Minggu, 31 Maret 2024

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja

Berbagai aspek berdampak pada kinerja guru, baik yang bersumber dari
guru itu sendiri maupun dari lingkungan sekolah. Selaras dengan itu
menurut Supardi (2014:52) karakteristik individu seperti pengetahuan,
keterampilan, kemampuan, motivasi, kepercayaan, nilai-nilai, serta sikap
sangat berpengaruh terhadap kinerja. Faktor organisasi dan pekerjaan juga
memiliki dampak yang signifikan terhadap karakteristik individu.
Sehubungan dengan faktor kinerja di atas, Wibowo (2017:84)
mengemukakan berbagai aspek yang berdampak pada kinerja yakni:
a. Faktor personal (Personal factor), diperlihatkan oleh tingkat
keterampilan, kompetensi yang dimiliki, motivasi, dan komitmen
individu.
b. Faktor kepemimpinan (Leadership factor), ditentukan oleh kualitas
dorongan, bimbingan, dan dukungan yang dilakukan manajer dan team
leader.
c. Faktor kelompok/tim (Team factor), diperlihatkan oleh kualitas
dukungan yang diberikan oleh rekan kerja.
d. Faktor sistem (System factor), diperlihatkan oleh adanya sistem kerja
dan fasilitas yang diberikan organisasi.
e. Faktor situasi (Contextual/situational factor), diperlihatkan oleh
tingginya tingkat tekanan dan perubahan lingkungan internal dan
eksternal.

Penilaian Kinerja


Dalam upaya mencapai prestasi kerja yang baik maka diperlukan proses
penilaian kinerja. Menurut Hafidulloh et al. (2021:59) penilaian kinerja
guru adalah metode untuk menentukan atau memahami tingkat kinerja guru
lain, yang diukur terhadap standar yang telah ditetapkan atau sebagai proses
di mana organisasi meninjau atau menganalisis kinerja pegawainya.
Sebagai hasil dari pengembangan kebijakan atau program mengenai
sumber daya manusia yang lebih baik dalam organisasi, penilaian kinerja
pada dasarnya merupakan aspek penting dalam pengembangan organisasi
yang efektif dan efisien.
Menurut Ditjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan) dalam Barnawi & Arifin (2012:26), penilaian kinerja guru
umumnya memiliki dua fungsi utama yaitu :
a. Untuk mengevaluasi kemampuan guru dalam mempraktikkan semua
keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan selama proses
pembelajaran, pendampingan, atau melakukan tanggung jawab
tambahan terkait sekolah. Sehingga, profil kinerja guru akan dikenali
dan ditafsirkan sebagai analisis kebutuhan atau audit keterampilan bagi
setiap guru yang dapat digunakan untuk membuat penilaian kinerja
guru.
b. Untuk menentukan jumlah kredit yang diperoleh guru berdasarkan
kinerja belajar mereka, bimbingan, atau tanggung jawab tambahan
terkait dengan fungsi sekolah selama setahun. Kinerja guru dievaluasi
sebagai bagian dari proses promosi guru dan pengembangan karir untuk
kenaikan jabatan dan peran fungsional.

Pengertian Kinerja


Wilson Bangun (2012:231) mengemukakan kinerja ialah output dari
capaian pekerjaan individu berlandaskan berbagai persyaratan pekerjaan
(job requirement). Sedangkan Mangkunegara (2015:67) menjelaskan
kinerja ialah output capaian kerja pegawai baik kualitas maupun
kuantitasnya pada pelaksanaan tugas berdasarkan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya.
Adapun menurut Hersey & Blanchard dalam Sinambela (2016:481),
mengatakan bahwa kinerja ialah fungsi dari dorongan serta bakat. Guna
melaksanakan tugas serta pekerjaan, seorang individu harus mempunyai
sejumlah derajat kesediaan serta kapasitas tertentu. Tanpa pemahaman
yang jelas mengenai apa yang harus dilaksanakan serta bagaimana
melaksanakannya, kesediaan serta kapasitas individu tidak cukup guna
menyelesaikan suatu tugas.
Guru ialah pendidik profesional yang tanggung jawab utamanya
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, serta
mengevaluasi siswa pada pendidikan dasar serta menengah (UU RI No. 14
Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen).
Menurut Madjid (2016:11) kinerja guru ialah output kerja yang dapat
dipenuhi oleh guru di sekolah sesuai dengan wewenang serta tanggung
jawab yang dilimpahkan oleh sekolah guna memenuhi visi, misi, serta
tujuan sekolah yang bersangkutan secara sah, tanpa melanggar hukum,
serta sesuai dengan moral dan etika. Singkatnya, kinerja guru adalah hasil
kerja seorang guru yang diperlihatkan oleh penampilan, tindakan, maupun
kinerjanya dan diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, nilai
dan sikap guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

Indikator Kompetensi


Indikator-indikator kompetensi guru sendiri diambil dari UU No, 14
tahun 2005 pasal 10 ayat 1, menjelaksan bahwa kompetensi guru
meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial, dan kompetensi profesional. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor
19 Tahun 2005 Tentang Standar Pendidikan Nasional menjelaskan
bahwa:
a. Kompetensi Pedadogik
Kompetensi pedagogik adalah berkaitan saat guru mengadakan
proses belajar dikelas. Mulai dari kemampuan mengolah pembelajaran
peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik,
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
kemampuan yang dimillikinya.
b. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi ini adalah kemampuan personal yang mencerminkan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi
teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.
c. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi
dan berinteraksi secara efektif dan aktif dengan peserta didik, sesama
guru, pada orang tua/wali siswa maupun masyarakat lainnya.
d. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah kemampuan guru untuk
menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang
memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar
kompetensi yang ditetapkan dalam standar Nasional Pendidikan.

Faktor yang mempengaruhi Kompetensi Guru


Menurut Madjid, (2016:29) kompetensi guru ditentukan oleh faktor
internal maupun eksternal, yaitu sebagai berikut:
a. Faktor yang berasal dari dalam diri guru (internal)
1) Tingkat pendidikan.
2) Keikutsertaan dalam berbagai pelatihan dan kegiatan ilmiah.
3) Masa kerja dan pengalaman kerja.
4) Tingkat kesejahteraan.
5) Kesadaran akan kewajuban dan panggilan hati nurani.
b. Faktor yang berasal dari luar diri guru (eksternal)
1) Besar gaji dan tunjangan yang diterima.
2) Ketersediaan sarana dan media pembelajaran
3) Kepemimpinan kepala sekolah.
4) Kegiatan pembinaan yang dilakukan.
5) Peran serta masyarakat.
Sedangkan menurut Gibson dalam Pianda, (2018:53) menjelaskan
bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa pemicu tinggi rendahnya kompetensi
guru dipengaruhi oleh tiga kelompok variabel sebagai faktor yang dapat
mempengaruhi kompetensi dan potensi individu dalam organisasi yaitu:
a. Variabel individu yang meliputi: kemampuan/keterampilan, dan latar
belakang (keluarga, tingkat sosial, pengalaman).
b. Variabel organisasi yang meliputi: sumber daya, kepemimpinan,
imbalan (upah/gaji), struktur organisasi, dan desain pekerjaan.
c. Variabel individu (psikologis) yang meliputi: mental/intelektual,
presepsi, sikap, kepribadian, belajar, dan motivasi.

Aspek – aspek yang Terkandung pada Konsep Kompetensi


Memahami uraian di atas, menurut Mulyasa, (2013:63) beberapa
aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi dapat
diuraikan sebagi berikut:
a. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.
Misalnya, seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi
kebutuhan belajar, dan bagaimanan melakukan pembelajaran terhadap
peserta didik sesuai kebutuhannya.
b. Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif
yang dimiliki oleh individu atau seseorang. Misalnya, seorang guru
dalam melaksanakan pembelajaran harus memiliki pemahaman yang
baik tentang karaktertistik dan kondisi peserta didik secara efektif dan
efisien.
c. Kemampuan (skill), yaitu sesuatu yang dimilliki oleh individu atau
seseorang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan
kepadanya. Misalnya, standar kemampuan guru dalam memilih dan
membuat alat peraga sederhana untuk memberi kemudahan belajar
kepada peserta didik.
d. Nilai (value), yaitu suatu standar perilaku yang telah diyakini dan
secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang atau individu.
Misalnya, standar perilaku guru dalam melaksanakan pembelajaran
(kejujuran, keterbukaan, demokratis, dan lain-lain).
e. Sikap (attitude), yaitu perasaan seseorang (senang-tidak senang, sukatidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari
luar. Misalnya reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap
kenaikan gaji/upah dan lain sebagainya.
f. Minat (interest), yaitu kecenderungan seseorang atau individu untuk
melakukan suatu perbuatan. Misalnya, minat untuk mempelajari atau
melakukan sesuatu

Pengertian Kompetensi Guru


Menurut Fahmi, (2016:45) kompetensi adalah suatu kemampuan yang
dimiliki oleh seorang individu yang memiliki nilai jual dan itu diterapkan
dari hasil kreativitas serta inovasi yang dihasilkan. Sehubungan dengan itu
menurut Wibowo, (2017:271) menjelaskan bahwa kompetensi adalah
kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas
yang dilatar belakangi atas keterampilan dan pengetahuan yang didukung
oleh sikap kerja yang dituntut pada pekerjaan tersebut. Sedangkan menurut
Busro, (2020:26) menyampaikan bahwa kompetensi adalah segala sesuatu
yang dimiliki oleh seorang berupa pengetahuan keterampilan dan faktorfaktor internal individu lainnya untuk dapat mengerjakan sesuatu pekerjaan
berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki.
Merujuk penjelasan kompetensi-kompetensi di atas menurut Mulyasa,
(2013:62) menjelaskan bahwa kompetensi guru adalah perpaduan dari
pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak. Sedangkan menurut Madjid, (2016:25)
kompetensi guru adalah keseluruhan pengetahuan, keterampilan dan sikap
yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam
melaksanakan tugas sebagai pendidik dalam pembelajaran. Sehubungan
dengan itu menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun
2005 Tentang Guru Dan Dosen pasal 1 ayat 10 mengatakan bahwa
kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilanm dan prilaku
yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi di sini merunjuk pada
performa dan perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu
dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan.

Indikator Kinerja


Menurut Afandi (2018:89) indikator-indikator kinerja pegawai adalah
sebagai berikut :

  1. Kuantitas hasil kerja
    Satuan ukuran dari segala jenis yang berhubungan dengan besaran hasil kerja
    yang dapat direpresentasikan dengan suatu bilangan atau bilangan lain yang setara.
  2. Kualitas hasil kerja
    Mutu atau segala jenis satuan pengukuran yang berkaitan dengan mutu. Mutu
    pekerjaan yang dapat dinyatakan dalam ukuran numerik atau setara numerik
    lainnya.
  3. Efesiensi dalam melaksanakan tugas
    Berbagai sumber daya dengan bijak dan hemat.
  4. Disiplin kerja
    Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
  5. Inisiatif
    Kemampuan untuk memilih dan melaksanakan sesuatu dengan benar tanpa
    disuruh, kemampuan untuk memahami apa yang harus dilakukan orang lain, dan
    kemampuan untuk terus bertindak bahkan ketika keadaan terasa semakin sulit.
  6. Ketelitian
    Kesesuaian hasil pengukuran kerja terlepas dari apakah pekerjaan itu udah
    mencapai tujuan atau belum.
  7. Kepemimpinan
    Proses mempengaruhi dan memberikan contoh bagi pemimpin kepada
    bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi.
  8. Kejujuran
    Salah satu sifat manusia yang sangat sulit untuk diterapkan.
  9. Kreativitas
    Proses psikologis yang melibatkan pemunculan gagasan atau menghasilkan ideide.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja


Menurut Afandi (2018:86) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah
sebagai berikut :

  1. Kemampuan, kepribadian, minat kerja
  2. Kejelasan dan penerimaan pegawai, yaitu pemahaman dan penerimaan
    terhadap tugas yang diberikan kepadanya.
  3. Tingkat motivasi pegawai, kemauan dari pegawai untuk meningkatkan kinerja.
  4. Hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan, pengetahuan dan sikap yang
    menjadi pedoman dalam melaksanakan kemampuan dan tanggung jawab
    profesionalnya.
  5. Fasilitas kerja yang disediakan oleh perusahaan untuk mendukung pekerjaan
    karyawan.
  6. Budaya tempat kerja, kebiasaan yang ada di perusahaan dan diulangi.
  7. Kepemimpinan, sikap kepemimpinan, dan manajemen karyawan.
  8. Disiplin, rasa hormat, penghargaan, ketaatan, dan kepatuhan terhadap peraturan
    yang diberlakukan oleh organisasi.

