Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana pengaruh perilaku kewirausahaan terhadap keberhasilan
usahanya.
Dalam hasil penelitian Arief Syaifudin (2020:56) bahwa secara parsial
bahwa perilaku kewirausahaan berpengaruhterhadap keberhasilan usaha.
Lalu dalam Ahmad dkk (2014 :17) Terdapat pengaruh positif dan signifikan
antara perilaku kewirausahaan terhadap keberhasilan usaha
Selasa, 31 Januari 2023
Pengaruh Perilaku Kewirausahan terhadap Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)
Pengaruh Kemampuan Manajerial terhadap Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)
Seseorang yang memiliki kemampuan manajerial adalah orang yang
sanggup mengambil tindakan-tindakan yang telah ditentukan. Hal tersebut menjadi
unsur terpenting dalam mengelola kegiatan suatu usaha untuk mencapai tujuan dari
usaha tersebut. Menurut Raeni Dwi Santy & Muhamad Ihsan (2018 : 5 ) “Kinerja
usaha merupakan hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok
orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya
sendiri, guna mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan secara hukum, tidak
melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika”
Menurut hasil penelitian Shandra dkk (2018:19) menunjukan bahwa
kemampuan manajerial dan perilaku kewirausahaan berpengaruh signifikan
terhadap kinerja perusahaan.
Lalu menurut Petríková D., Soroková T. (2016 : 190) menyatakan bahwa
kemampuan manajerial berpengaruh positif sebagai penetu suatu usaha
Indikator Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)
Beberapa indikator dalam menentukan keberhasilan usaha Noor (2007:397)
dalam Ronny (2017:26) adalah sebagai berikut:
a. Laba/profitability. Laba merupakan tujuan utama dari bisnis. Laba usaha adalah
selisih antara pendapatan dengan biaya.
b. Produktivitas dan efisiensi. Besar kecilnya produktivitas suatu usaha akan
menentukan besar kecilnya produksi. Hal ini akan mempengaruhi besar kecilnya
penjualan dan pada akhirnya menentukan besar kecilnya pendapatan, sehingga
mempengaruhi besar kecilnya laba yang diperoleh.
c. Daya saing. Daya saing adalah kemampuan atau ketangguhan dalam bersaing
untuk merebut perhatian dan loyalitas konsumen. Suatu bisnis dapat dikatakan
berhasil, bila dapat mengalahkan pesaing atau paling tidak masih bisa bertahan
menghadapi pesaing.
d. Kompetensi dan etika usaha. Kompetensi dan etika usaha merupakan akumulasi
dari pengetahuan, hasil penelitian, dan pengalaman secara kuantitatif maupun
kualitatif dalam bidangnya sehingga dapat menghasilkan inovasi sesuai dengan
tuntutan zaman.
e. Terbangunnya citra baik. Citra baik perusahaan terbagi menjadi dua yaitu, trust
internal dan trust external. Trust internal adalah amanah atau trust dari segenap
orang yang ada dalam perusahaan. Sedangkan trust external adalah timbulnya
rasa amanah atau percaya dari segenap stakeholder perusahaan, baik itu
konsumen, pemasok, pemerintah, maupun masyarakat luas, bahkan juga
pesaing.
Faktor Penyebab Kegagalan dalam Berwirausaha (skripsi,tesis,disertasi)
Menurut Suryana (2009) dalam Ahmad dkk (2015:8) faktor penyebab
kegagalan berwirausaha ditentukan oleh beberapa faktor yaitu :
a. Tidak kompeten dalam hal manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki
kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab
utama yang membuat perusahaan kurang berhasil.
b. Kurang berpengalaman, baik dalam kemampuan teknik, memvisualisasikan
usaha, mengkoordinasikan, mengelola sumber daya manusia, dan
mengintegrasikan operasi perusahaan.
c. Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan
baik, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas,
mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam
pemeliharaan aliran kas akan menghambat operasional perusahaan dan
mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
d. Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu
kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam
pelaksanaan.
e. Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor
yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat
mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
f. Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi
dan efektivitas. Kurang nya pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan
peralatan (fasilitas) perusahaan secara tidak efisien dana tidak efektif.
g. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengahsetengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi
labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan terjadinya gagal
menjadi lebih besar.
h. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan / transisi kewirausahaan.
Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan tidak akan
menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa
diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan
setiap waktu.
Faktor Penyebab Keberhasilan dalam Berwirausaha (skripsi,tesis,disertasi)
Menurut Suryana (2009) dalam Ahmad dkk (2015:7) faktor penyebab
keberhasilan berwirausaha ditentukan oleh beberapa faktor yaitu :
a. Kemampuan dan kemauan. Orang yang tidak memiliki kemampuan tetapi
banyak kemauan dan orang yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki
kemampuan, keduanya tidak akan menjadi wirausaha yang sukses.
b. Tekad yang kuat dan kerja keras. Orang yang tidak memiliki tekad yang kuat
tetapi mau bekerja keras dan orang yang suka bekerja keras tetapi tidak memiliki
tekad yang kuat, keduanya tidak akan menjadi wirausaha yang sukses.
c. Mengenal peluang yang ada dan berusaha meraihnya ketika ada kesempatan.
Pengertian Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)
Menurut Ahmad dkk (2014:4) berpendapat bahwa :
“Keberhasilan usaha merupakan utama dari sebuah perusahaan dimana
segala aktivitas yang ada didalamnya ditujukan untuk mencapai suatu
keberhasilan.”
Menurut Dedi dalan Ahmad dkk (2015:6) “Keberhasilan usaha biasanya
dicirikan dengan membesarnya skala usaha yang dimilikinya. Hal tersebut bisa
dilihat dari volume produksinya yang tadinya biasa menghabiskan sejumlah bahan
baku perhari meningkat menjadi mampu mengolah bahan baku yang lebih banyak
dengan meningkatnya bahan baku yang dibutuhkan berarti meningkat pada jumlah
buruhnya (baik buruh produksi maupun pemasaran) sekaligus mencirikan perluasan
jaringan pemasaran”.
Kriteria keberhasilan usaha menurut Suryana (2003) dalam Alex Wibowo
(2015:110) meliputi meningkatnya modal, meningkatnya pendapatan,
meningkatnya volume penjualan, meningkatnya output produksi serta
meningkatnya tenaga kerja. Keberhasilan usaha dapat dilihat melalui kemampuan
bertahan hidup dan semakin berkembangnya suatu perusahaan Saboet (1994:110)
dalam Alex Wibowo (2015:111).
Dalam pengertian umum, Mudzakar dalam Andari (2011:21)
mengemukakan bahwa keberhasilan usaha adalah suatu kondisi yang menunjukkan
suatu keadaan yang lebih baik/unggul dari masa sebelumnya
Indikator Perilaku Kewirausahaan (skripsi,tesis,disertasi)
Novita Nurul (2015:8) dalam penelitiannya bahwa indikator-indikator yang
mencerminkan Perilaku Kewirausahaan yaitu:
1. Keputusan wirausaha
Dalam menghadapi berbagai permasalahan, seorang wirausahawan senantiasa
dituntut untuk kreatif. Keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif
terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk digunakan sebagai cara
pemecahan masalah. Contohnya keberanian menanggung resiko, yaitu usaha untuk
menimbang dan mananggung resiko dalam mengambil keputusan dan menghadapi
ketidakpastian.
2. Tindakan nyata telah menjalankan usaha
Karakteristik wirausaha dapat didefinisikan sebagai hal yang berhubungan
dengan ciri khas, perilaku, watak, tabiat, sikap serta tindakan seseorang terhadap
untuk mewujudkan gagasan kreatif ke dalam dunia usaha.
Sikap dan tindakan tersebut biasanya mencakup sebagian besar sikap dan
tindakan seorang wirausahawan dalam kesehariannya. Karakteristik wirausaha
dianggap berhasil setelah sikap keseharian, berupa komitmen dalam melakukan
pekerjaan dilakukan dengan sepenuh hati. Adapun karakteristik yang harus dimiliki
setiap perilaku kewirausahaan sebagai berikut :
Memiliki komitmen dalam pekerjaan
Peka terhadap tren baru dan berani memulai
Pantang menyerah
Berani mengambil resiko
3. Pernyataan rencana pengembangan usaha yang ada
Pengembangan suatu usaha adalah tanggung jawab dari setiap pengusaha atau
wirausaha yang membutuhkan pandangan kedepan, motivasi dan kreativitas. Pada
umumnya pemilik usaha dalam mengembangkan usahanya harus mampu melihat
suatu peluang dimana orang lain tidak mampu melihatnya, menangkap peluang dan
memulai usaha (bisnis), dan menjalankan bisnis dengan berhasil.
Ciri-Ciri Perilaku Kewirausahaan (skripsi,tesis,disertasi)
Beberapa ciri kewirausahaan yang dikemukakan oleh Vernon A.
Musselman (1989 : 155), Wasty Sumanto (1989), dan Geoffey Meredith (1989 : 5)
menurut Suryana (2006 : 26) dalam Abdul Aziz (2014:22) :
1. Memiliki keinginan yang kuat untuk berdiri sendiri.
2. Memiliki kemauan untuk mengambil resiko.
3. Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman.
4. Mampu memotivasi diri sendiri.
5. Memiliki semangat untuk bersaing.
6. Memiliki orientasi terhadap kerja keras.
7. Memiliki kepercayaan diri yang besar.
8. Memiliki dorongan untuk berprestasi.
9. Tingkat energi yang tinggi.
10. Tegas .
11. Yakin terhadap kemampuan diri sendiri
12. Tidak suka uluran tangan dari pemerintah/pihak lain dalam masyarakat.
13. Tidak bergantung pada alam dan berusaha untuk tidak mudah menyerah.
14. Kepemimpinan.
15. Keorsinilan.
16. Berorientasi ke masa depan dan penuh gagasan
Karakteristik Utama Perilaku Kewirausahaan (skripsi,tesis,disertasi)
Seorang wirausaha merupakan individu yang mempunyai ciri dan watak
untuk berprestasi lebih tinggi dari kebanyakan individu-individu lainnya, hal ini
dapat dilihat menurut Mudjiarto dalam Ahmad dkk(2014:6) dijelaskan bahwa
David Mc Clelland menyatakan ada 9 karakteristik utama yang terdapat dalam diri
seorang wirausaha yang meliputi :
1. Dorongan berprestasi : Semua wirausaha yang berhasil memiliki keinginan besar
untuk mencapai suatu prestasi.
2. Bekerja keras : Sebagian besar wirausahawan “mabuk kerja”, demi mencapai
sasaran yang ingin dicita-citakan.
3. Memperhatikan kualitas : Wirausahawan menangani dan mengawasi sendiri
bisnisnya sampai mandiri, sebelum ia memulai dengan usaha baru lagi.
4. Sangat bertanggung jawab : Wirausahawan sangat bertanggung jawab atas usaha
mereka, baik secara moral, legal, maupun mental.
5. Berorientasi pada imbalan : Wirausahawan mau berprestasi, kerja keras dan
bertanggung jawab, dan mereka mengharapkan imbalan yang sepadan dengan
usahanya. Imbalan itu tidak hanya berupa uang, tetapi juga pengakuan dan
penghormatan.
6. Optimis : Wirausahawan hidup dengan doktrin semua waktu baik untuk bisnis,
dan segala sesuatu mungkin.
7. Berorientasi pada hasil karya yang baik : Seringkali wirausawan ingin mencapai
sukses yang menonjol, dan menuntut segala yang first class.
8. Mampu mengorganisasikan : Kebanyakan wirausahawan mampu memadukan
bagian-bagian dari usahanya dalam usahanya. Mereka umumnya diakui sebagai
“komandan” yang berhasil.
9. Berorientasi pada uang : Uang yang dikerjar oleh para wirausawan tidak sematamata untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan pengembangan usaha saja, tetapi
juga dilihat sebagai ukuran prestasi kerja dan keberhasilan
Pengertian Perilaku Kewirausahaan (skripsi,tesis,disertasi)
Menurut Hamdani dalam Shandra dkk (2018:6) perilaku kewirausahaan
merupakan karakter seorang wirausaha dalam menjalankan roda bisnisnya.
Kemudian Mc Clelland dalam Suryana (2013:52) perilaku kewirausahaan
merupakan konsep tingkah laku wirausahawan sebagai pengambil resiko yang
moderat.
Shandra, Tri, dan Novi (2018:6) berpendapat bahwa :
“Perilaku kewirausahaan dapat didefinisikan merupakan sikap, tingkah laku
wirausahawan dalam mengelola usahanya, sikap dan tingkah laku tersebut
diharapkan mampu memberikan pertumbuhan dan perkembangan bagi
usaha yang sedang dikeloanya”.
Menurut Fadiati dalam Ahmad dkk (2014:4) menyatakan bahwa perilaku
kewirausahaan seseorang adalah hasil dari sebuah kerja yang bertumpu pada
konsep dan teori bukan karena sifat kepribadian seseorang atau berdasarkan intuisi.
Teori perilaku dalam Fadiati (2011), menyatakan bahwa perilaku
kewirausahaan seseorang adalah hasil dari sebuah kerja yang bertumpu pada
konsep dan teori bukan karena sifat kepribadian seseorang atau berdasarkan intuisi.
Jadi menurut teori ini kewirausahaan dapat dipelajari dan dikuasai secara sistematik
dan terencana.
Menurut Eddy Soeryanto Soegoto (2009) dalam Trustorini Handayani &
Yusuf Tanjung (2017:36) Wirausaha adalah orang yang berjiwa kreatif dan inovatif
yang mampu mendirikan, membangun, mengembangkan, memajukan, dan
menjadikan perusahaanya unggul. Seorang wirausahawan haruslah yang mampu
melihat ke depan. Melihat kedepan bukan melamun kosong, tetapi melihat, berfikir
dengan perhitungan, mencari pilihan dari berbagai alternative masalah dan
pemecahanya.
Menurut Ahmad dalam Trustorini Handayani (2013:34) Kewirausahaan
adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber
daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat proses dan hasil bisnis.
Indikator Kemampuan Manajerial (skripsi,tesis,disertasi)
Seseorang akan mampu mengelola organisasi apabila ia memiliki
kecakapan manajerial (manajerial competency) yaitu suatu keterampilan atau
karakteristik personal yang membantu tercapainya kinerja yang tinggi dalam tugas
manajemen.
