Sabtu, 19 Oktober 2024

Pengertian Kinerja


Kinerja adalah tindakan dari hasil kerja karyawan. Dalam organisasi
tidak lepas dari kinerja karyawan, kinerja yang baik sangat
berpengaruh terhadap organisasi dan berdampak terhadap perusahaan,
kinerja menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan oleh setiap
karyawan, dengan kinerja yang baik, maka karyawan tersebut dapat
menyelesaikan berbagai tugas dengan baik juga, dan dengan kinerja
yang baik dapat membantu karyawan dalam mencapai peningkatan
jabatan, mendapat bonus dari hasil kerja, dan masih banyak lagi.
Kinerja menurut Sutrisno (2016:151) mengemukakan bahwa kinerja
adalah sebagai hasil yang telah di capai seseorang dari kerjanya dalam
melaksanakan aktivitas kerja yang telah diselesaikan dengan sebaik-
baiknya. Karyawan dapat bekerja dengan baik apabila memiliki
kinerja yang tinggi, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang baik
pula.
Kinerja menurut Susanti dan Palupi (2016) mengemukakan bahwa
keberhasilan suatu perusahaan untuk dapat mencapai tujuan tidak
hanya bergantung dari sarana dan prasarana yang ada, tetapi dengan
bantuan kinerja karyawan yang dapat mencapai keberhasilan.
Penelitian terdahulu menurut Lydia dan Eddy (2017)
mengemukakan bahwa pekerjaan akan berjalan dengan baik ketika
perusahaan memberikan intensif untuk karyawan, dengan intensif
akan membuat karyawan termotivasi dan lebih semangat untuk
mengerjakan tugas yang diberikan

Jenis-jenis Motivasi


Motivasi tak selamanya berupa positif terkadang ada motivasi yang
bertujuan negatif, hal ini yang dilakukan oleh peneliti untuk meneliti
jenis-jenis motivasi yang terdapat diri seseorang terutama dalam diri
karyawan. Menurut Winardi (2016:5) mengemukakan bahwa
motivasi memiliki 2 jenis yang bersifat positif dan negatif, yakni:

  1. Motivasi Positif
    Motivasi positif sering digunakan orang untuk mengurangi
    rasa cemas dan motivasi positif dapat diartikan sebagai
    pendekatan wortel (the carrot approach) yaitu di mana
    seseorang ketika ditawari sesuatu yang memiliki nilai seperti
    bonus berupa uang, pujian, atau jabatan jika kinerjanya
    memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan
    atau organisasi.
  2. Motivasi Negatif
    Motivasi negatif biasanya disebut sebagai pendekatan
    tongkat pemukul (the stick Approach) di mana karyawan
    yang memiliki kinerja yang tidak memenuhi standar akan
    mendapatkan hukuman seperti di PHK, dapat teguran,
    ancaman diturunkan dari pangkatnya, dengan tujuan untuk
    membuka pemikiran karyawan dalam membangun semangat
    kinerja.
    Menurut Malayu S.P hasibuhan (2016:152) mengemukakan bahwa
    ada 2 jenis motivasi yang ada dalam jenis-jenis motivasi:
  3. Motivasi Positif (intensif positif)
    Motivasi positif pimpinan memotivasi (merangsang)
    bawahan dengan memberikan hadiah kepada karyawan yang
    berprestasi di atas prestasi standar, dengan adanya hadiah
    akan membantu meningkatkan semangat kerja karyawan
  4. Motivasi Negatif
    Motivasi negatif seperti pimpinan memotivasi dengan
    memberikan hukuman untuk karyawan jika prestasinya di
    bawah standar yang telah ditentukan, dengan motivasi
    negatif akan membuat semangat kepada karyawan dalam
    jangka waktu pendek karena takut dihukum

Faktor-faktor Motivasi


Motivasi adalah serangkaian usaha yang membuat karyawan itu mau
untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuannya, dengan adanya
motivasi dapat membentuk pola pikir karyawan, Menurut Saydam dan
Kadarisman dalam (Erri dan Fajrin, 2018) mengemukakan bahwa ada
2 faktor yang terdapat dalam motivasi:

  1. Faktor intern: yaitu terdapat dalam diri karyawan itu sendiri,
    dengan contoh karyawan dapat terlihat sering resah dalam
    bekerja
  2. Faktor ekstern: yaitu berasal dari luar karyawan yang dapat
    mempengaruhi motivsai, faktor lingkungan dalam bekerja
    adalah keseluruhan sarana dan prasarana kerja yang ada
    disekitar pegawai yang sedang bekerja dapat mempengaruhi
    pelaksanaan pekerjaan itu sendiri.
    Menurut Sutrisno (2015:116) mengemukakan bahwa ada 2
    faktor yang dapat di bedakan dari motivasi yaitu faktor intern dan
    ekstern yang berasal dari karyawan, adapun faktor sebagai berikut:
  3. Faktor intern:
    a. Keinginan untuk tetap hidup
    b. Keinginan untuk dapat memiliki
    c. Keinginan untuk dapat memperoleh penghargaan
    d. Keinginan untuk dapat memperoleh pengakuan
    e. Keinginan untuk berkuasa
  4. Faktor ekstern:
    a. Kondisi lingkungan kerja
    b. Kompensasi yang memadai
    c. Supervisi yang baik
    d. Status dan tanggung jawab
    e. Peraturan yang fleksibel

Indikator Motivasi


Motivasi sering kali digunakan untuk membantu karyawan
untuk tetap semangat dalam mencapai tujuan bersama, menurut
George dan Jones (dalam Dharmayanti 2015) mengemukakan
bahwa ada 3 indikator motivasi kerja:

  1. Arah perilaku
    Yaitu kemampuan karyawan yang memilih untuk paham
    akan pilihannya dalam mengambil pekerjaan yang dipilih,
    dengan perilaku yang baik akan menunjukkan bahwa
    karyawan tersebut termotivasi dalam bekerja
  2. Tingkat usaha
    Yaitu melihat seberapa besar usaha karyawan dalam bekerja
    di bidang yang dipilihnya, motivasi dapat membantu
    karyawan untuk mau bekerja keras untuk perusahaan dengan
    senang hati.
  3. Tingkat kegigihan
    Yaitu mengacu pada perilaku karyawan yang tetap ingin
    bekerja walaupun dalam bekerja memiliki yang namanya
    masalah, rintangan, dan halangan, kegigihan yang tinggi
    menunjukkan bahwa karyawan memiliki motivasi yang
    tinggi juga

Fungsi motivasi


Motivasi sangat penting dalam sebuah organisasi khususnya
terhadap kinerja karyawan, di mana motivasi merupakan
pendorong bagi karyawan untuk terus memiliki tujuan untuk
mencapai dan mewujudkan tujuan tersebut. Menurut Wahab
(2015:131) mengemukakan bahwa ada beberapa fungsi motivasi:

  1. Motivasi sebagai pendorong perbuatan
  2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan
  3. Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Aspek-aspek Loyalitas Karyawan


Menurut Siswanto (2013), aspek-aspek loyalitas karyawan adalah sebagai
berikut :
a. Taat pada peraturan
Setiap kebijakan yang diterapkan dalam organisasi untuk memperlancar dan
mengatur jalannya pelaksanaan tugas oleh manajemen organisasi ditaati dan
dilaksanakan dengan baik. Keadaan ini akan menimbulkan kedisiplinan yang
menguntungkan organisasi baik intern maupun ekstern.
b. Tanggung jawab pada perusahaan/organisasi
Karakteristik pekerjaan dan pelaksanaan tugasnya mempunyai konsekuensi yang
dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan untuk melaksanakan tugas
sebaik-baiknya dan kesadaran akan setiap resiko pelaksanaan tugasnya akan
memberikan pengertian tentang keberanian dan kesadaran bertanggungjawab
terhadap resiko atas apa yang telah dilaksanakan.
c. Kemauan untuk bekerja sama
Bekerja sama dengan orang-orang dalam suatu kelompok akan memungkinkan
organisasi dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin dicapai oleh orang-orang
secara invidual.
d. Rasa memiliki
Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap organisasi akan membuat
karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap
organisasi sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi tercapainya
tujuan organisasi.
e. Hubungan antar pribadi
Karyawan yang mempunyai loyalitas kerja tinggi mereka akan mempunyai sikap
fleksibel ke arah tata hubungan antara pribadi. Hubungan antara pribadi ini
meliputi hubungan sosial diantara karyawan, hubungan yang harmonis antara
atasan dan karyawan, situasi kerja dan sugesti dari teman kerja.
f. Kesukaan terhadap pekerjaan
Organisasi harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya tiap hari
datang untuk bekerjasama sebagai manusia seutuhnya dalam hal melakukan
pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati sebagai indikatornya bisa
dilihat dari : keunggulan karyawan dalam bekerja, karyawan tidak pernah
menuntut apa yang diterimanya diluar gaji pokok.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan


Menurut Jusuf dalam Endang Tirtana Putra (2018) menyatakan ada beberapa
faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan diantara lain:
a. Faktor Rasional
Merupakan faktor yang menyangkut sesuatu hal hal yang bisa
dijelaskan secara logis, seperti gaji, Reward atau bonus, jenjang karir dan
fasilitas-fasilitas yang diberikan lembaga kepada karyawan.
b. Faktor Emosional
Faktor ini menyangkut perasaan atau ekspresi diri seperti pekerjaan yang
menantang, lingkungan kerja yang mendukung, Perasaan aman karena
perusahaan merupakan tempat bekerja dalam jangka panjang, pemimpin yang
berkharisma, pekerjaan yang membanggakan, penghargaan- penghargaan yang
diberikan perusahaan dan budaya kerja atau organisasi.
c. Faktor Kepribadian
Faktor yang meliputi sifat, karakter, tempramen yang dimilikioleh karyawan.
Menurut Sopiah (2008:163), faktor-faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan
adalah:
a. Faktor personal
Misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, dan
kepribadian. Biasanya usia tua lebih loyal terhadap pekerjaanya dibandingkan
usia muda, karena menganggap dirinya masih memiliki potensi yang lebih untuk
mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
b. Karakteristik pekerjaan
Misalnya lingkup jabatan, tantangan dalam pekerjaan, konflik peran dalam
pekerjaan, dan tingkat kesulitan dalam pekerjaan. Pekerjaan yang cenderung
menyebabkan setres kerja meningkat yang akhirnya berdampak pengunduran diri
karyawan.
c. Karakteristik struktur
Misalnya besar kecilnya organisasi, bentuk organisasi, seperti sentralisasi atau
desentralisasi, kehadiran serikat pekerja dan tingkat pengendalian yang dilakukan
organisasi terhadap karyawan. Organisasi yang kecil seringkali diremehkan
sehingga anggota akan dengan mudah meninggalkan organisasinya.
d. Pengalaman kerja.
Pengalaman kerja karyawan sangat berpengaruh terhadap tingkat loyalitas
karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru beberapa tahun bekerja dan
karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja dalam organisasi tentu memiliki
tingkat loyalitas yang berlainan. Karyawan yang sudah bepengalaman terhadap
pekerjaanya lebih mudah dalam melaksanakan tugasnya karena sudah tahu seluk-
beluk pekerjaan yang dihadapi.