Manfaat Kinerja


Menurut Sedermayanti (2017:64) manfaat kinerja pegawai sebagai berikut :

  1. Meningkatkan prestasi kerja
    Penilaian pekerjaan memungkinkan manajemen dan karyawan untuk menerima
    umpan balik dan meningkatkan pekerjaan / kinerja mereka.
  2. Memberikan kesempatan kerja yang adil
    Penilaian yang akurat memastikan bahwa karyawan memiliki kesempatan untuk
    mempraktikkan profesinya sesuai dengan kemampuannya.
  3. Kebutuhan pelatihan dan pengembangan
    Penilaian Kinerja mengidentifikasi karyawan berketerampilan rendah dan mampu
    meningkatkan keterampilan mereka dalam program pelatihan.
  4. Penyesuaian kompensasi
    Dengan melakukan evaluasi, administrator dapat memutuskan bagaimana
    meningkatkan kompensasi dan sebagainya.
  5. Keputusan promosi dan demosi
    Hasil survei kinerja dapat digunakan sebagai dasar keputusan promosi atau
    penurunan pangkat karyawan.
  6. Mendiagnosis kesalahan desain pekerjaan
    Kinerja yang buruk dapat mengindikasikan kesalahan dalam desain tempat kerja.
    Tinjauan kinerja berguna dalam mendiagnosis kegagalan.
  7. Evaluasi proses rekrutmen dan seleksi
    Kinerja karyawan baru yang buruk dapat disebabkan oleh ketidakberesan dalam
    proses perekrutan dan seleksi.

Kinerja


Menurut Afandi (2018:83) kinerja adalah hasil kerja yang dapat dilakukan
oleh individu atau kelompok orang dalam suatu perusahaan, sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawab masing-masing, untuk upaya mencapai tujuan
suatu organisasi tanpa melanggar hukum, moralitas atau etika. Menurut Hamali
(2018:98) kinerja adalah pencapaian yang dicapai oleh suatu kegiatan atau fungsi
atau indikator pekerjaan dalam waktu tertentu. Kinerja adalah tentang pekerjaan
dan hasil yang diperoleh dari pekerjaan tersebut (Hamali, 2018:98). Dari
penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja merupakan hasil atau
pencapaian yang diraih sesorang atau kelompok dengan tanggung jawab masingmasing di suatu perusahaan dan dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan
organisasi

Indikator Work From Home


Menurut Farrel (2017), indikator-indikator dari work from home adalah
sebagai berikut :
a. Lingkungan kerja fleksibel
Di mana karyawan dapat membuat keputusan sendiri tentang bagaimana, kapan,
dan di mana menyelesaikan tugas yang terkait dengan pekerjaan mereka.
b. Beban Kerja
Disebabkan oleh rangsangan yang berat, panjang, dan sulit diatur, tetapi biasanya
diakibatkan oleh masalah hidup atau cacat sehari-hari.
c. Kedekatan dengan keluarga
Peran keluarga penting bagi seseorang untuk menunjang segala aktivitas dan
kegiatannya. Keintiman dengan keluarga meningkatkan dan menumbuhkan
antusiasme untuk bekerja.
d. Waktu perjalanan
Waktu yang diperlukan untuk menempuh jarak tertentu. Hal ini tidak terjadi
dengan work from home karena karyawan tidak harus melakukan perjalanan
pulang.
e. Kesehatan dan keseimbangan kerja
Menjaga kesehatan yang baik merupakan masalah penting bagi semua pekerja dan
harus dipertimbangkan untuk mencapai hasil dan kinerja yang baik.
f. Kreativitas dan produktivitas tinggi.
Kreativitas dibutuhkan untuk selalu memberikan ide-ide ketika memecahkan
masalah. Berada di rumah menenangkan, meningkatkan kreativitas, dan
meningkatkan produktivitas.
g. Memisahkan pekerjaan rumah dan kantor serta tekanan diri.
Pisahkan pekerjaan rumah dan kantor dari tekanan sendiri. Ini bisa jadi sulit,
karena bisa ketagihan di rumah. Ini mengabaikan pekerjaan yang perlu dilakukan
untuk memisahkan ruang khusus untuk pekerjaan sehingga dapat lebih fokus
untuk menyelesaikan pekerjaan.

Dampak Negatif Work From Home


Menurut Mustajab et al., (2020) dampak negatif dari work from home yaitu
sebagai berikut :

  1. Multitasking
    Beberapa pekerja wanita yang sudah menikah dan memilki anak-anak melaporkan
    bahwa sulit untuk berbagi pekerjaan rumah tangga seperti mengasuh anak,
    memasak, dan pekerjaan lain dengan suami mereka.
  2. Motivasi kerja menurun
    Motivasi karyawan telecommuting adalah karena dilema dan sikap bahwa
    "kesadaran rumah adalah tempat untuk beristirahat". Namun, bekerja dari rumah
    membuat banyak karyawan sulit untuk fokus memutuskan apakah akan bekerja
    atau bersantai dengan keluarga untuk menikmati masa karantina dan jarak sosial
    untuk mencegah penyebaran COVID 19 meningkat.
  3. Biaya tambahan
    Bekerja dari rumah menyediakan dana tambahan. Terkait masalah ini, menurut
    semua informasi, bekerja dari rumah menimbulkan banyak biaya seperti kenaikan
    biaya listrik, internet, dan komunikasi, berbeda saat bekerja di kantor. Tentu saja
    semua biaya ditanggung oleh pemberi kerja karena menggunakan perangkat
    elektronik. Mengirim data dan komunikasi virtual yang lebih sering meningkatkan
    penagihan, dan masalah ini memengaruhi biaya normal.
  4. Gangguan
    Banyak karyawan mengalami masalah teknis dan sosial saat bekerja dari rumah,
    seperti gangguan keluarga, kecepatan internet yang lambat, dan batasan daya.
    Akibatnya, mereka sering kehilangan fokus dan memilih untuk menunda
    pekerjaan sampai mereka menemukan kegembiraan untuk pekerjaan dan
    gangguan untuk menyelesaikan pekerjaan.
  5. Komunikasi terbatas
    Fenomena bekerja dari rumah dalam upaya pencegahan COVID 19 di Indonesia
    secara umum memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, namun hal itulah
    yang paling disadari oleh karyawan sebagai penghalang komunikasi baik dengan
    rekan kerja maupun atasan. Masalah komunikasi seringkali disebabkan oleh
    masalah teknis seperti gangguan jaringan internet, kesulitan untuk saling
    mengirim tanggal dan informasi kerja, serta merasakan perbedaan psikologis dari
    sebelum COVID 19.

Indikator Stres Kerja


Menurut Afandi (2018 : 179-180) indikator stres kerja adalah sebagai
berikut :

  1. Tuntutan tugas
    Merupakan faktor yang berhubungan dengan pekerjaan seperti kondisi kerja,
    penempatan ruang kerja dll.
  2. Tuntutan peran
    Mengacu pada tekanan yang diberikan pada seseorang untuk peran tertentu dalam
    suatu organisasi.
  3. Tuntutan antar pribadi
    Tekanan yang diciptakan oleh rekan kerja.
  4. Struktur organisasi
    Gambaran instansi yang ditandai dengan struktur organisasi yang tidak jelas,
    ketidakpastian mengenai jabatan, peran, wewenang, dan tanggung jawab.
  5. Kepemimpinan organisasi memberikan gaya manajemen pada organisasi
    Banyak pihak dapat menciptakan iklim organisasi yang melibatkan ketegangan,
    ketakutan, dan kecemasan

Faktor Yang Mempengaruhi Stres Kerja


Menurut Robbins dan Judge (2015 : 430-432) faktor atau sumber dari stres
kerja adalah sebagai berikut :
a. Faktor-faktor lingkungan
Selain ketidakpastian lingkungan seperti desain struktur organisasi, juga
mempengaruhi tingkat stres karyawan dalam organisasi. Ketidakpastian adalah
alasan utama orang berjuang untuk mengatasi perubahan organisasi. Jenis utama
dari ketidakpastian lingkungan adalah ekonomi, politik, dan teknologi.
b. Faktor-faktor organisasional
Tidak ada kekurangan faktor dalam organisasi yang dapat menyebabkan stres.
Tekanan untuk menghindari kesalahan dan menyelesaikan tugas dalam waktu
yang terbatas, beban kerja yang berlebihan, atasan yang sangat menuntut dan
tidak peka, serta rekan kerja yang tidak menyenangkan merupakan contoh dari
stresor sosial dalam suatu organisasi. Kategori stresor dalam pekerjaan sosial
organisasi adalah:

  1. Tuntutan tugas berkaitan dengan aktivitas, dan kelompok terdiri dari struktur
    kerja (kemandirian, keragaman tugas, tingkat otomatisasi), kondisi kerja, dan
    penempatan ruang tempat kerja. Bekerja di ruangan yang sangat ramai dan
    bising merupakan sumber stres.
  2. Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan pada seseorang, tergantung pada
    peran tertentu yang mereka mainkan dalam organisasi. Konflik peran
    menciptakan harapan yang sulit untuk didamaikan atau dipenuhi. Role
    overload terjadi ketika seorang karyawan diharapkan melebihi batas waktu
    yang ditentukan.
  3. Tuntutan interpersonal adalah tekanan dari karyawan lain, seperti kurangnya
    dukungan sosial dan hubungan interpersonal yang buruk.
    c. Faktor-faktor pribadi
    Terdapat persepsi bahwa faktor-faktor kehidupan pribadi seorang karyawan, yaitu
    masalah keluarga, masalah keuangan pribadi, dan sifat-sifat kepribadian individu
    itu sendiri, menilai pekerjaannya kurang baik.

Penyebab Stres Kerja


Menurut Sopiah (2018:87) faktor penyebab stres kerja yang berhubungan
dengan pekerjaan adalah sebagai berikut :

  1. Lingkungan fisik, dalam lingkungan kerja fisik terdapat berbagai stressor
    seperti terlalu berisik, pencahayaan yang buruk, desain kantor yang buruk,
    privasi yang kurang, pencahayaan yang tidak efektif, kualitas udara yang buruk,
    dll.
  2. Stres karena peran dan tugas, stresor karena role/tugas meliputi situasi dimana
    karyawan mengalami kesulitan dalam memahami tugasnya, peran yang mereka
    mainkan terlalu sulit, atau mereka memainkan peran yang berbeda di tempat
    kerja.
  3. Penyebab stres antarpribadi (inter-personal stressors), penyebab stres
    interpersonal adalah perbedaan kepribadian, latar belakang, dan persepsi akibat
    persaingan tujuan kerja, yang menyebabkan stres kerja.
  4. Organisasi, ada banyak penyebab stres dari organisasi. Penurunan jumlah
    karyawan menjadi salah satu penyebab stres tidak hanya bagi mereka yang
    kehilangan pekerjaan, tetapi juga bagi mereka yang bertahan dan memiliki
    lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan

Stres Kerja


Menurut Afandi (2018:173) Stres kerja merupakan pekerjaan yang
karakteristik perusahaannya bervariasi dan perubahannya tidak jelas. Menurut
Hamali (2018:241) stres di tempat kerja menjadi masalah yang semakin serius
bagi pekerja, pengusaha, dan masyarakat. Stres juga didefinisikan sebagai respon
individu terhadap faktor-faktor baru atau yang mengancam di lingkungan kerja
(Hamali, 2018:242). Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa stres
kerja adalah kondisi atau respon individu atas pekerjaan yang berlebihan yang
menyebabkan keadaan emosional meningkat dalam waktu singkat tetapi juga
kepuasan kerja dalam jangka waktu yang lama.