Imam dkk (2020 : 134) kemampuan manajerial sesorang dapat dilihat dari
tiga (3) kemampuan :
1. Keahlian Teknis
Keahlian teknis berkaitan dengan apa yang dilakukan dan bekerja dengan
sesuatu, terdiri dari kemampuan menggunakan teknologi untuk mengerjakan tugastugas organisasional.
2. Keahlian Manusia
Keahlian manusia berkaitan dengan bagaimana sesuatu dilakukan dengan
bekerja dengan orang terdiri dari kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain
untuk mencapai tujuan atau sasaran.
3. Keahlian Konseptual
Keahlian konseptual berkaitan dengan sesuatu dilakukan dengan cara
pandang orang terhadap organisasi secara keseluruhan, terdiri dari kemampuan
untuk memahami kompleksitas perusahaan karena kompleksitas itu dipengaruhi
dan mempengaruhi lingkungan
Tugas Pokok Manajerial dalam Organisasi (skripsi,tesis,disertasi)
Dalam formulasi lain Stoner (dalam Wahyosumidjo, 2011: 96-99)
mengemukakan terdapat 8 (delapan) macam tugas pokok yang harus dikerjakan
oleh setiap manajer dalam organisasi. Tugas-tugas pokok tersebut meliputi;
1. Managers work with and through other people; tiap manajer mempunyai
tanggung jawab untuk bekerja sama dengan orang lain. Pengertian orang lain
tidak hanya bawahan dan atasan melainkan juga para manajer lain yang ada di
dalam organisasi.
2. Managers are responsible and accountable; manajer bertanggung jawab atas
tugas-tugas serta berkewajiban untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut dengan
berhasil.
3. Managers competing goals and set priority; tiap manajer akan menghadapi
sejumlah tujuan organisasi, permasalahan dan berbagai macam kebutuhan.
4. Managers must think leadership and conceptually; manajer harus berpikir secara
analitis dan konseptual. Untuk menjadi seorang analitis, seorang manajer harus
mampu menjabarkan persoalan-persoalan ke dalam komponen-komponen atau
bagian, kemudian menganalitis bagian-bagian tersebut dan akhirnya sampai
kepada pemecahan yang tepat.
5. Managers are mediators; manajer adalah seorang penengah. Dalam kehidupan
organisasi adakalanya terjadi perselisihan pendapat antar perseorangan, antar
kelompok maupun antar organisasi, sehingga diperlukan penengah.
6. Managers are politicans; manajer adalah seorang politisi. Sebagai politisi,
seorang manajer harus mampu bertindak persuasif dan berkompromi demi
pengembangan tujuan organisasi dan perlu adanya penyebaran jaringan kerja
yang lebih luas dengan manajer lain.
7. Managers are diplomat; manajer adalah seorang diplomat. Dalam peranannya
sebagai seorang diplomat, manajer adalah wakil resmi pada berbagai macam
tingkat pertemuan.
8. Managers makes dfficult decisions; manajer membuat berbagai macam
keputusan. Tidak ada organisasi yang berjalan mulus tanpa tantangan sepanjang
waktu, banyak berbagai macam jenis tantangan yang terjadi, seperti: dana,
masalah sumber daya rnanusia, dan berbagai masalah yang berkaitan dengan
kebijaksanaan organisasi.
Tiga Keterampilan Manajerial (skripsi,tesis,disertasi)
Engkoswara dan Komariah (2010) dalam Ronny (2017:12)
mengelompokkan keterampilan manajerial menjadi tiga bagian utama, yaitu:
1) Technical skills (keterampilan teknis) yang diperlukan manajer agar ia mampu
mengawasi dan menilai pekerjaan sesuai dengan keahliannya. Robbins dalam
Hasna (2018:17), keterampilan teknis yang harus dimiliki seorang pewirausaha
adalah :
a) Menguasai pengetahuan tentang metode, proses, prosedur, dan tehnik untuk
melaksanakan kegiatan khusus.
b) Kemampuan untuk memanfaatkan serta mendaya gunakan sarana, peralatan
yang diperlukan dalam mendukung kegiatan yang bersifat khusus.
2) Human skills (keterampilan manusiawi). Keterampilan ini merujuk pada
kemampuan dalam membangun relasi dan dapat bekerja sama dengan orang lain.
Robbins dalam Hasna (2017:18) menyatakan bahwa keterampilan manusiawi
seorang pewirausaha meliputi :
a) Kemampuan memahami perilaku manusia dan proses kerjasama.
b) Kemampuan untuk memahami isi hati, sikap, dan motif orang lain, mengapa
mereka berkata dan berperilaku.
c) Kemampuan untuk berkomunikasi secara jelas dan efektif.
d) Kemampuan menciptakan kerja sama yang efektif, kooperatif, praktid, dan
diplomatis.
e) Mampu berperilaku yang dapat diterima.
3) Conceptual skills (keterampilan konseptual). Keterampilan ini menunjukkan
kemampuan manajer dalam berfikir dan menganalisis suatu persoalan serta
memutuskan dan memecahkan masalah. Masih dalam Hasna (2018:16), menurut
Robbins Dalam hal ini seorang pewirausaha herus memiliki keterampilan
konseptual dalam hal :
a) Kemampuan analisis
b) Kemampuan berfikir rasional
c) Ahli atau cakap dalam berbagai macam konsepsi
d) Mampu menganalisis berbagai kejadian dan mampu memahami berbagai
kecenderungan
e) Mampu mengantisipasi perintah
f) Mampu menganalisis macam-macam kesempatan dan problem-problem sosial
Pengertian Kemampuan Manajerial (skripsi,tesis,disertasi)
Menurut Setyamusa dalam Shandra dkk (2018:7) kemampuan manajerial
merupakan kesanggupan mengambil tindakan-tindakan perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang dilakukan untuk mencapai
sasaran yang telah ditentukan.
Menurut Sutarno (2012:26) kemampuan manajerial adalah kemampuan dari
seorang manajer atau wirausaha dalam mengelola usahanya, dimana perusahaan
tersebut akan berhasil apabila manajemennya baik dan teratur dalam menjalankan
fungsi manajemen.
Menurut Hasibuan dalam Nurhasmansyah dkk (2014:49) Kemampuan
manajerial adalah kemampuan atau keahlian pimpinan untuk menjalankan fungsi
manajemen. Dalam bidang manajemen, faktor kemampuan manajerial sangat
penting dan menentukan, karena faktor tersebut berkaitan dengan aktivitas pokok
suatu organisasi yaitu memimpin organisasi yang bersangkutan dalam usahanya
mencapai tujuan. Lalu Menurut Tangkilisan dalam Nurhasmansyah dkk (2014:50)
kemampuan manajerial yaitu kemampuan untuk memanfaatkan dan menggerakkan
sumber daya agar dapat digerakkan dan diarahkan bagi tercapainya tujuan melalui
kegiatan orang lain.
Menurut Winardi (2007) dalam Ronny (2017:13) mengemukakan bahwa
kemampuan manajerial adalah kesanggupan mengambil tindakan-tindakan
perencanaan, pengorganisasian pelaksanaan, pengawasan yang dilakukan untuk
mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
Menurut Karweti dalam Rina Irawati (2012: 4), Kemampuan Manajerial
adalah seperangkat keterampilan teknis dalam melaksanakan tugas sebagai manajer
untuk mendayagunakan segala sumber yang tersedia untuk mencapai tujuan usaha
secara efektif dan efisien.
Hubungan Perilaku Kewirausahaan dengan Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)
Mengenai pengaruh perilaku kewirausahaan terhadap keberhasilan usaha
menurutSuryana ( 2003:63 ), ”Orang yang berhasil dalam wirausaha adalah orang
yang dapat membentuk Perilaku Kewirausahaan”. Maka untuk mencapai
Keberhasilan usaha maka pengusaha harus mempunyai Perilaku Kewirausahaan.
Sebab itu Perilaku Kewirausahaan mutlak dikembangkan melalui
pendidikan, latihan, lokakarya, dan kesempatan. Kesempatan memperoleh
wawasan yang lebih luas. Berdasarkan pendapat para ahli dan hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa perilaku kewirausahaan berpengaruh dalam menentukan
keberhasilan usaha. Sehingga para pengusaha dalam menentukan usahanya
dituntut untuk memiliki perilaku kewirausahaan
Hubungan Kemampuan Manajerial dengan Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)
Kemampuan manajerial adalah salah satu unsur penting pendukung keberhasilan
usaha, karena maju mundurnya suatu usaha terletak ditangan manajer, jika
manajer mampu mengambil keputusan dan kebijakan yang benar dalam
menjalankan usahanya maka usaha itu mempunyai peluang yang besar untuk maju
dan berkembang, tapi jika manajer mengambil keputusan dan kebijakan yang
salah maka kemungkinan besar pula usaha itu akan mengalami kemunduran atau
bahkan akan mengalami kebangkrutan.
Seperti yang dikemukakan oleh Yuyun Wirasasmita (2003) bahwa“Faktor internal
yang paling penting yang mempengaruhi keberhasilan usaha adalah
kewiraswastaan dan manajerial”
Indikator Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)
Menurut Murphy and Pack (2000:8) ciri wirausaha yang sukses adalah
sebagai berikut:
1. Mau Kerja Keras (Capacity for Hard Work)
Kerja keras merupakan modal dasar untuk keberhasilan seseorang. Sikap
kerja keras harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Dalam hal ini,
unsur disiplin memainkan peranan penting.
2. Bekerjasama dengan Orang Lain (Getting Things Done With and Through
People)
Seorang wirausahawan mudah bergaul, disenangi oleh masyarakat.
Sehingga memudahkan dalam suksesi usahanya.
3. Penampilan yang Baik (Good Appearance)
Ini bukan berarti penampilan body faceyang elok atau paras cantik. Akan
tetapi lebih ditekankan pada penampilan perilaku jujur, disiplin.
4. Yakin (Self Confidence)
Kita harus memiliki keyakinan diri bahwa kita akan sukses melakukan
suatu usaha. Self confidence ini diimplementasikan dalam tindakan seharihari, melangkah pasti tekun.
5. Pandai Membuat Keputusan (Making Sound Decision)
Jika anda dihadapkan alternatif, harus memilih, maka buatlah
pertimbangan yang matang. Dengan berbagai alternatif yang ada dalam
pikirannya ia akan mengambil keputusan yang terbaik.
6. Mau Menambah Ilmu Pengetahuan (College Education)
Pendidikan adalah hal yang penting dalam menjalankan kepemimpinan.
Karena ilmu dapat menambah skill sehingga kepemimpinan dapat terarah
dengan baik.
7. Ambisi Untuk Maju (Ambition Drive)
Karena keberhasilan tidak dapat dicapai dengan mudah, gigih dalam
berjuang untuk maju dan pantang untuk berputus asa adalah modal utama
dalam berwirausaha.
8. Pandai Berkomunikasi (Ability to Communicate)
Pandai berkomunikasi berarti pandai mengelola buah pikiran kedalam
bentuk ucapan-ucapan yang jelas, menggunakan tutur kata yang enak
didengar, mampu menarik perhatian orang lain. Komunikasi yang baik,
diikuti dengan perilaku jujur, konsisten dalam pembicaraan akan dsangat
membantu seseorang dalam mengembangkan karir masa depannya.
Akhirnya dengan keterampilan berkomunikasi itu seseorang dapat
mencapai puncak karir.
Pengertian Keberhasilan Usaha (skripsi,tesis,disertasi)
Seperti yang kita ketahui bahwa keberhasilan tidak mungkin diraih dengan
begitu saja, tetapi harus melalui beberapa tahapan . Menurut Suryana (2001:38-
39) mengemukakan bahwa untuk menjadi wirausaha atau pengusaha yang sukses
pertama–tama harus memiliki ide atau visi bisnis (busisess vision) kemudian ada
kemauan dan keberanian untuk menghadapi resiko baik waktu maupun uang.
Langkah selanjutnya yang sangat penting adalah dengan membuat perencanaan
usaha, pengorgganisasian dan menjalankanya. Berikut dikemukakan beberapa
pengertian keberhasilan usaha menurut para ahli:
Menurut Hari Lubis dikutip Panigoro (2010:42)
“Keberhasilan usaha adalah sebagai suatu prestasi yang berhasil diraih
oleh suatu perusahaan dari satu periode ke periode berikutnya”.
Untuk melihat dan mengukur tingkat keberhasilan suatu usaha berikut ini
terdapat beberapa teori yang mengemukakan beberapa alat ukur dan aspek yang
menjadi alat evaluasinya hal tersebut diantaranya adalah:
Menurut Van Horne (2000:77-774 )
“Keberhasilan usaha dapat dilihat dari kemampulabaan atau profitabilitas,
dapat di ukur dengan 2 tipe yaitu rasioprofitabilitas dalam hubungan
penjualan(sales) dan profitabilitas dalam hubungan dengan investasi”.
Dan salah satu kriteria untuk mencapai keberhasilan usaha adalah dengan
efisiensi, yaitu apabila sudah tercapai tingkat kemampulabaan (profitabilitas) yang
tinggi, menurut Sri Wiludjeng SP (2007:4) menyatakan bahwa:
“Yang di maksud efisien adalah kemampuan untuk menyelesaikan
pekerjaan dengan benar (doing the thing right). Efisien dihitung dengan
membandingkan antara input yang dipergunakan dengan output yang
dihasilkan’’ .
Dengan demikian manajer yang efisien adalah manajer yang mampu
meminimumkan penggunaan input untuk mencapai output tertentu sehingga dapat
mencapai kemampulabaan.
Untuk lebih jelasnya berikut di paparkan kemampulabaan menurut Agus
Sartono(2001:130) menyatakan bahwa :
“Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam
hubungannya dengan penjualan dan total aktiva maupun modal sendiri”.
Sedangkan Murphy and Pack (2000:8) yang menyatakan bahwa “Ciri
wirausaha yang sukses adalah mau kerja keras (Capacity for Hard Work),
bekerjasama dengan orang lain (Getting Things Done With and Through People),
penampilan yang baik (Good Appearance), yakin (Self Confidence), pandai
membuat keputusan (Making Sound Decision), mau menambah ilmu pengetahuan
(College Education), ambisi untuk maju (Ambition Drive), pandai berkomunikasi
(Ability to Communicate).
Indikator Perilaku Kewirausahaan (skripsi,tesis,disertasi)
Menurut BN. Marbun (2000:63) sikap dan perilaku yang harus dimiliki
seorang wirausahawan adalah sebagai berikut .
