Minggu, 23 Oktober 2022

Strategi Perancangan Identitas Visual (skripsi, tesis, dan disertasi)


Landa (2011) menjelaskan bahwa Identitas visual juga melibatkan riset pasar,
brand audit, strategi, dan pemberian nama (hlm. 240-241). Landa (2011)
menjabarkan proses dari pembentukan suatu identitas visual sebagai berikut:
Pembentukan identitas visual memiliki empat komponen penting dan saling
berhubungan yaitu logo, warna, bentuk, dan tipografi. Sedangkan untuk mencapai
identitas visual yang koheren secara verbal dan visual, komponen utama nya yang
meliputi aplikasi sebuah brand terdiri dari:
- Strategi
- Tagline
- Logo 
- Look and feel
- Warna
- Typeface
- Signature
- Tone of voice
- Gambar yang baik
- Tulisan yang menarik

Fungsi dan Jenis Identitas Visual (skripsi, tesis, dan disertasi)


Sebuah konsep desain haruslah memiliki korelasi dengan value atau kualitas dari
sebuah brand. Signifikansi dari sebuah brand yang berupa posisi dari brand
tersebut, dan bagaimana menghadapi para kompetitor, dapat dikomunikasikan
melalui visual, yaitu logo dan identitas visual (Landa, 2011, hlm. 241-242). Landa
(2011) juga menambahkan bahwa sistem identitas visual dapat berfungsi sebagai
pendukung kegiatan yang bertujuan untuk membangun sebuah konsensus
(persetujuan yang bersifat general dan disetujui secara bersama) (hlm. 243).
Landa (2011) membagi beberapa jenis dari identitas visual sebagai
berikut:
− Perubahan nama
− Pembaharuan perusahaan, produk, jasa atau suatu kelompok. 
− Merancang ulang identitas visual untuk menyesuaikan dengan keadaan
target dengan tujuan untuk menjaga kerelevanan.
− Mendesain ulang logo yang sudah ada, merubah target segmentasi, atau
mendefinisikan ulang suatu brand.
− Penggabungan antara dua brand: mendesain ulang logo untuk
menggantikan logo yang telah ada sebagai bentuk representasi dari
penggabungan dan nilai dari perusahaan yang baru (hlm. 240-241)

Definisi Identitas Visual (skripsi, tesis, dan disertasi)


Landa (2011) menjelaskan bahwa perusahaan yang menawarkan jasa atau produk
yang sama haruslah memiliki pembeda yang dapat membedakannya satu sama
lain. Jika perusahaan tidak memiliki perbedaan, maka perusahaan tersebut akan
dianggap sebagai perusahaan yang ‘faceless’ atau tidak memiliki ‘wajah’. Oleh
karena itu, untuk membedakan perusahaan satu dengan yang lain, perlulah
memiliki identitas visual, logo atau ikon yang dapat menghindari perusahaan
tampak generik antara satu dengan yang lain (hlm. 240).
Identitas visual menurut Landa (2011) adalah artikulasi verbal dan visual
dari suatu brand, yang terdiri dari aplikasi desain seperti letterhead, kartu nama,
website, dan logo. Untuk dapat berfungsi dengan baik dan menjaga tingkat
kerelevanan dengan target segmentasi, identitas visual haruslah:
− Mudah dikenali. Bentuk dari identitas visual harus mudah diidentifikasi
dan dapat diartikan.
− Mudah diingat. Warna, bentuk dan elemen lainnya harus koheren, unik,
dan menarik. 
− Memiliki perbedaan. Warna, bentuk, nama, dan elemen lainnya harus
memiliki karakteristik yang unik yang dapat membedakan logo tersebut
diantara para kompetitornya.
− Berlangsung lama / timeless. Relevan untuk waktu dalam jangka panjang.
− Fleksibel. Warna, bentuk, nama, dan elemen lainnya memiliki tingkat
fleksibilitas untuk dapat digunakan dan diadaptasikan di berbagai media,
maupun jika suatu brand ingin membuat sub-brands atau brand
extensions (hlm. 240).

Pengertian Politik Identitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Morowitz. Ia (dalam Haboddin, 2012) mendefinisikan politik identitas sebagai berikut:
“Politik identitas adalah memberikan garis yang tegas untuk menentukan siapa
yang akan disertakan dan siapa yang akan ditolak. Karena garis-garis penentuan
tersebut tampak tidak dapat dirubah, maka status sebagai bukan anggota dengan
serta merta tampak bersifat permanen“.
Baik Heller maupun Morowitz memperlihatkan sebuah benang merah yang sama yakni
politik identitas dimaknai sebagai politik berbedaan. Sementara Chandrakirana (dalam
Haboddin, 2012) menyebutkan bahwa:
“Politik identitas biasanya digunakan oleh para pemimpin sebagai
retorikan politik dengan sebutan kami bagi “Orang Asli” yang menghendaki
kekuasaan dan mereka bagi “Orang Pendatang” yang harus melepaskan
kekuasaan. Jadi, singkatnya politik identitas sekedar untuk dijadikan alat
memanipulasi alat untuk menggalang politik guna memenuhi kepentingan
ekonomi dan politiknya”.
Namun pada bagian yang lain, Kemala (dalam Haboddin, 2012) mengatakan bahwa:
“Dalam politik identitas tentu saja ikatan kesuksesan mendapat peran penting, ia
menjadi simbol-simbol budaya yang potensial serta menjadi sumber kekuatan untuk
aksi-aksi politik”. Pemahaman ini berimplasi pada kecenderungan untuk: pertama,
ingin mendapat pengakuan dan perlakuan yang setara atau dasar hak-hak sebagai
manusia baik politik, ekonomi maupun sosial budaya. Kedua, demi menjaga dan
melestarikan nilai budaya yang menjadi ciri khas kelompok yang bersangkutan.
Terakhir, kesetiaan yang kuat terhadap entitas yang dimilikinya.
Beyme (dalam Abdillah, 2002) membuat suatu catatan analisis mengenai pada
gerakan politik identitas, yakni gerakan politik identitas pada dasarnya membangun
kembali “narasi besar” yang prinsipnya mereka tolak dan membangun suatu teori yang
mengendalikan faktor-faktor biologis sebagai penyusun perbedaan-perbedaan
mendasar sebagai realitas kehidupannya.
Dalam gerakan politik identitas ada suatu tendensi untuk membangun sistem
apartheid terbalik. Ketika kekuasaan tidak dapat ditaklukan dan pembagian kekuasaan
tidak tercapai sebagai tujuan gerakan, pemisahan dan pengecualian diri diambil sebagai
jalan keluar; Kelemahan dari gerakan politik identitas adalah upaya untuk menciptakan
kelompok teori spesifik dari ilmu. Sebagai contoh, tidak seorangpun yang bisa menolak
bahwa seorang hitam atau seorang sarjana wanita bisa jadi telah mempunyai
pengalaman yang membuat mereka sensitif dalam kasus-kasus tertentu menyangkut
hubungan dengan kelompok yang lai