Indikator Lingkungan Kerja


Menurut Afandi (2018:70) indikator-indikator lingkungan kerja yaitu
sebagai berikut :
a. Pencahayaan
Memancarkan cahaya yang cukup dengan benar akan mempercepat pekerjaan,
mengurangi kesalahan, mengurangi kelelahan mata, dan meningkatkan efisiensi
kerja.
b. Warna
Warna merupakan salah satu faktor kunci untuk meningkatkan efisiensi kerja
karyawan, terutama warna mempengaruhi keadaan mental dengan menggunakan
warna yang sesuai untuk dinding ruangan dan alat-alat lainnya, pekerjaan
karyawan, kegembiraan dan kedamaian tetap terjaga.
c. Udara
Faktor udara ini yang sering sekali adalah suhu dan jumlah uap air pada udara itu.
d. Suara
Alat-alat bising seperti mesin tik telepon, tempat parkir sepeda motor, dan lainlain harus ditempatkan untuk menangani kebisingan. Di ruang khusus agar tidak
mengganggu pekerjaan karyawan lain.

Aspek-Aspek Lingkungan Kerja


Menurut Afandi (2018:69) lingkungan kerja dapat dibagi menjadi beberapa
bagian, atau dapat disebut juga aspek desain lingkungan kerja. Bagian-bagian
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Pelayanan kerja
Aspek terpenting yang harus diberikan oleh setiap organisasi kepada tenaga kerja.
Pelayanan prima dari organisasi memungkinkan karyawan untuk bersemangat
dalam pekerjaan mereka, meningkatkan tanggung jawab mereka untuk melakukan
pekerjaan mereka, dan menjaga reputasi mereka melalui produktivitas dan
perilaku kerja. Layanan karyawan biasanya mencakup hal-hal berikut:

  1. Layanan makanan dan minuman
  2. Layanan kesehatan
  3. Layanan tempat kerja kecil / kamar mandi dll.
    b. Kondisi kerja
    Kondisi kerja karyawan harus diusahakan sebaik mungkin oleh manajemen
    perusahaan untuk menciptakan rasa aman dalam bekerja bagi karyawan. Kondisi
    kerja ini termasuk pencahayaan yang tepat, suhu yang tepat, kebisingan yang
    dapat dikendalikan, efek warna, dan ruang yang dibutuhkan. Dan keselamatan
    kerja karyawan.
    c. Hubungan pegawai
    Hubungan antar karyawan sangat penting dalam menciptakan produktivitas tenaga
    kerja. Motivasi, semangat, dan kepuasan kerja dikaitkan dengan hubungan yang
    menguntungkan antar rekan kerja, sehingga hubungan yang tidak serasi antar
    karyawan mengurangi motivasi dan antusiasme, sehingga produktivitas kerja
    menjadi lebih rendah

Faktor Yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja


A. Faktor Lingkungan Fisik
Menurut Afandi (2018:66) menyatakan bahwa faktor lingkungan fisik
adalah lingkungan pekerja itu sendiri. Keadaan lingkungan kerja dapat
mempengaruhi kinerja karyawan dengan cara sebagai berikut:

  1. Rencana ruang kerja
    Hal ini berdampak signifikan terhadap kenyamanan dan penampilan kerja
    karyawan, termasuk penempatan dan kesesuaian peralatan kerja.
  2. Rancangan pekerjaan
    Meliputi peralatan kerja dan/atau cara kerja, perlengkapan kerja yang tidak sesuai
    dengan pekerjaan, dan merugikan kesehatan kerja pegawai.
  3. Kondisi lingkungan kerja
    Pencahayaan dan kebisingan sangat erat kaitannya dengan kenyamanan kerja
    pekerja. Sirkulasi udara, suhu ruangan, dan pencahayaan yang baik sangat
    berpengaruh terhadap kondisi seseorang dalam menjalankan tugasnya.
  4. Tingkat visual priacy dan acoustical privacy
    Dari tingkat pekerjaan tertentu, membutuhkan tempat kerja yang memberikan
    privasi kepada karyawan. Privasi di sini berarti "kebijaksanaan individu" dalam
    masalah yang mempengaruhi dirinya dan kelompoknya. Sedangkan acoustical
    privasi berkaitan dengan pendengaran.
    B. Faktor Lingkungan Psikis
    Menurut Afandi (2018:67) faktor lingkungan psikologis dikatakan sebagai
    masalah yang berkaitan dengan hubungan sosial dan organisasi. Keadaan
    psikologis yang mempengaruhi kinerja karyawan adalah sebagai berikut :
  5. Pekerjaan yang berlebihan
    Pekerjaan yang berlebihan dalam waktu yang terbatas atau mendesak untuk
    menyelesaikan pekerjaan menimbulkan stres dan ketegangan di antara karyawan,
    sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal.
  6. Sistem pengawasan yang buruk
    Sistem pengawasan yang tidak memadai dan tidak efisien dapat menyebabkan
    keluhan lain, seperti suasana politik yang tidak stabil dan kurangnya umpan balik
    tentang kinerja pekerjaan.
  7. Frustasi
    Frustasi dapat menghambat upaya untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya, jika
    harapan perusahaan tidak sesuai dengan harapan karyawan, dan ini berlanjut, hal
    itu menyebabkan frustrasi karyawan.
  8. Perubahan-perubahan dalam segala bentuk
    Perubahan pekerjaan mempengaruhi cara orang bekerja. Misalnya, perubahan
    lingkungan kerja, seperti perubahan sifat pekerjaan, perubahan organisasi, dan
    perubahan manajemen organisasi.
  9. Perselisihan antara pribadi dan kelompok
    Hal ini terjadi ketika kedua belah pihak memiliki tujuan yang sama dan bersaing
    untuk mencapai tujuan tersebut. Kontroversi ini dapat berdampak buruk seperti
    kontroversi dalam komunikasi, kurangnya koherensi dan kerjasama. Dampak
    positifnya adalah adanya upaya proaktif untuk menyelesaikan perselisihan di
    tempat kerja, seperti persaingan, masalah status, dan perbedaan antar individu.

Lingkungan Kerja


Menurut Afandi (2018:65) lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada
di sekitar karyawan dan dapat mempengaruhi kinerja dalam menjalankan tugastugas yang diberikan kepada karyawan seperti keberadaan pendinginan ruangan
(AC), dan pencahayaan yang tepat. Menurut Sunyoto (2015:38) lingkungan kerja
merupakan faktor yang sangat penting bagi karyawan untuk melakukan aktivitas
bekerja. Mempertimbangkan lingkungan kerja yang baik dan menciptakan
lingkungan kerja yang termotivasi akan mempengaruhi kinerja karyawan dalam
bekerja. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah
segala sesuatu yang ada disekitar kita dimana situasi tersebut dapat mempengaruhi
kinerja seseorang dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan kondisi
sekitar yang baik dan nyaman tanpa menggangu aktivitas kerja.

Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Hasibuan (2017:14) peranan manajemen sumber daya manusia
adalah sebagai berikut:

  1. Gunakan job descrition, job spesification, dan job evaluation untuk
    menentukan jumlah perekrut yang efektif dan berkualitas tinggi berdasarkan
    kebutuhan bisnis.
  2. Menetapkan rekrutmen, seleksi dan penempatan karyawan menurut prinsip
    orang yang tepat dalam pekerjaan yang tepat.
  3. Penetapan program kesejahteraan, mengembangkan promosi dan
    pemberhentian.
  4. Memprediksi penawaran dan permintaan sumber daya manusia di masa
    mendatang.
  5. Evaluasi kondisi perekonomian secara umum, khususnya perkembangan
    perusahaan.
  6. Memantau dengan cermat undang-undang dan pedoman ketenagakerjaan untuk
    memberi penghargaan kepada bisnis serupa.
  7. Memantau kemajuan teknologi dan perkembangan serikat pekerja.
  8. Melakukan pelatihan, pendidikan, dan penilaian kinerja pegawai.
  9. Pengaturan mutasi pegawai baik secara vertikal maupun horizontal.
  10. Mengatur pensiun, pemecatan dan pesangon.

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Hamali (2018:15) tujuan manajemen sumber daya manusia adalah
sebagai berikut:
a. Tujuan sosial
Sebuah organisasi atau perusahaan bertanggung jawab secara sosial dan etis atas
kebutuhan dan tantangan sosialnya dengan meminimalkan dampak negatifnya.
Organisasi dan perusahaan diharapkan dapat meningkatkan kualitas masyarakat
dan berkontribusi dalam memecahkan masalah sosial.
b. Tujuan Organisasional
Sasaran formal yang ditetapkan untuk membantu organisasi mencapai tujuannya.
Departemen SDM meningkatkan efektivitas organisasi dengan cara berikut:

  • Menyediakan karyawan yang termotivasi dan terlatih.
  • Mendayagunakan tenaga kerja secara efisien dan efektif.
  • Meningkatkan kualitas kerja dengan membuka potensi pemenuhan diri
    karyawan.
  • Memberikan kesempatan kerja yang sama bagi semua, lingkungan kerja yang
    sehat dan aman serta perlindungan hak-hak pekerja.
  • Sosialisasi kebijakan personalia kepada seluruh karyawan.
    Kunci untuk kelangsungan hidup organisasi adalah efektivitas dalam
    mempromosikan dan menggunakan keterampilan karyawan untuk meminimalkan
    kelemahan karyawan. Efektivitas suatu organisasi tergantung pada efektivitas
    bakatnya. Tanpa karyawan yang kompeten, sebuah organisasi atau perusahaan
    tidak akan berfungsi secara normal, bahkan jika organisasi tersebut dapat bertahan.
    c. Tujuan Fungsional
    Pertahankan kontribusi bakat pada tingkat yang sesuai dengan kebutuhan
    organisasi. Departemen SDM perlu meningkatkan manajemen talenta melalui
    saran yang baik. Departemen pengembangan sumber daya manusia semakin
    dituntut untuk dapat menyediakan program rekrutmen dan pelatihan vokasi.
    Departemen SDM harus dapat bertindak sebagai pemeriksa realitas ketika
    manajer lini mengusulkan ide dan arahan baru.
    d. Tujuan Individual
    Tujuan pribadi setiap anggota organisasi atau perusahaan yang ingin dicapai oleh
    aktivitas dalam organisasi. Karyawan meninggalkan perusahaan jika tujuan
    pribadi dan perusahaan mereka tidak selaras. Konflik antara tujuan perusahaan
    dapat menyebabkan kinerja karyawan yang buruk, ketidakhadiran, dan bahkan
    sabotase. Perusahaan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan karyawannya yang
    berhubungan dengan pekerjaan. Karyawan bekerja secara efektif ketika tujuan
    pribadi mereka tercapai di tempat kerja. Pekerjaan sumber daya manusia harus
    diarahkan untuk menyelaraskan pengetahuan, keterampilan, kebutuhan dan minat
    karyawan dengan persyaratan profesional dan kinerja perusahaan.