1. Percaya diri
Orang yang tinggi percaya dirinya adalah orang yang sudah matang
jasmani dan rohaninya. karakteristik kematangan seseorang adalah ia tidak
tergantung pada orang lain, dia memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi,
obyektif, dan kritis. Dia tidak begitu saja menyerap pendapat orang lain,
tetapi dia mempertimbangkan secara kritis. Emosionalnya boleh dikatakan
sudah stabil, tidak gampang tersinggung dan naik pitam. Juga tingkat
sosialnya tinggi, mau menolong orang lain, dan yang paling tinggi lagi
ialah kedekatannya dengan Khaliq sang pencipta, Allah Swt. Diharapkan
wirausahaan seperti ini betul-betul dapat menjalankan usahanya secara
mandiri, jujur, dan disenangi oleh semua relasinya.
2. Berorientasi pada Tugas dan Hasil
Orang ini tidak mengutamakan prestise terlebih dulu, prestasi kemudian.
Akan tetapi, ia gandrung pada prestasi baru baru kemudian setelah
berhasil prestisenya akan naik. Anak muda yang selalu memikirkan
prestise lebih dulu dan prestasi kemudian, tidak akan mengalami
kemajuan.
3. Pengambilan Resiko
Watak selalu menyenangi tantangan dalam wirausaha seperti persaingan,
harga turun naik, barang tidak laku, dan sebagainya harus dihadapi dengan
penuh perhitungan. Jika perhitungan sudah matang, membuat
pertimbangan dari segala macam segi, maka berjalanlah terus dengan tidak
lupa berlindung kepada-Nya.
4. Kepemimpinan
Sifat kepemimpinan memang ada dalam diri masing-masing individu.
Namun sekarang ini, sifat kepemimpinan sudah banyak dipelajari dan
dilatih. Ini tergantung kepada masing-masing individu dalam
menyesuaikan diri dengan organisasi atau orang yang ia pimpin.
5. Keorsinilan
Sifat orsinil ini tentu tidak selalu ada pada diri seseorang. Yang dimaksud
orsinil disini ialah ia tidak mengekor pada orang lain , tetapi memiliki
pendapat sendiri , ada ide yang orsinil, ada kemampuan untuk
melaksanakan sesuatu.
6. Berorientasi ke Masa Depan
Sifat berorientasi ke masa depan ini harus selalu ada dalam setiap
pimpinan usaha agar usahanya dapat terus berlanjut dan dengan seiring
berjalannya waktu produktivitas perusahaan dapat terus meningkat.
Pengertian Perilaku Kewirausahaan (skripsi,tesis,disertasi)
Perilaku adalah operasionalisasi dan aktualisasi sikap seseorang atau suatu
kelompok dalam atau terhadapsesuatu (situasi dan kondisi) lingkungan (alam,
masyarakat, teknologi dan organisasi). Sementara sikap adalah operasionalisasi
dan aktualisasi pendirian. Menurut Talizaduhu Ndrahayang dikutip oleh Yanti
Maemunah (2004:20)Perilaku dalam ilmu jiwa didefinisikan sebagai ”kegiatan
organisme yang dapat diamati oleh organisme lain atau oleh berbagai instrumen
penelitian, yang termasuk dalam perilaku adalah laporan verbal mengenai
pengalaman subjektif yang didasari”. Tingkah laku atau Perilaku seorang individu
terbentuk karena adanya suatu interaksi antara seorang individu dengan
lingkungannya.
Menurut PO Sunarya (2010:33) “Wirausahawan adalah orang yang
mempunyai usaha sendiri. Wirausahawan adalah orang yang berani membuka
kegiatan produktif yang mandiri. Sikap dan Perilaku sangat dipengaruhi oleh sifat
dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi
pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak yang dibutuhkan oleh
seorang wirausaha agar wirausaha tersebut dapat maju / sukses” .
Menurut Kasmir (2011:28) sikap dan perilaku pengusaha dan seluruh
karyawannya merupakan bagian penting dalam etika wirausaha. Oleh karena itu,
dalam praktiknya sikap dan perilaku yang harus ditunjukkan oleh pengusaha dan
seluruh karyawan, terutama karyawan di customer service, sales, teller, dan
satpam harus sesuai dengan etika yang berlaku. Sikap dan tingkah laku
menunjukkan kepribadian karyawan suatu perusahaan. Sikap dan perilaku ini
harus diberikan sama mutunya kepada seluruh karyawan tanpa pandang bulu.
Fungsi Manajemen (skripsi,tesis,disertasi)
Manajemen oleh para ahli dibagi atas beberapa fungsi. Pembagian fungsi –
fungsi manajemen ini tujuannya adalah supaya sistematika urutan pembahasan
lebih teratur, agar analisis pembahasan lebih mudah dan lebih mendalam. Dan
untuk menjadikan pedoman pelaksanaan proses manajemen bagi manajer.
Perlengkapan fungsi–fungsi manajemen diakui oleh para ahli berbeda.
Namun kenyataannya itu tidaklah manjadi permasalahannya terhadap proses
pencapaian tujuan perusahaan yang efektif dan efisien. Dalam penelitian ini
penulis mengambil fungsi–fungsi manajemen yang dikemukakan oleh Siagian,
yaitu yang meliputi fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan
fungsi pengendalian.
a. Fungsi Perencanaan
Keberhasilan suatu perusahaan sangat di tentukan oleh pelaksanaan
manajemen yang baik dalam istilah manajemen tersebut sangatlah membutuhkann
suatu perencanaan. perencanaan adalah tugas manajer dimulai dengan menetapkan
tujuan dan kemudian mengatur strategi, kebijakan, dan metode utnuk
mencapapainya. Dengan perencanaan manajer menetapkan tindakan, cara, waktu,
pelaksana yang akan melaksanakan rencana. Perencanaan membantu perusahaan
meningkatkan posisi kompetitif perusahaan, Perencanaan tersebut tentu saja
bukan suatu peristiwa tanggal dengan awal dan akhir yang serba jelas.
Perencanaan itu malah merupakan suatu proses yang terus berlanjut yang
mencerminkan dan menyesuaikan diri dengan perubahan–perubahan baik dalam
lingkungan langsung maupun lingkungan kekuatan tidak langsung. Untuk tetap
berada dipuncak suatu perusahaan harus mengevaluasi kendali rencanarencananya dan menetapkan suatu jalan ke masa yang akan datang. Hal ini sesuai
dengan pendapat G.R Terry (2000) yang mengemukakan bahwa:
“Perencanaan adalah memilih dan menghubungkan fakta-fakta dan
membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa datang
dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang
diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan”
Tanpa adanya perencanaan berarti semua orang yang berada di dalam
suatu organisasi bekerja secara acak dan kurang teratur serta tidak mempunyai
standar yang jelas. Proses awal perencanaan dimulai dari penetapan tujuan
kemudian merici berbagai cara. Teknik dan tujuan yang telah di rumuskan dapat
dicapai sepenuhnya dan semakin jauh pencapaian tujuan dari yang direncanakan
berarti tujuan efektif.
b. Fungsi Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah tahap berikutnya setelah planning. Untuk itu
manajer perlu memperhatikan konsep-konsep organisasi serta wewenangwewenang yang dapat di delegasikan atau tidak. Dari proses pengorganisasian ini
akan di peroleh stuktur organisasi, untuk itu perlu pula dikemukakan bentuk –
bentuk organisasi serta kelebihan dan kelemahan setiap bentuk organisasi. Tugas
pengorganisasian adalah mengharmoniskan suatu kelompok orang-orang yang
berbeda, mempertemukan macam-macam kepentingan dan memanfaatkan
kemampuan kesemuanya ke suatu arah tertentu.
Menurut G.R Terry, pengorganisasian adalah (Sri Wiludjeng SP 2007:92)
“Organizing is the establising of efective behavirol relationships among
person so that they may work to gether efficiently and gain personal
satisfaction in doing selected tasks under given environ mental can ditions
for the purpose of achieving some goal or abjective”
“Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan
kelakuan yang efektif antara orang-orang. Sehingga mereka dapat bekerja
sama secara efisien dengan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam
hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu
guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu”
Jadi dalam uraian di atas terjadi suatu proses pembagian kerja yang
kemudian hasilnya dikoordinasikan untuk mencapai tujuan tertentu. Seorang
manajer harus dapat menempatkan setiap pekerjaan sesuai dengan kecakapan
yang dimiliki sehingga pencapaian tujuan dapat lebih efektif dan efisian.
c. Fungsi Penggerakan/ Pelaksanaan
Penggerakan merupakan fungsi fludamental atau terpenting dalam
manajemen, sebab perencanaan yang telah di susun dan di organisasikan harus
dilaksanakan secara seksama. Oleh karena itu tugas pimpinan adalah seluruh
potensi yang ada untuk dapat berfungsi menjalankan seluruh kegiatan agar tujuan
dapat tercapai. Ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh G.R Terry,
(Malayu S.P Hasibuan 2000:187) bahwa:
“Penggerakan adalah membuat semua anggota kelompok, agar mau
bekerjasama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai
tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian”
Pengertian di atas menekankan bahwa perggerakan merupakan suatu
kegiatan yang dilakukan oleh manajer untuk membimbing, mengarahkan, dan
mengatur segala kegiatan karyawan yang telah diberi tugas dalam melaksanakan
suatu kegiatan usaha dengan demikian, seorang manajer harus mampu
menggerakan karyawanya dengan cara memberikan motivasi, mengerti akan
hubungan pribadi dan aktifitas kelompok dalam menyelesaikan pekerjaanya.
Dengan sendirinya setiap manajer harus berusaha agar anggota organisasi
menyukai pekerjaaan dengan mau berusaha sekuat tenaga untuk menggunakan
kemampuan dan keterampilan dengan disiplin yang tinggi sehingga dapat
mencapai efisiensi dan efektifitas kerja didalam fungsi manajemen ini berkaitan
pula dengan penggunaan sumber daya manusia. Oleh karena itu seorang manajer
dalam memanfaatkan kemampuan yang dimiliki oleh sumber daya manusia dalam
usaha mencapai tujuan perusahaan adalah dengan memberikan motivasi agar
karyawan mau bekerja dengan sukarela sesuai dengan keinginannya. Hal ini
sesuai dengan pendapat Campbell dalam Winardi (2002:4)menyatakan bahwa :
“Motivasi berhubungan dengan (1) pengarahan perilaku, (2) kekuatan
reaksi setelah seseorang karyawan telah memutuskan arah tindakantindakan tertentu, dan (3) persistensi perilaku, atau berapa lama orang yang
bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu”.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seorang manajer
dapat memanfaaatkan kemampuan pekerjanya dengan cara memotivasi sehingga
para pekerja tersebut mau melakukan tindakan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan.
d. Fungsi Pengendalian
Aktivitas pengendalian merupakan proses untuk menjamin bahwa tujuan
perusahaan akan tercapai. Pengendalian pada hakekatnya merupakan usaha
memberikan petunjuk para pelaksana agar mereka selalu bertindak sesuai dengan
rencana. Menurut Harold Kootz, (Umi Narimawati 2003:296) adalah sebagai
berikut:
“Control is the meansurement and corection of the ferformance of
subordinates in order to make sure that enterprice ibjectives and the plans
devised to attain the are accomplised”
“Pengendalian adalah pengukuran dan perbaikan terhadap pelaksanaan
kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai
tujuan-tujuan perusahaan dapat diselenggarakan”
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa tujuan pengendalian di
harapkan agar para pelaksana membatasi tindakan-tindakan mencapai tujuan
sedemikian rupa sehingga tidak begitu menyimpang dari yang diperbolehkan.
Pengendalian menjadi siklus fungsi manajemen lengkap dan membawa organisasi
ke perencanaan. Makin jelas, lengkap dan terkoordinir
Konsep Manajemen (skripsi,tesis,disertasi)
Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur atau
mengelola. Ada beberapa pendapat mengenai pengertian manajemen, Koontz,
(Sri Wiludjeng SP 2007: 2) menyatakan pengertian manajemen sebagai berikut:
“Management is the process of designing and maintaining an environment
in which individuals, working together in groups, efficiently accomplish
selected aims’’
“Manajemen adalah proses merancang dan memelihara suatu lingkungan
di mana individu, bekerja bersama di dalam kelompok, yang secara efisien
memenuhi tujuan terpilih”
Sedangkan Musselman, (Sri wiludjeng SP 2007:3) mengatakan bahwa:
“Management is the process of planning, Organizing, directing and
controlling the activities of an enterprise to achieve specific objectives”
"Manajemen adalah proses perencanaan, Pengaturan, mengarahkan dan
mengendalikan aktivitas dari suatu perusahaan untuk mencapai sasaran
khusus"
Menurut Marry Parker Follet, (Sri Wiludjeng SP 2007:3), pengertian manajemen :
“Management is the art of getting thing though people’’
Lebih lanjut James Af Stoner (Sri Wiludjeng SP 2007:3) menyatakan
sebagai berikut:
“Manajement is the process of planning, organizing, leading and
controling the effect of organization members and the use of other
organizational members and use of other organizational gool’’
“Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan
dan pengawasan usaha – usaha para anggota organisasi dan mencapai
tujuan organisasi tujuan organisasi yang telah di tetapkan”
Dari keempat definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen
mengandung unsur sebagai berikut :
1. Manajemen sebagai proses.
2. Manajemen sebagai seni.
3. Manajemen terdiri dari individu–individu/orang–orang yang melakukan
aktivitas.
4. Manajemen menggunakan berbagai sumber-sumber dan faktor produksi
yang tersedia dengan cara efektif dan efisien.
5. Adanya tujuan yang talah ditetapkan terlebih dahulu.
Manajemen sebagai proses, karena dalam manajemen terdapat adanya
kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan, misalnya kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan. Dengan kata lain satu sama lainya
tidak dapat dipisahkan atau dengan kata lain saling terkait (terpadu), sehingga
akan membentuk suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Indikator Kemampuan Manajerial (skripsi,tesis,disertasi)
Sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh J.David Hunger &
Thomas L.Wheelen (2001:452) dan Paul Hersey dalam Wahjosumidjo (2003,
99)menyatakan yaitu: Kemampuan manajerial adalah kemampuan dalam
menggerakkan sumberdaya agar dapat mencapai tujuannya dengan tepat, yang
terdiri dari keahlian teknis, keahlian manusia dan keahlian konseptual.
1. Keahlian Teknis
Keahlian teknis berkaitan dengan apa yang dilakukan dan bekerja dengan
sesuatu, terdiri dari kemampuan menggunakan teknologi ntuk
mengerjakan tugas-tugas organisasional.