Konsep Politik Identitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Dalam literatur ilmu politik, politik identitas dibedakan secara tajam antara
identitas politik (political indetity) dengan politik identitas (political of identity)
political identity merupakan konstruksi yang menentukan posisi kepentingan subjek
didalam ikatan suatu komunitas politik sedangkan political of identity mengacu pada
mekanisme politik pengorganisasian identitas (baik identitas politik maupun identitas
sosial) sebagai sumber dan sarana politik (Habodin, 2012).
Heller (Dalam abdillah, 2002) mengidentifikasikan politik identitas sebagai
konsep dan gerakan politik yang fokus perhatiannya adalah perbedaan (differnce)
sebagai suatu kategori politik yang utama. Ide perbedaan ini menjanjikan bentukbentuk kebebasan (Freedom), toleransi dan kebebasan bermain (Free play), meskipun
dibalik itu terdapat konsekuensinya adalah munculnya intoleransi dan kekerasan.
Karena fokus perhatiannya dan adanya perbedaan-perbedaan sebagai entitas politik
yang signifikan dan determinan, maka politik perbedaan merupakan sebutan lain untuk
politik identitas.
Konsep perbedaan telah dipaparkan oleh Aristoteles secara umum, dengan
konsepnya yang disebut sebagai “penghilang jalan tengah”, (dalam Abdillah, 2002)
bahwa sesuatu adalah A atau bukan A. tidak mungkin sesuatu itu adalah A sekaligus
bukan A atau bukan A dalam waktu yang sama, atau antara keduaduanya. Pemikirian
ini mengisyaratkan bahwa sesuatu berbeda dengan sesuatu yang lain. 

Makna dan Bentuk Keris dalam Budaya Nusantara (skripsi, tesis, dan disertasi)


Menurut Haryoguritno dalam Yuwono (2011: 11), kata kris berarti
menghunus. Keris sebagai benda artefak menurut Kusni dalam Yuwono (2011:
11) berasal dari kata ke = kekeran dan ris = aris. Kekeran sendiri berarti pagar,
penghalang atau pengendalian. Aris berate tenang, lambat dan halus. Nama keris
sendiri berasal dari proses jarwadosok yang kemudian menjadi bahasa Jawa
ngoko.
Menurut Zoetmulder dan Robson dalam buku “Kamus Jawa KunoIndonesia jilid 1” dikutip dari buku Keris Naga oleh Yuwono (2011: 11), bahwa
kata aris atau haris berarti kelakuan atau tindakan yang tenang, sabar, lemah
lembut dan halus. Sedangkan menurut G.P.H Hadiwidjojo (1950) dalam Yuwono
(2011: 11), bahwa keris berasal dari bahasa Jawa Kuno yang tumbuh dari kata
kres dalam bahasa Sansekerta. Hal ini di perkuat dengan dijumpainya keris dalam
prasasti-prasasti kuno sebagai data arkeologis. Tepatnya dalam lempengan
prasasti prunggu asal Karang Tengah tahun 748 Saka (842 Masehi), menyebutkan 
sesaji untuk menetapkan Poh sebagai daerah bebas pajak. Sesaji tersebut berupa
kres, wangkiul, tewek punukan, wesi penghantam (Hasrinuksmo, 2008: 24 dalam
Yuwono, 2011: 11).

Budaya sebagai identitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Budaya bagi suatu bangsa merupakan sebuah harta yang tidak ternilai
harganya, tanpa adanya budaya suatu bangsa akan dipandang rendah oleh bangsa
lain. Kebudayaan pada kenyataannya adalah sebuah konsep yang amat luas
sehingga lahir respon terhadap sebuah konsep kebudayaan. Istilah kebudayaan
dihubungkan dengan kata-kata “adab” atau “peradaban”. Dimana suatu budaya
akan mengalami perubahan mengikuti zamannya.
Secara historis, budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu
buddhayah, yang berasal dari bentuk jamak yaitu buddhi yang diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam buku Human
Communication: Konteks-konteks Komunikasi, budaya merupakan suatu cara
hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang serta
diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Sedangkan budaya menurut
Mulyana dan Rahmat (2006: 25), budaya adalah suatu pola hidup yang
menyeluruh. Dimana budaya bersifat kompleks, abstrak dan luas. Sehingga
budaya merupakan hasil dari perpaduan kehidupan, adat istiadat dan norma yang
terjadi di tengah-tengah masyarakat. 
Menurut Taylor (1897), kebudayaan mempunyai arti luas yang meliputi
perasaan dari suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan,
seni, moral, hukum, adat istiadat dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari para
anggota atau bagian masyarakat (http://flpmaliki.blogspot.com). Kebudayaan
merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut ‘pengalaman
berbagi’. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, seseorang dikatakan berasal dari
kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada tersebut saling membagi
pengalaman yang sama, saling membagi kode-kode kebudayaan yang sama,
berbicara dalam ‘bahasa’ yang sama, serta saling berbagi konsep-konsep yang
sama.
Dalam teori identitas Stuart Hall (1994), identitas merupakan sesuatu yang
bersifat imajiner atau diimajinasikan tentang keutuhan. Sebuah identitas muncul
akibat perasaan bimbang yang kemudian diisi oleh kekuatan dari luar dari setiap
individu. Identitas sendiri adalah sebuah perwujudan dari imajinasi yang
dipandang oleh pihak-pihak tertentu yang saling terhubung didalamnya. Stuart
Hall dalam karyanya Cultural Identity and Diaspora (1990: 393) menjelaskan
bahwasanya identitas budaya sedikitnya dapat dilihat dari dua cara pandang, yaitu
identitas budaya sebagai wujud (identity as being) dan identitas budaya sebagai
proses menjadi (identity as becaming). Dalam cara pandang pertama, identitas
budaya dilihat sebagai suatu kesatuan yang dimiliki bersama atau merupakan
bentuk dasar seseorang serta berada dalam diri banyak orang yang memiliki
kesamaan sejarah dan leluhur. Sehingga sudut pandang ini lebih melihat 
bahwasanya ciri fisik atau lahiriyah lebih mengidentifikasi mereka sebagai suatu
kelompok.
Menurut Prabowo (2008: 9), identitas budaya merupakan cerminan dari
adanya kesamaan sejarah dan kode-kode budaya yang membentuk sekelompok
orang menjadi satu, walaupun dari luar mereka tampak berbeda. Proses klasifikasi
identitas budaya dari teori Stuart Hall tergambar jelas dalam kehidupan
masyarakat berkulit hitam di Amerika dan Eropa. Dibuktikan oleh Aimee Cesaire
dan Leopold Senghor dalam puisinya yang berjudul Anthologie de la nouvelle
posie negre er malgache, maka identitas budaya masyarakat kulit hitam dapat
dihubungkan dengan tiga hal, yakni presence africaine, presence europeene, dan
presence americain.
Menurut Rice (1990: 202) yang dikutip oleh Prabowo (2008: 10), “the sum
total of group member’s feeling about those symbols, values, and common
histories that identify them as a dislinct group”. Artinya identitas budaya adalah
jumlah keseluruhan dari perasaan seseorang atau anggota kelompok terhadap
simbol-simbol, nilai-nilai dan sejarah umum yang membuat mereka dikenal
sebagai kelompok yang berbeda.