Indikator Loyalitas Karyawan


Sahar (2019) mengemukakan bahwa indikator loyalitas yang digunakan untuk
menentukan loyalitas anggota organisasi adalah keinginan untuk tetap bertahan pada
organisasi yang ditandai dengan :
a. Penerimaan penuh terhadap nilai-nilai organisasi yang ditandai dengan
menerima apapun yang menjadi kebijakan organisasi.
b. Setia pada perusahaan.
c. Keinginan untuk tetap bertahan dalam organisasi.
d. Keinginan untuk berusaha semaksimal mungkin ditandai dengan bersedia
bekerja melebihi kondisi biasa

Pengertian Loyalitas Karyawan


Loyalitas juga dapat diartikan sebagai Kesetiaan, loyalitas karyawan sama
dengan kesetiaan karyawan terhadap suatu organisasi atau perusahaan. Menurut
Siagian (2005:57) menjelaskan Loyalitas karyawan adalah suatu kecenderungan
karyawan untuk tidak pindah ke perusahaan lain, loyalitas berpengaruh terhadap
kenyamanan karyawan untuk bekerja pada suatu perusahaan.
Menurut Utomo (2000:4) loyalitas karyawan adalah kesetiaan karyawan,
karyawan yang menempatkan kepentingan perusahaan diatas kepentingan
pribadinya.Velasques dalam Sudimin (2003) mengatakan bahwa kewajiban karyawan
adalah bekerja dengan baik untuk mencapai tujuan perusahaan dan menghindari
aktivitas yang dapat mengancam atau mengganggu pencapaian tujuan tersebut dan
bukan untuk kepentingan atau manfaat pribadi karyawan. Hal yang bisa
menimbulkan kesulitan terhadap terwujudnya loyalitas adalah konflik kepentingan
(conflict of interest), yaitu konflik antara kepentingan pribadi karyawan dan
kepentingan perusahaan. Demi kepentingan pribadi, karyawan tidak boleh
menjalankan kegiatan yang bersaing dengan perusahaannya. Selain itu, konflik
kepentingan juga bisa muncul dengan terjadinya penggabungan beberapa jenis
pekerjaan.
Menurut Sudimin (2003) loyalitas berarti kesediaan karyawan dengan seluruh
kemampuan, keterampilan, pikiran dan waktu untuk ikut serta mencapai tujuan
perusahaan dan menyimpan rahasia perusahaan serta tidak melakukan tindakan-
tindakan yang merugikan perusahaan selama orang itu masih berstatus sebagai
karyawan. Kecuali menyimpan rahasia, hal-hal itu hanya dapat dilakukan ketika
karyawan masih terikat hubungan kerja dengan perusahaan tempatnya bekerja.
Jadi, loyalitas memiliki hubungan positif terhadap tingkat kepercayaan,
semakin tinggi tingkat kepercayaan karyawan terhadap perusahaan, maka semakin
tinggi pula tingkat loyalitas karyawan tersebut terhadap perusahaa

Teori Motivasi Kerja

A. Maslow (Siagian, 1996: 149) membuat needs hierarchy theory untuk
menjawab tentang tingkatan kebutuhan manusia tersebut. Kebutuhan manusia
diklasifikasi menjadi lima hierarki kebutuhan yaitu:
a. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)
Perwujudan dari kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan pokok manusia
yaitu sandang, pangan, papan, dan kesejahteraan individu. Kebutuhan ini
dipandang sebagai kebutuhan yang paling mendasar, Karena tanpa pemenuhan
kebutuhan tersebut, seseorang tidak dapat dikatakan hidup normal. Meningkatnya
kemampuan seseorang cenderung mereka berusaha meningkatkan pemuas kebutuhan
dengan pergeseran dari kuntitatif ke kualitatif. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan
yang amat primer, karena kebutuhan ini telah ada dan terasa sejak manusia dilahirkan.
Misalnya dalam hal sandang. Apabila tingkat kemampuan seseorang masih rendah,
kebutuhan akan sandang akan dipuaskan sekedarnya saja. Jumlahnya terbatas dan
mutunya pun belum mendapat perhatian utama karena kemampuan untuk itu
memang masih terbatas. Akan tetapi bila kemampuan seseorang meningkat, pemuas
akan kebutuhan sandang pun akan ditingkatkan, baik sisi jumlah maupun mutunya.
Demikian pula dengan pangan, seseorang dalam hal ini guru yang ekonominya masih
rendah, kebutuhan pangan biasanya masih sangat sederhana. Akan tetapi jika
kemampuan ekonominya meningkat, maka pemuas kebutuhan akan pangan pun
akan meningkat. Hal serupa dengan kebutuhan akan papan/perumahan. Kemampuan
ekonomi seseorang akan mendorongnya untuk memikirkan pemuas kebutuhan
perumahandengan pendekatan kuantitiatif dan kualitatif sekaligus.
b. Kebutuhan Rasa Aman (Safety Needs)
Kebutuhan keamanan harus dilihat dalam arti luas, tidak hanya diartikan
dalam arti keamanan fisik semata, tetapi juga keamanan psikologis dan perlakuan
yang adil dalam pekerjaan.Karena pemuas kebutuhan ini terutama dikaitkan dengan
kekaryaan seseorang, artinya keamanan dalam arti fisik termasuk keamanan
seseorang didaerah tempat tinggal, dalam perjalanan menuju ke tempat bekerja, dan
keamanan di tempat kerja.
c. Kebutuhan Sosial (Social Needs)
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial, tidak dapat memenuhi kebutuhan
sendiri dan pasti memerlukan bantuan orang lain, sehingga mereka harus berinteraksi
dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
d. Kebutuhan akan Harga Diri (Esteem Needs)
Semua orang memerlukan pengakuan atas keberadaan statusnya oleh orang
lain. Situasi yang ideal adalah apabila prestise itu timbul akan menjadikan prestasi
seseorang. Akan tetapi tidak selalu demikian, karena dalam hal ini semakin tinggi
kedudukan seseorang, maka akan semakin banyak hal yang digunakan sebagai simbol
statusnya itu. Dalam kehidupan organisasi banyak fasilitas yang diperoleh seseorang
dari organisasi untuk menunjukkan kedudukan statusnya dalam organisasi.
Pengalaman menunjukkan bahwa baik dimasyarakat yang masih tradisional maupun
di lingkungan masyarakat yang sudah maju, simbol – simbol status tersebut tetap
mempunyai makna penting dalamkehidupan berorganisasi.
e. Aktualisasi Diri (Self Actualization)
Hal ini dapat diartikan bahwa dalam diri seseorang terdapat kemampuan yang
perlu dikembangkan, sehingga dapat memberikan sumbangsih yang besar terhadap
kepentingan organisasi. Melalui kemampuan kerja yang semakin meningkat akan
semakin mampu memuaskan berbagai kebutuhannya dan pada tingkatan ini orang
cenderung untuk selalu mengembangkan diri serta berbuat yang lebih baik

Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi


Menurut David dalam Sopiah (2008 : 163) empat faktor yang mempengaruhi
komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:

  1. Faktor personal, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
    pengalaman kerja, kepribadian.
  2. Karakteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan, konflik, peran,
    tingkat kesulitan dalam pekerjaan
  3. Karekteristik struktur, misalnya besar atau kecilnya organisasi, bentuk
    organisasi (sentralisasi/desentralisasi), kehadiran serikat pekerja.
  4. Pengalaman kerja, Pengalaman kerja karyawan sangat berpengaruh terhadap
    tingkat komitmen karyawan pada organisasi

Indikator Komitmen Organisasi


Menurut Umam (2010;262) indikator komitmen organisasi sebagai berikut :

  1. Affective Commitment, individu yang memiliki affective commitment yang
    tinggi memiliki kedekatan emosional yang erat terhadap organisasi.
  2. Continuance Commitment, individu dengan continuance commitment yang
    tinggi akan bertahan dalam organisasi, tetapi karena adanya kesadaran
    individu tersebut, ia akan mengalami kerugian besar jika meninggalkan
    organisasi.
  3. Normative Commitment, individu dengan normative commitment yang tinggi
    akan tetap bertahan dalam organisasi karena merasa adanya suatu kewajiban
    atau tugas

Pengertian Komitmen Organisasi


Komitmen organisasi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi perilaku
karyawan dalam berorganisasi. Komitmen yang dimiliki karyawan terhadap
organisasi dapat dikatakan sebagai komitmen organisasi. Karyawan yang
memiliki komitmen organisasi akan memilih untuk selalau melibatkan dirinya
dalam kegiatan perusahaan guna memajukan perusahaan. Karyawan akan memilih
untuk bertahan diperusahaan dan melanjutkan keanggotaannya sebagai bentuk
komitmen yang dimiliki karyawan. Menurut Mathis dan Jackson dalam (Sopiah,
2008-155) “Organizational Commitment is the degree to which employess believe
in and accept organizational goals and desire to remain with the organization”
yaitu komitmen organisasi adalah derajat yang mana karyawan percaya dan
menerima tujuan-tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan
meninggalkan organisasi. Menurut Baron dan Greenberg dalam Umam
(2010:259) menyatakan bahwa komitmen memiliki arti penerimaan yang kuat
dalam diri individu terhadap tujuan dan nilai-nilai perusahaan, sehingga individu
tersebut akan berusaha dan berkarya serta memiliki hasrat yang kuat untuk tetap
bertahan di dalam perusahaan. Selanjutnya, Meyer dan Allen dalam Umam
(2010;258) komitmen organisasi diartikan sebagai suatu konstruk psikologis yang
merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan
memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan
keanggotaannya dalam berorganisasi.
Sedangkan menurut Robbins & Judge (2008:100) komitmen
organisasional didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana seorang karyawan
memihak organisasi tertentu serta tujuan tujuan dan keinginannya untuk
mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Jadi, keterlibatan
pekerjaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seorang individu,
sementara komitmen organisasional yang tinggi berarti memihak organisasi yang
merekrut individu tersebut

Aspek-Aspek Loyalitas Kerja Karyawan


Loyalitas kerja karyawan tidak terbentuk begitu saja dalam organisasi, tetapi ada
aspek-aspek yang terdapat didalamnya yang mewujudkan loyalitas kerja
karyawan. Masing-masing aspek merupakan bagian dari manajemen organisasi
yang berkaitan dengan karyawan maupun organisasi. Aspek-aspek loyalitas kerja
yang terdapat pada individu dikemukakan oleh Siswanto (dalam Soegandhi dkk.
2013;3), yang menitik beratkan pada pelaksanaan kerja yang dilakukan karyawan
antara lain. :

  1. Taat pada peraturan, setiap kebijakan yang diterapkan dalam perusahaan
    untuk memperlancar dan mengatur jalannya pelaksanaan tugas oleh
    manajemen perusahaan ditaati dan dilaksanakan dengan baik. Keadaan ini
    akan menimbulkan kedisiplinan yang menguntungkan organisasi baik intern
    maupun ekstern.
  2. Tanggung jawab pada perusahaan/organisasi, karakteristik pekerjaan dan
    pelaksanaan tugasnya mempunyai konsekuensi yang dibebankan oleh
    karyawan. Kesanggupan karyawan untuk melaksanakan tugas sebaik baiknya
    dan kesadaran akan setiap resiko pelaksanaan tugasnya akan memberikan
    pengertian tentang keberanian dan kesadaran bertanggung jawab terhadap
    resiko atas apa yang telah dilaksanakan.
  3. Kemauan untuk bekerjasama, bekerja sama dengan orang orang dalam suatu
    kelompok akan memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak
    mungkin dicapai oleh orang-orang secara individual.
  4. Rasa memiliki, adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan
    akan membuat karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung
    jawab terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan
    loyalitas demi tercapainya tujuan perusahaan.
  5. Hubungan antar pribadi, karyawan yang memiliki loyalitas tinggi mereka
    akan mempunyai sikap fleksibel kearah tata hubungan antar pribadi.
    Hubungan antar pribadi ini meliputi : hubungan sosial diantara karyawan,
    hubungan yang harmonis antara atasan dan karyawan, situasi kerja dan
    sugesti dari teman kerja.
  6. Kesukaan terhadap pekerjaan, perusahaan harus dapat menghadapi kenyataan
    bahwa karyawannya tiap hari datang untuk bekerjasama sebagai manusia
    seutuhnya dalam hal melakukan pekerjaan yang akan dilakukan dengan
    senang hari sebagai indikatornya bisa dilihat dari, keunggulan karyawan
    dalam bekerja, karyawan tidak pernah menuntut apa yang diterimanya di luar
    gaji pokok.