2. Keahlian manusia
Keahlian manusia berkaitan dengan bagaimana sesuatu dilakukan dengan
bekerja dengan orang terdiri dari kemampuan untuk bekerja dengan orang
lain untuk mencapai sasaran.
3. Keahlian Konseptual
Keahlian konseptual berkaitan dengan mengapa sesuatu dilakukan dengan
cara pandang orang terhadap organisasi secara keseluruhan, terdiri dari
kemampuan untuk memahami kompleksitas perusahaan karena
kompleksitas itu dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan
Pengertian Kemampuan Manajerial (skripsi,tesis,disertasi)
Dalam menjalankan usahanya, seorang manajer dituntut untuk memiliki
kemampuan keterampilan dalam mengelola sumber-sumber yang ada dalam
perusahaanya, terutama kemampuan mengkombinasikan sumber daya manusia
dan alam diwujudkan dengan menjalankan fungsi–fungsi manajemen. Menurut
pendapat yang dikemukakan oleh Winardi (2000:4) menyatakan bahwa:
“Kemampuan manajerial adalah kesanggupan mengambil tindakan–
tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan yang
dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan”
Hampir sama dengan pendapat Winardi, menurut Siagian P. Sondang
(2007:67) bahwa:
“Kemampuan manajerial adalah kemampuan untuk mengelola usaha
seperti perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengawasan
dan penilaian”.
Sedangkan menurut pendapat yang dikemukakan oleh J.David Hunger &
Thomas L.Wheelen (2001:452) dan Paul Hersey dalam Wahjosumidjo (2003,
99)menyatakan yaitu: Kemampuan manajerial adalah kemampuan dalam
menggerakkan sumberdaya agar dapat mencapai tujuannya dengan tepat, yang
terdiri dari keahlian teknis, keahlian manusia dan keahlian konseptual
Konsep Manajemen (skripsi,tesis,disertasi)
Malayu Hasibuan mengemukakan bahwa “Manajemen adalah
serangkaian kegiatan ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber
daya manusia dan sumber daya-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien
untuk suatu tujuan tertentu”. Menurut Winardi manajemen merupakan
sebuah proses untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah
ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber–sumber
lain, dengan kata lain manajemen adalah proses pengelolaan terhadap suatu
organisasi agar mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.14
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel manajemen adalah proses
perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian anggota
organisasi dan penggunaan seluruh sumber daya organisasi lainnya demi tercapainya tujuan organisasi. Sedangkan menurut George R. Terry bahwa
manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang dilakukan
untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan
melalui pemanfaatan.
Lebih lanjut Indriyo Gitosudarmo menyatakan bahwa proses
manajemen terdiri dari (1) kegiatan perencanaan yang meliputi penentuan
tujuan organisasi, penjabaran tugas/pekerjaan, pembagian tugas, (2) kegiatan
pengarahan, atau menggerakkan anggota organisasi untuk bekerja memutar
roda organisasi, (3) serta kegiatan pengawasan yang berarti memantau hasil
pekerjaan sebagai umpan balik dengan membandingkannya terhadap standar
yang telah ditentukan dalam rencana semula serta kemudian mencoba untuk
menemukan jalan keluar bagi kesalahan-kesalahan yang terjadi.
Pada prinsipnya pengertian manajemen mempunyai beberapa
karakteristik sebagai berikut:
a. Ada tujuan yang ingin dicapai
b. Sebagai perpaduan ilmu dan seni c. Merupakan proses yang sistematis, terkoordinasi, koperatif, dan terintegrasi
dalam memanfaatkan unsur-unsur nya
d. Ada dua orang atau lebih yang bekerjasama dalam suatu organisasi
e. Didasarkan pada pembagian kerja, tugas dan tanggung jawab
f. Mencakup beberapa fungsi
g. Merupakan alat untuk mencapai tujuan.
Untuk memahami fungsi manajemen dengan baik, maka akan
dijelaskan secara detail mengenai fungsi-fungsi manajemen yang meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.
a. Perencanaan
Perencanaan adalah fungsi dasar (fundanmenal) manajemen, karena
organisasi, kepegawaian, dan pengawasan pun harus terlebih dahulu
direncanakan. Hasil perencanaan baru akan diketahui pada masa depan. Agar
resiko yang ditanggung itu relatif kecil, hendaknya semua kegiatan,
tindakan, dan kebijakan derencanakan terlebih dahulu. Perencanaan ini
adalah masalah memilih, artinya memilh tujuan, dan cara terbaik untuk
mencapai tujuan tersebut dari beberapa alternatif yang ada. Tanpa alternatif,
perencanaan pun tidak ada. Perencanaan merupakan kumpulan dari beberapa
keputusannya.
Menurut George R. Terry perencanaan ialah menetapkan pekerjaan
yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang
Kinerja Individu (skripsi,tesis,disertasi)
Perubahan teknologi membuat saling ketergantungan antara pengayaan pekerjaan,
perluasan pekerjaan, kepuasan karyawan dan kinerja karyawan. Dengan adanya pengayaan
pekerjaan dan perluasan pekerjaan membuat karyawan merasa bahwa organisasi tersebut benar
– benar miliknya dan dengan demikian meningkatkan kinerjanya. Kinerja karyawan dalam
suatun organisasi didefinisikan dengan perilaku,sikap dan motivasi mereka untuk mencapai
tujuan. Menurut Taylor (dalam Vinjay,2015) terdapat faktor yang menjadi penyebab akan
mempengaruhi kinerja karyawan selama bekerja yaitu kemandirian dalam bekerja, dukungan
organisasi, pelatihan dan keadilan dalam organisasi. Kinerja individu didefinisikan sebagai
perilakuk atau tindakan yang relevan dengan tujuan organisasi. Kinerja individu berada
dibawah kendali individu tidak termasuk perilaku yang di batasi oleh lingkungan. Kinrja
individu terdiri dari 4 dimensi yaitu dimensi pertama tugas kinerja mengacu pada kemahiran
karyawan untuk melakukan pekerjaan utamanya, dimensi kedua kontekstual kinerja mengacu
pada perilaku karyawan yang mendukung organisasi, sosial dan lingkungan psikologis pada
tugas pekerjaan utama, dimensi ketiga kinerja adaptif mengacu pada kemampuan seseorang
karyawan dalam beradaptasi dengan perubahan dalam peran kerja atau lingkungan serta
dimensi keempat perilaku kerja kontraproduktif mengacu pada perilaku berbahaya bagi
kesejahteraan organisasi.
IT Contextual Ambidextrity (skripsi,tesis,disertasi)
Ambidexterity dapat dilihat sebagai hubungan antara eksplorasi dan eksploitasi dan
bagaimana cara organisasi dapat menghadapi tuntutan konflik dari manajemen bisnis saat ini.
Ambidexterity dapat terjadi pada tingkat organisasi, dan juga pada tingkat individu (Mom et
al., 2006). Ambidexterity Individu, dapat didefinisikan sebagai "kemampuan kognitif tingkat
individu untuk menyesuaikan secara fleksibel dalam konteks dinamis dengan pergeseran yang
tepat antara eksplorasi dan eksploitasi" (Good & Michel, 2013, hal.4). Ambidexterityindividu
dengan demikian melibatkan bagaiana cara individu dapat menyeimbangkan antara tugas
eksploratif dan eksploitatif dalam konteks pekerjaan mereka sehari-hari.
Penelitian He and Wong (2004: 483-484) yang mendefinisikan ambidexterity dalam
kaitannya dengan inovasi teknologi: "He dan Wong memperluas konstruksi eksploitasi
eksplorasi untuk mendefinisikan dua dimensi dasar yaitu (1) sebuah inovasi eksploratif untuk
menunjukkan aktivitas yang ditujukan untuk memasuki pasar produk baru, dan (2) dimensi
exploitative innovation untuk menunjukkan aktivitas yang dilakukan untuk memperbaiki posisi
pasar yang ada. Terdapat empat tipe dasar ambidexterity yang memfasilitasi penerapan strategi
pemasaran yang kontradiktif yaitu structural ambidexterity, contextual ambidexterity,
puncuated ambidexterity dan peripatric ambidexterity. Dalam penelitian ini berfokus pada
contextual ambidexterity karena yang ingin dicapai pada penelitian ini berfokus pada
pencapaian karyawan secara individu pada penyelarasan (ekploitasi) dan adaptasi (eksplorasi)
dalam (Prege & Shlegelmich,2009).
Ambidex kontekstual adalah proses atau sistem yang mendorong individu untuk
membagi waktu diantara aktivitas. Oleh karena itu kontektual ambidex
memungkinkan individu di perusahaan untuk secara dinamis dan fleksibel memutuskan
bagaimana membagi waktu antara aktivitas dihargai dan dihargai dari eksploratif dan
eksploitasi (Gibson & Birkinshaw, 2004). Upaya individu dalam mengejar eksploratif dan
eksploitasi dapat dipamerkan di tingkat organisasi tingkat kontekstual kontekstual (Gibson dan
Birkishaw). Pada penelitian ini menekankan pada pengabungan perkembangan IT dan
keseimbangan eksplorasi IT dan eksploitatif IT
Kesiapan Individu untuk Berubah (skripsi,tesis,disertasi)
Choi (2010) menjelaskan bahwa organisasi hanya berubah dan bertindak melalui
anggotanya, dan perubahan yang berhasil akan bertahan dalam jangka panjang jika hanya
individu mengubah perilaku dalam pekerjaan mereka dengan cara yang tepat. Mereka juga
berpendapat bahwa banyak upaya perubahan yang gagal karena pemimpin perubahan sering
meremehkan peran sentral yang dimainkan individu dalam proses perubahan. Untuk
mendukung gagasan tersebut, para peneliti ini secara empiris menunjukkan bahwa individu
bukanlah penerima perubahan organisasi yang pasif, tetapi aktor yang secara aktif menafsirkan
dan merespons apa yang terjadi di lingkungan mereka. Selanjutnya, beberapa penelitian terbaru
juga menunjukkan bahwa sikap karyawan terhadap Perubahan organisasi mempengaruhi
dukungan perilaku mereka terhadap perubahan sedemikian rupa sehingga orang-orang yang
memiliki sikap positif terhadap perubahan organisasi lebih cenderung mengubah perilaku
mereka dan memperjuangkan inisiatif perubahan (misalnya Jones, Jimmieson, & Griffiths,
2005; JP Meyer, Srinivas, Lal, & Topolnytsky, 2007). Sebagaimana dibuktikan oleh penelitian
ini, sikap individu terhadap perubahan organisasi berdampak nyata pada implementasi
perubahan dan, oleh karena itu, penting untuk setiap inisiatif perubahan agar berhasil.
Kesiapan individu untuk berubah didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya
bahwa sebuah perubahan dibutuhkan dan bahwa dia memiliki kapasitas untuk perubahan
tersebut.). Ketika menilai kesiapan untuk perubahan, studi penelitian sebelumnya cenderung
hanya berfokus pada satu aspek, seperti persepsi manfaat pribadi dari perubahan (Jones et al.,
2005) atau evaluasi kapasitas organisasi untuk membuat perubahan yang berhasil (Weeks et
al., 2004). Hasil dari,mereka gagal menangkap sifat kesiapan untuk berubah. Mengingat
pentingnya kesiapan untuk perubahan, kita masih memerlukan lebih banyak penelitian yang
menyelidiki bagaimana membinanya dalam organisasi dan dilakukan dengan tindakan yang
secara efektif menangkap sifat dasar kesiapan untuk perubahan.
Demikian pula, Eby dkk. (dalam Choi, 2011)berpendapat bahwa kesiapan individu untuk
perubahan organisasi adalah tentang keyakinan bahwa perubahan tersebut - diperlukan dan
mungkin akan berhasil - (hal 422). Di sisi lain, Jones et al. (2005) juga menekankan
kepercayaan karyawan terhadap manfaat dari perubahan tersebut. Namun demikian, para
periset semua sepakat bahwa kesiapan individu untuk perubahan organisasi melibatkan
evaluasi individu terhadap kapasitas individu dan organisasi untuk membuat perubahan yang
berhasil, kebutuhan akan sebuah perubahan, dan manfaat yang dapat diperoleh organisasi dan
anggotanya dari perubahan (Armenakis et al., 1993; Eby et al., 2000; Holt et al., 2007; Jansen,
2000).
Baru-baru ini, melalui studi pengembangan skala, Holt dkk. (2007) lebih jelas
mendefinisikan konsep ini sebagai konstruksi multifaset dengan empat dimensi: kepercayaan
individu terhadap keampuhan spesifik perubahan, kesesuaian perubahan, dukungan
manajemen terhadap perubahan, dan keuntungan pribadi dari perubahan tersebut. Sejak Holt
dkk. mengusulkan konseptualisasi paling komprehensif tentang konstruk kesiapan untuk
perubahan, definisi kesiapan mereka untuk perubahan digunakan dalam penelitian ini. Dalam
Choi, 2010 Kesiapan individu untuk berubah adalah evaluasi kapasitas individu dan organisasi
untuk membuat perubahan yang berhasil, kebutuhan akan sebuah perubahan, dan manfaat yang
dapat diperoleh organisasi dan anggotanya dari sebuah perubahan dengan indikator yaitu
spesifik keberasilan, ketepatan perubahan, dukungan manajemen untuk perubahan tersebut dan
manfaat ribadi dari perubahan tersebut.
Kesiapan individu untuk perubahan organisasi terletak pada konsep tingkat individu.
Individu di unit yang sama mungkin memiliki kesiapan yang serupa untuk perubahan
organisasi. Namun, kita tidak dapat mengasumsikan kesamaan kesiapan di antara orang-orang
pada tingkat manapun di atas individu.
Berdasarkan uraian di atas kesiapan idividu untuk berubahan didefinisikan sebagai
pelopor kognitif terhadap perilaku penolakan atau dukungan dari usaha perubahan. Adapun
indikator dalam penelitian yaitu menerima perubahan, IT mengubah keberasilan, manfaat
pribadi dan dukungan manajemen.