Isu dalam Teori Identitas Sosial (skripsi, tesis, dan disertasi)


Dalam Whiteley dan Mary Kite (2006 ; 313), ada beberapa hal yang
seringkali menjadi permasalahan dalam Identitas sosial, diantaranya
adalah:
a. Ingroup favorit versus pengurangan outgroup
Umumnya, penelitian tentang teori identitas sosial telah
menemukan bahwa meskipun orang menunjukkan pilih kasih terhadap
anggota ingroups mereka, mereka tidak selalu menghukum anggota
luar kelompok (Brewer, 1979, 1999; Mummendey & Wenzel, 1999). 
Misalnya, John Dovidio dan Samuel Gaertner (2000) melakukan
penelitian di mana siswa Putih diminta untuk membuat rekomendasi
untuk mempekerjakan baik pelamar pekerjaan Hitam atau Putih.
Penelitian lain telah menemukan bahwa bias ingroup dan peringkat
afektif (seperti menyukai dibandingkan tidak menyukai) anggota
outgroup umumnya berkorelasi (Brown, 1995). Artinya, ingroup bias
biasanya disertai dengan perasaan indifferences terhadap anggota
outgroup.
Amalia Mummendey dan Michael Wenzel (1999), telah
menyarankan bahwa aktivasi identitas sosial menyebabkan hasil
negatif tersebut hanya setelah dua kondisi telah dipenuhi. Sebagai
contoh, banyak orang percaya bahwa satu-satunya bentuk ekspresi
seksual yang diterima adalah heteroseksual. Karena lesbian dan pria
gay melanggar norma ini, orang-orang mengembangkan sikap
bermusuhan terhadap lesbian dan pria gay dan ingin membatasi
perilaku mereka, baik secara seksual maupun dengan mengecualikan
mereka dari peran sosial tertentu seperti orangtua, pengajar, dan dinas
militer (Kite & Whitley, 1998).
b. Identitas sosial dan toleransi antarkelompok
Mummendey dan Wenzel (1999) mencatat bahwa model mereka
tentang hubungan identifikasi ingroup permusuhan juga menyiratkan
kondisi untuk toleransi: Jika ingroup baik tidak percaya bahwa itu dan
outgroup harus berbagi seperangkat nilai-nilai atau tidak melihat nilai- 
nilai mereka sendiri sebagai lebih valid daripada outgroup, maka tidak
akan ada permusuhan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Identitas Sosial (skripsi, tesis, dan disertasi)