Indikator Loyalitas Kerja Karyawan


Loyalitas adalah tekad dan kesanggupan menaati, melaksanakan dan
mengamalkan sesuatu yang dipatuhi dengan penuh kesadaran dan tanggung
jawab, tekad serta kesanggupan yang harus dibuktikan dalam sikap dan tingkah
laku sehari-hari serta dalam perbuatan melaksanakan tugas, Saydam, (2008;485).
Indikator loyalitas menurut Saydam, (2008;485) antara lain:

  1. Ketaatan atau kepatuhan, karyawan mempunyai tekat dan kesanggupan untuk
    menaati segala peraturan, perintah dari perusahaan dan tidak melanggar
    larangan yang telah ditentukan baik secara tertulis maupun tidak tertulis.
  2. Bertanggung jawab, adalah karakteristik pekerjaan dan prioritas tugasnya
    mempunyai konsekuensi yang dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan
    dalam melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya dan kesadaran setiap
    resiko melaksanakan tugas akan memberikan pengertian tentang keberanian
    dan kesediaan menanggung rasa tanggung jawab ini akan melahirkan loyalitas
    kerja.
  3. Pengabdian, adalah kesediaan untuk mengabdi dan membangun hubungan
    komitmen dengan perusahaan
  4. Kejujuran adalah sikap yang mencerminkan perilaku yang dapat memegang
    tanggung jawab dan kepercayaan.

Konsep Loyalitas


Menurut Steers & Porter, 1983 (dalam Soegandhi dkk, 2013) ada beberapa konsep
loyalitas, antara lain:

  1. Loyal Kepada Perusahaan
    Loyal kepada perusahaan ini merupakan konsep loyal yang sangat popular.
    Loyalitas seperti ini menuntut karyawan untuk terus bekerja di perusahaan
    dalam kondisi apapun. Oleh karena itu, orang yang pindah kerja sering di
    anggap tidak loyal terhadap perusahaan.
  2. Loyal Kepada Pekerjaan
    Di sini seorang karyawan tidak loyal terhadap perusahaan, tapi loyal terhadap
    pekerjaan yang ia kerjakan. ia akan bekerja dengan gigih demi pekerjaannya.
    Karyawan seperti ini di anggap sebagai asset perusahaan yang berharga karena
    ia akan mengerjakan pekerjaan yang menjadi job desc-nya dengan sebaik-
    baiknya.
  3. Loyal Kepada Visi, Misi Dan Tujuan Perusahaan
    Dalam bekerja kita harus tahu visi, misi dan tujuan perusahaan serta loyal
    terhadapnya. Bukan hanya job desc-nya saja. Konsep loyalitas seperti ini
    membutuhkan pemahaman sepenuhnya bahwa yang kita kerjakan bukan saja
    harus selesai dengan baik, tapi juga harus sejalan dengan tujuan perusahaan

Pengertian Loyalitas Kerja


Loyalitas menurut kamus besar bahasa Indonesia artinya adalah patuh atau setia.
Menurut Encyclopedia Britanica dalam www.wikipedia.org menyatakan “Loyalty
is general term, signifies a person, devotion or sentiment off attachment to
particular object, which may be another person, an ideal, a duty or cause”
(Loyalitas adalah kesetian seseorang atau perasaan kasih saying pada suatu objek
penting yang dapat berupa seseorang, sekelompok orang, cita-cita, tugas, atau
alasan tertentu).
Utomo (Tommy dkk., 2010;10) Loyalitas dapat dikatakan sebagai
kesetiaan seseorang terhadap suatu hal yang bukan hanya berupa kesetiaan fisik
semata, namun lebih pada kesetiaan non fisik seperti pikiran dan perhatian.
Hasibuan, 2001 (dalam Soeghandi 2013;3) menyatakan bahwa loyalitas atau
kesetiaan merupakan salah satu unsur yang digunakan dalam penilaian karyawan
yang mencakup kesetiaan terhadap pekerjaannya, jabatannya dan organisasi.
Kesetiaan ini dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga dan membela
organisasi di dalam maupun di luar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak
bertanggungjawab..

Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Cushway yang dikuti dari Sutrisno (2011;7) tujuan manajemen sumber
daya manusia meliputi :

  1. Mempertimbangkan manajemen dalam membuat kebijakan sdm untuk
    memastikan bahwa organisasi memiliki pekerjaan yang bermotivasi dan
    berkinerja tinggi, memiliki pekerjaan yang selalu siap mengatasi perubahan
    dan memenuhi kewajiban pekerjaan secara legal.
  2. Mengimplementasikan dan menjaga semua kebijakan dan prosedur sdm yang
    memungkinkan organisasi mampu mencapai tujuannya.
  3. Membantu dalam pengembangan arah keseluruhan organisasi dan strategi,
    khususnya yang berkaitan dengan implikasi sdm.
  4. Memberi dukungan dan kondisi yang akan membantu manajer lini mencapai
    tujuannya.

Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Fungsi manajemen sumber daya manusia menurut Sunyoto, (2015;4) yaitu:

  1. Fungsi Manajerial
    a. Perencanaan
    b. Pengorganisasian
    c. Pengarahan
    d. Pengendalian
  2. Fungsi Operasional
    a. Pengadaan
    b. Pengembangan
    c. Kompensasi
    d. Pengintegrasian
    e. Pemeliharaan
    f. Pemutusan hubungan kerja

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut Hasibuan (2009;10) Manajeman Sumber Daya Manusia adalah ilmu dan
seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien
membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Menurut
Simamora, 1997 (dalam Sutrisno, 2009;5) Manajemen Sumber daya Manusia
adalah pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa dan
pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok pekerja. Menurut
Sutrisno, (2009;6) Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan pengakuan
tentang pentingnya tenaga kerja organisasi sebagai sumber daya manusia yang
sangat penting dalam memberi kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi.
Menurut Bangun, (2012 : 6) Manajemen Sumber Daya Manusia dapat di
definisikan sebagai suatu proses perencanaa, pengorganisasian, penyusunan staff,
penggerakkan dan pengawasan, terhadap pengadaan, pengembangan tenaga kerja
untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan orang yang melaksanakan seluruh
aktivitas tersebut disebut sebagai manajer sumber daya manusia, yang
kewenangannya diperoleh secara langsung dari manajer umum untuk dapat
berperan dalam melakukan pengelolaan peran manusia dalam suatu organisasi.
Manajamen Sumber Daya Manusia adalah faktor sentral dalam suatu
organisasi dalam upaya mewujudkan apa yang telah menjadi tujuan organisasi
yang dibuat berdasarkan berbagai visi dan misi untuk kepentingan manusia dalam
pelakasanaanya dalam suatu organisasi, kelompok atau masyarakat, Purnaya,
(2016;3)

Jumat, 18 Oktober 2024

Pengertian Motivasi


Motivasi merupakan keinginan yang muncul dalam diri karyawan
yang menimbulkan semangat atau dorongan guna mencapai tujuan.
Dalam organisasi sering terjadi kurangnya semangat dalam bekerja,
masalah yang terjadi di luar kerja yang terbawa dalam kerja, hal ini
yang membuat turunnya kinerja karyawan dalam organisasi. Motivasi
dapat menjadi semangat bagi karyawan dan dapat membantu
karyawan dalam mencapai tujuan.
Motivasi menurut DuBrin (2015) mengemukakan bahwa motivasi
kerja adalah usaha yang dikeluarkan seseorang untuk membantu orang
lain dalam mencapai tujuan dan aktivitas yang dilakukan untuk
mendorong seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan. Motivasi dapat
membantu seseorang dalam menyelesaikan masalah dalam kinerjanya,
dengan motivasi yang baik dan positif juga akan membangun sebuah
semangat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, dengan
motivasi yang positif juga dapat menularkan motivasi positif lain
kepada karyawan lainnya.
Kemudian menurut Afandi (2018 : 23) mengemukakan bahwa
motivasi adalah keinginan yang timbul dari dalam diri seseorang atau
individu karena terinspirasi, memiliki semangat, dan mempunyai
dorongan untuk melakukan aktivitas dengan keikhlasan, senang hati,
dan sungguh-sungguh sehingga hasil dari kinerja yang dia lakukan
mendapat hasil yang baik dan berkualitas.
Penelitian terdahulu menurut Desak, I Wayan, Ni Nyoman (2016)
mengemukakan bahwa motivasi merupakan hal yang sangat penting
karena dengan tingginya motivasi yang dimiliki seseorang maka akan
dapat menimbulkan semangat kerja yang tinggi, hal ini akan
mempengaruhi tingkat kinerja seorang karyawan.

Faktor attitude


Dalam karyawan pasti memiliki attitude di dalam diri
mereka, attitude memiliki aktor yang mengakibatkan
karyawan memiliki sifat tersebut, menurut Azwar (2016:30)
mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi attitude:

  1. Pengalaman pribadi
    Pengalaman pribadi dari diri seseorang akan mempengaruhi
    sikap yang akan di berikan kepada orang lain, attitude akan
    lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut
    terjadi dalam situasi yang melibatkan emosional.
  2. Pengaruh orang lain
    Pengaruh dari orang lain biasanya terjadi karena seseorang
    cenderung memiliki sikap yang konformis atau searah
    dengan sikap orang lain yang mengakibatkan seseorang
    memiliki motivasi yang berguna untuk keinginan dari
    menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting
  3. Pengaruh budaya
    Budaya dapat mempengaruhi sikap seseorang dalam
    menghadapi berbagai masalah, kebudayaan dapat
    memberikan corak pengalaman individu dari satu orang ke
    orang lain yang dapat mempengaruhi attitude seseorang
  4. Faktor emosional
    Dalam bentuk attitude merupakan pernyataan yang disadari
    oleh emosi yang berguna untuk penyaluran frustasi atau
    pengalihan bentuk dalam mempertahankan ego.
    Menurut Jalauddin Rakhmat (2015:39) mengemukakan
    bahwa ada beberapa hal yang bisa disimpulkan dari sikap:
  5. Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak
  6. Sikap memiliki persepsi
  7. Sifat merukpakan tindakan berpikir dan merasa dalam
    menghadapi objek, ide, situasi atau nilai

Indikator Attitude


Attitude tidak lepas dari kehidupan sehari-hari terutama
dalam bekerja, dari attitude ini membantu karyawan untuk
menerapkan pemikirannya melalui tindakannya, menurut
Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge (2015:43)
mengemukakan bahwa ada 3 indikator dalam attitude:

  1. Sikap diri sendiri
    Sikap ini yang selalu ada dalam diri karyawan di mana
    karyawan memiliki pandangan atas diri sendiri mengenai
    pandangan positif dan negatif terhadap diri sendiri.
  2. Sikap pemimpin
    Sikap pemimpin harus ada dalam diri karyawan, karena sikap
    ini dapat menjadi contoh untuk karyawan, pemimpin yang
    baik akan memiliki etika yang baik dan dapat menopang
    orang lain menjadi pribadi yang lebih baik.
  3. Sikap rekan kerja
    Sikap ini yang akan membantu karyawan untuk tetap
    kompak dan mampu meningkatkan kualitas kerja secara baik
    dan optimal. Sikap rekan kerja yang baik terbentuk dari
    komunikasi yang baik antar sesama rekan kerja.
    Menurut Sukma dan Ilham (2019) mengemukakan bahwa
    attitude akan berfokus kepada bagaimana seseorang merasakan
    atas pekerjaan, kelompok kerja, penyedia dan organisasi, maka
    dari itu ada 2 indikator attitude yaitu:
  4. Perasaan atas pekerjaan
    Perasaan atas pekerjaan di mana karyawan memiliki
    perasaan tanggung jawab atau pekerjaan yang telah
    diberikan.
  5. Perasaan atas kelompok pekerjaan dan perusahaan
    Perasaan atas kelompok ketika karyawan memiliki tanggung
    jawab untuk menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama
    dengan rekan lainnya.