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Hamali (2018:6) fungsi manajemen sumber daya manusia adalah
sebagai berikut :
a. Perencanaan
Suatu kegiatan yang memperkirakan keadaan tenaga kerja untuk secara efektif
dan efisien menanggapi kebutuhan organisasi untuk membantu mencapai
tujuannya. Rencana ini mendefinisikan program karyawan yang mencakup
organisasi, manajemen, pengadaan, pengembangan, kompensasi, integrasi,
pemeliharaan, tindakan disipliner, dan pemecatan karyawan.
b. Pengorganisasian
Kegiatan yang mengatur pegawai dengan mendefinisikan pembagian kerja,
hubungan kerja, pendelegasian wewenang, integrasi dan koordinasi dalam bentuk
bagan organisasi. Organisasi hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Sebuah
organisasi yang baik membantu mencapai tujuan secara efektif.
c. Pengarahan dan pengadaan
Pengarahan adalah kegiatan mengarahkan karyawan untuk bekerja sama secara
efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Instruksi diberikan oleh
eksekutif yang menjalankan kepemimpinannya dan memerintahkan karyawan
untuk melakukan semua tugas dengan benar. Sedangkan pengadaan adalah proses
rekrutmen, seleksi, orientasi, dan penempatan untuk menemukan karyawan yang
memenuhi kebutuhan organisasi.
d. Pengendalian
Kegiatan untuk mematuhi aturan organisasi dan mengatur karyawan agar bekerja
sesuai rencana. Setelah data disimpan, koreksi dan/atau tindakan perbaikan
dilakukan. Pengelolaan karyawan meliputi kehadiran, disiplin, perilaku
kolaboratif, dan menjaga lingkungan kerja.
e. Pengembangan
Proses peningkatan keterampilan teknis, teoretis, konseptual, dan moral karyawan
melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan pelatihan lanjutan yang
diberikan harus memenuhi persyaratan profesional saat ini dan masa depan.
f. Kompensasi
Pemberian balas jasa langsung berupa uang atau barang kepada karyawan sebagai
imbalan jasa yang diberikan kepada organisasi. Prinsip kompensasi adalah adil
dan layak, adil diartikan sesuai dengan prestasi kerja, sedangkan layak diartikan
dapat memenuhi kebutuhan primer.
g. Pengintegrasian
Suatu kegiatan yang menghubungkan kepentingan suatu organisasi dengan
kebutuhan pegawainya agar tercipta kerjasama yang serasi dan saling
menguntungkan. Di satu sisi, organisasi menghasilkan kesuksesan atau
keuntungan, dan di sisi lain, karyawan dapat memenuhi kebutuhan hasil kerja.
Integrasi merupakan hal yang penting dan sangat sulit dalam pengelolaan sumber
daya manusia karena mengintegrasikan dua kepentingan yang berbeda.
h. Pemeliharaan
Kegiatan yang memelihara atau meningkatkan fisik, mental dan loyalitas agar
dapat bekerja sama setelah pensiun. Pemeliharaan yang baik dilakukan dalam
program tunjangan internal dan eksternal yang konsisten berdasarkan kebutuhan
sebagian besar karyawan.
i. Kedisplinan
Salah satu fungsi utama manajemen sumber daya manusia dan merupakan kunci
untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa disiplin, sulit untuk mencapai tujuan
maksimal. Disiplin adalah keinginan dan kesadaran untuk mengikuti aturan
organisasi dan norma sosial.
j. Pemberhentian
Putusnya hubungan kerja seorang karyawan dari suatu organisasi. Pemberhentian
ini disebabkan oleh keinginan karyawan, keinginan organisasi, berakhirnya
kontrak kerja, pensiun, atau alasan lainnya. Implementasi terbaik dari kemampuan
manajemen dalam manajemen karyawan memfasilitasi realisasi dan keberhasilan
tujuan organisasi.

Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Afandi (2018:03) manajemen sumber daya manusia merupakan
ilmu dan seni yang secara efisien dan efektif mengelola hubungan dan peran
tenaga kerja untuk mencapai tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
Manajemen sumber daya manusia merupakan pendekatan yang strategis terhadap
keterampilan, motivasi, pengembangan, dan manajemen pengorganisasian sumber
daya (Hamali, 2018:2). Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
manajemen sumber daya manusia adalah suatu pendekatan dalam mengelola
sumber daya manusianya secara efektif dan efisien dalam keterampilan, motivasi
atau pengembangan diri dalam bekerja untuk dapat mencapai tujuan perusahaan.

Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Kerja


Menurut Gibson dalam Winardi (2010) faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi efektivitas antara lain:
a. Kemampuan
Kemampuan yang dimaksud diatas adalah kemampuan karyawan
atau pegawai dalam dirinya baik kemampuan teknis maupun
kemampuan koordinasi memerlukan kemampuan ini terutama
kemampuan atasan dalam mengarahkan anggotanya untuk
mencapai hal-hal yang diinginkan.
b. Keahlian
Keahlian adalah kemampuan spesifik dan menengani masalah
teknis tertentu dalam pekerjaan, keahlian melakukan koordinasin
penting dimiliki oleh seorang koordinator seperti seorang
pemimpin.
c. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan suatu kemampuan yang diperoleh
dan pengembangan diri melalui penelusuran keilmuan.
d. Sikap
Sikap adalah kepribadian yang tercermin dari wujud prilaku
seseorang dengan sikap yang baik maka koordinasi dapat
dijalankan dengan baik.
e. Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri
seseorang untuk melakukan suatu keinginan.
f. Stres
Stres adalah tekanan yang timbul akibat tekanan lingkungan diluar
diri manusia seperti pekearjaan yang dilakukan.
g. Kemampuan menyesuaikan diri
Kemampuan manusia terbatas dalam segala hal, sehingga dengan
keterbatasannya itu menyebabkan manusia tidak dapat mencapai
pemenuhan kebutuhannya tanpa melalui kerjasama dengan orang
lain.
h. Prestasi kerja
Menurut Hasibuan (2008) prestasi kerja adalah suatu hasil kerja
yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecapakan,
pengalaman, kesungguhan dan waktu.
i. Kepuasan kerja
Kepuasan kerja adalah perasaan seseorang terhadap pekerjaannya.
Setiap individu akan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda
sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dalam dirinya. Ini
disebabkan karena adanya perbedaan pada masing-masing
individu. Semakin banyak aspekaspek dalam pekerjaan yang sesuai
dengan keinginan individu, maka akan semakin tinggi tingkat
kepuasan yang dirasakan, dan sebaliknya.

Indikator Efektivitas Kerja


Menurut Zulyanti (dalam Resi Yudhaningsih 2011:41) indikator
mengukur efektivitas kerja meliputi :

  1. Kemampuan Menyesuaikan Diri
    Kemampuan manusia terbatas dalam segala hal, sehingga dengan
    keterbatasannya itu menyebabkan manusia tidak dapat mencapai
    pemenuhan kebutuhannya tanpa melalui kerjasama dengan orang
    lain. Setiap organisasi yang masuk dalam organisasi dituntut untuk
    dapat menyesuaikan diri dengan orang yang bekerja di dalamnya
    maupun dengan pekerjaan dalam organisasi tersebut. Jika
    kemampuan menyesuaikan diri tersebut dapat berjalan maka tujuan
    organisasi dapat tercapai.
  2. Prestasi Kerja
    Prestasi kerja adalah hasil yang dicapai pekerja dalam
    menyelesaikan pekerjaannya dengan mutu dan sasaran serta batas
    waktu yang telah ditentukan.
  3. Kepuasan Kerja
    Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan
    mencintai pekerjaannya. Pendapat lain kepuasan kerja adalah tingkat
    kesenangan yang dirasakan seseorang atas peranan atau
    pekerjaannya. Menurut Mila Badriyah (2015) kepuasan kerja adalah
    sikap atau perasaan karyawan terhadap aspek-aspek yang
    menyenangkan atau tidak menyenangkan mengenai pekerjaan yang
    sesuai dengan penilaian masing-masing pekerja. Jadi kepuasan kerja
    adalah suatu perasaan senang dan nyaman yang dirasakan oleh
    karyawan terhadap pekerjaannya.

Efektivitas Kerja


Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya dimulai dari
keberhasilan masing-masing karyawan yang bersangkutan. Suatu
perusahaan selalu berusaha agar karyawan yang terlibat di dalamnya
dapat mencapai efektivitas kerja. Efektivitas dapat dikatakan efektif,
apabila tercapainya tujuan atau sasaran yang telah ditentukan
sebelumnya.
Pengertian efektivitas secara umum adalah salah satu pencapaian
yang ingin diraih oleh sebuah organisasi. Efektivitas tidak dapat
disamakan dengan efisiensi. Karena keduanya memiliki arti yang
berbeda, walaupun dalam penggunaan kata efisiensi lekat dengan kata
efektivitas. Efisiensi mengandung pengertian perbandingan antara
biaya dan hasil, sedangkan efektivitas secara langsung dihubungkan
dengan pencapaian tujuan.
Pendapat ahli lain juga ikut memberikan teori tentang pengertian
efektivitas kerja, sebagai berikut:

  1. Menurut Sutarto (2012:38) Efektivitas kerja adalah suatu
    keadaan dimana aktifitas jasmaniah dan rohaniah yang
    dilakukan oleh manusia dapat mencapai hasil akibat sesuai yang
    dikehendaki.
  2. Menurut Schermerhorn yang diterjemahkan oleh Karta Wiguna
    (2010:15), Efektivitas kerja merupakan suatu ukuran tentang
    pencapaian suatu tugas atau tujuan.
  3. Menurut Siagian (2012:22) Efektivitas kerja berarti
    penyelesaian pekerjaan tepat pada waktunya seperti yang telah
    ditetapkan sebelumnya.
    Efektivitas pekerjaan juga merupakan hubungan antara output
    (kinerja karyawan) dengan tujuan, semakin besar kontribusi kinerja
    baik karyawan terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif
    organisasi, program, atau kegiatan tersebut.

Indikator Produktivitas Kerja


Dalam mengukur tingkat produktivitas kerja diperlukan beberapa indikator
menurut Sutrisno (2020: 104) sebagai berikut:

  1. Kemampuan.
    Karyawan memiliki kemampuan dalam hal mengerjakan tugas dan sangat
    bergantung pada keterampilan yang dimiliki juga profesionalisme karyawan
    ketika bekerja.
  2. Meningkatkan hasil yang dicapai.
    Salah satu hal yang dapat dirasakan dengan baik oleh karyawan adalah ketika
    mereka mampu berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapainya.
  3. Semangat kerja.
    Indikator ini dapat juga dilihat dari etos kerja dan hasil kerja yang dicapai di
    hari sekarang yang nantinya dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.
  4. Pengembangan diri.
    Karyawan yang mandiri senantiasa untuk melakukan pengembangkan diri
    dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuannya dalam bekerja.
    Pengembangan dapat dilakukan dengan melibatkan tantangan juga harapan
    yang dihadapi. Semakin kuat tantangan, maka pengembangan diri mutlak
    dilakukan. Begitupun dengan harapan, supaya menjadi lebih baik yang
    berdampak pada keinginan karyawan dalam meningkatkan kemampuannya.
  5. Mutu.
    Mutu merupakan hasil pekerjaan yang menunjukkan kualitas kerja karyawan.
    Dengan meningkatkan mutu yang bertujuan untuk memberikan hasil terbaik,
    hal ini nantinya akan sangat berguna bagi karyawan dan perusahaan.
  6. Efisiensi.
    Merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai dengan seluruh sumber daya
    yang digunakan. Tetapi dengan syarat kenaikan output harus lebih besar dari
    penambahan jumlah tenaga kerjanya. Input dan output merupakan dua aspek
    produktivitas yang cukup berpengaruh bagi karyawan.