Psychological Empowering Leadership dan Kesiapan Individu untuk Berubah (skripsi,tesis,disertasi)
Psychological empowering leadership merupakan proses pelaksanaan kondisi yang
memungkinkan berbagi kekuasaan dengan karyawan dengan cara mengambarkan secara
signifikan pekerjaan karyawan, menyediakan otonomi pengambilan keputusan yang lebih
besar, mengekspresikan kepercayaan diri dalam hal kemampuan karyawan dan hambatan
dalam kinerja (Zhang & Bartol, 2010). Psychological empowering dikonseptualkan sebagai
keadaan psikologis atau seperagkat kognisi. (Firth, Chen, Kirkman, & Kim, 2014)
mendefinisikan pemberdayaan psikologis sebagai proses peningkatan perasaan keberasilan diri
pada karyawan melalui identifikasi kondisi yang menumbuhkan ketidakberdayaan dan melalui
memindahannya dengan teknik informal yang memberikan informasi keberasilan. (Thomas &
Velthouse, 1990) medefinisikan Psychological empowering leadership adalah keadaan
psikologis yang termanifestasi dalam empat kognisi yaitu makna, kompetensi, menentukan
nasib sendiri dan dampaknya. Secara khusus artinya menyangkut suatu perasaan merasa bahwa
pekerjaan seseorang itu penting secara pribadi. Bersama keempat pemikiran ini
mengungkapkan seseorang berorientasi dimana individu menginginkan dan merasa mampu
membentuk peran dilingkungan kerjanya (Margaryan, Littlejohn, & Vojt, 2011). Pentingnya
pekerjaan dan ini mencerminkan rasa hubungan pribadi dengan pekerjaan (Zhang & Bartol,
2010). Tingkat makna yang tinggi, menurut (Thomas & Velthouse, 1990), menghasilkan
peningkatan komitmen, keterlibatan dan konsentrasi. Kompetensi mengacu pada rasa percaya
diri atau kepercayaan oleh individu bahwa mereka memiliki keahlian dan kemampuan yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan mereka (Rogiest, Segers, & Witteloostuijn, 2018; Zhang&
Bartol, 2010) . Tingkat kompetensi yang tinggi menghasilkan peningkatan rasa percaya diri
yang pada gilirannya mengarah pada usaha dan ketekunan yang lebih tinggi dalam menghadapi
kesulitan (Thomas & Velthouse, 1990). Penentuan nasib sendiri mengacu pada rasa kontrol,
otonomi dan kebebasan memilih untuk memenuhi tugas yang masuk akal dan dilakukan dengan
cara yang sesuai(Oldham & Fried, 2016). Tingkat penentuan nasib sendiri yang tinggi memiliki
efek positif pada tingkat individu dan organisasi yang berdampak pada kepercayaan individu
bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi lingkungan kerja dan hasil
pekerjaannya. Individu memiliki kemampuan lebih besar untuk mengenali peluang dan lebih
termotivasi (Klerk, 2016).
Berdasarkan uraian diatas kepemimpinan pemberdayaan psikologis adalah pemimpin
yang memberdayakan anggota melalui proses peningkatan perasaan keberasilan diri karyawan.
Adapun indikator dalam penelitian ini meliputi meningkatkan makna kerja, mendorong
partisipasi psikologis dalam pengambilan keputusan, mengekspresikan keyakinan psikologis
akan kinerja tinggi, memberikan otonomi dan memberikan penentuan nasib sendiri.
(Ho, Kong, Lee, & Dubreuil, 2018) menjelaskan bahwa organisasi hanya berubah dan
bertindak melalui anggotanya, dan perubahan yang berhasil akan bertahan dalam jangka
panjang hanya jika individu mengubah perilaku dalam pekerjaan mereka dengan cara yang
tepat. Mereka juga berpendapat bahwa banyak upaya perubahan yang gagal karena pemimpin
perubahan sering meremehkan peran sentral yang dimainkan individu dalam proses perubahan.
Untuk mendukung gagasan tersebut, para peneliti ini secara empiris menunjukkan bahwa
individu bukanlah penerima perubahan organisasi yang pasif, tetapi aktor yang secara aktif
menafsirkan dan merespons apa yang terjadi di lingkungan mereka. Selanjutnya, beberapa
penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa sikap karyawan terhadap Perubahan organisasi
mempengaruhi dukungan perilaku mereka terhadap perubahan sedemikian rupa sehingga
orang-orang yang memiliki sikap positif terhadap perubahan organisasi lebih cenderung
mengubah perilaku mereka dan memperjuangkan inisiatif perubahan (misalnya; (Malhotra &
Hinings, 2015; Rogiest et al., 2018) (Bouckenooghe & Devos, 2008)(Shin, Taylor, & Seo,
2010)(Rogiest, Segers, & van Witteloostuijn, 2018)(Vigoda-Gadot & Beeri, 2012).
Sebagaimana dibuktikan oleh penelitian ini, sikap individu terhadap perubahan organisasi
berdampak nyata pada implementasi perubahan dan, oleh karena itu, penting untuk setiap
inisiatif perubahan agar berhasil.
Kesiapan individu untuk berubah didefinisikan sebagaisejauh mana seseorang percaya
bahwa sebuah perubahan dibutuhkan dan bahwa dia memiliki kapasitas untuk perubahan
tersebut.). Ketika menilai kesiapan untuk perubahan, studi penelitian sebelumnya cenderung
hanya berfokus pada satu aspek, seperti persepsi manfaat pribadi dari perubahan
(Bouckenooghe & Devos, 2008) atau evaluasi kapasitas organisasi untuk membuat perubahan
yang berhasil (Battilana, Dimitriadis, & Gargiulo, 2012). Hasil dari,mereka gagal menangkap
sifat kesiapan untuk berubah. Mengingat pentingnya kesiapan untuk perubahan, kita masih
memerlukan lebih banyak penelitian yang menyelidiki bagaimana membinanya dalam
organisasi dan dilakukan dengan tindakan yang secara efektif menangkap sifat dasar kesiapan
untuk perubahan, kita masih memerlukan lebih banyak penelitian yang menyelidiki bagaimana
membinanya dalam organisasi dan dilakukan dengan tindakan yang secara efektif menangkap
sifat dasar kesiapan untuk perubahan.
Demikian pula, (Choi, 2011) berpendapat bahwa kesiapan individu untuk perubahan
organisasi adalah tentang keyakinan bahwa perubahan tersebut - diperlukan dan mungkin akan
berhasil - (hal 422). Di sisi lain, (Bargeron, Lehn, & Smith, 2015) juga menekankan
kepercayaan karyawan terhadap manfaat dari perubahan tersebut. Namun demikian, para
periset semua sepakat bahwa kesiapan individu untuk perubahan organisasi melibatkan
evaluasi individu terhadap kapasitas individu dan organisasi untuk membuat perubahan yang
berhasil, kebutuhan akan sebuah perubahan, dan manfaat yang dapat diperoleh organisasi dan
anggotanya dari perubahan (Armenakis, Harris, & Mossholder, 2007)(Holt, Armenakis, Harris,
& Field, 2007).
Baru-baru ini, melalui studi pengembangan skala, (An, Qiang, Wen, Jiang, & Xia, 2018)
lebih jelas mendefinisikan konsep ini sebagai konstruksi multifaset dengan empat dimensi:
kepercayaan individu terhadap keampuhan spesifik perubahan, kesesuaian perubahan,
dukungan manajemen terhadap perubahan, dan keuntungan pribadi dari perubahan tersebut.
Sejak Holt dkk. mengusulkan konseptualisasi paling komprehensif tentang konstruk kesiapan
untuk perubahan, definisi kesiapan mereka untuk perubahan digunakan dalam penelitian ini.
Dalam (Choi, 2011) kesiapan individu untuk berubah adalah evaluasi kapasitas individu dan
organisasi untuk membuat perubahan yang berhasil, kebutuhan akan sebuah perubahan, dan
manfaat yang dapat diperoleh organisasi dan anggotanya dari sebuah perubahan dengan
indikator yaitu spesifik keberasilan, ketepatan perubahan, dukungan manajemen untuk
perubahan tersebut dan manfaat ribadi dari perubahan tersebut.
Kesiapan individu untuk perubahan organisasi terletak pada konsep tingkat individu. Individu
di unit yang sama mungkin memiliki kesiapan yang serupa untuk perubahan organisasi. Namun,
kita tidak dapat mengasumsikan kesamaan kesiapan diantara orang-orang pada tingkat manapun
di atas individu.
Hubungan Antara Individual performance dengan Individual Performance (skripsi,tesis,disertasi)
Individual performance menjadi salah satu tolok ukur organization
performance. Performance disini menyangkut dua area yaitu, kemampuan
beradaptasi dan kemahiran. Menurut Pertusa-Ortega et al., (2020) individual
performance ini telah diteliti dan dipengaruhi oleh variable individual
ambidexterity, namun belum dilihat sejauh mana hubungan dan apakah hubungan
ini bersifat positif atau negative.
Organization Characteristics (OC) (skripsi,tesis,disertasi)
Diketahui bahwa ambidexterity dapat dicapai melalui baik sarana struktural
dan kontekstual dan ambidexterity kontekstual melibatkan lingkungan yang
memberikan kelonggaran, disiplin, dukungan dan kepercayaan, tetapi bagaimana
ini beroperasi melalui proses formal yang menjadi ciri organisasi belum dapat
diketahui. Sistem HRM, khususnya yang dicirikan sebagai kinerja tinggi atau
sistem kerja keterlibatan tinggi (HPWS atau HIWS), adalah anteseden untuk
ambidexterity kontekstual (Patel et al., 2013).
Sistem HRM berbasis komitmen dapat secara langsung meningkatkan
kinerja organisasi dengan menghemat biaya manajemen dan memungkinkan
penyelesaian masalah yang cepat. Model HIWS memiliki sejumlah kekuatan
khusus. Ini berfokus pada pengalaman pekerja daripada penghitungan preskriptif
dan tidak terverifikasi dari praktik manajemen, dan memungkinkan jalur sikap dan
kognitif untuk kinerja karyawan dan organisasi. HIWS mencakup praktik yang
menekankan pada kekuasaan (P) (otonomi) untuk membuat keputusan dalam
pekerjaan seseorang; informasi (I), termasuk aliran ke atas dan ke bawah; imbalan
(R); dan pengetahuan (K), biasanya dalam bentuk pelatihan dan pengembangan
(Plimmer et al., 2017).
Individual Ambidexterity (IA) (skripsi,tesis,disertasi)
Ambidexterity dipandang sebagai kemampuan dinamis untuk beradaptasi
dengan lanskap kompetitif dengan melakukan proses kegiatan eksplorasi
pengembangan unit bisnis baru dan kegiatan eksploitasi dengan melihat proses,
struktur organisasi, dan budaya organisasi yang mendukung proses pencapaian
(Salas Vallina et al., 2019)
Kemampuan untuk menemukan keseimbangan yang relevan antara
eksplorasi dan praktik eksploitasi didefisinikan sebagai ambidexterity (O’Reilly &
Tushman, 2013; Souza & Takahashi, 2019). Penelitian dari Soares et al., (2018),
memperlihatkan bahwa dengan melaksanakan strategi ambidexterity, maka
sebanyak 79 institusi pendidikan tinggi dapat meningkatkan 20.6% jumlah siswa.
Konsep ambidexterity didasarkan pada asumsi bahwa organisasi harus mengejar
tujuan eksplorasi dan eksploitasi yang saling melengkapi namun kontradiktif
(Papachroni & Heracleous, 2020).
Salas Vallina et al., (2019) mendefinisikan ambidexterity sebagai kapasitas
organisasi untuk menjaga keselarasan dan kemampuan beradaptasi dengan tuntutan
perubahan. Proses ini memungkinkan individu melakukan aktivitas eksplorasi dan
exploitasi pada ranah meta level, yang menembus semua fungsi dan level dalam
sebuah unit yang lebih kecil.
Individual Performance (IP) (skripsi,tesis,disertasi)
Penelitian yang dilakukan oleh Kobarg et al., (2017) mengikuti studi
sebelumnya dengan asumsi bahwa untuk menjadi sukses individu dapat
menunjukkan kemampuan ambidexterity dengan memenuhi target yang diarahkan
pada efisiensi dan inovasi. Dalam hal ini karyawan harus menyeimbangkan
aktivitas eksploitasi dan eksplorasi mereka untuk mendapatkan hasil kinerja tinggi.
Berkaitan dengan kinerja, Camilleri, (2021) menyebutkan bahwa evaluasi
kinerja dapat dilakukan secara internal atau eksternal. Sistem penilaian yang
digerakkan secara internal lebih menekankan pada evaluasi diri dan kegiatan
pengaturan diri sedangkan kerangka kerja evaluatif didorong secara eksternal
mungkin melibatkan wawancara penilaian yang menilai kualitas kinerja karyawan
dalam kaitannya dengan kriteria yang ditetapkan kembali.
Penelitian diatas selaras dengan penelitian dari Kang & Kim, (2019)
menyebutkan bahwa kinerja memiliki beberapa model pengukuran yaitu
proficiency, adaptability, atau proactivity. Dalam kondisi operasional organisasi,
ada banyak aktifitas yang tidak dapat dinilai, karena membutuhkan kemampuan
kreatif, proaktif, fleksibel, swakelola, inovatif untuk memecahkan masalah baru,
kompleks, ambigu, atau multi-variatif yang biasanya tidak memiliki jawaban yang
sederhana atau benar, guna menghadapi pasar bisnis yang dinamis. Dalam studi
yang dilakukan Kang & Kim, (2019) disebutkan agar berhasil, karyawan harus menyeimbangkan tuntutan eksploitasi dan eksploratif dari aktivitas mereka dengan
demikian, ambidexterity dan kinerja individu terkait secara positif.
Ambidexterity dalam kinerja individu akan memberikan kesesuaian yang
saling melengkapi untuk kemampuan operasional (yaitu, kemahiran) dan dinamis
(yaitu, kemampuan beradaptasi dan proaktivitas). Pekerjaan eksploitasi akan
berdampak positif pada kemampuan operasional, dan dampaknya akan meningkat
secara bersamaan sementara ketidaksesuaian konvergen meningkat. Pekerjaan
eksplorasi akan berdampak positif pada dinamika kemampuan, dan dampaknya
akan meningkat secara bersamaan sementara ketidaksesuaian divergen meningkat.
Indikator Pemasaran (skripsi,tesis,disertasi)
Menurut Kotler dan Armstrong (2016: 47) Bauran pemasaran mencakup
empat hal pokok dan dapat dikontrol oleh perusahaan yang meliputi:
a) Produk
Produk dalam prespektif pemasaran adalah segala sesuatu yang
dapat ditawar kepada pasar untuk diperhatikan (attention), dimiliki
(acquisition), digunakan (use), atau dikonsumsi (consumtion), dan dapat
memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan pasar.