Fungsi Attitude


Dalam bekerja tidak lepas dari yang namanya sikap, menurut
Suryati (2015) mengemukakan bahwa dalam melakukan sesuatu kerap
kali seorang kwaaryawan harus menerapkan motivasi dalam diri
karyawan, dari motivasi tersebut akan diteliti dan menemukan bahwa
kebutuhan apa yang terpenuhi bila sikap dalam karyawan itu
dipertahankan. Hal ini ada 5 fungsi dasar sikap:

  1. Fungsi penyesuaian
    Yaitu sikap yang menggambarkan penyesuaian diri dari
    keadaan keinginan atau tujuan yang ingin diwujudkan
  2. Fungsi pembela ego
    Yaitu sikap yang ditunjukkan untuk melindungi diri dari
    kecemasan dan harga dirinya
  3. Fungsi ekspresi nilai
    Yaitu sikap yang ditunjukkan untuk menilai karyawan dari
    aspek individu yang bersangkutan
  4. Fungsi pengetahuan
    Pengetahuan digunakan untuk mengetahui seberapa besar
    karyawan ingin tahu, ingin mengerti dan ingin memiliki
    banyak pengalaman dan pengetahuan yang digunakan untuk
    mewujudkan keinginannya di kehidupan sehari-hari.
  5. Fungsi penyesuaian emosi
    Yaitu sikap yang diambil untuk bentuk beradaptasi dengan
    lingkungannya secara baik dan tidak adanya timbul
    kebencian satu dengan yang lainnya.
    Menurut Rahman dikutip dari Ellita dan Firna (2020)
    mengemukakan bahwa ada manfaat fungsi sikap:
  6. Sikap memiliki fungsi instrumental dan dapat
    disesuaikan atau berfungsi pula memberikan
    pelayanan
  7. Dikap dapat berfungsi sebagai penahan diri atau fungsi
    mengadaptasi dunia luar
  8. Sikap berfungsi sebagai penerima objek dan ilmu dan
    dapat memberikan sebuah arti
  9. Sikap dapat menunjukkan nilai ekspresif dari dalam
    diri seseorang dan dapat menjawab suatu situasi

Pengertian Attitude


Attitude adalah Sikap yang sudah terbentuk lama dapat menentukan
apakah seorang karyawan dapat masuk bekerja dalam perusahaan
tersebut. Dalam sumber daya manusia setiap orang memiliki sikap
dalam diri sendiri. Sikap yang sudah terbentuk lama dapat menentukan
apakah seorang karyawan dapat masuk bekerja dalam perusahaan
tersebut, attitude yang baik akan membangun kinerja yang baik juga
dan akan berpengaruh terhadap kinerja karyawan lainnya juga.
Attitude Menurut Robbins (2015:43) mengemukakan bahwa attitude
adalah pernyataan evaluatif baik menyenangkan atau tidak
menyenangkan mengenai objek, orang atau peristiwa.
Menurut Schiffman (2017:83) mengemukakan bahwa attitude atau
sikap dalam kecenderungan yang dipelajari untuk berperilaku dengan
cara yang terus menerus menyenangkan atau tidak menyenangkan
terhadap sesuatu objek tertentu.
Penelitian terdahulu menurut Ninin dan Pritania (2017)
mengemukakan bahwa attitude mempengaruhi kinerja karyawan di
mana karyawan memiliki sikap yang baik terhadap rekan kerja, atasan
maupun bawahan akan menciptakan lingkungan yang nyaman dan
hubungan yang baik di perusahaan, yang akan mempengaruhi dan
berdampak kepada kinerja karyawan yang akan meningkat pula

Indikator Loyalitas


Dalam bekerja tak lepas dari loyalitas, loyalitas dapat membuat
karyawan memiliki semangat untuk bekerja, Indikator loyalitas
Menurut Saydan dikutip dalam Riyanti (2015:7) mengemukakan bahwa
ada beberapa faktor dalam indikator loyalitas:

  1. Ketaatan atau kepatuhan
    Ketaatan dan kepatuhan yaitu seorang pegawai untuk selalu
    menaati peraturan yang berlaku dan menaati perintah dari atasan
    yang berwenang, serta tidak melanggar peraturan tersebut
    Adapun ciri-cirinya:
    a. Menaati peraturan perundang-undangan yang telah
    ditentukan
    b. Menaati perintah yang diberikan atasan atau yang
    berwenang
    c. Selalu menaati jam kerja yang telah ditentukan
  2. Tanggung jawab
    Tanggung jawab yaitu karyawan dapat menyelesaikan
    pekerjaan yang diberikan dengan baik, tepat pada waktunya,
    serta berani mengambil risiko untuk keputusan yang telah
    dibuat dan tindakan yang telah dilakukan. Adapun ciri-cirinya:
    a. Dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu
    b. Menyimpan dan memelihara barang-barang kantor
    dengan baik
    c. Tidak melemparkan kesalahan sendiri kepada orang lain
  3. Pengabdian
    Pengabdian yaitu sumbangan pemikiran ide dan kreativitas dan
    tenaga secara ikhlas
  4. Kejujuran
    Kejujuran yaitu keselarasan antara yang dikatakan dengan
    perbuatan itu sama. Adapun ciri-cirinya:
    a. Melakukan tugas dengan ikhlas
    b. Tidak menyalahgunakan wewenang yang ada
    c. Melaporkan hasil pekerjaan kepada atasannya.
    Menurut Sangadji dan Sopiah (2017:115) mengemukakan bahwa
    untuk mengukur loyalitas diperlukan beberapa atribut, yaitu:
  5. Mengatakan hal-hal yang positif tentang perusahaan kepada
    kerang lain
  6. Memberi rekomendasi perusahaan kepada orang lain yang
    meminta saran
  7. Mempertimbangkan bahwa perusahaan yang dipilih adalah
    merupakan pilihan utama
  8. Melakukan banyak kegiatan yang menyangkut perusahaan
    dalam beberapa tahun mendatang

Faktor yang mempengaruhi loyalitas


Perusahaan selalu memberikan yang terbaik untuk karyawannya
agar tetap nyaman dan tetap setia terhadap perusahaan, maka dari itu
perusahaan memerlukan strategi untuk membuat karyawan tetap loyal
kepada perusahaan, Menurut Murali, Poddar dan Seema (2017)
mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi
loyalitas:

  1. Faktor rasional
    Faktor rasional sering dikaitkan dengan hal-hal yang bisa
    dijelaskan secara logis, contoh: bonus, gaji, fasilitas-fasilitas
    yang di berikan oleh perusahaan karyawan
  2. Faktor emosional
    Faktor emosional sering dikaitkan dengan perasaan atau
    ekspresi diri seperti pekerjaan yang menantang, lingkungan
    kerja yang mendukung satu sama lain, perasaan aman karena
    perusahaan merupakan tempat pekerja berjangka panjang,
    pemimpin yang memiliki kharisma, pekerjaan yang
    membanggakan, dan mendapatkan penghargaan-penghargaan
    yang diberikan oleh perusahaan dan budaya bekerja
  3. Faktor kepribadian
    Faktor kepribadian berkaitan dengan sifat, karakter,
    temperamen yang dimiliki oleh karyawan.
    Menurut Kotler dan Keller dalam jurnal Chintya Damayanti dan
    Wahyono (2015:240) mengemukakan bahwa ada 3 indikator
    Loyalitas karyawan:
  4. Adanya kesetiaan
  5. Ketahanan terhadap pengaruh yang negatif mengenai
    perusahaan
  6. Merefrensikan secara total esistensi perusahaan

Pengertian loyalitas


Loyalitas merupakan sikap dan tindakan karyawan yang bekerja
tanpa paksaan. Dalam organisasi sifat loyalitas sangat berpengaruh
terhadap kinerja karyawan, dengan loyal kepada organisasi dan perusahaan
akan dapat membantu perusahaan untuk mencapai tujuan bersama. Dalam
kehidupan bekerja tak lepas dari yang namanya kesetiaan karyawan
terhadap perusahaan, di mana karyawan akan menyerahkan seluruh
kehidupannya termasuk mengesampingkan kehidupan pribadi terhadap
perusahaan, hal ini yang menjadi salah satu hal penting dalam perusahaan
untuk mencapai tujuan bersama dengan karyawan yang sangat loyal dan
setia terhadap perusahaan.
Menurut Saydam dikutip dari Riyanti (2015:6) mengemukakan
bahwa loyalitas kerja adalah tekat, ketaatan dalam menaati dan
melaksanakan peraturan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab,
tekat dibuktikan dengan tingkah laku dan sikap sehari-hari dalam
melaksanakan tugas yang diberikan, dengan ini dapat disimpulkan bahwa
loyalitas karyawan muncul karena adanya tekat untuk menyelesaikan tugas
dan mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap tugas yang diberikan
yang mengakibatkan karyawan memiliki rasa setia kepada perusahaan.
Menurut Robbins dan Judge (2016:47) mengemukakan bahwa
“seorang pekerja mengidentifikasi sebuah organisasi, tujuan serta
harapannya untuk tetap menjadi anggota.” Dari kutipan di atas dapat
disimpulkan bahwa loyalitas dapat tercipta karena karyawan memiliki
tujuan yang sama dengan organisasi tersebut yang membuat karyawan itu
memiliki kesetiaan.
Menurut penelitian terdahulu oleh Allen ayu dan Mohammad Igbal
(2018) mengemukakan bahwa loyalitas karyawan akan lebih efektif
apabila seorang manajer memiliki kualitas hubungan yang baik dengan
karyawan, hubungan yang dekat antara manajer dengan karyawan dapat
membantu karyawan termotivasi dalam bekerja untuk mencapai hasil yang
maksimal, sehingga karyawan merasa royal terhadap perusahaan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lingkungan kerja


Berikut ini beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya lingkungan
kerja dikaitkan dengan kemampuan manusia/pegawai, diantaranya menurut
Anwar Prabu Mangkunegara (2013:105) faktor yang mempengaruhi pembentukan
perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja, dapat dikelompokan
menjadi tiga macam yaitu lingkungan kerja yang menyangkut :
a. Kondisi fisik kerja, yang mencakup penerangan, suhu udara, suara kebisingan,
penggunaan warna, musik, kelembaban dan ruang gerak yang diperlukan.
b. Kondisi psikologis kerja, misalnya stres kerja, bosan kerja dan letih kerja.
c. Kondisi temporer kerja, yang dimaksud adalah peraturan lama kerja, waktu
istirahat kerja dan shif kerja

Indikator Lingkungan kerja


Indikator-indikator lingkungan kerja oleh Nitisemito (2012,159) yaitu sebagai
berikut:

  1. Suasana kerja
    Suasana kerja adalah kondisi yang ada disekitar karyawan yang sedang
    melakukan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu
    sendiri. Suasana kerja ini akan meliputi tempat kerja, fasilitas dan alat bantu
    pekerjaan, kebersihan, pencahayaan, ketenangan termasuk juga hubungan
    kerja antara orang- orang yang ada ditempat tersebut.
  2. Hubungan dengan rekan kerja
    Hubungan dengan rekan kerja yaitu hubungan dengan rekan kerja
    harmonis dan tanpa ada saling intrik diantara sesama rekan sekerja. Salah satu
    faktor yang dapat mempengaruhi karyawan tetap tinggal dalam satu organisasi
    adalah adanya hubungan yang harmonis diantara rekan kerja. Hubungan
    yang harmonis dan kekeluargaan merupakan salah satu faktor yang dapat
    mempengaruhi kinerja karyawan.
  3. Tersedianya fasilitas kerja
    Hal ini dimaksudkan bahwa peralatan yang digunakan untuk mendukung
    kelancaran kerja lengkap/mutakhir. Tersedianya fasilitas kerja yang lengkap,
    walaupun tidak baru merupakan salah satu penunjang proses dalam
    bekerja.
    Sedangkan menurut Sedarmayanti (2009:28) indikator-indikator lingkungan
    kerja yaitu sebagai berikut:
  4. Penerangan/cahaya di tempat kerja
    Cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi pegawai
    guna mendapat keselamatan dan kelancaran kerja, oleh sebab itu perlu
    diperhatikan adanya penerangan (cahaya) yang terang tetapi tidak
    menyilaukan. Cahaya yang kurang jelas (kurang cukup) mengakibatkan
    penglihatan menjadi kurang jelas, sehingga pekerjaan akan lambat, banyak
    mengalami kesalahan, dan pada akhirnya menyebabkan kurang efisien dalam
    melaksanakan pekerjaan, sehingga tujuan organisasi sulit tercapai.
  5. Sirkulasi udara ditempat kerja
    Oksigen merupakan gas yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk menjaga
    kelangsungan hidup, yaitu untuk proses metabolisme. Udara di sekitar
    dikatakan kotor apabila kadar oksigen dalam udara tersebut telah
    berkurang dan telah bercampur dengan gas atau bau-bauan yang berbahaya
    bagi kesehatan tubuh. Sumber utama adanya udara segar adalah adanya
    tanaman disekitar tempat kerja. Tanaman merupakan penghasil oksigen
    yang dibutuhkan oleh manusia.
  6. Kebisingan di tempat kerja
    Salah satu polusi yang cukup menyibukkan para pakar untuk mengatasinya
    adalah kebisingan, yaitu bunyi yang tidak dikehendaki oleh telinga.
    Tidak dikehendaki, karena terutama dalam jangka panjang bunyi tersebut
    dapat mengganggu ketenangan bekerja, merusak pendengaran, dan
    menimbulkan kesalahan komunikasi, bahkan menurut penelitian, kebisingan
    yang serius dapat menyebabkan kematian.
  7. Bau tidak sedap di tempat kerja
    Adanya bau-bauan di sekitar tempat kerja dapat dianggap sebagai
    pencemaran, karena dapat mengganggu konsentrasi bekerja, dan bau-
    bauan yang terjadi terus-menerus dapat mempengaruhi kepekaan penciuman.
    Pemakaian “air condition” yang tepat merupakan salah satu cara yang dapat
    digunakan untuk menghilangkan bau- bauan yang mengganggu disekitar
    tempat kerja.
  8. Keamanan di tempat kerja
    Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam keadaan aman
    maka perlu diperhatikan adanya keamanan dalam bekerja. Oleh karena itu
    faktor keamanan perlu diwujudkan keberadaannya. Salah satu upaya untuk
    menjaga keamanan ditempat kerja, dapat memanfaatkan tenaga Satuan
    Petugas Pengaman (Satpam).