Tiga Bentuk Peningkatan Produktivitas Kerja


Terdapat tiga bentuk dalam meningkatkan produktivitas kerja menurut
Ravianto dalam Sutrisno (2018: 105) diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Perbaikan terus-menerus.
    Salah satu implikasi dalam upaya meningkatkan produktivitas, yaitu seluruh
    komponen organisasi harus melakukan perbaikan secara terus-menerus. Secara
    internal, perubahan yang terjadi yaitu perubahan dari strategi organisasi,
    perubahan dalam pemanfaatan teknologi, perubahan kebijaksanaan, dan
    perubahan dalam praktik-praktik SDM sebagai akibat diterbitkannya
    perundang-undangan baru oleh pemerintah dan faktor lainnya yang tertuang
    dalam berbagai keputusan manajemen. Sedangkan perubahan eksternal yaitu
    perubahan yang terjadi secara cepat karena dampak dari tindakan suatu
    organisasi yang dominan perannya di masyarakat.
  2. Peningkatan mutu hasil pekerjaan.
    Mutu disini menyangkut semua jenis kegiatan yang diselenggarakan oleh semua
    satuan kerja, baik pelaksana tugas pokok maupun pelaksana tugas penunjang
    dalam organisasi. Peningkatan mutu tidak hanya penting secara internal saja,
    juga secara eksternal karena akan tercermin dalam interaksi suatu organisasi
    dengan lingkungannya yang pada akhirnya membentuk citra organisasi di mata
    berbagai pihak dari luar organisasi.
  3. Pemberdayaan SDM.
    Memberdayakan SDM merupakan suatu etos kerja yang sangat mendasar dan
    harus dipegang teguh oleh semua eselon manajemen dalam hierarki organisasi.
    Memberdayakan SDM mengandung berbagai kiat, seperti mengakui harkat dan
    martabat manusia, memperkaya mutu karya dan penerapan gaya manajemen
    yang partisipatif melalui proses demokratisasi dalam kehidupan berorganisasi

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Produktivitas Kerja


Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi produktivitas kerja
menurut Simanjuntak dalam Sutrisno (2020: 102) karyawan, diantaranya sebagai
berikut:

  1. Pelatihan.
    Pelatihan kerja digunakan dengan tujuan untuk melengkapi karyawan dengan
    keterampilan dan menggunakan cara-cara yang tepat ketika menggunakan
    peralatan kerja. Pelatihan kerja juga digunakan sekaligus untuk memberikan
    dasar-dasar pengetahuan mengenai pekerjaan. Dengan adanya pelatihan,
    karyawan akan benar-benar mengerjakan tugas dengan benar dan tepat,
    sehingga dapat memperkecil atau meminimalisir kesalahan-kesalahan ketika
    sedang melakukan pekerjaan.
  2. Mental dan kemampuan fisik karyawan.
    Setiap organisasi atau perusahaan harus memperhatikan dengan baik keadaan
    kemampuan fisik dan mental para karyawannya, hal tersebut merupakan bagian
    yang sangat penting untuk diperhatikan karena kemampuan fisik dan mental
    erat kaitannya dengan produktivitas kerja karyawan.
  3. Hubungan antara atasan dan bawahan.
    Hubungan ini akan memengaruhi kegiatan yang dilakukan sehari-hari ketika
    sedang bekerja. Bagaimana pandangan atasan terhadap bawahan, sejauh mana
    bawahan diikutsertakan dalam penentuan tujuan. Jika seorang karyawan
    diperlakukan dengan baik, karyawan akan berpartisipasi dengan baik juga
    ketika menjalankan proses produksinya sehingga hal tersebut akan berpengaruh
    pada tingkat produktivitas kerja. Karyawan secara sukarela akan berpartisipasi
    dengan baik dalam kegiatan produksinya sehingga hal tersebut akan
    memberikan dampak atau keuntungan bagi perusahaan.
    Adapun Tiffin dan Cormick mengatakan bahwa faktor-faktor yang
    memengaruhi produktivitas kerja dapat disimpulkan menjadi dua golongan. Siagian
    dalam Sutrisno (2020: 103) yaitu:
  4. Faktor yang ada pada individu; seperti umur, tempramen, keadaan fisik
    individu, keluhan, serta motivasi.
  5. Faktor yang ada di luar individu; seperti kondisi fisik suara, penerangan, waktu,
    istirahat, lama kerja, upah, bentuk organisasi, lingkungan sosial dan keluarga.

Produktivitas Kerja


Dalam suatu organisasi sumber daya manusia memegang peran yang sangat
penting dalam hal pencapaian tujuan suatu organisasi atau perusahaan. Seperti yang
dikutip dari tulisan Larasati (2018: 10) yang menyatakan bahwa tujuan umun dari
manajemen sumber daya manusia adalah mengoptimalkan produktivitas semua
pekerja dalam sebuah organsisasi. Produktivitas disini sebagai hasil produksi
(output) sebuah perusahaan (barang dan jasa) terhadap masuknya (manusia, modal,
bahan-bahan dan energi).
Produktivitas kerja menurut Sedarmayanti (2018: 241) produktivitas kerja
adalah perbandingan antara banyaknya hasil (output) yang diperoleh oleh seorang
atau sekelompok karyawan dalam jangka waktu tertentu. Dengan begitu
produktivitas kerja merupakan sikap mental karyawan yang selalu berusaha untuk
meningkatkan kualitas kerja dengan segala usaha demi meningkatkan efektivitas
dan efisiensi dalam menghasilkan output yang berkualitas.
Hal serupa juga di jelaskan oleh sutrisno (2020: 102) bahwa produktivitas
kerja ialah rasio dari hasil kerja dengan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan
produk dari seorang tenaga kerja. Seperti yang dikemukakan oleh Putu & Suana
(2018). Suatu perusahaan dikatakan produktif jika sumber daya manusia dalam
suatu organisasi atau perusahaan memiliki produktivitas yang tinggi, mampu
mencapai tujuan atau target yang telah ditentukan, dan dapat bertanggung jawab
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu.

Indikator Etos Kerja


Untuk menciptakan etos kerja karyawan yang bersinergi satu dengan yang
lainnya secara utuh, terdapat tiga indikator menurut Priansa (2018: 283) adalah
sebagai berikut:

  1. Keahlian Interpersonal
    Keahlian yang dimiliki oleh karyawan berkaitan dengan bagaimana hubungan
    antar karyawan di lingkungan kerja, terdiri dari karakteristik pribadi yang dapat
    memfasilitasi terbentuknya hubungan interpersonal yang baik dan memberikan
    kontribusi dalam performasi kerja. Dengan ciri-ciri: sopan, bersahabat,
    gembira, perhatian, menyenangkan, kerja sama, menolong, disenangi, tekun,
    loyal, rapih, sabar, apresiatif, kerja keras, rendah hati, memiliki emosi yang
    stabil, dan keras dalam kemauan.
  2. Inisiatif
    Perilaku yang dimiliki oleh karyawan yang dapat memfasilitasi dirinya agar
    bisa terdorong untuk lebih meningkatkan kinerjanya dan tidak langsung merasa
    puas dengan kinerja yang biasa-biasa saja., dengan ciri-ciri memiliki sifat
    cerdik, produktif, memiliki banyak ide, berinisiatif, ambisius, efisien, efktif,
    antusias, berdedikasi, daya tahan kerja yang baik, akurat, teliti, mandiri, mampu
    beradaptasi, gigih serta teratur dalam bekerja.
  3. Dapat Diandalkan
    Perilaku karyawan yang berhubungan langsung dengan adanya harapan
    terhadap hasil kerja yang memuaskan berdasarkan fungsi kerja yang diharapkan
    oleh perusahaan. Memiliki sifat yang selalu mengikuti arahan, mematuhi
    peraturan, dapat diandalkan, dapat dipercaya, berhati-hati, jujur, dan tepat
    waktu.

Elemen Etos Kerja


Terdapat delapan elemen etos kerja menurut Priansa (2018: 286) antara lain:

  1. Kerja adalah rahmat.
  2. Kerja adalah amanah.
  3. Kerja adalah panggilan.
  4. Kerja adalah aktualisasi.
  5. Kerja adalah ibadah.
  6. Kerja adalah seni.
  7. Kerja adalah kehormatan.
  8. Kerja adalah pelayanan.

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Etos Kerja


Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi etos kerja seseorang
dalam bekerja menurut Priansa (2018: 285) adalah sebagai berikut:

  1. Faktor Internal.
    a. Agama
    Berdasarkan hasil penelitian yang sudah banyak dilakukan peneliti, terdapat
    kolerasi positif antara agama yang dianut dengan kinerja dan produktivitas
    kerja yang ditampilkan oleh karyawan. Karena pada dasarnya agama akan
    membentuk nilai-nilai, keyakinan, dan perilaku yang akan memengaruhi
    atau menentukan pola hidup dari para penganutnya.
    b. Pendidikan
    Dengan adanya Pendidikan yang baik, maka dalam diri seseorang akan
    terbentuk etos kerja yang tinggi. Karena pendidikan merupakan suatu proses
    yang berkelanjutan.
    c. Motivasi
    Etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap yang didasari oleh nilainilai yang diyakini seseorang juga dipengaruhi oleh motivasi yang timbul
    dalam dirinya.
    d. Usia
    Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa karyawan dengan usia
    dibawah 30 tahun memiliki etos kerja yang tinggi dibandingkan dengan
    karyawan yang berusia lebih dari 30 tahun.
    e. Jenis Kelamin
    Jenis kelamin biasanya diidentikan dengan etos kerja, berdasarkan hasil
    penelitian, dinyatakan bahwa perempuan cenderung memiliki etos kerja,
    komitmen dan loyalitas yang tinggi terhadap pekerjannya dibandingkan
    dengan laki-laki.
  2. Faktor Eksternal
    a. Budaya
    Masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya maju akan memiliki etos
    kerja yang tinggi, dan sebaliknya masyarakat yang memiliki sistem nilai
    budaya yang konservatif akan memiliki etos kerja yang rendah atau bahkan
    sama sekali tidak memiliki etos kerja.
    b. Sosial Politik
    Etos kerja seseorang dipengaruhi juga oleh ada atau tidaknya struktur politik
    yang mendorong masyarakat untuk bekerja keras dan dapat menikmati hasil
    kerja keras dengan penuh.
    c. Kondisi Lingkungan (Geografis)
    Lingkungan alam yang mendukung akan memengaruhi manusia yang
    berada di dalamnya dalam melakukan usaha untuk dapat mengelola dan
    mengambil manfaat bahkan dapat mengundang pendatang untuk turut
    mencari kehidupan di lingkungan tersebut.
    d. Struktur Ekonomi
    Negara yang pro terhadap kemandirian bangsa dan mendukung tumbuh
    kembangnya produk-produk dalam negeri akan memberikan
    kecenderungan untuk mendorong masyarakat dalam hal kemandirian.
    e. Tingkat Kesejahteraan
    Negara maju dan makmur biasanya memiliki etos kerja yang tinggi
    sehingga mendorong negara tersebut untuk mecapai keberhasilan.
    f. Perkembangan Bangsa Lain
    Dengan adanya berbagai perkembangan teknologi serta arus informasi
    tanpa terbatas telah mendorong banyak negara berkembang untuk meniru
    etos kerja dari negara lain dengan melakukan benchmarking terhadap
    bangsa lain yang sebelumnya sudah maju dan berkembang pesat.

Etos Kerja


Sumber daya manusia yang berkualitas dalam suatu organisasi atau
perusahaan dapat dilihat dari etos kerja yang dimilikinya, salah satunya dengan
memiliki etos kerja yang tinggi dengan begitu akan timbul rasa kesetiaan atau
loyalitas karyawan terhadap pekerjaannya dan kesejahteraan karyawan akan
meningkat. Selain itu, kesadaran dalam diri karyawan akan terpikirkan bahwa
mereka harus bekerja lebih baik hari ini dari pada hari kemarin.
Secara etimologis, etos berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti
karakter, watak kesusilaan, kebiasaan atau tujuan moral seseorang dan pandangan
dunia, yakni gambaran, cara bertindak maupun gagasan yang paling komprehensif
mengenai tatanan.
Definisi lain mengenai etos kerja menurut Mukijat dalam Paramarta et, al
(2021: 74) memandang bahwa etos kerja dalam suatu perusahaan berhubungan
dengan perasaan-perasaan seorang karyawan terhadap pekerjaan yang
dilakukannya, terhadap rekan kerja, terhadap prestasi kerja serta status atasannya.
Selain itu, Priansa (2018: 283) menyatakan bahwa etos kerja merupakan suatu
semangat kerja yang dimiliki oleh seseorang tenaga kerja supaya mampu bekerja
dengan lebih baik lagi guna memperoleh nilai tambah dalam suatu pekerjaan.