Berdasarkan definisi terebut, maka yang tergolong dalam pengertian produk
antara lain; objek secara fisik (sepeda motor, mobil,pasta gigi, mebel,
elektronik, dll), jasa (rumah sakit, kepolisian, Telkom, konsultan, hotel, dll),
tempat (taman rekreasi, tempat parkir, gedung pertunjukan,dll), organisasi
(organisasi politik, LSM,organisasi kampus,yayasan, dll), ide (pemikiran
dan konsep). (Latief Abdul 2018)
Beberapa keputusan penting yang terkait dengan variabel produk adalah
sebagai berikut:
1. Jenis atau klasifikasi produk yang bagaimana yang harus dipilih oleh
oleh perusahaan untuk diproduksi?
2. Atribut apa saja yang dapat dilekatkan pada subuah produk?
3. Bagaimana cara mengembangkan sebuah produk?
4. Bagaimana siklus kehidupan (life cycle) dari sebuah produk dan strategi
pemasarannya? (Latief Abdul 2018)
b) Harga
Menurut Kotler dan Amstrong (2011) dalam Latief Abdul (2018),
pengertian harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk
atau jasa atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas manfaatmanfaat karena memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut”.
Kotler dan Keller (2009) dalam Latief Abdul (2018), menyatakan
bahwa harga adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang
menghasilkan pendapatan, elemen lain menghasilkan biaya.
Menurut Kotler dan Keller (2009), ada lima tujuan utama dalam
menetapkan harga, yaitu:
1. Kemampuan bertahan
Perusahaan mengejar kemapuan bertahan sebagai tujuan utama
mereka jika mereka mengalami kelebihan kapasitas, persaiangan ketat,
atau keinginan konsumen yang berubah. Selama harga menutup biaya
variabel lain dan biaya tetap maka perusahaan tetap berada dalam bisnis
2. Laba saat ini maksimum
Banyak perusahaan berusaha menetapkan harga yang akan
memaksimalkan laba saat ini. Perusahaan memperkirakan permintaan
dan biaya yang berasosiasi dengan harga relatif dan memilih harga yang
menghasilkan laba saat ini, arus kas atau tingkat pengembalian atas
investasi maksimum
3. Pangsa Pasar Maksimum
Perusahaan Percaya bahwa semakin tinggi volume penjualan, baiay
unit akan semakin rendah dan laba jangka panjang semakin tinggi.
Perusahaan menetapkan harga terendah mengasumsikan pasar sensitif
terhadap harga.
4. Market Skimming Pricing
Perusahaan mengungkapkan teknologi baru yang menetapkan harga
tinggi untuk memaksimalkan memerah di pasar dimana pada mulanya
harga ditetapkan tinggi dan secara perlahan turun seiring waktu.
5. Kepemimpinan kualitas produk
Banyak merek berusaha menjadi “kemewahan terjangkau” produk
atau jasa yang ditentukan karakternya oleh tingkat kualitas anggapan,
selera dan status yang tinggi denga harga yang cukup tinggi agar tidak
berada diluar jangkauan konsumen, (Latief Abdul, 2018)
c) Tempat
Lokasi dikatakan sebagai keputusan yang dibuat perusahaan
berkaitan dengan di mana operasi dan stafnya akan ditempatkan. Lupiyoadi
(2013) dalam Latief Abdul, (2018). Sedangkan menurut Tjiptono (2006)
dalam Latief Abdul, (2018), place adalah keputusan distribusi yang
menyangkut kemudahan akses terhadap jasa bagi para pelanggan potensial.
Menurut Tjiptono dalam Syardiansah (2017), ada beberapa
pertimbangan dalam menentukan pemilihan lokasi, di antaranya:
1. Akses, yaitu kemudahan untuk menjangkau, misalnya lokasi yang
dilalui mudah dijangkau sarana/transportasi umum.
2. Visiabilitas, yaitu lokasi atau tempat yang dapat dilihat dengan jelas
dari jarak pandang normal.
3. Lalu lintas (Trafic) menyangkut dua pertimbangan utama berikut:
a. Banyaknya orang yang lalu lalang dapat memberikan peluang
besar terhadap terjadinya impulse buying, yaitu keputusan
pembelian yang terjadi secara spontan, tanpa perencanaan, dan
tanpa melalui usaha-usaha khusus.
b. Kemacetan dan kepadatan lalulintas bisa menjadi hambatan.
d) Promosi
Promosi menurut Alma dalam Syardiansah (2017) merupakan suatu
bentuk komunikasi pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,
mempengaruhi, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan
produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang
ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Promosi merupakan salah satu
variabel dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh
perusahaan dalam memasarkan produk jasa (Lupiyoadi, 2013) dalam Latief
Abdul, (2018).
Menurut Kotler (1997), promotion tools didefinisikan sebagai berikut:
1. Advertising (Periklanan)
Suatu promosi barang atau jasa yang sifatnya non personal
dilakukan oleh sponsor yang diketahui.
2. Personal selling (Penjualan perorangan)
Penjualan perorangan yang dilakukan oleh para wiraniaga yang
mencoba dan membujuk untuk melakukan penjualan sekaligus.
3. Sales promotion (Promosi penjualan)
Suatu kegiatan yang dimaksud untuk membantu mendapatkan
konsumen yang bersedia membeli produk atau jasa suatu perusahaan
4. Public relation (Publisitas)
Suatu kegiatan pengiklanan secara tidak langsung dimana produk
atau jasa suatu perusahaan disebarluaskan oleh media komunikasi
Unsur-Unsur Utama Pemasaran (skripsi,tesis,disertasi)
Unsur-unsur utama pemasaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga unsur
utama, yaitu:
a) Segmentasi pasar
Segmentasi pasar adalah tindakan mengidentifikasi dan membentuk
kelompok pembeli atau konsumen secara terpisah. Masing-masing segmen
konsumen ini memiliki karekteristik, kebutuhan produk, dan bauran pemasaran
sendiri.
b) Target Pemasaran
Targeting adalah suatu tindakan memilih satu atau lebih segmen pasar yang
akan dimasuki dan perusahaan melakukan segmentasi pasar, kemudian memilih
satu atau lebih segmen yang dianggap paling potensial dan menguntungkan,
serta mengembangkan produk dan program pemasaran yang dirancang khusus
untuk segmen-segmen yang dipilih tersebut.
c) Positioning
Positioning adalah penetapan posisi pasar. Tujuan position ini adalah untuk
membangun dan mengkomunikasikan keunggulan bersaing produk yang ada
dipasar kedalam benak konsumen serta dndakan membangun dan
mengkomunikasikan manfaat pokok yang istimewa dan produk didalam pasar
Tujuan Pemasaran (skripsi,tesis,disertasi)
Tujuan pemasaran adalah untuk menciptakan nilai dengan cara menawarkan
solusi-solusi yang unggul, menghemat usaha dan waktu pencarian yang dilakukan
pembeli, serta usaha yang digunakan untuk bertransaksi dan juga menyediakan
standar kehidupan yang lebih tinggi bagi seluruh masyarakat. Tidak hanya itu tetapi
juga menjelaskan bahwa pemasaran merupakan suatu proses kegiatan usaha untuk
melaksanakan rencana-rencana strategis yang diarahkan pada pemenuhan
kebutuhan konsumen yang akan dipuaskan, pembuatan produk untuk dijual,
penentuan harga yang sesuai setandar, penentuan dengan cara-cara promosi dan
penyaluran distribusi yang tepat
Indikator Karakteristik Wirausaha (skripsi,tesis,disertasi)
Lumpkin dan Dess (1996) dalam Ranto (2016), mengemukakan
indikator untuk mengukur karakteristik kewirausahaan, diantaranya:
1. Keinovatifan (innovativeness), yaitu kencenderungan untuk terlibat
dalam kreativitas dan eksperimen melalui pengenalan produk atau jasa
baru serta kepemimpinan teknologi melalui riset dan pengembangan
dalam proses proses baru.
2. Pengambilan resiko (risk taking), yaitu pengambilan tindakan tegas
dengan mengeksplorasi hal yang tidak diketahui, meminjam dalam
jumlah besar, dan/ atau mengalokasi sumber daya yang signifikan untuk
usaha di lingkungan yang tidak pasti.
3. Keaktifan (proactiveness), yaitu sebuah pencarian peluang, perspektif
memandang ke depan yang ditandai dengan pengenalan produk baru
atau jasa baru lebih dulu dalam persaingan dan bertindak dalam
mengantisipasi permintaan masa mendatang.
Pengertian Wirausaha (skripsi,tesis,disertasi)
Wirausaha merupakan salah satu yang mendukung maju atau
mundurnya perekonomian sebuah negara. Semakin maju sebuah negara,
maka semakin tinggi kesadaran berwirausaha. Menurut Buchari Alma
(2013: 24), “Wirausahawan adalah orang yang mendobrak sistem ekonomi
yang sudah ada dengan memperkenalkan barang atau jasa baru, dengan
menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru.”
Wirausaha merupakan mereka yang mempunyai keberanian sehingga
mampu untuk mendobrak sistem ekonomi guna mencapai kehidupan yang
lebih baik dengan memperkenalkan barang atau jasa serta bahan baku baru.
Sementara menurut Suryana (2014: 6), wirausahawan merupakan
orang yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan
mengembangkan ide-ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan
peluang (Opportunity) dan perbaikan (Preparation) hidup. Sumber daya
yang diolah dengan kreatif dan inovatif lebih mudah dalam menemukan
peluang usaha. Seseorang yang berwirausaha harus mampu melihat
kesempatan dan peluang bisnis, sehingga usaha yang dijalankan sesuai
dengan kebutuhan pasar dan masyarakat. Tidak hanya mampu melihat
kesempatan bisnis, namun harus dapat mengumpulkan data yang cukup
untuk memperkirakan kemungkinan yang terjadi dalam kegiatan usahanya.
Berdasarkan pengertian para ahli tersebut, dapat disimpulkan
wirausaha adalah orang yang mampu melihat peluang dan mengembangkan
ide-ide yang kreatif dan inovatif kemudian mewujudkannya untuk mencapai
kesuksesan. Berdasarkan pemaparan teori karakteristik dan wirausaha,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik wirausaha adalah ciri
khas seseorang yang dituangkan dalam perbuatan atau tingkah laku yang
mengarah pada sifat-sifat yang dimiliki wirausaha menciptakan nilai
tambah melalui pematangan ide-idenya dan menyatukan sumber daya yang
dimilikinya.
Pengertian Karakteristik (skripsi,tesis,disertasi)
Setiap individu memiliki berbagai karakteristik di dalam dirinya
yang menjadi ciri khas untuk membedakan antara individu satu dengan yang
lain. Karakteristik berasal dari kata karakter, sebagaimana yang dijelaskan
oleh Yuyus Suryana (2013) mengemukakan bahwa akar kata karakter dapat
dilihat dari kata Latin kharakter, kharessein, dan Kharax, yang maknanya
tools for making, to engrave, dan pointed shake. Kata ini mulai banyak
digunakan (kembali) dalam bahasa Perancis caractere pada abad ke14 dan
kemudian masuk dalam bahas Inggris menjadi character, sebelum akhirnya
menjadi bahasa Indonesia karakter. Karekter mengandung pengertian (1)
suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang, sehingga membuatnya
menarik dan atraktif; (2) reputasi seseorang; dan (3) seseorang yang
memiliki kepribadian yang eksentrik.
Menurut kamus Poerwardarminta (Yuyus Suryana, 2014: 50),
karakteristik diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak
atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari pada yang lain.
Ibaratnya sebuah huruf dalam alfabet yang tidak pernah sama antara yang
satu dan yang lain, demikian juga dengan karakteristik orang yang dapat
dibedakan satu dengan yang lainnya.Dengan kata lain, setiap manusia pasti
memiliki karakteristik yang berbeda yang membedakan antara yang satu
dengan yang lain.
Kinerja pemasaran yang baik dapat dicapai bila perusahaan
bergantung pada dua kapabilitas yaitu orientasi pasar dan orientasi
kewirausahaan serta bagaimana kapabilitas ini berkaitan dengan kinerja
pemasaran suatu perusahaan (Wahyu Purnomo Aji,2014). Karakteristik
seseorang bergantung pada kekuatan dari luar (eksogen). Jadi, karakteristik
individu dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.Karakteristik dapat
diubah dan dididik. Karakteristik merupakan cara berpikir dan berperilaku
yang menjadi ciri khas setiap orang untuk hidup dan bekerja sama, baik
dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Berdasarkan
pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa karakteristik adalah
sifat khas seseorang yang membedakannya seseorang dan dituangkan dalam
perbuatan atau tingkah laku dengan orang lain akibat pengaruh bawaan dan
lingkungan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Daya Saing (skripsi,tesis,disertasi)
Menurut Muhardi (20017:41) adapun factor-faktor yang mempengaruhi daya
saing adalah:
a) Lokasi
Memperhatikan lokasi usaha sangat penting untuk kemudahan pembeli
dan menjadi faktor utama bagi kelangsungan usaha. Lokasi usaha yang
strategis menarik perhatian pembeli. Letak atau lokasi menjadi sangat penting
untuk memenuhi kemudahan pelanggan dalam berkunjung, konsumen tentu
mencari jarak tempuh terpendek. Walau tidak menutup kemungkinan
konsumen dari jarak jauh juga membeli, tapi persentasenya kecil.
b) Harga
Harga adalah jumlah dari seluruh nilai yang ditukar konsumen atas
manfaat-manfaat mmiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut. Harga
menentukan apakah sebuah supermarket, minimarket, atau swalayan banyak
dikunjungi konsumen atau tidak. Faktor harga juga berpengaruh pada seorang
pembeli untuk mengambil keputusan. Harga juga berhubungan dengan diskon,
pemberian kupon berhadiah, dan kebijakan penjualan. Bagi pelangggan yang
sensitif biasanya harga murah adalah sumber kepuasan yang penting karena
mereka mendapatkan value for money yang tinggi
c) Pelayanan
Program pelayanan / service seringkali menjadi pokok pemikiran
pertama seorang pengelola supermarket/minimarket. Pelayanan melalui
produk berarti konsumen dilayani sepenuhnya melalui persediaan produk
yang ada, produk yang bermutu. Pelayanan melalui kemampuan fisik lebih
mengacu kepada kenyamanan peralatan (trolley atau keranjang belanja),
tempat parkir yang nyaman, penerangan ruangan yang baik, juga keramahan
dari karyawan.
d) Mutu atau kualitas
Keyakinan untuk memenangkan persaingan pasar sangat ditentukan oleh
kualitas produk yang dihasilkan perusahaan. Berkenaan dengan kualitas
produk, Muhardi dalam bukunya Strategi Operasi Untuk Keunggulan
Bersaing mengutip pendapat Adam dan Ebert yang menyatakan: “product
quality is the appropriateness of design specifications to function and use as
well as the degree to which the product conforms to the design specifications”.