Pengertian Lingkungan Kerja


Kondisi karyawan akan lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan mereka
apabila lingkungan kerja mendukung (seperti bersih,lingkungan menarik), tetapi
jika lingkungan kerja tidak mendukung (seperti panas,lingkungan rebut,tidak
nyaman) pegawai akan sukar untuk melaksanakan tugasnya.
Disamping itu, salah satu faktor pendukung utama personalia dalam
melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan nyaman yaitu melalui
perbaikan lingkungan kerja. Seperti yang diungkapkan sedarmayanti (2014:22)
bahwa: “manusia akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga
dicapai suatu hasil yang optimal, apabila ditunjang suatu lingkungan kerja yang
sesuai. Lingkungan kerja dikatakan naik atau sesuai apabila manusia dapat
melaksanakan kegiatannya secara optimal, sehat, aman dan nyaman”. Pengertian
lingkungan kerja menurut Anwar Prabu Mangkunegara (2013:105) adalah “semua
aspek fisik kerja, psikologis kerja dan peraturan kerja yang dapat mempengaruhi
kepuasan kerja dan pencapaian produktivitas kerja”.
Sedangkan menurut Agus Darma (2014:105) “lingkungan kerja adalah semua
faktor lingkungan dimana pekerjaan berlangsung”. Lingkungan kerja merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi motivasi karyawan, dengan motivasi
yang tinggi maka kinerja suatu perusahaan dapat meningkat bahkan produktivitas
pun akan meningkat sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
Lingkungan kerja menurut Sedarmayanti (2014:21) “semua keadaan yang terdapat
disekitar tempat kerja yang akan mempengaruhi pegawai baik secara langsung
dan tidak langsung terhadap pekerjaannya”. Menurut Komaruddin (2013:75)
lingkungan kerja adalah suasana yang berhubungan dengan lingkungan tempat
bertugas

Indikator Loyalitas


Indikator loyalitas yang terdapat pada individu dikemukakan oleh Siswanto
(2015:65), antara lain:
a. Taat pada peraturan.
Setiap kebijakan yang diterapkan dalam perusahaan untuk memperlancar dan
mengatur jalannya pelaksanaan tugas oleh manajemen perusahaan ditaati dan
dilaksanakan dengan baik. Keadaan ini akan menimbulkan kedisiplinan yang
menguntungkan organisasi baik internal maupun eksternal.
b. Tanggung jawab pada perusahaan.
Karakteristik pekerjaan dan pelaksanaan tugasnya mempunyai konsekuensi
yang dibebankan karyawan. Kesanggupan karyawan untuk melaksanakan
tugas sebaik-baiknya dan kesadaran akan setiap risiko pelaksanaan tugasnya
akan memberikan pengertian tentang keberanian dan kesadaran bertanggung
jawab terhadap risiko atas apa yang telah dilaksanakan.
c. Kemauan untuk bekerja sama.
Bekerja sama dengan orang-orang dalam suatu kelompok akan
memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin
dicapai oleh orang-orang secara invidual.
d. Rasa memiliki
Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat
karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab terhadap
perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas demi
tercapainya tujuan perusahaan.
e. Hubungan antar pribadi
Karyawan yang mempunyai loyalitas tinggi mereka akan mempunyai sikap
fleksibel ke arah tata hubungan antara pribadi. Hubungan antara pribadi ini
meliputi: hubungan sosial diantara karyawan, hubungan yang harmonis antara
atasan dan karyawan, situasi kerja dan sugesti dari teman kerja

Dimensi Loyalitas Karyawan


Menurut penelitian Wan (2012:2), Loyalitas dibagi kedalam dua dimensi, yaitu:

  1. Loyalitas sebagai sikap / atttitude
    Karyawan di dalam suatu perusahaan merasa puas terhadap perusahaannya.
  2. Loyalitas sebagai perilaku / behavior
    Karyawan dalam sebuah organisasi akan terus bekerja di dalam organisasi
    tersebut, dan akan memberikan arah kepada organisasinya.
    Adiwibowo (2012:51) menyatakan ada empat keadaan kemungkinan loyalitas:
    a. Loyalitas rendah (sikap rendah dan perilaku rendah)
    b. Loyalitas laten (sikap tinggi dan perilaku tinggi)
    c. Loyalitas superioer (sikap rendah dan perilaku tinggi)
    d. Loyalitas sesungguhnya (sikap tinggi dan perilaku tinggi)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas


Selanjutnya Steers dan Porter dalam Kusumo, (2010:75) menyatakan bahwa
timbulnya loyalitas dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu:
a. Karakteristik pribadi. Meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras dan beberapa sifat kepribadian.
b. Karakteristik pekerjaan, berupa tantangan kerja, job stress, kesempatan
berinteraksi sosial, job enrichment, identifikasi tugas, umpan balik tugas dan
kecocokan tugas.
c. Karakteristik desain perusahaan, menyangkut pada internal perusahaan itu
yang dapat dilihat dari desentralisasi, tingkat formalisasi, tingkat keikutsertaan
dalam pengambilan keputusan, paling tidak telah menunjukkan berbagai
tingkat asosiasi dengan tanggung jawab perusahaan, ketergantungan
fungsional maupun fungsi kontrol perusahaan.
d. Pengalaman yang diperoleh dalam pekerjaan, meliputi sikap positif terhadap
perusahaan, rasa percaya pada sikap positif terhadap perusahaan, rasa aman.
Berdasarkan faktor-faktor yang telah diungkap di atas dapat dilihat bahwa
masing-masing faktor mempunyai dampak tersendiri bagi kelangsungan hidup
perusahaan, sehingga tuntutan loyalitas yang diharapkan oleh perusahaan baru
dapat terpenuhi apabila karyawan memiliki karakteristik seperti yang diharapkan
dan perusahaan sendiri telah mampu memenuhi harapan-harapan karyawan,
sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi loyalitas tersebut
meliputi : adanya fasilitas-fasilitas kerja, tunjangan kesejahteraan, lingkungan
kerja upah yang diterima, karakteristik pribadi individu atau karyawan,
karakteristik pekerjaan, karakteristik disain perusahaan dan pengalaman yang
diperoleh selama karyawan menekuni pekerjaan itu

Alasan Dasar Loyalitas


Simamora (2013:132-134), loyalitas memiliki tiga alasan dasar, yaitu faktor
rasional, faktor emosional, faktor spiritual.

  1. Faktor rasional menyangkut hal-hal yang bisa dijelaskan secara logis, seperti:
    1) Kompensasi
    2) Bonus
    3) Jenjang karier
    4) Fasilitas-fasilitas yang diberikan perusahaan
  2. Faktor emosional menyangkut perasaan atas ekspresi diri, seperti:
    1) Pekerjaan yang menantang
    2) Lingkungan kerja yang mendukung
    3) Perasaan aman karena perusahaan merupakan tempat bekerja dalam
    jangka panjang
    4) Pemimpin yang berkharisma
    5) Pekerjaan yang membanggakan
    6) Penghargaan-penghargaan yang diberikan perusahaan
    7) Budaya kerja
  3. Faktor spiritual menyangkut hubungan yang berdasarkan kepercayaan, seperti:
    1) Kepuasan rohani
    2) Pekerjaan yang bersifat rohani
    3) Pemimpin yang religius
    4) Kesempatan untuk melakukan kegiatan rohan

Pengertian Loyalitas


Loyalitas karyawan menurut Walker dalam Pandey dan Khare (2012:28), adalah
karyawan yang puas akan menjadi loyal ketika mereka melihat organisasi mereka
sebagai menawarkan peluang untuk belajar, tumbuh, dan pada saat yang sama
menyediakan jalur karir yang sudah jelas bahwa mereka dapat mengejar dalam
organisasi.
Menurut Siswanto (2012:28), pengertian loyalitas karyawan adalah biasanya
identik dengan komitmen kepada organisasi kadang-kadang dipandang sebagai
sikap. Namun, tidak begitu banyak sikap (atau komponen pemikiran) yang
penting dalam organisasi, melainkan itu adalah komponen tindakan bottom-line.
Menurut Mowday, Porter dan Steers dalam Pandey dan Khare (2012:29), loyalitas
karyawan adalah manifestasi dari komitmen organissi, dengan identifikasi
kekuatan relatif dari tiap individu dan keterlibatan dalam organisasi tertentu.
Menurut Court, Gwinner dan Meuter dalam Pandey dan Khare (2012:27),
loyalitas karyawan adalah perilaku karyawan yang mencerminkan kesetiaan
kepada organisasi untuk mempromosikan kepentingan dan gambar keluar.
Menurut Wan (2012:2), loyalitas karyawan adalah sebagai lampiran psikologis
atau komitmen terhadap organisasi dan terjadi sebagai akibat dari meningkatnya
kepuasan yang berasal dari hasil proses evaluasi internal, dan jika tingkat harapan
karyawan yang memenuhi atau melampaui maka kepuasan akan tumbuh. Dalam
melaksanakan kegiatan kerja karyawan tidak akan terlepas dari loyalitas dan sikap
kerja, sehingga dengan demikian karyawan tersebut akan selalu melaksanakan
pekerjaan dengan baik. Karyawan merasakan adanya kesenangan yang mendalam
terhadap pekerjaan yang dilakukan (Soegandhi dan Sutanto et al, 2013:45)

Faktor-faktor yang Memengaruhi Loyalitas


Steers dan poter dalam Widodo & Subiyantoro (2018) mengemukakan
faktor-faktor yang memengaruhi loyalitas karyawan antara lain:

  1. Karakteristik Pribadi
    Loyalitas karyawan dapat ditentukan berdasarkan umur, lamanya bekerja,
    serta tujuan utama karyawan tersebut dalam bekerja. Maka dari itu semakin lama
    karyawan tersebut bekerja dalam sebuah perusahan maka semakin tinggi pula
    tingkat loyalitas karyawan tersebut terhadap perusahaan, namun terdapat beberapa
    hal yang dapat memengaruhi tingkat loyalitas karyawan misalnya tingkat
    pendidikan, semakin tinggi pendidikan karyawan maka mereka mencari pekerjaan
    yang sesuai dengan pendidikannya dan cenderung berpindah tempat kerja.
  2. Karakteristik Pekerjaan
    Hal lain yang berkaitan dengan karakteristik kerja adalah stress dan beban
    kerja, tantangan kerja, kesempatan dan kemampuan berinteraksi, feedback tugas,
    penggolongan tugas, serta kecocokan pekerjaan dengan karyawan.
  3. Pengalaman yang telah di dapatkan di perusahaan
    Berkaitan dengan perilaku baik yang dilakukan karyawan terhadap
    perusahaan seperti pemenuhan pekerjaan dengan baik, adanya rasa aman, dan
    adanya rasa puas yang timbul dalam mengerjakan pekerjaan di perusahaan.
  4. Karakteristik Desain perusahaan
    Dilihat dari formalitas perusahaan, tingkat ke ikut sertaan karyawan dalam
    mengambil keputusan, hal ini menunjukkan asosiasi dalam bekerja.
    Selain itu Steers & Porter dalam Widodo & Subiyantoro (2018)
    menyebutkan loyalitas kerja tumbuh berdasarkan faktor-faktor karakteristik
    individunya seperti: usia, jenis kerja, seberapa lama dia bekerja, tingkat pendidikan,
    ras, dan sifat kepribadiannya, keadaan pekerjaannya seperti tantangan kerja, stres
    dan beban kerja, serta interaksi sosial.