Whiteley dan Mary Kite (2006 ; 309) “tidak mengherankan, efek bias yang
lebih besar bagi orang yang lebih kuat adalah dengan identitas kelompok mereka”
(Perreault & Bourhis, 1999). Orang-orang memiliki beberapa potensi identitas
sosial seperti sebagai mahasiswa, teman, anggota mahasiswi, wanita, perawatan
anak pekerja yang masing-masing tersedia untuk aktivasi pada satu waktu. Faktorfaktor apa, saja yang kemudian mempengaruhi identitas sosial atau identitas aktif
dalam seseorang dan kekuatan identitas-identitas sosial. Empat faktor berikut
tampaknya penting dalam mempengaruhi identitas sosial: self-kategorisasi,
kebutuhan untuk kekhasan yang optimal, identitas sosial kronis, dan perbedaan
individu.
a. Self-kategorisasi
Penelitian menggunakan paradigma kelompok minimal yang di
acak menugaskan orang untuk membentuk kelompok buatan, yaitu,
peserta penelitian dikategorikan ke dalam kelompok oleh para peneliti.
Namun, orang lebih cenderung untuk menerima identitas sosial dan
identitas yang lebih kuat jika mereka mengkategorikan diri (Perreault &
Bourhis, 1999). Beberapa faktor yang mempengaruhi self-kategorisasi.
Teori Self-kategorisasi (Turner & Oakes, 1989), mengusulkan
bahwa mengkategorikan diri sebagai anggota kelompok menjadi lebih 
mungkin seperti yang dirasakan ketika perbedaan antara ingroup dan
outgroup meningkat. Salah satu cara untuk melihat proses ini adalah dalam
hal kekhasan, sejauh mana seseorang merasa bahwa ia berbeda bersama
beberapa dimensi dari orang lain dalam suatu situasi (Sampson, 1999).
Semakin besar perbedaan yang dirasakan, semakin besar kemungkinan
seseorang untuk mengkategorikan diri pada dimensi membedakan dan
mengambil identitas sosial yang terkait dengan dimensi itu. Misalnya,
anggota kelompok minoritas ras dan etnis lebih mungkin untuk memakai
identitas dengan dengan kelompok-kelompok pada sebagian besar orang di
sekitar mereka (McGuire & Mc Guire, 1988). Selain itu, perempuan dan
laki-laki lebih cenderung menganggap diri mereka dalam hal jenis kelamin
mereka ketika ditugaskan untuk kelompok di mana seks lainnya di
mayoritas dibandingkan dengan kelompok di mana seks mereka sendiri
dalam mayoritas (Swan & Wyer, 1997).
Salah satu hasil self-kategorisasi adalah bahwa dengan
meningkatnya identitas sosial dan penurunan identitas pribadi, identitas
kelompok, tujuan kelompok, dan pengaruh anggota group lain menjadi
lebih penting daripada identitas pribadi, tujuan pribadi, dan motif-motif
pribadi dalam membimbing keyakinan dan perilaku (Oakes, Haslam, &
Turner, 1994). Teori Self-kategorisasi menyebut proses ini self-stereotip:
anggota kelompok memandang dirinya dalam hal (biasanya positif)
stereotip mereka memiliki kelompok mereka menjadi diri dan menjadi
satu dengan kelompok yang berpandangan positif. 
Diferensiasi dari luar kelompok, maka, merupakan salah satu
faktor yang memotivasi self-kategorisasi. Faktor kedua adalah kebutuhan
untuk jelas. Michael Hogg dan Barbara Mullin (1999) menunjukkan
bahwa ada sejarah panjang penelitian dalam psikologi yang menunjukkan
bahwa orang-orang memiliki kebutuhan yang kuat untuk percaya bahwa
sikap mereka, kepercayaan, dan persepsi yang benar.
Hogg dan Mullin (1999) mengemukakan bahwa salah satu cara
untuk mencapai semacam validasi adalah dengan mengidentifikasi dengan
kelompok yang memberikan norma-norma yang jelas untuk penataan
keyakinan dan perilaku membimbing. Karena efek self-stereotip
menyebabkan orang untuk mengganti identitas kelompok untuk identitas
pribadi mereka, keyakinan kelompok yang mana semua orang setuju untuk
menggantikan kepercayaan orang kurang tertentu. Karena mengurangi
ketidakpastian dapat menghilangkan keadaan permusuhan, orang
mengalami sebagai proses yang menyenangkan, yang memperkuat selfkategorisasi dan identifikasi kelompok. Penelitian yang telah dimanipulasi
yaitu bagaimana orang-orang tertentu merasa tentang norma-norma dalam
situasi tertentu (misalnya, Grieve & Hogg, 1999) telah mengkonfirmasi
bahwa orang yang merasa tidak pasti lebih mungkin untuk
mengidentifikasi dengan kelompok-kelompok yang menyediakan
informasi dan yang mengurangi perasaan ketidakpastian. Orang-orang
yang memilih untuk bergabung dengan grup memiliki identitas sosial yang
lebih kuat untuk grup dari orang-orang yang ditugaskan untuk kelompok 
(Perreault & Bourhis, 1999). Ada setidaknya dua alasan mengapa hal ini
terjadi. Pertama, orang cenderung untuk bergabung dengan kelompok
terdiri dari orang lain yang memiliki sikap dan nilai-nilai yang mirip
dengan mereka sendiri (Forsyth, 2006), sehingga dasar yang kuat untuk
identifikasi bersama sudah ada. Kedua, setelah orang membuat pilihan,
mereka cenderung berkomitmen untuk pilihan itu dan melihatnya dalam
hal positif. Untuk melakukan sebaliknya akan mengakui telah membuat
kesalahan, yang kebanyakan orang enggan melakukannya (Markus &
Zajonc, 1985).
b. Optimalisasi Ciri Khas
Teori Self-kategorisasi menyatakan bahwa orang termotivasi untuk
mengidentifikasi dengan kelompok-kelompok yang provide mereka
dengan identitas sosial yang berbeda positif dan yang memenuhi
kebutuhan mereka pada kepastian. Salah satu hasil dari proses ini adalah
self-stereotip, di mana orang mengganti identitas pribadi mereka dengan
identitas kelompok. Salah satu kelemahan dari hipotesis diri stereotip
adalah bahwa orang memiliki kebutuhan dan mengalami diri mereka
sebagai individu yang unik yang berbeda dari orang lain (Brewer, 1991;
Brewer & Pickett, 1999). Marilyn Brewer (1991) karena itu disarankan
modifikasi teori self-kategorisasi, yang dia sebut teori kekhasan yang
optimal.
c. Perlakuan pada grup 
Perlakuan kesejahteraan kelompok E menghasilkan identifikasi
kuat dengan kelompok. Misalnya, Sohpia Moskalenko, Clark McCauley,
dan Paul Rozin (2004) menemukan bahwa peringkat AS mahasiswa
'dalam menanggapi pertanyaan, "Seberapa penting negara untuk Anda?"
Meningkat setelah 11 September 2001, attacts teroris di Amerika Serikat
dibandingkan dengan peringkat yang dibuat 6 bulan sebelumnya. Delapan
belas bulan kemudian, peringkat mereka telah menurun ke tingkat praserangan. Namun, pengingat ancaman dapat menyebabkan identifikasi
ingroup meningkat sekali lagi. Misalnya, Mark Landau dan rekanrekannya (2004) menemukan bahwa mahasiswa AS berpikir kembali ke
peristiwa Bush (indikator identifikasi ingroup) dibandingkan dengan
peringkat yang dibuat oleh siswa dalam kondisi kontrol. Menariknya,
Landau dan rekan-rekannya mendirikan bahwa peringkat persetujuan
meningkat untuk kedua siswa yang telah ditandai diri mereka sebagai
politik liberal dan mereka yang telah ditandai diri mereka sebagai politik
konservatif.
d. Identitas sosial kronis
Meskipun teori identitas sosial memiliki peran bahwa konteks
sosial bermain di elicting identitas sosial yang dapat berubah dari situasi
ke situasi, Steven Sherman dan rekan-rekannya (Sherman, Hamilton, &
Lewis, 1999) mengingatkan kita bahwa manusia juga memiliki identitas
kronis yang mempengaruhi perilaku mereka. Sebagai Sherman dan
cooleagues nya (1999) mencatat, "Sebuah pemain bola di lapangan 
bermain akan jelas mengkategorikan dalam hal kategori atletik, tetapi juga
menganggap dirinya sebagai 'pemain bola hitam'. Seorang dokter akan
menghitung sendiri dan mengkategorikan sebagai anggota profesi medis,
tetapi jika perempuan, mungkin sering berpikir tentang dirinya sebagai
'wanita dokter "(hal. 92).
e. Perbedaan individu
Stephane Perreault dan Richard Bourhis (1999) mempelajari
hubungan ethnocentrims, kecenderungan untuk mendukung kelompokkelompok etnis dan kebangsaan seseorang sendiri atas kelompokkelompok sejenis, identifikasi sosial. Menggunakan paradigma kelompok
minimal, mereka menemukan bahwa orang yang tinggi dalam
etnosentrisme lebih cenderung memiliki identitas dengan kelompok
mereka untuk ditugaskan daripada orang-orang yang rendah dalam
ethnocentrims. 

Terbentuknya Identitas Sosial (skripsi, tesis, dan disertasi)