Kualitas produk ditunjukkan oleh kesesuaian spesifikasi desain dengan fungsi
atau kegunaan produk itu sendiri, dan juga kesesuaian produk dengan
spesifikasi desainnya. Jadi suatu perusahaan memiliki daya saing apabila
perusahaan itu menghasilkan produk yang berkualitas dalam arti sesuai
dengan kebutuhan pasarnya.
e) Promosi
Semakin sering suatu supermarket/swalayan melakukan promosi,
semakin banyak pengunjung dalam memenuhi kebutuhannya. Promosi bisa
dilakukan melalui berbagai iklan baik di media cetak, elektronik, maupun
media lain. Promosi penjualan terdiri dari insentif jangka pendek untuk
mendorong pembelanjaan atau penjualan produk atau jasa, yang mana
promosi penjualan ini mencakup suatu variasi yang luas dari alat-alat promosi
yang didesain untuk merangsang respons pasar yang lebih cepat, atau yang
lebih kuat.
4) Manfaat Peningkatan Daya Saing
Dalam lingkungan persaingan yang semakin kompetitif dan adanya
situasi pasar yang dinamis, maka setiap perusahaan tidak mungkin lagi
untuk menghindari persaingan, tetapi yang harus dilakukan adalah
menghadapi tingkat persaingan tersebut dengan cara yang sebaik baiknya.
Sebaik-baiknya disini diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara
optimal dan berkesinambungan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik
dan lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Indikator Daya Saing (skripsi,tesis,disertasi)
Keunggulan bersaing adalah kemampuan perusahaan untuk menciptakan
nilai unggul dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang dimilikinya.
Hartanty dan Ratnawati (2013), mengemukakan tiga indikator untuk mengetahui
apakah sebuah perusahaan memiliki keunggulan bersaing, yaitu:
1. Keunikan produk, yaitu keunikan yang dimiliki oleh produk yang
dihasilkan Perusahaan sehingga membedakan dari produk pesaing atau
produk umum dipasaran.
2. Kualitas produk, yaitu kualitas dari produk yang berhasil diciptakan oleh
perusahaan.
3. Harga bersaing, yaitu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan produk
dengan harga yang mampu bersaing dipasaran.
Pengertian Daya Saing (skripsi,tesis,disertasi)
Daya saing merupakan suatu upaya yang harus dilakukan oleh pelaku
usaha/ekonomi agar tetap eksis dalam menjalankan kegiatannya (Sulistiyani et al.,
2020). Daya saing berhubungan dengan bagaimana efektivitas suatu organisasi di
pasar persaingan, dibandingkan dengan organisasi lainnya yang menawarkan
produk atau jasa-jasa yang sama atau sejenis. Perusahaan-perusahaan yang mampu
menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas baik adalah perusahaan yang
efektif dalam arti akan mampu bersaing.Perusahaan yang tidak mempunyai daya
saing akan ditinggalkan oleh pasar. Karena tidak memiliki daya saing berarti tidak
memiliki keunggulan, dan tidak unggul berarti tidak ada alasan bagi suatu
perusahaan untuk tetap survive di dalam pasar persaingan untuk jangka panjang.
Persaingan adalah inti dari kesuksesan atau kegagalan perusahaan. Terdapat
dua sisi yang ditimbulkan oleh persaingan, yaitu sisi kesuksesan karena mendorong
perusahaan-perusahaan untuk lebih dinamis dan bersaing dalam menghasilkan
produk serta memberikan layanan terbaik bagi pasarnya, sehingga persaingan
dianggapnya sebagai peluang yang memotivasi. Sedangkan sisi lainnya adalah
kegagalan karena akan memperlemah perusahaan-perusahaan yang bersifat statis,
takut akan persaingan dan tidak mampu menghasilkan produk-produk yang
berkualitas, sehingga persaingan merupakan ancaman bagi perusahaannya.
Pengaruh Organizational Ambidexterity pada Perusahaan selama dan setelah Resesi (skripsi,tesis,disertasi)
Salah satu kelebihan perusahaan ambidextrous adalah mereka dapat bertahan pada
lingkungan yang dinamik atau berubah-ubah (March, 1991). Hal ini terlihat bahwa lingkungan
yang dinamik menyeimbangkan hubungan antara organizational ambidexterity dan performa
perusahaan (Uotila et.al 2009). Jansen et. al (2006) mengatakan bahwa lingkungan yang
dinamik memiliki ciri atau karakter pada perubahan di teknologi, kemauan pembeli yang
bervariasi, dan fluktuasi pada permintaan produk atau penambahan material.
Beberapa penulis menemukan bahwa perubahan terjadi karena keinginan pembeli dan
fluktuasi permintaan produk selama resesi atau krisis (Deleersnyder, 2003; Lamey et.al, 2007).
Perubahaan pada keinginan pembeli untuk membuat pasar baru terbuka, membutuhkan
teknologi baru atau keuntungan persaingan baru. Masa krisis diartikan sebagai waktu untuk
meningkatkan lingkungan dinamik.
Lingkungan yang kompetitif memiliki ciri dengan tekanan tinggi untuk efisiensi yang
lebih tinggi dan harga yang lebih rendah sehingga mengarah pada penghasilan yang lebih ketat
dan kurangnya kinerja organisasi (Jansen et.al 2006). Claessens et.al (2009) berkata bahwa
selama resesi, konsumen mengalami kekurangan pendapatan pribadi. Akibatnya, konsumen
memaksa diri menjadi sensitif pada harga dalam kontraksi ekonomi (Lamey et.al, 2007)
Pearson & Clair (1998) mengatakan bahwa krisis umumnya didefinisikan sebagai
situasi ambigu yang merupakan ancaman besar bagi kelangsungan hidup organisasi, yang
penyebab dan dampaknya tidak diketahui (Dutton, 1986), yang hanya ada sedikit waktu untuk
merespon (Hermann, 1963), dan memerlukan keputusan yang akan menghasilkan perubahan
menjadi lebih baik atau lebih buruk (Marcus dan Goodman, 1991).
Di antara krisis lainnya - peristiwa politik, bencana alam, bencana teknologi, dan krisis
tingkat perusahaan, krisis ekonomi merupakan masalah besar karena ancaman terhadap
kelangsungan hidup organisasi. Krisis ini memanifestasikan dirinya dalam banyak indikator
makroekonomi seperti penurunan produk domestik bruto (PDB) riil, tingkat inflasi dan
pengangguran yang tinggi, pasar keuangan yang bergejolak, serta mata uang yang tidak stabil.
Beberapa peneliti berulang kali mengatakan bahwa perubahan lingkungan
mempengaruhi kegiatan organisasi. Perusahaan dalam kondisi krisis ekonomi lebih fokus pada
hasil jangka pendek dan dapat dilihat melalui kegiatan eksploitasi dibandingkan kegiatan
eksploratif yang berhubungan dengan ketidakpastian tertentu mengenai biaya dan manfaat di
masa depan.
Dampak krisis ekonomi yang terjadi pada organisasi meningkatkan dorongan menuju
eksploitasi. Hal ini disebabkan perusahaan menghadapi perkembangan pasar yang sulit
diprediksi dan merasa sulit menentukan tingkat investasi yang sesuai untuk menghadapi
ancaman ekonomi di masa depan. Sehingga fokus pada eksploitasi meningkatkan kesempatan
untuk tetap menguntungkan dalam kondisi kelangkaan ekonomi, yang sering dianalogikan
sebagai penurunan omset penjualan atau keuangan yang tidak stabil. Dalam kondisi ini,
perusahaan cenderung meningkatkan komitmen sumber daya mereka untuk memanfaatkan
kemampuan yang ada (Staw et al., 1981, Cameron et al., 1987).
Krisis ekonomi juga dapat mengintensifkan fokus pada eksplorasi. Faktanya, periode
krisis ekonomi tiba-tiba dapat mengubah kondisi lingkungan organisasi yang ada,
mengubahnya secara mendasar (Pearson & Clair, 1998). Pergeseran tak terduga ini mungkin
membuat kemampuan organisasi sebelumnya tidak berguna. Akibatnya, beberapa ilmuwan
seperti Sanchez (1995) dan Harrigan, (1985) berpendapat bahwa kemampuan organisasi yang
fleksibel merespon perubahan lingkungan dan mempertahankan keunggulan kompetitif lebih
baik.
Hubungan positif antara kemampuan fleksibel dan aktivitas eksploratif perusahaan
selama krisis ekonomi (Gilbert, 2006) mencerminkan dasar-dasar pembelajaran organisasi
(Lant & Mezias, 1992). Setiap krisis tidak terduga dan unik, organisasi tidak dapat belajar
menanganinya terlebih dahulu. Akibatnya, kesuksesan dan kesalahan memberikan informasi
dan pengalaman baru, yang merupakan dasar untuk belajar (Maret, Sproull, & Tamuz, 1991).
Eksplorasi memberi perusahaan kemampuan untuk membangun dan mempertahankan
kemampuan yang menunjukkan nilai ketika ada kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan pasar yang berubah ketika krisis ekonomi.
Penelitian telah mengajarkan bahwa selain mencapai efisiensi yang lebih tinggi,
organisasi juga harus mencari inovasi yang terbuka atau bebas dan terputus-putus yang dapat
mengubah persaingan dalam industri. Organisasi dapat memenuhi tantangan lingkungan
persaingan yang semakin kompleks dengan menggabungkan eksploitasi dan eksplorasi.
Eksploitasi mengacu dengan memanfaatkan kemampuan yang ada melalui kegiatan seperti
'penyempurnaan, efisiensi, seleksi, dan implementasi', sementara eksplorasi mengacu pada
upaya untuk menciptakan kemampuan masa depan melalui 'pencarian, variasi, eksperimen, dan
penemuan' (March, 1991:71).
Selain itu, strategi eksploitasi berfokus pada efisiensi produk dan layanan yang ada,
sementara eksplorasi bertujuan untuk mengembangkan produk dan layanan untuk pasar baru.
Meskipun kegiatan ini mungkin saling berhubungan, mereka memerlukan proses, struktur,
strategi, dan budaya organisasi yang mendasarinya yang berbeda-beda.
Hubungan Organizational Ambidexterity dan Kinerja Perusahaan (skripsi,tesis,disertasi)
Beberapa literatur menemukan bahwa organizational ambidexterity berhubungan
dengan kinerja perusahaan. March (1991) berkata bahwa implikasi performa mengejar
eksplorasi dan eksploitasi. Beberapa peneliti sependapat dengan March (1991) dengan mellihat
situasi yang sedang terjadi di perusahaan. Jansen et al. (2006) mengindikasi bahwa
menggunakan inovasi eksplorasi lebih efektif dalam lingkungan yang dinamik dan
menggunakan inovasi eksploitasi lebih menguntungkan di lingkungan kompetetif.
Menguc & Auh (2008) menemukan bahwa ambidexterity tidak mempunyai efek negatif
dalam kinerja perusahaan baik dari perusahaan bersifat agresif atau defensif. Namun, mereka
menemukan bahwa eksplorasi mempunyai efek positif lebih besar dibandingkan eksploitasi.
Bradach (1997) menemukan bahwa stimulus pada penggunaan struktur yang berbeda dapat
mempengaruhi ikatan performa antara perusahaan dan produknya.
Probst & Raisch (2005) menganalisa crisis cooperation menemukan bahwa perusahaan
harus menyeimbangkan antara pertumbuhan dan perubahaan perusahaan untuk mencapai
kesuksesan. Gibson & Birkinshaw (2004) menemukan bahwa ambidexterity menghubungkan
hubungan antara konteks dan kinerja perusahaan. Konteks yang dikarakteristikan oleh
kombinasi kelenturan, disiplin, dukungan, dan fasilitas yang dipercaya pada contextual
ambidexterity.
Lubatkin et.al (2006) menyarankan bahwa join pursuit pada orientasi eksplorasi dan
eksploitasi berefek pada performa perusahaan. Morgan dan Berthon (2008) menemukan bahwa
strategi inovasi eksploitasi dan eksplorasi secara positif berhubungan pada kinerja perusahaan
dan perusahaan yang menggunakan ambidexterity positif berhubungan dengan kinerja bisnis.
Lee dan MacMillan (2008) menemukan bahwa menyebarkan prosedural dan koordinatif
knowledge-sharing (struktur ambidexterity) secara positif dan signifikan berhubungan dengan
kinerja subsidi dengan studi pada chaebol Korea. Semakin tinggi kinerja organizational
ambidexterity, maka performa perusahaan semakin besa
Eksplorasi dan Eksploitasi (skripsi,tesis,disertasi)
Dalam perbedaan, para peneliti mendukung bahwa unit eksplorasi umumnya lebih kecil,
desentralisasi dan fleksibel daripada unit eksploitasi (Benner & Tushman, 2003). Dalam
integritas, peneliti mendukung bahwa eksplorasi dan eksploitasi harus dikombinasikan untuk
menghasilkan nilai (Eisenhardt & Martin, 2000). Hal ini merupakan tanggung jawab atas
manajemen untuk mengintegrasikan logika terhadap dua tindakan di seluruh unit yang berbeda
(Smith & Tushman, 2005).
Konteks organisasi yang menggabungkan "pelonggaran, disiplin, dukungan dan
kepercayaan" memfasilitasi ambidexterity (Gibson dan Birkinshaw, 2004). Kritikus perspektif
terhadap integrasi perspektif menyatakan bahwa pilihan antar eksplorasi dan eksploitasi
cenderung menjadi jalan mandiri. Eksplorasi cenderung diikuti oleh eksplorasi lebih banyak
dan sebaliknya (March, 1991).
Namun, jika eksplorasi dan eksploitasi dikonsepkan atau disatukan sebagai sebuah
kontinum, dua pendekatan tersebut dapat dikombinasi (Cao et al., 2009, Gupta et al., 2006).