Dimensi dan Indikator-indikator Loyalitas


Menurut Siswanto dalam Sondak et al (2019), dimensi loyalitas karyawan
dibagi ke dalam beberapa poin utama seperti:

  1. Tanggung jawab terhadap perusahaan.
    Dalam hal ini perusahaan memiliki pengaruh yang besar terhadap
    pekerjaan yang diberikan karena dalam hal ini dinilai dengan sejauh mana
    karyawan dapat memenuhi tanggung jawab kerjanya. Selain itu, kesadaran
    terhadap apa yang dilakukann dengan bertanggung jawab atas risiko dari
    pekerjaan yang dilakukannya.
  2. Taat terhadap peraturan.
    Menaati setiap peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan dengan
    memahami bahwa kebijakan yang dibuat untuk memudahkan mencapai tujuan
    perusahaan untuk dilaksanakan dengan baik oleh karyawan perusahaan. Dengan
    cara ini maka akan menimbulkan rasa disiplin kerja oleh karyawan yang
    berpengaruh terhadap keteraturannya pekerjaan serta tujuan perusahaan.
  3. Rasa memiliki.
    Adanya rasa memiliki setiap karyawan terhadap perusahaan dimana
    tempat ia bekerja. Hal ini bisa menimbulkan sikap taat berhati-hati dan
    tanggung jawab terhadap perusahaan sehingga akhirnya menumbuhkan rasa
    loyalitas terhadap perusahaan.
  4. Kemauan untuk bekerjasama.
    Jika ada kemauan untuk bekerjasama satu sama lain hal ini akan
    memicu kerja secara berkelompok yang akan menghasilkan pekerjaan yang
    lebih baik dan belum pernah dicapai sebelumnya apabila karyawan bekerja
    secara masing-masing.
  5. Hubungan pribadi satu sama lain.
    Karyawan yang memiliki loyalitas yang tinggi akan memiliki fleksibilitas
    dalam bekerja dengan orang banyak. Pola hubungan pribadi ini diantaranya adalah
    hubungan sosial yang baik, keharmonisan dalam lingkungan kerja, situasi kerja
    dengan sugesti rekan kerja dalam tim

Loyalitas Karyawan


Loyalitas bukan hanya sebatas kesetiaan, tetapi juga rasa menjadi bagian
dari sebuah organisasi sehingga karyawan tersebut dapat mengoptimalkan kerjanya.
Kemudian loyalitas juga dapat diartikan sebagai tekad dan kesanggupan seseorang
untuk taat, melaksanakan, dan mengamalkan sesuatu dengan disertai penuh
kesadaran dan tanggung jawab (Chaerudin et al, 2020: 82).
Menurut Iskandar (2018) mengatakan bahwa loyalitas merupakan kesetiaan
seorang karyawan terhadap suatu instansi tempat ia bekerja. Meliputi kesetiaan
pada jabatan, pekerjaan dan organisasi. Seorang karyawan harus selalu setia
membela kepentingan instansi dalam kondisi apapun. Karena loyalitas terhadap
instansi dianggap memiliki nilai utama.
Hasibuan (2021: 210) kesetiaan dicerminkan dengan karyawan bersedia
untuk menjaga dan mempertahankan perusahaan baik di dalam perusahaan maupun
saat tidak bertugas dari orang-orang yang mengancam tidak bertanggung jawab
terhadap perusahaan

Faktor-faktor yang Memengaruhi Iklim Organisasi


Menurut Timpe dalam Elvera et al (2022) ada empat prinsip faktor-faktor yang
mempengaruhi iklim organisasi, yaitu:

  1. Manjemen atau pimpinan
    Setiap tindakan yang diambil oleh pimpinan atau manajer
    mempengaruhi iklim organisasi dalam beberapa hal, seperti aturan, kebijakan,
    dan prosedur organisasi terutama apabila terdapat masalah-masalah yang
    berhubungan dengan masalah personalia, distribusi imbalan, gaya komunikasi,
    cara yang digunakan untuk memotivasi, teknik-teknik dan tindakan
    pendisipilinan, interaksi antara manajemen dan kelompok, interaksi antar
    kelompok, perhatian pada permasalahan yang dimiliki karyawan
  2. Tingkah laku karyawan
    Tingkah laku karyawan mempengaruhi iklim organisasi melalui
    kepribadian mereka, terutama kebutuhan mereka dan sesuatu yang mereka
    lakukan untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Komunikasi karyawan
    memerankan bagian terpenting dalam membentuk iklim organisasi. Cara
    seseorang berkomunikasi menentukan tingkat sukses atau gagalnya hubungan
    antar anggota dalam perusahaan.
  3. Tingkah laku kelompok
    Terdapat kebutuhan tertentu pada kebanyakan orang dalam hal
    hubungan persahabatan, suatu kebutuhan yang seringkali dipuaskan oleh
    kelompok dalam organisasi. Kelompok-kelompok berkembang dalam organisai
    dengan dua acara yaitu formal, utamanya pada kelompok kerja dan informal
    sebagai kelompok persahabatan atau kesamaan minat.
  4. Faktor eksternal organisasi
    Sejumlah faktor eksternal organisasi yang mempengaruhi iklim pada
    organisasi tersebut. Keadaan ekonomi adalah faktor utama yang mempengaruhi
    iklim organisasi. Contohnya dalam perekonomian dalam inflasi yang tinggi,
    organisasi berada dalam tekanan untuk memberikan peningkatan keuntungan
    sekurang-kurangnya sama dengan tingkat inflasi. Seandainya pemerintah telah
    menetapkan aturan tentang pemberian upah dan harga yang dapat membatasi
    peningkatan keuntungan, karyawan mungkin menjadi tidak senang dan bisa
    keluar untuk mendapatkan pekerjaan pada perusahaan lain. Di lain pihak,
    ledakan ekonomi dapat mendorong penjualan dan kemungkinan setiap orang
    mendapatkan pekerjaan dan peningkatan keuntungan yang besar, sehingga
    hasilnya iklim organisasi menjadi lebih positif

Dimensi Iklim Organisasi


Iklim organisasi yang dirasakan individu secara positif (menyenangkan)
akan memberikan tampilan kerja yang baik dan efektif yang akan mempengaruhi
pada keberhasilan organisasi. Dimensi iklim organisasi adalah unsur, faktor, sifat,
atau karakteristik variabel iklim organisasi. Dimensi iklim organisasi terdiri atas
beragam jenis dan berbeda pada setiap organisasi. Menurut Lussier dalam Elvera et
al (2022) mengatakan bahwa dimensi iklim organisasi meliputi:

  1. Structure (Struktur)
    Struktur organisasi menggambarkan perasaan di organisasi secara baik dan
    mempunyai peran tugas jelas dalam lingkungan organisasi. Struktur tinggi jika
    anggota organisasi merasa pekerjaan mereka didefinisikan secara baik.
    Sedangkan dalam struktur rendah mereka merasa tidak ada kejelasan mengenai
    siapa yang melakukan tugas dan juga mempunyai kewenangan dalam
    mengambil keputusan.
  2. Responsibility (Tanggung Jawab)
    Menggambarkan perasan karyawan bahwa mereka memiliki sikap untuk
    tanggung jawab mereka sendiri. Dengan memiliki tanggung jawab yang tinggi
    membuat para karyawan terdorong untuk memecahkan permasalahannya
    sendiri. Sedangkan dengan tanggung jawab yang rendah menunjukkan bahwa
    karyawan tidak ingin untuk mengambil risiko.
  3. Reward (Penghargaan)
    Hal ini membuat para anggota organisasi merasa dihargai jika mereka
    dapat menyelesaikan tugasnnya dengan baik. Penghargaan tersebut merupakan
    sebuah tolak ukur dalam diselesaikannya tugas yang mereka selesaikan.
    Sedangkan penghargaan yang rendah membuat imbalan yang diberikan secara
    tidak konsisten.
  4. Warmth (Kehangatan)
    Dengan suasana yang baik maka akan membuat para karyawan nyaman
    saat berkerja, sebaliknya apabila suasana tidak baik atau tidak mendukung akan
    membuat karyawan tidak nyaman saat bekerja.
  5. Support (Dukungan)
    Perasaan percaya yang diberikan dengan saling mendukung dan terus
    berlangsung didalam organisasi. Dukungan yang tinggi akan membuat para
    anggota karyawan merasa bahwa mereka bagian tim yang berfungsi dengan
    baik dan merasa memperoleh bantuan dari atasannya, saat mengalami kesulitan
    dalam menjalankan tugasnya. Sedangkan jika mendapat dukungan rendah maka
    anggota organisasi akan merasa tersisihkan.
  6. Organizational Identity and Loyalty (Identitas Organisasi dan Loyalitas)
    Dalam hal ini merupakan perasaan bangga akan keberadaannya di dalam
    organisasi dan kesetiaanya terhadap organisasi selama ia bekerja. Loyalitas
    yang tinggi dalam organisasi merupakan salah satu tujuan organisasi.
    Sedangkan loyalitas yang rendah dalam organisasi membuat para karyawannya
    tidak peduli terhadap organisasi dan tujuan yang akan dituju oleh organisasi.
  7. Risk (Risiko)
    Risiko yang dihadapi yaitu saat karyawan melakukan pekerjaanya. Saat
    menjalankan pekerjaanya tentu kita tidak akan tahu apa yang terjadi hal tersebut
    merupakan salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh para karyawan

Iklim Organisasi


Iklim organisasi merupakan salah satu aspek kajian dari fungsi MSDM yaitu
salah satu dari fungsi pemeliharaan karyawan agar tujuan organisasi dapat tercapai.
Tujuan dari organisasi yang dapat tercapai bisa dilihat apabila lingkungan kerja
dapat menunjang terhadap kenyamanan karyawan itu sendiri, lingkungan kerja
tersebut menyangkut seluruh aspek sosial, baik formal maupun informal yang
dirasakan oleh para anggota organisasi, dan lingkungan tersebut secara langsung
maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pekerjaanya. Suasana lingkungan
kerja yang dirasakan oleh masing-masing individu dalam sebuah organisasi sering
disebut sebagai iklim organisasi.
Istilah iklim organisasi (organizational climate) pertama kali dipakai oleh
Kurt Lewin pada tahun 1930-an, yang menggunakan istilah psikologi
(psychological climate). Kemudian istilah iklim organisasi ini digunakan oleh R.
Tagiuri dan G. Litwin. Taiguri dalam Zamzam & Yustini (2021: 46)
mengemukakan sejumlah istilah untuk melukiskan perilaku dalam hubungan
dengan latar atau tempat (setting) dimana perilaku muncul, lingkungan
(environment), lingkungan pergaulan (milieu), budaya (culture), suasana
(atmosphere), situasi (situation), pola lapangan (field setting), pola perilaku
(behavior setting) dan kondisi (conditions).
Menurut Zamzam & Yustini (2021: 47) iklim organisasi merupakan
perasaan yang dirasakan oleh anggota organisasi tentang bagaimana kondisi saat
ada didalam lingkungan internal maupun eksternal organisasi yang berlangsung
secara terus-menerus yang menyebabkan kenyamanan dalam melakukan pekerjaan,
baik langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi pola hubungan kerja,
komunikasi kerja dan kenyamanan kerja anggota organisasi