Indikator Tugas Ganda (Multitasking)


terdapat tiga indikator tugas ganda (multitasking) menurut Yuliana dalam
Halim et al., (2022: 86), diantaranya sebagai berikut:

  1. Sudut pandang tugas
    Yang terdiri dari disiplin, inisiatif dan kualitas kerja.
  2. Sudut pandang usaha dan waktu
    Yang terdiri dari kuantitas kerja, ringkas pada waktu, usaha dan jumlah
    produksi yang dihasilkan.
  3. Aspek teknologi
    Yaitu menciptakan pengguna dan teknologi sebagai penyampaian informasi
    baik di media massa cetak maupun online dan membandingkan penggunaannya.

Karakteristik Tugas Ganda (Multitasking)


Tugas ganda (multitasking) secara operasional didefinisikan ke dalam tiga
karakteristik menurut Khariroh et al. (2022), diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Karakteristik pertama, multitasking merupakan individu yang harus terlibat
    setidaknya dua atau lebih dari tugas yang berbeda. Tugas tersebut biasanya
    terdiri dari empat fitur utama, yaitu (sifat fisik, tuntutan, hasil, serta persepsi).
  2. Karakteristik kedua, multitasking merupakan suatu pelaksanaan tugas dengan
    cara harus mengalihkan perhatian antar tugas tersebut.
  3. Karakteristik ketiga, multitasking merupakan serangkaian tugas yang dilakukan
    dalam rentang waktu yang singkat.

Tugas Ganda (Multitasking)


Tugas ganda (multitasking) dalam penelitian yang dilakukan disini, adalah
multitasking yang merupakan kegiatan dimana seseorang memiliki tugas dengan
merangkap pekerjaannya dikarenakan kurangnya keterampilan yang dimiliki oleh
tenaga kerja, dengan begitu beberapa dari mereka lah yang akan memikul beban
pekerjaan yang lainnya. Aktivitas tugas ganda (multitasking) dalam penelitian ini
yaitu suatu aktivitas dalam mengerjakan pekerjaan dengan melakukan perpindahan
tugas setelah menyelesaikan tugas utama.
Tugas ganda (multitasking) menurut Salvucci dan Taatgen dalam Arini,
(2020: 36) tugas ganda (multitasking) dibedakan kedalam dua jenis yaitu
concurrent multitasking dan sequential multitasking. Concurrent multitasking
merupakan pengerjaan tugas yang dilakukan secara bersamaan dalam waktu yang
sama dan dengan intrupsi yang singkat sehingga tidak menghambat proses
pengerjaann utamanya dengan efisien yang nantinya dapat meningkatkan
performasi kerja. Sedangkan multitasking tipe sequential multitasking merupakan
aktivitas yang dikerjakan oleh individu dengan melakukan peralihan untuk
mengerjakan tugas yang lain setelah selesai mengerjakan tugas yang pertama, tetapi 
ada sebagaian orang yang mengerjakan tugas yang lain sembari menunggu
tugasnya dengan cara bergantian. Aktivitas multitasking jenis ini membutuhkan
kemampuan fokus dan perhatian yang tinggi dalam melaksanakan pekerjaannya.
Definisi lain dari tugas ganda (multitasking) yang dikutip dari pendapat
Madore & Wagner dalam Halim et al., (2022: 86) berpendapat bahwa tugas ganda
(multitasking) merupakan suatu hal untuk mencoba mengeksekusi lebih dari satu
tugas pada waktu yang bersamaan, dan biasanya terdapat pengalihan tugas yang
dilakukan dengan cara diulang atau menyelesaikan tugas lain dengan tugas yang
belum selesai. Selain itu, Aktivitas tugas ganda (multitasking) menurut pendapat
dari Solikhawati (2022: 19) dapat menjadi suatu keadaan dimana seseorang
memikul dua pekerjaan yang berbeda, namun karena adanya keterbatasan waktu,
fisik maupun mental pekerjaan tersebut tidak dapat diselesaikan secara berurutan
atau secara bersamaan. Oleh karena itu, kegiatan yang dilakukan secara bersamaan
ditunda terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan jika sudah selesai dengan tugas
utama dan hal tersebut terus dilakukan secara berulang.

Faktor-faktor Sosiologis yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif


Setiap orang dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa bukan lagi untuk
memenuhi kebutuhan semata-mata, tetapi juga keinginan untuk memiliki sesuatu
agar eksistensinya diakui lingkungan semakin besar.Agar eksistensinya diakui
lingkungan seringkali mendorong seseorang untuk membeli barang yang
sebenarnya tidak dibutuhkan. Hal ini dapat dilihat dari konsumsi seseorang yang
bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata tetapi juga keinginan untuk meniru
orang lain, yaitu agar mereka tidak berbeda dengan anggota kelompoknya atau
bahkan untuk menjaga gengsi agar tidak ketinggalan jaman.

Pengertian Perilaku Konsumtif


Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan
(sikap), tidak saja badan atau ucapan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:671).
Perilaku konsumtif merupakan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang
yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan
maksimal (Tambunan, 2001:1).James F. Engel (dalam Mangkunegara, 2005:3)
mengemukakan bahwa perilaku konsumtif dapat didefinisikan sebagai tindakantindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan
menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan
keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.
Fromm (1995:23) menyatakan bahwa keinginan masyarakat dalam era kehidupan
yang modern untuk mengkonsumsi sesuatu tampaknya telah kehilangan hubungan
dengan kebutuhan yang sesungguhnya.Perilaku konsumtif seringkali dilakukan
secara berlebihan sebagai usaha seseorang untuk memperoleh kesenangan,
meskipun sebenarnya kebahagiaan yang diperoleh hanya bersifat semu.Sedangkan
Paraswati (Komunitas vol III (6), 1997:71) menyatakan bahwa perilaku konsumtif
merupakan perbuatan secara sadar tanpa diikuti adanya perencanaan pembelian
dan tidak adanya pertimbangan tingkat urgensinya atau mendasar tidaknya
pembelian tersebut sebagai pemenuhan keinginan semata yang didorong oleh
interaksi sosial individu tersebut.
Pendapat di atas berarti bahwa perilaku membeli yang berlebihan tidak lagi
mencerminkan usaha manusia untuk memanfaatkan uang secara ekonomis namun
perilaku konsumtif dijadikan sebagai suatu sarana untuk menghadirkan diri
dengan cara yang kurang tepat. Perilaku tersebut menggambarkan sesuatu yang
tidak rasional dan bersifat kompulsif sehingga secara ekonomis menimbulkan
pemborosan dan inefisiensi biaya.Seseorang dalam mengkonsumsi suata barang
atau jasa bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan semata-mata, tetapi juga
keinginan untuk memuaskan kesenangan yang dipengaruhi oleh interaksi sosial
seseorang dalam kehidupannya.Keinginan tersebut seringkali mendorong
seseorang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Materialisme


Materialisme adalah sifat kepribadian yang mengukur minat
seseorang untuk membeli dan memamerkan kemewahan yang tidak penting
dan seringkali mencolok (Schiffman & Wisenblit, 2018). Materialisme
mengukur tingkat minat seseorang dalam pembelian dan tampilan barangbarang material yang kebanyakan tidak penting dan seringkali mewah
(Schiffman & Wisenblit, 2018). Mick (1996, dalam Mishra et al., 2014)
mengambarkan materialisme sebagai nilai yang mewakili pentingnya
kepemilikan materi dalam kehidupan individu, yang pada gilirannya
menentukan jenis dan jumlah barang yang dibeli. Individu pribadi sangat
mementingkan perolehan kekayaan (Richins & Dawson, 1992, dalam
Mishra et al., 2014)
Menurut Schor (1998, dalam Mishra et al., 2014) ditemukan bahwa
tingkat materialisme yang tinggi berhubungan dengan tingkat kebahagiaan
dan kepuasan hidup yang rendah. Materialis melihat akuisisi sebagai tujuan
utama dalam hidup, jalan menuju kebahagiaan dan ukuran keberhasilan
mereka dalam hidup (Richins & Dawson, 1992, dalam Mishra et al., 2014).
Materialisme berdampak besar pada perilaku konsumen, kepuasan hidup,
dan orientasi sosial, menjadikannya perhatian utama para pemasar dan
pembuat kebijakan publik (Mishra et al., 2014). Konsumen yang sangat
materialistis mendefinisikan diri mereka dengan memperoleh harta benda.
Menurut Richins & Dawson (1992, dalam Felipe et al., 2023),
mereka memperhatikan untuk membeli dan memamerkan harta benda
mereka, seringkali egois dan mementingkan diri sendiri, menjalani
kehidupan yang kacau, dan sering tidak menemukan kepuasan atau
kebahagiaan pribadi hanya dalam harta benda mereka. Sebaliknya,
konsumen yang kurang materialistis tidak ditentukan oleh apa yang mereka
miliki dan lebih tertarik untuk mencari pengalaman yang memuaskan dan
menikmatinya, seringkali bersama orang lain. Mereka tidak terlalu terkesan
dengan apa yang mereka dan orang lain miliki, melainkan bagaimana
mereka menikmati hidup (Richins & Dawson, 1992, dalam Felipe, et al.,
2023).

Ketidakpercayaan


Ketidakpercayaan (distrust) dalam money attitude menurut Rimple
et al. (2015) merupakan suatu ketidakpercayaan terhadap diri sendiri
maupun orang lain dalam hal terkait dengan keuangan. Menurut pendapat
Yamauchi & Templer (1982, dalam Felipe et al., 2023) individu dengan
tingkat ketidakpercayaan yang lebih tinggi cenderung memiliki perasaan
ragu-ragu dan keraguan tentang konteks yang melibatkan pengeluaran uang.
Sikap ketidakpercayaan terhadap uang mencerminkan ketidakmampuan
seseorang dalam membuat keputusan keuangan. Mereka tidak percaya diri
dalam menangani uang,sehingga orang seperti itu menghabiskan lebih
sedikit untuk barang-barang material (Durvasila, 2010, dalam Rimple et al.,
2015).
Mengenai dimensi ketidakpercayaan, penelitian ini berpendapat
bahwa orang yang terlalu khawatir tentang harga cenderung bersifat
kompulsif (Hafez et al., 2013, dalam Sharif & Yeoh, 2018). Sharif & Yeoh
(2018) memprediksi bahwa semakin banyak orang menggunakan media
sosial, mereka ingin terus membandingkan harga dan menunda pembelian
untuk menemukan kesepakatan yang lebih baik. Potensi kelebihan
informasi dan paparan berbagai sumber perbandingan harga semakin
memperkuat kepercayaan mereka pada komitmen mereka terhadap
keputusan pembelian yang sebenarnya.
Cho (2006, dalam Felipe et al., 2023) menunjukkan bahwa
ketidakpercayaan harus memainkan peran penting dalam perilaku
konsumen, karena ketidakpercayaan adalah jenis enkripsi yang ada dalam
ingatan orang-orang tersebut, yang menyebabkan penyimpangan dari norma
sosial. Menurut penelitian Tversky & Kaneman (1986, dalam Felipe et al.,
2023), seseorang cenderung membuat keputusan ekonomi dan keuangan
berdasarkan perkiraan potensi keuntungan atau kerugian, dengan keputusan
dalam skenario kerugian. Ketidakpercayaan juga terkait erat dengan
ketakutan masyarakat terhadap harga yang dibayarkan untuk barang-barang
material dan keuntungan dalam penerimaannya (Felipe et al., 2017).
Roberts & Jones (2001, dalam Felipe et al., 2023) menjelaskan bahwa orang
yang sadar dengan harga cenderung membeli secara kompulsif karena
mereka selalu mempertanyakan harga dan cenderung membeli barang
material dengan cara yang memberatkan. Dimensi sensitif harga mencakup
orang-orang yang cenderung membandingkan harga sebelum membeli,
yang mengarah pada kemudahan dalam pemilihan produk (Roberts & Jones,
2001, dalam Felipe, et al., 2023)

Pembelian Kompulsif


Pembelian kompulsif (compulsive buying) menurut Roberts (1998,
dalam Felipe et al., 2023) dapat diartikan sebagai cara pembelian yang tidak
terkendali, serta individu cenderung mengidealkan rasa keberhasilan dan
kesejahteraan melalui pembelian mereka. Konsumen yang kompulsif adalah
pembeli yang membuat ketagihan dan tidak terkendali yang sering
menyebabkan konsekuensi yang merusak bagi pembelanja kompulsif dan
orang-orang di sekitarnya (Schiffman & Wisenblit, 2018). Pembeli
kompulsif membeli barang yang tidak mereka butuhkan dan seringkali
berakhir tidak digunakan. Banyak yang membutuhkan intervensi psikologis
untuk menghilangkan atau bahkan mengendalikan belanja kompulsif yang
parah. Penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan kartu kredit yang
dengan mudah mendorong perilaku pembelian kompulsif, terutama di
kalangan mahasiswa (Schiffman & Wisenblit, 2018).
Hal ini cukup berbeda dengan pembelian impulsif, menurut Rook
(1987, dalam Kshatriya & Shah, 2023) perilaku pembelian impulsif telah
diperkenalkan sebagai sifat kepribadian yang melibatkan keinginan spontan
untuk segera membeli tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Menurut
Hartney (2022) perbedaan penting antara pembelian kompulsif dan
pembelian impulsif adalah motivasi internal atau alasan pembelian.
Pembelian impulsif sebagian besar tidak direncanakan dan terjadi sebagai
respons terhadap pemicu eksternal, seperti melihat produk yang diinginkan
di toko (Hartney, 2022). Pembelian kompulsif cenderung memiliki motivasi
intrinsik yang lebih kuat, tetapi pembelian kompulsif lebih cenderung
memiliki konsekuensi negatif daripada pembelian impulsif. Efek ini dapat
mencakup kesulitan keuangan, perselisihan dengan anggota keluarga dan
masalah pekerjaan (Hartney, 2022).