Maka, diferensiasi dan integrasi menjadi saling melengkapi. Beberapa peneliti menyarankan
bahwa individual, terutama manajer yang sering menyelesaikan masalah paradox eksplorasi
dan eksploitasi bisa menjadi ambidextrous. Bagaimana menggabungkan dan menyeimbangkan
antar keduanya tergantung pada tugas tertentu sesuai kondisi yang terjadi.
Beberapa peneliti menyarankan bahwa individu, terutama manajer yang sering
memecahkan paradoks eksplorasi dan eksploitasi dapat menjadi ambidextrous. March (1991)
menjelaskan eksplorasi dan eksploitasi sebagai dua fondasi yang berbeda, dimana eksploitasi
mengacu pada "perbaikan, efisiensi, seleksi dan implementasi" dan eksplorasi mengacu pada
"cari, variasi, eksperimen dan inovasi". Dua proses tersebut dianggap tidak kompatibel,
mengarah ketegangan organisasi dimana keduanya bersaing untuk sumber daya yang langka
dan memerlukan kemampuan yang berbeda dalam organisasi.
Eksperimen dan eksplorasi lebih memakan waktu, memerlukan hasil yang pasti dan
memiliki jarak atau durasi waktu lebih lama daripada menyempurnakan pengetahuan sekarang
dan memperluas kompetensi. Namun, March (1991) menggarisbawahi kebutuhan untuk
keseimbangan antar keduanya, untuk kinerja organisasi yang lebih unggul. Penelitian
organizational ambidextrous menunjukkan bahwa pengejaran eksplorasi dan eksploitasi
(melalui struktur atau pemisahan sementara) memang layak dan bermanfaat bagi kinerja
organisasi (He & Wong, 2004; O'Reilly Tushman, 2004)
Organizational Ambidexterity (skripsi,tesis,disertasi)
Perusahaan perlu tampil maksimal dalam kinerja karena sulit bertahan dalam persaingan
tinggi. Untuk bertahan dalam persaingan, kunci utamanya adalah kinerja dengan kualitas bagus
sehingga perusahaan harus melakukan kinerja berkualitas tinggi.Kemampuan studi organisasi
dan konsep ambidexterity diterima sebagai faktor yang memberikan kinerja perusahaan yang
tinggi. Organisasi dapat menggunakan cara yang berbeda untuk aktivitas studi. Organisasi
memori (organizational memory) kadang didesain ulang untuk mendapatkan pengetahuan
baru. Selain itu, mereka menggunakan cara baru untuk mempelajari pengetahuan baru (Cheryl,
1997).
Ada dua inovasi yang berbeda sebagai hasil dari pembelajaran organisasi, yaitu
inovasi eksploitatif dan eksplorasi. Inovasi eksploitatif didefinisikan sebagai pengembangan
pengetahuan, kemampuan dan proses terkini (March, 1991). Dasar inovasi eksploitatif terdiri
dari peningkatan teknologi dan gagasan saat ini. Beberapa modifikasi dasar pada metode yang
digunakan sebelumnya mencakup inovasi eksploitatif (Jansen et al., 2006; Cheryl, 1997).
Inovasi eksplorasi didefinisikan sebagai mengeksplorasi pengetahuan, talenta dan proses baru
(March, 1991).
Kebutuhan akan keseimbangan yang tepat antar eksplorasi dan eksploitasi telah
disimpulkan oleh kesimpulan Tuckman & O'Relly mengenai ambidextrous organization (He
& Wong, 2004). Mereka berpendapat bahwa sebuah perusahaan ambidextrous yang mampu
beroperasi secara simultan untuk eksplorasi dan eksploitasi kemungkinan mencapai kinerja
superior sehingga perusahaan menekankan satu dengan mengorbankan yang lain (Tushman &
O'Relly's, 1996).
Menurut Katila dan Ahuja, keberadaan akan kemampuan eksploitasi seringkali
dibutuhkan untuk mengeksplorasi kemampuan baru dan kemampuan eksplorasi baru juga
meningkatkan dasar pengetahuan perusahaan yang ada (Katila dan Ahuja, 2002). Akhirnya,
menurut hasil penemuan, inovasi eksplorasi dan inovasi eksploitasi saling berhubungan satu
sama lain sehingga perusahaan harus melakukan menyeimbangkan kemampuan eksplorasi dan
eksploitatif. Jika keseimbangan tidak dilakukan, perusahaan mungkin jatuh ke dalam
perangkap sukses atau perangkap gagal.
Perangkap sukses (A success trap) dapat didefinisikan tiap inovasi eksplorasi dan
eksploitasi berhasil membuat organisasi membuat penemuan baru lainnya. Beberapa penemuan
eksplorasi mungkin tidak berlaku setelah penemuan eksplorasi (Levinthal & March, 1993).
Karena itu, inovasi eksploitasi tidak berguna saat inovasi eksplorasi tiba-tiba menonjol
(Shekhar, 1996; Levinthal dan March, 1993). Ketika organisasi menganggap diri mereka tidak
berhasil akibat inovasi eksplorasi yang diterapkan, mereka mengambil resiko lebih untuk
menyelamatkan organisasi agar mudah diaplikasikan.
Oleh karena itu organisasi dengan mudah menerapkan inovasi eksplorasi agar tidak
gagal berikutnya. Selain itu, organisasi dapat melakukan inovasi eksploratif secara berurutan.
Kegagalan secara berurutan disebut sebagai perangkap gagal (fail trap). Organisasi, yang
hanya fokus pada inovasi eksplorasi, mungkin akan kecewa karena organisasi ini hanya bisa
menerapkan inovasi eksplorasi.
Selain itu, organisasi lain mungkin meniru penemuan ini dan menyebabkan hilangnya
keunggulan persaingan (Shekhar, 1996; Levinthal & March, 1993; Henrich, 2007; March,
1991). Karena keseimbangan yang diperlukan antara inovasi eksplorasi dan eksploitatif,
perusahaan harus menggunakan dua di antaranya dan menyeimbangkan antar keduanya (He &
Wong, 2004). Kemampuan dan sumber perusahaan seharusnya dilihat sebagai dinamika bukan
statitika. Dinamika ini sudah dibahas oleh Smith et al (1996) yang menyediakan framework
integratif untuk studi organisasi dan RBV. Mereka berargumen bahwa masuknya studi
organisasi dengan RBV akan membuat teori tersebut mempunyai proses dinamik lebih banyak.
Selain itu, studi organisasi tersebut merupakan kemampuan strategi atau sumber utama untuk
proses pembangunan dan mempertahankan keuntungan kompetetif.
Helfat & Peteraf (2003) memperkenalkan konsep kemampuan siklus hidup (lifecycle)
yang menguraikan pola umum dan arah pada perkembangan kemampuan organisasi masa
depan. Melalui diskusi studi organisasi, ambidexterity berkembang sebagai konsep kuat yang
menerima studi keseimbangan dalam organisasi. Strategi manajemen fokus pada pencarian
keuntungan kompetitif.
Keunggulan kompetitif didefinisikan sebagai karakteristik perusahaan yang dapat
menghasilkan keuntungan yang superior (Teece, 2000). Keunggulan kompetitif berbeda dari
keuntungan berkelanjutan (Teece, 2007). Tingkat kinerja perusahaan saat ini bergantung
dengan memuaskan pelanggan yang dimilikinya saat ini, sementara kelangsungan hidupnya
bertahan bergantung pada pengembangan proses, produk, dan layanan yang akan diminta
pelanggan di masa depan (Benner & Tushman, 2003).
Wernerfelt (1984) dan Penrose (1959) mengatakan bahwa berdasarkan pandangan
dari sumber dalam merupakan salah satu teori dominan untuk mencari keunggulan kompetitif
berkelanjutan dengan memusatkan perhatian pada sumber daya dan kemampuan perusahaan.
Operasional teori ini dirumuskan dalam kerangka VRIN oleh Barney (1991). Selebihnya teori
tersebut dapat dikembangkan dengan konsep keunggulan dinamis.
Wang dan Ahmed (2007) mengklarifikasi konsep keunggulan dinamik dan
identifikasi tiga komponen utama yang menggambarkan ciri umum keunggulan dinamik pada
beberapa perusahaan. Dalam tinjauan pustaka mereka, mereka melihat sumber daya
perusahaan sebagai urutan nol (zero order) pada keunggulan dinamik. Pada tingkat yang lebih
tinggi berikutnya (higher level) urutan kedua atau diatasnya, keunggulan dinamik mengatur
perubahan keunggulan dinamik urutan pertama (first order) dan operasional rutinitas.
Keunggulan dinamik urutan kedua (second order) mempengaruhi tingkat tinggi
dalam studi organisasi dan menentukan koridor perkembangan organisasi. Dalam tingkat
keunggulan dinamik ini, perusahaan perlu mengintegrasikan sumber daya dan kemampuan
(capabilities) dengan tujuan strategis. Pengukuran ini disebut sebagai studi keseimbangan
(balanced learning).
Ambidexterity berasal dari studi literatur organisasi yang berhubungan dengan tradeoff dan paradox. Konsep ini mencoba menyeimbangkan beragam ketegangan antar trade-off
dan paradox yang ditemukan dalam isu strategi perusahaan. March (1991) mendefinisikan
masalah ini sebagai ketegangan antara eksplorasi dan eksploitasi. Ambidexterity menarik
perhatian beberapa peneliti dan penelitian mengenai topik tersebut berkembang pesat (Turner,
2011). Raisch & Birkinshaw (2008) menyimpulkan bidang penelitian ini dan menawarkan
kerangka konseptual untuk organisasi ambidexterity.
Kemampuan dinamis, ambidexterity dan formulasi strategi siklus bisnis saling
berhubungan. Ketepatan kemampuan dinamis kedua atau lebih menyimpulkan bahwa
kebutuhannya dalam pembelajaran organisasi harus mampu menyeimbangkan berbagai
ketegangan strategis. Namun, bagaimana perusahaan menyeimbangkan ketegangan tidak
didefinisikan dengan baik dalam kemampuan dinamis atau penelitian RBV. Studi
keseimbangan ini difasilitasi oleh konsep eksplorasi dan eksploitasi atau literatur
ambidexterity. Namun, bagaimana perusahaan bisa menyeimbangkan eksplorasi dan
eksploitasi dalam konteks siklus bisnis tidak mudah ditemukan dalam ambidexterity atau
literatur studi organisasi.
Perusahaan semakin menyadari kebutuhan untuk mengeksploitasi keunggulan
kompetetif saat ini dan mengeksplorasi keunggulan kompetetif yang baru. Perusahaan yang
menekankan kegiatan eksploitasi menghadapi resiko kehabisan sumber daya karena
perusahaan tidak pernah menangkap keuntungan dari investasi awal. Sebaliknya, perusahaan
yang menekankan kegiatan eksplorasi menghadapi resiko terjebak dalam cara perusahaan saat
berinovasi, tidak mempersiapkan perubahan yang tak dapat dihindari dan akhirnya hancur
karena diungguli oleh teknologi baru.
Kedua aktivitas tersebut membutuhkan proses pengetahuan yang berbeda dan
berkapabilitas sehingga sering dilihat sebagai dua kekuatan yang berlawanan. Perusahaan yang
mampu mengeksploitasi keunggulan kompetetif saat ini sambil mengeksplorasi keunggulan
kompetetif baru disebut ambidextrous.
Beberapa penelitian mengatakan bahwa selain mencapai efisiensi, organisasi
seharusnya juga mencari kebebasan atau perubahan. Inovasi tidak berkelanjutan dapat
menguntungkan industri saat berkompetensi dengan perusahaan lain. Organisasi dapat bertemu
dengan perubahan lingkungan kompetitif yang kompleks secara cepat dengan menggabungkan
eksplorasi dan eksploitasi.
Eksploitasi lebih mengarah kemampuan yang ada melalui aktivitas berupa “efisiensi,
seleksi, dan implementasi” sementara eksplorasi lebih mengarah suatu usaha untuk
menciptakan kapabilitas masa depan dengan berupa “mencari, variasi, eksperimen, dan
penemuan” (March, 1991:71). Strategi eksploitasi fokus pada produk yang sudah ada dan
efisiensi pelayanan sedangkan eksplorasi bertujuan untuk mengembangkan produk dan
pelayanan untuk pasar baru.
Kemampuan untuk berinovasi selalu menjadi faktor yang berpengaruh terhadap
keberhasilan organisasi. Faktor tersebut adalah organisasi yang memiliki sumber daya,
motivasi kuat untuk berinovasi, dan iklim organisasi yang memungkinkan dan mendorong ide
inovatif dengan cepat dan berhasil berinovasi. Organizational ambidextrous memiliki
kemampuan untuk menghasilkan keunggulan kompetitif melalui pengembangan inovasi
eksplorasi dan eksploitasi pada saat yang sama (Benner dan Tushman, 2003; Tushman dan
O'Reilly, 1996).
Meski awal penyebutan untuk susunan "organizational ambidexterity" dalam studi
organisasi biasanya dihubungkan pada Duncan (1976), jurnal penelitian March (1991) dipakai
untuk titik awal teoritis yang membuka konstruksi atau susunan alami sebagai topik yang
relavan dalam literatur strategi manajemen.
Dalam mengembangkan hipotesisa ini, inovasi eksplorasi dan eksploitasi tingkat
tinggi secara bersamaan dalam organisasi yang sama menyebabkan keunggulan kompetitif.
Organisasi terus memanfaatkan dasar pengetahuan, tapi pada saat yang sama harus
mengeksplorasi pengetahuan baru dan solusi. Hal ini merupakan pemahaman dasar literatur
Organizational Ambidextrous. Organizational Ambidextrous dapat melakukan keduanya dan
sering dilakukannya secara simultan atau bersamaan (Raisch et al., 2009)
Raisch et al (2009) meringkas literatur dalam empat kategori yaitu:
1. Diferensiasi vs Integrasi Eksplorasi dan Eksploitasi.
2. Individu vs Organizational ambedixterity
3. Statis vs Perspektif yang dinamis
4. Internal vs Perspektif eksternal.
Gupta et al (2006) berpendapat bahwa eksplorasi dan eksploitasi harus dilihat sebagai
sebuah kontinum. Dengan demikian, fokus penelitian menunjuk bagaimana dua logika
digabung terutama dalam organisasi yang berisi loose coupled unit. Gagasan tentang eksplorasi
dan eksploitasi sebagai sebuah kontinum dan kombinasi organisasi telah memberikan
momentum untuk literatur ambidextrous dalam beberapa tahun terakhir.