Dimensi Karakteristik Pekerjaan


Menurut Robbins et al dalam Rahman (2022), karakteristik pekerjaan dapat
di deskripsikan dalam lima aspek pekerjaan utama, yaitu:

  1. Keanekaragaman Keterampilan (skill variety)
    Banyaknya keterampilan yang dimiliki oleh seseorang diperlukan untuk
    melakukan pekerjaan. Karena semakin banyak keterampilan yang dimiliki oleh
    seseorang, maka semakin kurang membosankan dalam melakukan pekerjaan.
    Skill variety disebut sebagai tingkat variasi kegiatan-kegiatan dan keterampilan
    yang dibutuhkan oleh seseorang dalam melakukan tugasnya.
  2. Jati diri tugas (task identity)
    Identitas pekerjaaan, merupakan tingkat kesanggupan dalam
    menyelesaikan semua tugas dengan baik. Hal itu bisa dinilai dengan kinerjanya
  3. Arti Tugas (task significance)
    Arti tugas merupakan tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai
    dampak yang berarti bagi kehidupan orang lain, baik orang itu merupakan rekan
    kerja dalam suatu perusahaan yang sama maupun orang lain dilingkungan
    sekitar.
  4. Otonomi (autonomy)
    Otonomi yaitu memberi kebebasan, ketidak tergantungan dan
    keleluasaan kepada setiap individu dalam menjadwalkan dan menentukan
    prosedur yang digunakan dalam menyelesaikan tugasnya. Otonomi juga dapat
    disebut sebagai tingkat kebebasan dalam melaksanakan pekerjaan.
  5. Umpan Balik (feedback)
    Kegiatan pekerjaan yang dituntut oleh pekerjaan itu yang menghasilkan
    informasi langsung dan jelas oleh individu mengenai keefektifan kinerjanya

Cara Meningkatkan Loyalitas Karyawan


Menurut (Agustini, 2011) upaya dalam meningkatkan loyalitas
karyawan dapat dilakukan dengan cara berikut ini:
1) Perhatian khusus kepada karyawan khusus
Ini dapat dilakukan dengan cara menaikkan posisi karyawan dan
meningkatkan gaji karyawan. Untuk memahami kemajuan karyawan,
perusahaan harus memantau karyawan, tugas ini biasanya dilakukan
oleh HRD dan harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak
sembarangan. Karyawan yang memenuhi syarat (berkualitas) harus
diberikan kompensasi positif, yang merupakan salah satunya ialah
berupa bonus. Ini akan mencegah karyawan untuk tidak berganti
pekerjaan karena semua kebutuhan didalam perusahaan sudah
terpenuhi.
2) Membangun nilai kekeluargaan
Menjalin hubungan dekat dengan karyawan. Ada kegiatan di luar
seperti piknik dengan semua anggota perusahaan. Nilai ini juga dapat
dibangun sekitar jam makan siang dengan karyawan terpilih. Tidak
perlu setiap hari, makan siang hari bisa dilakukan selama 1 bulan
sekali atau seminggu sekali. Karenanya, akan ada kedekatan antara
karyawan dan pemimpin.
3) Meningkatkan karir
Mempromosikan kinerja karyawan sangat penting karena merupakan
kebanggaan. Karyawan paling bahagia ketika mereka mengambil
posisi lebih tinggi. Ini adalah pekerjaan dalam proses di mana
penghargaan ini meningkatkan moral pekerja yang bekerja
berdasarkan aset perusahaan mereka yang berharga.
4) Analisa
Dengan menganalisis keadaan karyawan, pemimpin akan mengetahui
situasi dan tingkat kebutuhan karyawan. Setiap karyawan memiliki
tingkat kebutuhan yang berbeda. Tingkat kebutuhan karyawan berusia
22-25 Tahun berbeda dengan karyawan 30-35 Tahun, di mana mereka
telah lulus dari perguruan tinggi dan belum menikah,.
5) Membina hubungan kerja
Ada keterbukaan dalam hubungan kerja, pemahaman tentang
pemimpin dan karyawan, perlakuan yang superior bagi bawahan
dengan tidak memperlakukan bawahan sebagai pesuruh, tetapi sebagai
teman, pemimpin juga harus mencoba menyelami kepribadian
karyawan sebagai sebuah keluarga.
6) Menciptakan lingkungan kerja nyaman
Misalnya, mengurus kebutuhan spiritual, memperhatikan keselamatan
karyawan untuk melihat ke masa depan, dan menyediakan fasilitas
yang menghibur

Indikator Loyalitas Karyawan


Berikut adalah 3 indikator untuk mengukur loyalitas karyawan
perusahaan menurut (Soegandhi, 2013):
1) Keberadaan karyawan
Indikator:
a) lamanya masa kerja karyawan diperusahaan.
b) ingin menghabiskan karirnya di perusahaan dan merasa berat
untuk meninggalkan perusahaan.
2) Keterlibatan karyawan
Indikator:
a) Karyawan selalu berusaha untuk menjaga citra Perusahaan.
b) karyawan berusaha untuk mendapatkan hasil terbaik dari
pekerjaan mereka demi kemajuan perusahaan.
c) karyawan juga menyarankan atasan mereka untuk meningkatkan
divisi mereka.
3) Kebanggaan karyawan
Indikator:
a) Karyawan suka berbagi cerita pekerjaan mereka dengan orang
lain,
b) karyawan menggambarkan perusahaan sebagai perusahaan yang
ideal,
c) Selain itu, karyawan percaya bahwa bekerja di perusahaan adalah
pilihan terbaik dalam hidup mereka.
Sedangkan menurut (Siswanto, 2010) indikator loyalitas karyawan
ialah sebagai berikut:
1) Ketaatan pada peraturan,
2) Tanggung jawab pada perusahaan,
3) Kemauan untuk bekerja sama,
4) Rasa memiliki,
5) Hubungan antar pribadi, dan
6) Kesukaan terhadap pekerjaan

Faktor Yang Mempengaruhi Loyalitas Karyawan


Menurut (Soegandhi, 2013) faktor – faktor yang mempengaruhi
loyalitas karyawan ialah:
1) Adanya fasilitas-fasilitas kerja,
2) Tunjangan kesejahteraan,
3) Suasana kerja,
4) Upah yang diterima,
5) Kedisiplinan karyawan,
6) Karakteristik pribadi individu atau karyawan,
7) Karakteristik pekerjaan,
8) Karakteristik desain organisasi dan
9) Pengalaman yang diperoleh selama karyawan menekuni pekerjaan itu.
Sedangkan menurut (Agustini, 2011) faktor – faktor yang
mempengaruhi loyalitas sebagai berikut:
1) Karakteristik diri para karyawan;
Mencakup usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat pendidikan,
prestasi, cita rasa dan kepribadian.
2) Karakteristik pekerjaan;
Mencakup tantangan pekerjaan, pengayaan pekerjaan, identifikasi
pekerjaan, umpan balik dan kesesuaian tugas.
3) Karakteristik kebijakan perusahaan;
Misalnya peluang pengembangan karir, promosi pekerjaan untuk
setiap karyawan.
4) Karakteristik lingkungan perusahaan.
Lingkungan perusahaan yang disebutkan di sini adalah lingkungan
fisik dan non-fisik perusahaan.

  • Lingkungan fisik (penerangan, kenyamanan bekerja, kebersihan)
  • Lingkungan non-fisik (perhatian dari atasan, hubungan antar rekan
    kerja)

Aspek – Aspek Loyalitas Karyawan


Aspek loyalitas ini terkait dengan sikap karyawan, sehingga
membentuk etos kerja dan loyalitas karyawan di perusahaan, berikut ini
adalah aspek loyalitas karyawan menurut (Agustini, 2011):
1) Adanya motivasi atau didorong karyawan untuk tetap menjadi
anggota organisasi. Aspek ini dipengaruhi oleh bagaimana keadaan
dari masing – masing individu, misalnya pemenuhan kebutuhan,
tujuan maupun kesesuaian individu dalam organisasi.
2) Adanya keinginan yang kuat dari dalam diri karyawan untuk berusaha
semaksimal mungkin demi memajukan perusahaan. Hal ini dapat
dicapai apabila adanya kesamaan persepsi dan tujuan dari masing –
masing individu dengan organisasi.
3) Ada kepercayaan penuh dan penerimaan terhadap nilai perusahaan.
Kepercayaan yang dipercayakan oleh karyawan kepada perusahaan
tidak terlepas dari kepercayaan perusahaan kepada karyawan dalam
hal pekerjaan mereka

Loyalitas Karyawan


Menurut (Hasibuan M. S., 2013) Loyalitas atau kesetiaan adalah
salah satu elemen yang digunakan dalam mengevaluasi karyawan,
termasuk kesetiaan pada pekerjaan, posisi, dan organisasi mereka.
Sedangkan menurut (Valentino & Haryadi, 2016) Loyalitas karyawan
adalah kesetiaan karyawan kepada perusahaan, sebagaimana ditunjukkan
oleh komitmen mereka terhadap yang terbaik bagi perusahaan. Hal ini
sejalan dengan (Siagian, 2012) Loyalitas karyawan merupakan suatu
kecenderungan karyawan untuk tidak pindah ke perusahaan lain

Indikator Produktivitas Kerja


Produktivitas merupakan hal yang sangat penting bagi para karyawan yang
ada di perusahaan. Dengan adanya produktivitas kerja diharapkan pekerjaan akan
terlaksana secara efisien dan efektif, sehingga ini semua akhirnya sangat
diperlukan dalam pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan. Untuk mengukur
produktivitas kerja, diperlukan suatu indikator sebagai beriku: a. Kemampuan
Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugas. Kemampuan seorang
karyawan sangat bergantung pada keterampilan yang dimiliki serta
profesionalisme mereka dalam bekerja. Ini memberikan daya untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang diemban kepada mereka. b. Meningkatkan hasil
yang dicapai Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil merupakan
salah satu yang dapat dirasakan baik oleh yang mengerjakan maupun yang
menikmati hasil pekerjaan tersebut. Jadi, upaya untuk memanfaatkan
produktivitas kerja bagi masing-masing yang terlibat dalam suatu pekerjaan. c.
Semangat kerja Ini merupakan usaha untuk lebih baik dari hari kemarin. Indikator
ini dapat dilihat dari etos kerja dan hasil yang dicapai dalam satu hari kemudian
dibandingkan dengan hari sebelumnya
Menurut Sedarmayanti (2018:211), diperlukan suatu indikator untuk
mengukur produktivitas kerja, antara lain:

  1. Kemampuan.
    Mempunyai kemampuan untuk melaksanakan tugas.
  2. Meningkatkan hasil yang dicapai.
    Berusaha untuk meningkatkan hasil yang dicapai. Hasil
    merupakan salah satu yang dapat dirasakan baik oleh yang
    mengerjakan maupun yang menikmati hasil pekerjaan tersebut.
  3. Semangat kerja
    Merupakan usaha untuk lebih baik dari hari kemarin.
  4. Pengembangan diri.
    Senantiasa mengembangkan diri untuk meningkatkan
    kemampuan kerja

Produktivitas Kerja


Produktivitas kerja karyawan bagi suatu perusahaan sangatlah penting
sebagai alat pengukur keberhasilan dalam menjalankan usaha. Semakin tinggi
produktivitas kerja karyawan dalam perusahaan, berarti laba perusahaan dan
produktivitas akan meningkat. Produktivitas adalah perbandingan antara hasil
yang di capai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu. Peran serta
tenaga kerja di sini adalah penggunaan sumber daya serta efisien dan efektif
(Sutrisno, 2017).
Menurut Tohardi (2017:100), produktivitas merupakan sikap mental,
yang selalu mencari perbaikan terhadap apa yang telah ada. Suatu keyakinan
bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaan lebih baik hari ini daripada hari
kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
produktivitas adalah perbandingan antara hasil dan masukan, diimbangi dengan
sikap mental karyawan mengenai pekerjaanya dimana hasil kerja hari esok
harus lebih baik daripada hasil kerja pada hari ini. Sehingga karyawan selalu
termotivasi untuk meningkatkan produktivitasnya