E-wallet


E-wallet menurut Mew & Millan (2021) adalah aplikasi yang
diunduh ke perangkat seluler atau fitur builtin yang ada dari smartphone
untuk melakukan pembayaran tanpa kontak. Fitur bawaan smartphone ini
memungkinkan konsumen untuk menyimpan informasi debit, kredit atau
gift card untuk memudahkan transaksi pembayaran. Biasanya, perangkat
lunak yang telah diinstal, akan dikonfigurasikan dengan memasukkan
informasi pembayaran kartu pengguna, yang dikaitkan dengan format yang
dapat diidentifikasi secara pribadi seperti nomor, kode respons cepat (QR),
atau gambar pemilik dan disimpan di e-wallet (Okonkwo et al., 2023). Ewallet memungkinkan pembayaran di dalam toko yang cepat, nyaman, dan
menghemat waktu dibandingkan dengan membayar dengan uang tunai atau
kartu kredit fisik (Mew & Millan, 2021). Program e-wallet menggunakan
teknologi yang dikenal sebagai near-field communication (NFC),
memungkinkan komunikasi antar perangkat melalui gelombang radio. NFC
mentransfer data pembayaran ke terminal point-of-service (POS) agen
menggunakan format identifikasi pribadi yang dikembangkan untuk
pengguna (Leong et al., 2020).
Terdapat beberapa jenis e-wallet yang digunakan didunia menurut
Kagan (2023), antara lain:
a. Cash App
b. Apple Pay
c. Google Wallet
d. Samsung Pay
e. PayPal
f. Venmo
g. AliPay
h. Walmart Pay
i. Dwolla
j. Vodafone M-PESA

Tingkat Literasi Keuangan


Berdasarkan survei yang dilakukan OJK pada tahun 2013 dalam rangka
pelaksanaan Edukasi dalam meningkatkan keuangan masyarakat maka tingkat
literasi keuangan penduduk indonesia dapat diklasifikasikan menjadi empat,
sebagai berikut:
a. Well Literate yakni memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga
jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan
risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki
keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.
b. Sufficient Literate yakni memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang
lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk fitur,
manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan.
c. Less Literate yakni hanya memiliki pengetahuan tentang lembaga jasa
keuangan, produk dan jasa keuangan.
d. Not Literate yakni tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap
lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, serta tidak
memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

Indikator Literasi Keuangan


Menurut The Social Research Centre yang telah diterjemahkan oleh
Margaretha dan sari (2015:135) perilaku yang terkait dengan uang dapat menjadi
indikator literasi keuangan seseorang. Terdapat 5 indikator pengukuran,
diantaranya:

  1. Menjaga catatan keuangan, misalnya selalu memantau saldo rekening dan
    pengeluaran rumah tangga.
  2. Perencanaan masa depan, termasuk perilaku seperti merencanakan
    pendapatan saat masa pensiun, menggunakan konsultan keuangan,
    penggunaan asuransi.
  3. Memilih produk keuangan, misalnya memperluas pengetahuan produk
    keuangan dan jasa keuangan untuk berbelanja.
  4. Staying informed (selalu terdepan terhadap perkembangan informasi),
    misalnya orang-orang yang menggunakan informasi keuangan untuk
    membuat keputusan.
  5. Pengawasan keuangan termasuk hal-hal seperti pengendalian situasi
    keuangan yang umum dan hutang dan kemampuan untuk menabung.

Pengertian Literasi Keuangan


Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) “literasi keuangan sebagai rangkaian
proses atau kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge), keterampilan
(skill) dan keyakinan (confidence) masyarakat agar mereka mampu mengelola
keuangan pribadi dengan baik”. Selanjutnya Gerakan Literasi Nasional
menambahkan pengertian Literasi keuangan yaitu “pengetahuan dan kecakapan
untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan resiko, keterampilan agar
dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk
meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat
berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat”.
Menurut Ardiansyah dan Budiani (2021:5) “Financial literacy merupakan
pengetahuan yang dimiliki oleh individu tentang keuangan serta bagaimana
mengelola dan memecahkan masalah terkait kondisi keuangan yang dialaminya”.
Menurut Marheni (2020:212) “financiall literacy atau literasi keuangan merupakan
salah satu bagian penting yang memungkinkan untuk individu dalam membuat
suatu keputusan efektif dengan menggunakan semua sumber daya keuangan yang
ada melalui seperangkat pengetahuan dan keterampilan”. Sedangkan menurut
Wahono dan Pertiwi (2021:6) “literasi keuangan merupakan pemahaman dalam
melakukan pengelolaan keuangan yang berkaitan dengan keputusan untuk
memanajemen keuangan pribadi, berinvestasi dan menggunakannya untu
memanajemen resiko yang ada”.

Pengertian Self Esteem


Menurut lestari A dan Kristiyanto (2012:133) “Harga Diri (Self Esteem)
merupakan kebutuhan seseorang akan pengakuan terhadap diri sendiri serta untuk
diterima dan diberi penilaian yang baik dari orang lain”. Menurut Wulandari
(2012:8) mengatakan “Harga diri evaluasi diri yang berupa penilaian positif dan
negatif yang didasari dari interaksi individu dengan lingkungannya, serta
penerimaan, penghargaan dan perlakukan yang diterima dari orang lain yang dapat
menentukan perasaan bahwa dirinya berharga atau kurang berharga”.
Menurut Akhadiyah dan Suharyono (2017:22) mengatakan “Harga diri
didеfinisikаn sеbаgаi sikаp positif аtаu nеgаtif tеrhаdаp diri, Hаrgа diri sеsеorаng
mеnunjukkаn sеbеrаpа bеsаr iа аkаn menghargai dirinya sendiri. Seseorang dengan
harga diri yаng sеhаt mеngаrаh kе kеmеrdеkааn, kеbаhаgiааn, flеksibilitаs, dаn
kеmаmpuаn untuk beradaptasi dengan mudah untuk mеngubаh, bеkеrjаsаmа dаn
pаndаngаn positif pаdа sеtiаp situаsi bеgitu jugа sebaliknya”. Menurut Kristanto
(2011:8) “harga diri merupakan kebutuhan seseorang akan pengakuan terhadap diri
sendiri serta untuk diterima dan diberi penilaian yang baik dari orang lain”.

Tingkat Perilaku Pembelian Kompulsif


Berdasarkan tingkatan kompulsifitas belanja pada konsumen, Edward
(Poetra, 2012:4) mengelompokkan tingkat kompulsifitas dalam berbelanja, yaitu:

  1. Addict (High level)
    Sebagai salah satu cara untuk menghilangkan rasa cemas yang berlebihan
    pada seseorang dengan cara berbelanja, namun pada tingkatan ini
    seseorang memiliki tingkatan berbelanja kompulsif yang sangat ekstrim.
  2. Compulsive (medium level)
    Pada tingkatan ini untuk menghilangkan rasa cemas pada konsumen,
    mayoritas mereka akan melakukan aktivitas belanja.
  3. Bordeling (low level)
    Keadaan seorang konsumen pada tingkatan dimana mereka melakukan
    kegiatan belanja kompulsif dengan alasan untuk menghibur diri dan
    menghabiskan sebagian uangnya.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perilaku Pembelian Kompulsif


Perilaku pembelian kompulsif dapat timbul dari berbagai faktor yang
melatarbelakangi seseorang. Menurut Kurnia (2013:3) adapun faktor-faktor
penyebab terjadinya compulsive buying behavior, Diantaranya sebagai berikut:

  1. Faktor Keluarga
    Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu
    individu untuk melakukan proses sosialisasi melalui pembelajaran, dan
    penyesuaian diri dalam berpikir dan juga bertindak di dalam masyarakat.
    Keluarga yang utuh dan harmonis akan memberikan dampak positif bagi
    individu dan perilakunya.
  2. Faktor Psychological
    Pembelian kompulsif terjadi karena ketegangan psikologi yang
    menyebabkan meningkatnya keinginan seseorang untuk melakukan
    pembelian saat itu juga. Dengan kata lain, hasrat untuk melakukan
    pembelian pada pembeli kompulsif lebih disebabkan oleh dorongan
    psikologis dari dalam diri mereka.
  3. Faktor Sosiological
    Adanya pengaruh dari tayangan televisi, teman sebaya, frekuensi
    berbelanja serta kemudahan akses internet dan menggunakan kartu kredit
    pada compulsive buying.
  4. Faktor Situasional
    Faktor situasional merupakan faktor eksternal yang muncul karena
    seseorang melakukan kontak dengan lingkungan dan produk yang
    nantinya dapat menyebabkan pembelian impulsif dan pembelian
    kompulsif.
  5. Materialisme
    Materialistik adalah tingkatan seseorang dianggap sebagai materialis.
    Konsumen menganggap suatu kepemilikan sebagai suatu yang berharga,
    maka ia semakin materalistis demikian juga sebaliknya. Konsumen
    fashion dengan tendensi materialistik yang kuat akan menggunakan
    fashion untuk membuat suatu kesan, hal ini akan lebih mengarah pada
    keterlibatan yang lebih tinggi.

Indikator Perilaku Pembelian Kompulsif


Berikut terdapat indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kadar
perilaku pembelian kompulsif yang dimiliki seseorang. Penelitian ini menggunakan
indikator dari Elizabeth Edward yang telah diterjemahkan oleh Fenny dkk (2014:
105) mengemukakan beberapa indikator diantaranya:
1) Tendency to spend (Kecenderungan untuk mengeluarkan uang)
Individu yang memiliki kecenderungan untuk mengeluarkan uang atau
berbelanja secara berlebihan tanpa memikirkan lebih lama ketika melihat
barang atau objek yang disukai langsung dibeli.
2) Compulsion/drive to spend (Dorongan dalam mengeluarkan uang)
Adanya keinginan atau dorongan dalam diri individu dan impulsifitas
dalam mengeluarkan uang seperti berbelanja.
3) Feeling (joy) about shopping and spending (Perasaan bahagia ketika
berbelanja)
Perasaan bahagia ketika berbelanja misalnya individu menikmati
aktivitas belanja dan merasa puas dengan apa yang dibeli.
4) Dysfunctional spending (Pengeluaran yang tidak berfungsi semestinya)
Mengeluarkan uang yang tidak sesuai dengan fungsinya. Misalnya
berbelanja barang-barang yang tidak diperlukan.
5) Post-purchased guilt (Perasaan menyesal setelah berbelanja)
Perasaan menyesal yang timbul setelah berbelanja yang ditandai dengan
adanya perubahan suasana hati yang tidak baik.

