infrastruktur adalah pelayanan dan pengelolaan suatu organisasi kepada
seseorang ataupun kelompok untuk jaminan ekonomi agar perekonomian
dapat berfungsi dengan baik.
Persepsi resiko yang dianggap sebagai konsep dasar dalam sikap
konsumen yang menjelaskan bahwa konsumen mengalami ketidakpastian
sebelum melakukan pembelian untuk jenis dan tingkat kerugian yang
diperkirakan akibat pembelian dan penggunaan produk (Shiffman & Kanuk,
2008)
Persepsi Resiko (skripsi, tesis, disertasi)
Para konsumen harus terus menerus mengambil keputusan
mengenai produk dan jasa apa yang akan dibeli dan dimana membelinya.
Karena hasil atau konsekuensi keputusan tersebut sering tidak pasti,
konsumen merasa adanya tingkat risiko tertentu dalam mengambil keputusan
pembelian. Risiko yang dirasakan didefinisikan sebagai ketidakpastian yang
dihadapi para konsumen jikamereka tidak dapat meramalkan konsekuensi
keputusan pembelian mereka (Shiffman & Kanuk, 2008). Definisi ini
menyoroti dua dimensi risiko yangdirasakan yang relevan: ketidakpastian dan
konsekuaensi (Naiyi, 2004).
Secara teori keputusan, resiko dan ketidakpastian dibedakan
berdasarkan pengetahuan tentang probabilitas terjadinya. Davis dan Olson
(Shiffman & Kanuk, 2008) risiko didefinisikan sebagai suatu situasi di mana
pembuat keputusan memiliki pengetahuan apriori konsekuensi yang
merugikan dan kemungkinan terjadinya. Selain itu, ketidakpastian
didefinisikan sebagai suatu situasi di mana keputusan-pembuat tahu bahwa
hasil yang mungkin untuk setiap alternatif dapat diidentifikasi, namun tidak
ada pengetahuan tentang probabilitas yang melekat pada masing-masing.
Perceived risk berarti keyakinan subjektif individu tentang potensi
konsekuensi negatif dari keputusan yang diambil oleh konsumen (Samadi dan
Nejadi, 2009). Tingkat risiko yang dirasakan konsumen dan toleransi mereka
sendiriuntuk pengambilan risiko merupakan faktor yang mempengaruhi
strategi pembelian mereka. Harus ditekankan bahwa para konsumen
dipengaruhi oleh berbagai risiko yang mereka rasakan, apakah semua risiko
itu betul-betul ada atau tidak. Risiko yang dirasakan adalah konsep
fundamental dalam perilaku konsumen yang menyiratkan pengalaman
konsumen pra-pembelian ketidakpastian mengenai jenis dan tingkat kerugian
yang diperkirakan akibat dari pembelian dan penggunaan produk. (Naiyi,
2004)
Minat Beli (skripsi, tesis, disertasi)
Minat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran
yang membentuk suatu persepsi. Minat beli ini menciptakan suatu motivasi
yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu keinginan yang sangat
kuat yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus memenuhi
kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya itu.
Konsumen dimanapun dan kapanpun akan dihadapkan dengan sebuah
keputusan pembelian untuk melakukan transaksi pembelian. Dimana
konsumen akan membandingkan atau mempertimbangkan satu barang
dengan barang lainnya untuk mereka konsumsi. Stigler (1995) dalam Pujadi
(2010) menyatakan bahwa suatu merek yang dikenal oleh pembeli akan
menimbulkan minatnya untuk mengambil keputusan pembelian. Dampak
dari simbol suatu produk memberikan arti didalam pengambilan keputusan
konsumen sebab simbol dan image merupakan hal penting dalam periklanan
dan mempunyai pengaruh dalam minat untuk membeli.