Dalam Michael A Hogg (2004), proses identitas sosial melalui 3 tahapan
yaitu Social Categorization, Prototype, dan Depersonalization. Untuk memahami
apa yang dimaksud oleh Hogg diatas peneliti akan menjelaskan tiap tahapan,
sebagai berikut:
Kategorisasi sosial berdampak pada definisi diri, perilaku, persepsi pada
prototype yang menjelaskan dan menentukan perilaku. Ketika ketidakmenentuan 
identitas ini terjadi, maka konsepsi tentang diri dan sosialnya juga tidak jelas.
Prototype juga bisa menjadi sebuah momok bagi kelompok sosial. Dengan
memberikan prototype yang berlebihan pada kelompoknya, maka penilaian yang
dilakukan kepada kelompok lain adalah jelek. Sterotype akan muncul pada kondisi
seperti ini. Pada dasarnya stereotype muncul dari kognisi individu dalam sebuah
kelompok. Stereotype juga bisa muncul dari kelomopok satu terhadap kelompok
lain yang berada diluar dirinya.
Secara kognitif, orang akan merepresentasikan kelompok-kelompoknya
dalam bentuk prototype-prototype. Selain itu atribut-atribut yang menggambarkan
kesamaan dan hubungan struktur dalam kelompok. Hal ini dilakukan untuk
membedakan dan menentukan keanggotaan kelompok.
Prototype adalah konstruksi sosial yang terbentuk secara kognitif yang
disesuaikan dengan pemaksimalan perbedaan yang dimiliki oleh kelompok
dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan untuk menonjolkan keunggulan
kelompoknya. Kepentingan dari kelompok untuk membentuk prototype adalah
untuk merepresentasikan kelompoknya di wilayah sosial yang lebih luas.
Biasanya prototype itu berdiri sendiri. Dia tidak semata-mata ditopang atau
didapat dari adanya perbandingan antar kelompok sosial. Dengan demikian proses
yang terjadi dalam kelompok sosial tidak mungkin keluar dari kelompok ini. Perlu
diketahui bahwa prototype itu senantiasa berkembang dari waktu kewaktu.
Prototype juga bisa dianggap sebagai representasi kognitif dari norma
kelompok. Dimana norma kelompok tersebut dibentuk atas regulasi sosial yang
hanya dibatasi oleh anggota kelompok. Hal yang paling penting dalam hal ini 
adalah penjelasan perilaku dan penegasan posisi bahwa dia adalah kelompok
sosial tertentu. Norma sosial merupakan aturan yang dibuat atas kesepakatan
anggota kelompoknya.Norma sosial menjadi landasan dalam berfikir dan bergerak
kelompok. Dengan demikian norma sosial tidak menjadi penjelasan keadaan
sosial. Norma sosial ini mengatur tentang bagaimana individu dalam kelompok
harus bersikap dan berperilaku.
Depersonalisasi adalah proses dimana individu menginternalisasikan
bahwa orang lain adalah bagian dari dirinya atau memandang dirinya sendiri
sebagai contoh dari kategori sosial yang dapat digantikan dan bukannya individu
yang unik.
Robert A Baron dan Don Byrne (2003), Identitas sosial tidak datang
dengan sendirinya. Dalam pembentukan suatu identitas ada proses motivasimotivasi. Hogg (2004), memberikan penjelasan bahwa dalam proses pembentukan
identitas, individu memiliki dua motivasi.
a. Self Enchacemen (peningkatan diri)
Self Enchancemen ini oleh individu dimanfaatkan untuk memajukan atau
menjaga status kelompok mereka terhadap kelompok lain yang berada diluar
dirinnya. Selain itu juga berfungsi untuk mengevaluasi identitas kolektif. Dalam
konteks kelompok yang lebih menonjol, Self dalam pembahasan Hogg dapat
dimaknai sebagai Collective Self atau identitas sosial.
b. Uncertainty Reduction (reduksi yang tidak menentu)
Uncertainty Reduction dilakukan untuk mengetahui posisi kondisi sosial
dimana ia berada. Tanpa motivasi ini individu tidak akan tahu dirinya sendiri, apa 
yang harus dilakukan, dan bagaimana mereka harus melakukannya. Sekaligus
berfungsi untuk pembentukan protoype identitas sosial.
5. Dimensi Identitas sosial
Menurut Jackson dan Smith (1999), identitas sosial dapat
dikonseptualisasikan paling baik dalam empat dimensi: persepsi dalam konteks
antar kelompok, daya tarik in-group, keyakinan yang saling terkait, dan
dipersonalisasi.

Komponen Identitas Sosial (skripsi, tesis, dan disertasi)


Mark Rubin (2004 ; 824), ada interpretasi yang berbeda mengenai
beberapa teori identitas sosial. Dalam keragaman ini, perlu untuk meringkas
interpretasi tersebut. Disini ditafsirkan teori identitas sosial terdiri dari tiga
komponen utama. Diantaranya, komponen psikologi sosial, komponen sistem dan
komponen masyarakat.
a) Komponen sosial-psikologis. Komponen Sosial-psikologis dalam teori
identitas sosial ini menjelaskan proses kognitif dan motivasi dalam hal
jenis diskriminasi antar kelompok atau lebih dikenal sebagai kompetisi
sosial. Dijelaskan oleh peneliti bahwa kompetisi sosial adalah ketika suatu
kelompok ingin bersaing dengan kelompok lain dalam berbagai aspek,
bisa aspek positif bisa juga aspek yang negative. Kemudian ketika terjadi
persaingan antar kelompok maka yang dibutuhkan adalah sisi psikologis
sosial yang mana hal tersebut akan menentukan kualitas dan hasil dari 
persaingan atau kompetisi sosial. Pada psikologi kepribadian komponen
sosial psikologi bisa dikatakan semacam id, yaitu komponen dalam aliran
psikoanalisa yang merupakan kebutuhan dan seakan harus terpenuhi.
Anggota dalam suatu kelompok juga beranggapan bahwa persaingan antar
kelompok merupakan suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan.
b) Komponen sistem. Komponen Sistem dalam teori identitas sosial ini
memenuhi syarat komponen sosial-psikologis dengan menetapkan kondisi
di mana persaingan sosial mungkin akan dan tidak akan terjadi.
Komponen Sistem menentukan tiga variabel sociostructural:
 batas-batas kelompok permeability
 stabilitas sistem status antarkelompok
 legitimasi sistem status antarkelompok.
Komponen Sistem memprediksi bahwa persaingan sosial akan terjadi
hanya ketika batas-batas kelompok yang kedap dan status system antar
kelompok tidak stabil dan tidak sah. Menurut peneliti, komponen system
disini merupakan tekhnik yang digunakan anggota kelompok dalam
menentukan apakah persaingan sosial yang terjadi pada kelompoknya
patut terjadi atau tidak. Dan dalam psikoanalisa hal ini disebut ego, ego
merupakan penghubung antara apa yang difikirkan dengan apa yang
dilakukan. Komponen system memegang cara dan keputusan apakah
persaingan sosial yang telah direncanakan tersebut akan dilakukan atau
tidak. ego selalu berusaha untuk mencapai tujuan dann kebutuhan serta
memuaskan keinginannya, begitu juga komponen system yang juga selalu 
mengarah untuk melakukan persaingan sosial namun dengan batas-batas
yang bisa dikendalikan.
c) Komponen masyarakat berkaitan dengan konteks historis, budaya, politik,
dan ekonomi yang spesifik yang berisi dan mendefinisikan kelompok dan
sistem status mereka. Yang spesifik dari konteks sosial dapat digambarkan
sebagai kenyataan dari situasi sosial antar kelompok. Dijelaskan oleh
peneliti, bahwa komponen masyarakat merupakan realisasi dari persaingan
sosial tersebut. Sama halnya dengan dua komponen diatas mengenai aliran
psikoanalisa, komponen masyarakat merupakan bagian dari superego.
Superego merupakan tindakan atau realisasi dari apa yang telah difikirkan
dan direncanakan sebelumnya. Tindakan tersebut bisa merupaan
perwujudan kebutuhan namun bisa juga merupakan pembatalan
perwujudan. Komponen masyarakat mungkin akan tetap melakukan
persaingan sosial atau tidak melakukan sama sekali dan hal itu bergantung
pada norma, budaya, dan keadaan dimana dia tergabung.