Pengertian Perilaku Pembelian Kompulsif


Perilaku pembelian kompulsif merupakan contoh dari sisi gelap konsumsi
yang dapat menyebabkan kecanduan dan lebih banyak ruginya daripada
manfaatnya. Menurut Edward (Ekapaksi 2011: 6) menyatakan bahwa “Pembelian
kompulsif adalah bentuk tidak biasa dari perilaku pembelian dan menghabiskan
uang dimana konsumen yang berperilaku seperti itu memiliki kekuatan besar yang
tidak dapat dikontrol untuk melakukan pembelian secara berulang pada kategori
produk tertentu”. Menurut Lestari A dan Kristiyanto (2012:131) mengatakan
“Perilaku pembelian kompulsif adalah sebuah perilaku keputusan pembelian
dimana motif atau keinginan yang mendorong keputusan pembelian atas kategori
produk tertentu tak tertahankan lagi atau tidak bisa ditahan oleh emosi orang
tersebut dan akan menjadi suatu kebiasaan karena cenderung terjadi berulang-ulang
sebagai pemenuhan terhadap kebutuhan emosional yang negatif”.
Menurut Mulyono, Rusdarti dan Mustofa (2019:90) menyebutkan “Perilaku
pembelian kompulsif adalah perilaku pembelian yang berulang dan akut, yang
menjadi respon utama untuk menghadapi perasaan atau kejadian yang tidak
menyenangkan seperti sedih, depresi, frustasi dan lain-lain serta perilaku pembelian
kompulsif ini menjadi tujuan utama yaitu perbaikan suasana hati”. Menurut
Mahardika (2015:8) menyatakan bahwa “Pembelian kompulsif adalah bentuk tidak
biasa dari perilaku pembelian dan menghabiskan uang dimana konsumen yang
berperilaku seperti itu memiliki kekuatan besar yang tidak dapat dikontrol untuk
melakukan pembelian secara berulang pada kategori produk tertentu”. Sedangkan
menurut Neysa (2019: 3) menjelaskan “Kecenderungan perilaku pembelian
kompulsif adalah kepercayaan, sikap dan keinginan yang tidak terkontrol dari
dalam diri konsumen untuk membeli dan mengkonsumsi barang-barang tanpa
batas, tidak tuntas ataupun secara berlebihan dan dilakukan secara berulang-ulang
maka akan dapat menimbulkan pemborosan dan inefisiensi biaya”.

Faktor-Faktor Money Attitude


Adapun faktor-faktor money attitude menurut Taneja (dalam Sri Mulyati,
2021:36), sikap individu terhadap uang dipengaruhi oleh banyak faktor,
diantaranya:

  1. Pengalaman masa kanak-kanak
  2. Pendidikan
  3. Keuangan
  4. Status sosial ekonomi
  5. Keluarga
    Memahami sikap orang terhadap uang menjadi penting karena bisa
    menentukan perilaku uang seorang individu. Perilaku sosial yang muncul dari
    individu bisa dilihat dari bagaimana seseorang tersebut dalam memandang uang,
    perilaku berbelanja atau perilaku ekonomi lainnya (menabung, berutang, investasi
    dan kerja) dapat dihubungkan dengan sikap terhadap uang dan kesehatan mental
    seseorang juga dapat dikaitkan dengan uang.

Indikator Money Attitude


Menurut Tang (dalam Ida dkk, 2020:407), menyatakan bahwa “seseorang
dapat menganggap uang sebagai lambang kekuasaan dan prestise, kadang individu
lain yang menganggap uang sebagai akar dari kejahatan. Menurut Yamuchi &
Templer (dalam Ida dkk,2020:407), membagi sikap terhadap uang dalam 5
dimensi yaitu:

  1. Power-prestige (Kekuasaan Gengsi)
    Sikap terhadap uang dari dimensi Power-prestige (kekuasaan-gengsi),
    yaitu uang sebagai sumber kekuasaan, mendapatkan pengakuan
    eksternal, pencarian status, persaingan, dan pencapaian barang-barang
    mewah.
  2. Retention time (Keamanan-pengelolaaan)
    Sikap terhadap uang dari dimensi Retention Time (keamananpengelolaan) yaitu uang harus dikelola dengan baik untuk masa depan,
    butuh perencanaan dan kehati-hatian dalam membelanjakan uang serta
    penggunaan yang berorientasi pada masa depan.
  3. Distrust (Ketidakpercayaan)
    Sikap terhadap uang dari dimensi Distrust (ketidakpercayaan), yaitu
    uang dapat menjadi sumber perilaku penuh curiga, memunculkan
    keraguan dalam situasi yang melibatkan penggunaan uang dan
    ketidakpercayaannya dalam mengambil keputusan penggunaan uang.
  4. Quality (Kualitas)
    Sikap terhadap uang dari dimensi Quality (kualitas), yaitu uang dapat
    menjadi simbol kualitas hidup dengan melakukan pembelian barangbarang yang berkualitas.
  5. Anxiety (Kegelisahan)
    Sikap terhadap uang dari dimensi Anxiety (kegelisahan), yaitu uang
    digambarkan sebagai sumber kecemasan dan stress bagi pemiliknya.

Pengertian Money Attitude (Sikap Terhadap Uang)


Setiap orang memiliki cara pandang dan perilaku yang berbeda terkait
uang. Uang dapat mempengaruhi seseorang untuk berpikir dan bertindak secara
irasional. Dengan adanya hal itu maka seseorang harus bisa menyikapi uang
dengan bijak dalam pemenuhan hidupnya.
Menurut Duravasula & Lysonski dalam (Ida S dkk, 2020:407),
menyatakan bahwa “sikap terhadap uang (money attitude) merupakan
pemahaman dan sikap seseorang tentang arti dari uang sebagai bagian penting
dalam hidup, sumber rasa hormat, kualitas hidup, kebebasan, dan bahkan untuk
kejahatan.”
Menurut Diah Ayu Komala dan Raeny Dwi S (2019:4), menyatakan
bahwa “money Attitude merupakan wujud perilaku seseorang sebagai hasil
evaluasi terhadap manfaat kepemilikan, kegunaan, dan makna simbolis dari uang
yang mempengaruhi perilaku pembelian individu.”
Menurut Nadzir dan Ingarianti (dalam Chintara Diva P dan Maria Rio
R,2017:5), menyatakan bahwa “money attitude adalah cara pandang atau sikap
seseorang terhadap uang. Psikologi telah memanfaatkan uang dan perilaku uang
sebagai alat ukur dalam penyelidikan fenomena psikologis”

Indikator Modernitas Individu


Modernisasi dilihat sebagai sebuah proses perubahan di dalam cara
merasa, mengekspresi, dan menilai studi modernisasi yang lebih terfokus pada
individu, karena hanya pada individu manusia memiliki seperangkat karakteristik
psikologis seperti kepercayaan, sikap dan perilaku. Modernitas individu satu
dengan yang lainnya berbeda, tergantung lingkungan masyarakat dimana orang
tersebut hidup.
Menurut Inkeles dan David Smith (dalam Diansari dan Fitri,2020:13-14),
mengatakan indikator modernitas individu adalah:

  1. Keterbukaan terhadap hal yang sifatnya baru.
  2. Siap menerima perubahan sosial.
  3. Mempunyai perencanaan yang jelas.
  4. Mempunyai keyakinan bahwa lingkungannya harus dapat
    diperhatikan.
  5. Bersifat optimis dan tidak cepat menyerah.

Pengertian Modernitas Individu


Pada era perkembangan globalisasi banyak perubahan dari sikap individu
yang semakin maju agar mereka tidak terlihat ketinggalan zaman. Modernitas
adalah suatu upaya untuk hidup sesuai dengan kemajuan zaman karena waktu
akan terus berganti dan individu harus menyesuaikan dengan perubahan yang
sangat cepat.
Menurut Ayuningtyas (dalam Risnawati dkk,2018:431), menyatakan
bahwa:
Modernitas setiap orang berbeda-beda, tergantung lingkungan
masyarakat dimana orang tersebut hidup. Modernitas individu yang
dimiliki masyarakat cenderung tinggi bila masyarakatnya sudah maju.
Modernitas cenderung rendah bila masyarakat tersebut belum maju
(tradisional). Oleh karena itu, ada dua konsep modernitas, yakni
modernitas masyarakat dan modernitas individu. Proses modernitas
masyarakat maupun modernitas individu dikatakan lancar sangat
tergantung pada keadaan masyarakat itu sendiri. Jadi, pandangan yang
kontruktif terhadap inovasi baru dapat mempercepat proses modernitas.
Apabila masyarakat individu bersifat terbuka terhadap hal-hal baru, maka
ada kecenderungan proses modernitas itu akan berlangsung secara cepat.
Dalam masyarakat modern yang dinamis, transformasi tata nilai
merupakan suatu proses yang harus dilakukan secara terus-menerus,
dalam artian bahwa masyarakat dan individu terus menerus berusaha
untuk memahami makna dari berbagai perubahan yang terjadi beserta
akibat yang ditimbulkan dalam kehidupan.
Menurut Hardiman (dalam Dewi K dan Yohanes S,2019:62),
menyatakan bahwa “modernitas individu tampak sebagai peralihan dari situasi
yang lebih primer, partisipasif, determinatif dan tertutup ke situasi yang lebih
sekunder, distantif, kreatif dan terbuka”.
Menurut Mega Ayu S dan Susanti (2020:274), bahwa “modernitas
individu adalah sebuah usaha untuk perubahan sikap, cara berpikir dan cara
bertindak seseorang dari masyarakat terbelakang menjadi masyarakat maju sesuai
dengan perkembangan zaman sesuai dengan perubahan waktu yang terjadi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembelian Kompulsif (Compulsive Buying)


Menurut O’Guinnn & Faber (dalam Galiema Sadan B,2020:13-15),
terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian kompulsif yaitu:

  1. Self Esteem.
    Sikap individu yang memiliki tingkat self esteem yang rendah akan
    lebih mudah untuk melakukan perilaku pembelian kompulsif.
  2. Self Control.
    Sikap seseorang yang menunjukkan perilaku pembelian kompulsif
    yang mengalami kegagalan dalam mengendalikan dirinya menahan
    godaan.
  3. Pengaruh Teman Sebaya.
    Perilaku ini memiliki pengaruh dalam kegiatan pembelian. Individu
    yang menunjukkan perilaku pembelian kompulsif ingin bisa diterima
    oleh lingkungannya serta menganggap penting pendapat teman-teman
    di sekitarnya.
  4. Materialism.
    Materialism ini menunjukkan perilaku seseorang dalam pembelian
    kompulsif yang sangat tinggi.
  5. Tayangan Televisi.
    Dalam hal ini penonton lebih percaya bahwa dunia yang di lihat dari
    televisi merupakan dunia yang sebenarnya sehingga membuat mereka
    semakin intens untuk membeli sesuai apa yang mereka lihat di
    televisi.
  6. Keluarga.
    Ketika ada beberapa anggota keluarga yang melakukan perilaku
    menyimpang (mabuk, cemas, dan depresi) akan cenderung meningkat
    dalam perilaku kompulsif dan terdapat hubungan yang positif ketika
    mempersepsikan perilaku kompulsif pada orang tuanya dengan
    perilaku kompulsif dirinya.
  7. Usia.
    Usia mempengaruhi dalam aktivitas perilaku pembelian. Individu
    yang berusia muda lebih mudah melakukan pembelian kompulsif.
  8. Jenis Kelamin.
    Jenis kelamin memiliki pengaruh terhadap perilaku pembelian
    seseorang. Jenis kelamin menunjukkan perilaku pembelian kompulsif
    yaitu wanita yang lebih tinggi daripada pria.