Minat pembelian merupakan sesuatu yang berhubungan dengan
rencana konsumen untuk membeli produk tertentu, serta berapa banyak unit
produk yang dibutuhkan pada periode tertentu. Keputusan pembelian
merupakan pernyataan mental konsumen yang merefleksikan rencana
pembelian sejumlah produk dengan merek tertentu (Setiadi, 2003). Proses
pembelian dimulai ketika seseorang didalam perusahaan menyadari ada
masalah atau kebutuhan yang dapat diatasi dengan cara memperoleh barang
atau jasa. Proses ini dapat dipicu oleh stimulus internal atau eksternal. Dengan
rangsangan internal salah satu dari kebutuhan normal seseorang akan rasa
lapar dan haus seks naik ketingkat maksimum menjadi dorongan atau
kebutuhan bisa timbul akibat rangsangan dari eksternal (Kotler &
Keller,2009).
Menurut Kotler & Keller (2009), kata minat berasal dari bahasa
Inggris ―interest‖ yang memiliki makna perasaan yang muncul bersamaan
atau menyebabkan suatu perhatian khusus pada suatu objek atau kelompok
objek. Dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang memunculkan sebuah
perhatian. Minat timbul karena pengalaman individu yang memuaskan dan
bila minat telah terbentuk pada diri individu maka akan cenderung untuk
menetap sepanjang obyek minat obyektif bagi individu (Mouly dalam
Atkinson, 2007). Selanjutnya, Jones menyatakan bahwa minat sebagai
sesuatu perasaan suka pada suatu benda atau situasi yang dapat diwujudkan
dalam bentuk reaksi yang nyata atau hanya berupa organ-organ saja
(Atkinson, 2007), sedangkan Marx berpendapat bahwa minat seseorang
diikuti perasaan senang dan kecenderungan mencari obyek yang disenangi itu
(Atkinson, 2007).
Dari beberapa pengertian atau definisi di atas, minat merupakan
suatu kekuatan yang bersifat intirinsik yang mampu mendorong,
mempengaruhi atau menyebabkan seorang individu dapat tertarik
perhatiannya pada sesuatu di luar dirinya secara sadar. Minat juga dipandang
sebagai suatu respon yang disadari dan mempunyai arah pada suatu obyek
atau situasi tertentu yang menimbulkan rasa tertarik, dan individu lebih fokus
perhatiannya pada obyek atau situasi tersebut daripada lainnya. Disamping
itu, minat juga akan melibatkan kesediaan individu untuk berinteraksi dengan
obyek atau situasi yang menimbulkan rasa senang pada dirinya.
Buying intention juga dapat diartikan sebagai rasa tertarik yang
menimbulkan suatu dorongan untuk membeli produk tertentu. Seseorang
mempunyai keinginan untuk membeli akan menunjukkan perhatian dan rasa
tertarik terhadap produk tersebut. minat membeli ini akan diikuti dengan
suatu tindakan berupa perilaku membeli.
Jadi, disini minat membeli belumlah diikuti suatu tindakan untuk
membeli, namun hanyalah keinginan untuk membeli. Keputusan membeli
sendiri dibentuk oleh individu setelah melakukan proses kognitif yang
melibatkan minat, perhatiam, memori, persepsi, membuat alasan, penilaian,
membayangkan dan berpikir (Fouladivanda, et al 2013). Istilah penyelesaian
masalah (problem solving) merupakan suatu proses intelektual dasar yang
telah dikembangkan dan dibuat sesistematis mungkin untuk menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi manusia (Fouladivanda, et al 2013).
Apabila konsumen mempunyai minat untuk membeli suatu barang,
maka konsumen tersebut akan menunjukkan sikap positif dan perasaan
senang terhadap barang tersebut, sehingga konsumen akan memanifestasikan
minat tersebut dengan perilaku membeli. Hal ini sejalan dengan yang
dikatakan Engel, Blackwell, dan Miniard (2006), bahwa minat konsumen
untuk membeli barang akan terealisasi dengan perilaku membeli.
Minat membeli merupakan aktivitas praktis yang sesuai disertai
dnegan perasaan senang, dan minat ini akan diikuti kecenderungan untuk
melakukan aktivitas, dengan perilaku membeli. Minat membeli ini akan
timbul tergatung pada jenis, kualitas, atau daya tarik lain yang ada pada
produk.