Identitas Sosial dan Identitas Pribadi (skripsi, tesis, dan disertasi)


Hogg & Vaughan (2002), Teori identitas sosial telah menyarankan bahwa
ada dua kelas yang luas dalam identitas, yang menentukan jenis diri: (1) identitas
sosial, yang mendefinisikan diri dalam hal keanggotaan kelompok, dan (2)
identitas pribadi, yang menentukan diri dalam hal hubungan pribadi dan sifat-sifat
istimewa. Identitas sosial dikaitkan dengan kelompok dan antarkelompok perilaku
seperti etnosentrisme, ingroup Bias, solidaritas kelompok, diskriminasi
antarkelompok, kesesuaian, perilaku normatif, stereotip dan prasangka. Identitas
pribadi yang terkait dengan hubungan interpersonal yang dekat positif dan negatif
dan dengan perilaku pribadi istimewa. Kita memiliki banyak identitas sosial
karena ada kelompok yang merasa kita miliki, dan banyak identitas pribadi karena
ada hubungan interpersonal yang mana kita terlibat dalam klaster dan atribut
istimewa yang kita percaya dan kita miliki. Identitas sosial dapat menjadi aspek
yang sangat penting dalam konsep diri kita. Misalnya, Cittrin, Wong dan Duff 
(2001) melaporkan sebuah studi yang menemukan bahwa 46 persen orang
Amerika merasa menjadi orang Amerika, identitas sosial, adalah hal yang paling
penting dalam hidup mereka.
Baik identitas pribadi maupun identitas sosial mutlak dimiliki oleh setiap
individu. Setiap individu bisa dan bebas untuk memiliki bermacam-macam
identitas, baik identitas pribadi maupun identitas sosial. Keputusan untuk
memiliki banyak identitas bergantung pada kebutuhan individu untuk diakui
dengan identitas macam apa. Dan pilihan individu untuk mengkategorikan diri
dalam identitas di lakukan secara sadar.

Definisi Identitas Sosial (skripsi, tesis, dan disertasi)


Banyak para tokoh yang mendefinisikan identitas sosial. Definisi
mengenai Identitas sosial pun bermacam-macam menurut para tokoh. Menurut
Michael A Hogg dan Dominic Abrams (1998),
“Identitas sosial didefinisikan sebagai 'pengetahuan individu bahwa ia
milik kelompok sosial tertentu bersama-sama dengan beberapa makna
emosional dan nilai dari keanggotaan kelompok (Tajfel 1972a: 31),
dimana kelompok sosial adalah' dua atau lebih individu yang berbagi
Identifikasi sosial baik umum maupun pribadi, atau yang hampir sama,
artinya menganggap diri mereka sebagai anggota dari kategori sosial yang
sama '(Turner 1982:15)”.

Kepercayaan merek berpengaruh positif terhadap daya tarik employer branding (skripsi, tesis, dan disertasi)


Heavey dkk (2011) berpendapat bahwa kepercayaan terhadap merek
meningkatkan komitmen dan motivasi karyawan untuk bekerja kepada perusahaan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rampl & Kenning (2012) sebanyak 71%
variansnya menunjukkan bahwa kepercayaan merek juga menjadi daya tarik merek
perusahaan. Kepercayaan merek juga diakui sebagai dasar perilaku konsumen untuk
menggunakan lagi merek tersebut (Luk & Yip, 2008).
Dalam konteks employer branding, karyawan memilih perusahaan bukan hanya
karena keuntungan yang perusahaan tawarkan (kompensasi, lingkungan pekerjaan
aman, peluang untuk berkembang) tetapi juga menyesuaikan kepribadian diri mereka
dengan merek perusahaan (Lievens, 2007; Lievens & Highhouse 2003). Karakteristik
dari merek perusahaan menjadi peran penting dalam pengambilan keputusan untuk
mempercayai merek tersebut. Karakteristik ini meliputi reputasi perusahaan, motivasi
dan integritas yang dimiliki oleh perusahaan. Karakteristik tersebut jelas dapat menjadi
daya tarik perusahaan untuk membuat karyawan percaya. Selain itu, pengalaman
dengan merek juga dapat membuat karyawan percaya terhadap merek. Informasi
mengenai pengalaman bekerja dengan perusahaan dapat membuat kita percaya
terhadap merek perusahaan karena menurut Delgado et al (2003) kepercayaan merek
merupakan hasil evaluasi konsumen terhadap interaksi terhadap merek baik secara
langsung maupun tidak langsung

Ruggedness berpengaruh positif terhadap kepercayaan merek perusahaan (skripsi, tesis, dan disertasi)


Brand personality adalah serangkaian karakteristik manusia yang diasosiasikan
ke dalam merek, misalnya, karakteristik seperti jenis kelamin, kelas sosial ekonomi dan
sifat kepribadian manusia (Aaker, 1997). Aaker (1997) juga menggambarkan brand
personality ke dalam lima dimensi. Salah satunya ialah ruggedness (ketangguhan).
Ruggedness memiliki sifat yang tangguh, kasar, ulet, dan maskulin. Hal ini
menunjukkan bahwa ruggedness terkait erat dengan emosi, Jakupcak dkk (2003) yang
dikutip oleh Sung & Kimm (2010) menemukan bahwa sifat maskulin merupakan
bagian dari sifat kasar yang berkaitan dengan emosi. Contohnya merek rokok seperti
Marlboro atau Timberland, konsumen yang mengkonsumsi merek tersebut secara tidak
langsung dikaitkan sebagai konsumen yang kasar dan maskulin.