Indikator DIsiplin Kerja


Sutrisno (2016) menjelaskan bahwa disiplin kerja adalah suatu perilaku
seorang individu yang disesuaikan bersama aturan, prosedur pekerjaan yang
berlaku. Maka dari hal tersebut, disiplin kerja ialah suatu sikap ataupun tindakan
serta perbuatan yang disesuaikan bersama aturan-aturan baik tertulis ataupun tak
tertulis.
Menurut sutrisno (2016:94), terdapat 3 indikator disiplin pekerja di dalam
sebuah perusahaan, antara lain:

  1. Memiliki ketaatan pada peraturan akan waktu. Memberikan
    perhatian kepada jam masuk kerja, jam istirahat, jam pulang kerja yang
    tepat waktu sertadisesuaikan bersama peraturan yang berlangsung pada
    suatu organisasai ataupun perusahaan.
  2. Memiliki ketaatan pada aturan organisasi ataupun perusahaan.
    Aturan perusahaan tentang tatacara mengenakan pakaian dan juga tingkah
    laku ketika melakukan pekerjaannya.
  3. Memiliki ketaatan pada aturan yang lainnya pada perusahaan.
    Peraturan mengenai apa saja yang dibolehkan serta tak dibolehkan
    dilaksanakan untuk pekerja pada organisasi ataupun perusahaan

Disiplin Kerja


Disiplin kerja adalah sikap hormat, menghargai, ketaatan dan patuh
terhadap peraturan yang berlaku, baik tertulis maupun tidak tertulis serta mampu
menerapkannya dan tidak menghindar untuk menerima sanksi. Dalam
menerapkan disiplin kerja, perusahaan harus menetapkan aturan yang jelas,
mudah dipahami, dan adil, yaitu berlaku bagi pimpinan tertinggi dan pegawai
terendah (Tyas dan Sunuharyo, 2018).
Menurut Hasibuan (2018:193) kedisplinan adalah fungsi operatif keenam
dari manajemen sumber daya manusia dan merupakan fungsi operatif MSDM
yang terpenting karena semakin baik disiplin karyawan, semakin tinggi prestasi
kerja yang dapat dicapainya. Disiplin merupakan fungsi yang sangat penting dan
merupakan kunci terwujudnya tujuan karena tanpa disiplin yang baik sulit
terwujud tujuan yang maksimal. Disiplin adalah merupakan perasaan taat dan
patuh terhadap nilai-nilai yang dipercayai merupakan tanggup jawabnya, seperti
tugas-tugas di kantor dan kehadiran karyawan pada jam yang sudah disesuaikan di
perusahaan tersebut. Disiplin semakin tinggi,maka kinerja pada karyawan juga
akan meningkat, sehingga karyawan akan dengan ikhlas bekerja sebaik mungkin
untuk mencapai tujuan dari sebuah perusahaan (Jepry dan Mardika, 2020).
Sedangkan menurut Ramon (2019) disiplin kerja adalah sikap kesediaan
dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang
berlaku disekitarnya. Namun menurut Muhyadin (2019) disiplin kerja adalah
kemampuan kerja seseorang untuk secara teratur, tekun terus menerus dan bekerja
sesuai dengan aturan-aturan berlaku dengan tidak melanggar aturan-aturan yang
sudah ditetapkan

Indikator Loyalitas Kerja


Loyalitas karyawan dapat terlihat melalui sikap dan perilaku karyawan
saat bekerja dalam perusahaan. Sikap dan perilaku karyawan yang mencerminkan
loyalitas karyawan terkandung dalam setiap indikator loyalitas karyawan yang
digunakan untuk mengukur loyalitas karyawan. Terdapat empat indikator loyalitas
karyawan menurut Susanti et al (2021:225), antara lain:

  1. Kepatuhan
    Adalah kemampuan karyawan untuk menaati seluruh peraturan
    yang berlaku, untuk melaksanakan segala tugas yang diberikan oleh
    atasan yang bertanggung jawab dan tidak melanggar larangan yang telah
    ditentukan. Semakin tinggi kepatuhan karyawan kepada perusahaan maka
    semakin tinggi loyalitas karyawan.
  2. Tanggung Jawab
    Adalah kemampuan karyawan dalam menyelesaikan tugas dengan
    benar, tepat waktu dan berani menanggung konsekuensi dari keputusan
    atau tindakan yang telah diambil oleh karyawan. Semakin tinggi tanggung
    jawab karyawan kepada perusahaan maka semakin tinggi loyalitas
    karyawan.
  3. Dedikasi
    Adalah kontribusi gagasan dan tenaga yang diberikan oleh
    karyawan dengan tulus kepada perusahaan. Semakin tinggi dedikasi
    karyawan kepada perusahaan maka semakin tinggi loyalitas karyawan.
  4. Integritas
    Adalah kemampuan karyawan untuk mengakui, berbicara atau
    memberikan informasi yang tepat sesuai dengan realita dan kebenaran.
    Semakin tinggi integritas karyawan maka semakin tinggi loyalitas
    karyawan

Loyalitas Kerja


Loyalitas adalah kesetiaan seorang karyawan kepada perusahaan,
karyawan yang loyal kepada perusahaan. Loyalitas mempengaruhi karyawan
untuk meningkatan kariernya, demikian pula sebaliknya loyalitas dapat
memengaruhi karier baik secara langsung maupun tidak langsung melalui variabel
lain (Dewi, 2019)
Menurut Onsardi (2017), loyalitas merupakan kondisi yang mengikat
karyawan dengan perusahannya, karena loyalitas bukan hanya kesetiaan yang
terlihat dari seberapa lama seseorang bekerja di dalam organisasi perusahaan,
namun dapat dilihat juga dari seberapa besar ide, pikiran dan gagasan, serta
kinerjanya tercurah sepenuhnya kepada perusahaan itu. Sutriniasih (2018)
menyatakan timbulnya loyalitas dipengaruhi oleh karakteristik pribadi,
karakteristik pekerjaan, karakteristik perusahaan atau organisasi dan pengalaman
yang diperoleh selama bekerja. Loyalitas karyawan didasarkan pada hubungan
kepercayaan, rasa memiliki yang kuat, dan kemauan untuk tetap dalam organisasi.
Kepuasan karyawan memberikan dampak positif pada loyalitas dan kepercayaan
diri karyawan yang dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja (Al-edenat dan
Alhawamdeh, 2018).
Menurut Siswanto (2012:28), pengertian loyalitas karyawan adalah
biasanya identik dengan komitmen kepada organisasi kadang-kadang dipandang
sebagai sikap. Namun, tidak begitu banyak sikap (atau komponen pemikiran)
yang penting dalam organisasi, melainkan itu adalah komponen tindakan bottom-
line.
Menurut Wan (2012:2), loyalitas karyawan adalah sebagai lampiran
psikologis atau komitmen terhadap organisasi dan terjadi sebagai akibat dari
meningkatnya kepuasan yang berasal dari hasil proses evaluasi internal, dan jika
tingkat harapan karyawan yang memenuhi atau melampaui maka kepuasan akan
tumbuh. Dalam melaksanakan kegiatan kerja karyawan tidak akan terlepas dari
loyalitas dan sikap kerja, sehingga dengan demikian karyawan tersebut akan
selalu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Karyawan merasakan adanya
kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan (Soegandhi dan
Sutanto et al, 2013:45)
Menurut Husni et al (2018) Loyalitas adalah kesetiaan, pengabdian dan
kepercayaan yang diberikan atau ditujukan kepada seseorang atau lembaga, yang
didalamnya terdapat rasa cinta dan tanggung jawab untuk berusaha memberikan
pelayanan dan perilaku yang terbaik.

Beban kerja


Menurut Dhania (2010) dalam Paramitadewi, (2017) beban kerja adalah sekumpulan kegiatan
yang harus diselesaikan suatu organisasi pada jangka waktu tertentu. Sedangkan menurut
Tarwaka, (2014) beban kerja adalah kondisi dimana pekerjaan yang tugas harus dapat
diselesaikan pada kurun waktu yang telah ditentukan atau memilki batasan waktu. Yang
dimaksud beban kerja yaitu banyaknya bekerja pada waktu yang tersedia atau melakukan
pekerjaan yang sulit bagi karyawan. Menurut peraturan Menteti Perhubungan Republik
Indonesia Nomor PM. 40 (2012) yaitu beban kerja merupakan besaran suatu pekerjaan yang
harus dipikul oleh jabatan tertentu seseorang dalam satuan unit kerja, yang penjumlahan dari
hasil yang didapat dan penjumlahan waktu yang dihabiskan dalam kurun 1 tahun. Permendagri,
(2013:2) menyatakan beban kerja adalah besaran pekerjaan yang diterima oleh jabatan tertentu
dalam satuan unit kerja, yang penjumlahan dari hasil yang didapat dan penjumlahan waktu yang
dihabiskan dalam kurun 1 tahun. Menurut Sitepu, (2013:4) beban kerja memilki beberapa
indikator yaitu : (1) Jumlah pekerjaan, (2) Waktu pekerjaan, (3) Faktor eksternal tubuh, (4)
Faktor internal tubuh

Lingkungan Kerja


Nitisemito S, (2000) mendefenisikan lingkungan kerja adalah semua yang berada disekitar
seorang karyawan yang dapat mempengaruhi dalam melakukan pekerjaannya. Menurut
Sihombing dalam Maineldi, Hendriani, & Daulay, (2014) lingkungan kerja terbagi menjadi 2
faktor yaitu fisik dan non fisik dalam sebuah organisasi. Faktor fisik meliputi suhu tempat kerja,
peralatan kerja, kebisingan, kepadan dan kesesakan kerja, dan luas ruang kerja sedangkan non
fisik meliputi hubungan kerja antara pimpinan dan bawahan serta antara karyawan yang satu
dengan yang lain. Menurut Isyandi, (2004:134) lingkungan kerja adalah sesuatu yang berada
dilingkungan kerja karyawan yang bisa mempengaruhi pekerjaannya seperti kelembaban,
penerangan, kebersihan, temperature, ventilasi, kegaduhan, dan peralatan kerja. Menurut
Purnomo, (2006) lingkungan kerja adalah sifat atau ciri yang ada pada lingkungan kerja, yang
muncul dikarenakan adanya kegiatan organisasi secara sadar dan tidak yang dianggap
mempengaruhi perilaku seorang karyawan.
Menurut Sedarmayanti, (2003:21) ada dua jenis lingkungan kerja yaitu :

  1. Lingkungan kerja fisik yaitu, semua yang disekitar seorang karyawan yang berbentuk
    fisik ditempat kerjan yang bias mempengaruhi kerjanya baik langsung ataupun tidak
    langsung
  2. Lingkungan kerja non fisik yaitu, semua keadaan yang terkait dengan hubungan kerja
    antara karyawan, atasan, maupun bawahan.
    Menurut Sihombing, (2004) lingkungan kerja memiliki beberapa indikator yaitu :
  3. Faktor fisik, mencakup segala hal dari tempat parker diluar gedung perusahaan, lokasi,
    jumlah cahaya, suara yang masuk diruangan kerja karyawan, dan rancangan gedung
  4. Faktor non fisik, mencakup segala hal dari fasilitas yang memberikan sehat, rasa aman,
    bebas kecelakaan pekarjaan. Contoh asuransi kesehatan.
    Menurut Nitisemito, (2003:183) indikator lingkungan kerja terdiri dari :
  5. Perlengkapan kerja, seperti sarana dan prasarana yang menunjang pekerjaan
  6. Lingkungan kerja fisik, seperti tempat ibadah, tempat parkir, toilet, dan sebagainya
  7. Kondisi tempat kerja
  8. Hubungan personal, seperti sesama karyawan dan bawahan dengan atasan
  9. Suasana pekerjaan, perasaan psikologis untuk melakukan pekerjaan sehari-har