Sophistication berpengaruh positif terhadap kepercayaan merek perusahaan (skripsi, tesis, dan disertasi)


Hogg & Abrams dalam teori identitas sosial berpendapat bahwa identitas sosial
sebagai suatu rasa keterkaitan, rasa peduli dan juga rasa bangga sebagai seorang
anggota dalam suatu kelompok tertentu. Highhouse dkk (2007) dapat menunjukkan
bahwa teori identitas sosial dapat menjadi dasar untuk memahami brand personality
sebagai daya tarik perusahaan. Aaker (1997) mengembangkan dimensi-dimensi brand
personality ke dalam lima dimensi. Salah satu dimensi di dalamnya adalah dimensi
sophistication (kecanggihan).
Sophistication merupakan dimensi yang memiliki sifat gaya hidup “kelas atas”,
ini di anggap memberikan status yang lebih tinggi kepada karyawan. Merek perusahaan
“kelas atas” dan menawan dapat menghasilkan pengaruh yang positif. Menurut
penelitian sebelumnya menunjukkan pentingnya merek perusahaan yang bergengsi
untuk menciptakan daya tari merek bagi pelamar yang potensial (Lievens, 2007) atau
loyalitas karyawan (Davies, 2008). Persepsi tentang merek perusahaan yang maju dapat
memicu perasaan bangga, sama seperti teori identita sosial yang di jelaskan oleh Tajfel
bahwa identitas sosial ini bisa menimbulkan emosi anggota saat bergabung dengan
kelompok. Bisa emosi tentang keterlibatan, rasa peduli, dan rasa bangga ( Tajfel dalam
Hogg & Abrams, 1998)

Competence berpengaruh positif terhadap kepercayaan merek perusahaan (skripsi, tesis, dan disertasi)


Bouhlel et al (2011) menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap merek dapat
mempengaruhi niat untuk menggunakan lagi, dengan kata lain kepercayaan tersebut
bersumber dari harapan konsumen akan terpenuhinya janji merek. Sung & Kim (2010)
berpendapat bahwa brand personality memberikan pengaruh terhadap merek dan juga
terhadap kepercayaan merek yang pada akhirnya akan menimbulkan sikap untuk
loyalitas terhadap merek. Dimensi-dimensi yang diciptakan oleh Aaker (1997)
menganalogikan merek ke dalam sikap manusia, termasuk sikap competence.
Menurut penelitian yang dilakukan Rampl & Kenning (2012), competence
berpengaruh terhadap kepercayaan merek. Dimensi competence terdiri dari sifat dapat
diandalkan, percaya diri, sukses, dan masih banyak lagi. Penelitian ini ingin
membuktikan apakah dimensi competence berpengaruh terhadap kepercayaan merek
perusahaan atau tidak.

Excitement berpengaruh positif terhadap kepercayaan merek perusahaan (skripsi, tesis, dan disertasi)


Tajfel & Turner (1979) dalam teori identitas sosialnya mengatakan bahwa
identitas sosial seseorang ditentukan dari kelompok mana ia tergabung. Highhouse dkk
(2007) dapat menunjukkan bahwa teori identitas sosial dapat menjadi dasar untuk
memahami brand personality sebagai daya tarik perusahaan. Brand personality dapat
mengembangkan ikatan emosional yang kuat, yaitu kepercayaan (Biel, 1993 dalam
Bouhlel et al, 2009). Bouhlel et al menjelaskan bahwa konsumen memanfaatkan merek
untuk membangun dan mempertahankan identitas diri mereka (Fiske, 1982 dalam
Bouhlel et al, 2009).
Rampl & Kenning (2012) berpendapat bahwa di dalam penelitian yang mereka
lakukan, excitement mungkin sangat berguna untuk membangkitkan emosi terkait
dengan merek perusahaan tertentu, karena dimensi ini terkait erat dengan gairah yang
merupakan salah satu emosi manusia ( Holbrook & Batra, 1987; Russell dkk, 1989).

Kepercayaan Merek (skripsi, tesis, dan disertasi)


Kepercayaan merek dipahami sebagai suatu sikap untuk bersedia memiliki
keyakinan pada keandalan dan kejujuran terhadap merek tertentu (Moorman dkk, 1993;
Morgan & Hunt, 1994) sehingga ekspetasi dan resiko menjadi komponen penting dari
definisi kepercayaan merek (Delgado Ballester & Munuera Aleman, 2005 hal.188).
Kepercayaan terhadap merek juga diakui sebagai dasar perilaku memilih sebuah merek
(Luk & Yip, 2008). Menurut Morgan & Haunt (1994) dalam Sorayaei dan Hasanzadeh
(2013) berpendapat bahwa keputusan untuk percaya terhadap merek akan
menimbulkan sikap loyalitas terhadap merek. Sementara menurut Aaker (1997),
kepercayaan merek merupakan kemauan konsumen untuk bergantung pada
kemampuan dari sebuah merek dalam melaksanakan fungsinya.
Karakteristik dari merek perusahaan dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan
konsumen terhadap merek tersebut. Karakteristik ini meliputi reputasi perusahaan,
motivasi, dan integritas perusahaan. Karakterisrik konsumen dengan merek merupakan
dua hal yang saling mempengaruhi. Oleh sebab itu, jika ada kesesuaian antara
kepribadian konsumen dengan merek perusahaan akan mempengaruhi kepercayaan
terhadap merek. Kepercayaan terhadap merek adalah semacam rasa aman bagi
konsumen. Menurut Delgado et al (2003), kepercayaan terhadap merek adalah perasaan
aman yang dimiliki konsumen akibat adanya interaksi terhadap merek.
Kepercayaan merek juga dapat dipengaruhi oleh evaluasi konsumen terhadap
merek baik secara langsung (merasakan atau menggunakan ) maupun secara tidak
langsung (iklan dan informasi dari orang lain). Kepercayaan merek dalam konsep
employer branding diakui sebagai dasar perilaku karyawan dalam memutuskan
pilihannya untuk bekerja atau bertahan pada perusahaan. Kepercayaan merek memiliki
3 dimensi yang telah dijabarkan oleh Gurchiev & Korchia (2002), yaitu kredibilitas
(credibility), integritas (integrity), dan kebajikan (benevolence) :
a. Kredibilitas (credibility)
Kredibilitas merupakan sesuatu hal yang bisa dipercaya
b. Integritas (integrity)
Integrity adalah bertindak secara konsisten sesuai dengan nilai – nilai dan
kebijakan organisasi serta kode etik profesi.
c. Kebajikan (benevolence)
Benevolence adalah bagaimana penjual berperilaku baik terhadap
konsumen dan bagaimana penjual melayani konsumen dengan baik

Brand Personality (skripsi, tesis, dan disertasi)


Brand personality adalah serangkaian karakteristik manusia yang diasosiasikan
ke dalam merek, misalnya, karakteristik seperti jenis kelamin, kelas sosial ekonomi dan
sifat kepribadian manusia (Aaker, 1997). Lievens & Highhouse adalah orang pertama
yang menerapkan konsep brand personality ke dalam konteks employer branding, hal
ini menunjukkan bahwa daya tarik employer branding tidak hanya dilihat dari manfaat
fungsional yang ditawarkan, seperti kompensasi dan manfaat lainnya tetapi juga di lihat
dari brand personality perusahaan (Lievens, 2007; Lievens & Highhouse 2003). Brand
personality merupakan cara yang efisien untuk membedakan merek perusahaan dari
para pesaingnya di tingkat simbolik (Sung & Kim, 2010). Sedangkan Best, et al (2007)
berpendapat bahwa brand personality merupakan seperangkat karakteristik manusia
yang berkaitan dengan merek. Brand personality sebagai campuran sifat manusia
tertentu yang dihubungkan dengan merek tertentu. Brand personality merupakan
campuran sifat manusia yang dapat dihubungkan dengan merek tertentu ( Kotler &
Keller, 2009)

Daya Tarik Employer Branding (skripsi, tesis, dan disertasi)


Daya tarik employer branding telah diukur menggunakan skala EmpAt. Skala
tersebut dikembangkan oleh Berthon dkk. (2005) dan diturunkan dari dimensi Ambler
& Barrow (1996) untuk manfaat psikologis, fungsional, dan ekonomi. Skala ini terdiri
dari lima dimensi :
a. Nilai Minat
Nilai ini menggambarkan sejauh mana seseorang tertarik pada perusahaan
yang menyediakan lingkungan kerja yang menarik, memiliki praktek kerja
yang bagus, dan memanfaatkan kreativitas karyawannya.
b. Nilai Sosial
Nilai ini menggambarkan sejauh mana seseorang tertarik pada perusahaan
yang menyediakan lingkungan kerja yang menyenangkan, bahagia, dan
memberikan suasana tim yang mendukung hubungan yang baik antar
karyawan.
c. Nilai Ekonomi
Nilai ini menggambarkan sejauh mana seseorang tertarik pada perusahaan
yang memberikan gaji di atas rata-rata, kompensasi yang menarik, jaminan
untuk masa depan, dan adanya promosi kenaikan jabatan.
d. Nilai Pengembangan
Nilai ini menggambarkan sejauh mana seseorang tertarik pada perusahaan
yang memberikan pengakuan, harga diri, dan kepercayaan diri ditambah
juga adanya kemungkinan untuk meningkatkan pengalaman sehingga
menjadi peluang kerja di masa depan.
e. Nilai Aplikasi
Nilai ini menggambarkan sejauh mana seseorang tertarik pada perusahaan
yang memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menerapkan apa
yang telah mereka pelajari dan menunjukkan hasilnya kepada pelanggan

Employer Branding (skripsi, tesis, dan disertasi)


Ambler & Barrow (1996, hal. 187) berpendapat bahwa employer branding
merupakan sebuah paket manfaat fungsional, ekonomi, dan psikologis yang diberikan
oleh perusahaan. Employer branding adalah sekumpulan atribut yang membuat
organisasi berbeda dan menarik bagi orang-orang yang akan memberikan kinerja
terbaik mereka kepada perusahaan ( CIPD, 2006). Menurut Backhaus & Tikoo (2004,
p. 502) employer branding merupakan sebuah proses membangun identitas perusahaan
dan membedakan perusahannya dengan pesaing lainnya.
Livens et al (2007) berpendapat bahwa employer branding sebagai strategi
perusahaan mengelola identitas dengan menciptakan reputasi atau citra yang baik
sehingga dapat dikomunikasikan dan dikembangkan secara internal maupun eksternal
kepada pemangku kepentingan perusahaan. Employer branding merupakan strategi
jangka panjang yang ditargetkan untuk mengelola kesadaran dan persepsi karyawan,
calon karyawan, dan pemangku kepentingan yang berkaitan dengan perusahaan
(Sullivan, 2004) selain berusaha mengembangkan strategi, employer branding juga
merupakan upaya organisasi dalam memberi gambaran mengenai perusahaan kepada
pemangku kepentingan internal dan eksternal tentang apa yang membuat perusahaan
diinginkan dan berbeda (Jenner & Taylor, 2008). Sedangkan menurut Martin (2008)
employer branding adalah bagaimana perusahaan mendapatkan karyawan yang
memiliki talenta agar bergabung ke dalam organisasi dan mempertahankan karyawan
yang potensial agar dapat memberikan hasil yang diinginkan perusahaan. 

Teori Identitas Sosial (skripsi, tesis, dan disertasi)


Teori identitas sosial pertama kali dikembangkan pada tahun 1970-an oleh
Henri Tajfel. Identitas sosial adalah pengetahuan bahwa seseorang milik suatu
lingkungan sosial atau kelompok (Hogg & Abrams, 1988). Teori identitas sosial
merupakan akumulasi nilai-nilai kelompok yang disesuaikan ke dalam konsep diri
individu (Abrams, 1996: 150). Tajfel mendefinisikan identitas sosial sebagai
pengetahuan seseorang terhadap keanggota di dalam suatu kelompok bersama dengan
nilai dan emosional yang dirasakan di dalamnya. Ini berkaitan dengan keterlibatan, rasa
peduli, dan rasa bangga anggota terhadap suatu kelompok ( Tajfel dalam Hogg &
Abrams, 1998). Hogg & Abrams juga berpendapat bahwa mereka mendefinisikan
identitas sosial sebagai suatu rasa keterkaitan, rasa peduli dan juga rasa bangga sebagai
seorang anggota dalam suatu kelompok tertentu.
Teori identitas sosial juga menyatakan bahwa dengan adanya identitas mampu
menggolongkan anggota ke dalam kelompok. Octawidyanata (2016, 18) berpendapat
bahwa teori identitas sosial merupakan upaya bagaimana seorang anggota menaikkan
posisi dirinya dan posisi kelompoknya. Tajfel & Turner (1979) menyatakan bahwa
identitas sosial seseorang ditentukan dari kelompok mana ia tergabung. Sehingga
seseorang akan termotivasi untuk bergabung dengan kelompok yang dianggap menarik
dan dapat memberikan keuntungan bagi mereka yang bergabung. Selain itu Tajfel &
Turner melihat bahwa individu akan berjuang untuk mempertahankan identitas sosial
yang positif. Sehingga ketika identitas sosial mulai dipandang tidak memuaskan,
mereka akan mulai mencari kelompok yang dianggap lebih memuaskan, lebih nyaman,
dan lebih menyenangkan (Turner & West, 2008: 218). 

Pancasila sebagai Identitas Nasional (skripsi, tesis, dan disertasi)


Perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai suatu kemerdekaan
yang menjadikan sejarah tersendiri bangi bangsa Indonesia.
Poespowardoyo, (1989: 5) Pancasila menunjukan arti historis diartikan
sebagai perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.
Bangsa Indonesia berjuang untuk mencapai bangsa yang merdeka dan
memiliki suatu prinsip yang tersimpul dalam pandangan hidup serta filsafat
hidup, yang di dalamnya tersimpul ciri khas, sifat karakter bangsa yang
berbeda dengan bangsa lain. Perjuangan yang memeperlihatkan dinamika 
bangsa ini tercermin dalam Pancasila sebagai corak khas bangsa Indonesia
yang mendambakan kemerdekaan dan kemandirian.
Identitas suatu bangsa menjadikan ciri tersendiri bahwa bangsa
Indonesia memiliki jati diri suatu bangsa pada diri seseorang. Purwanta,
(2011: 88) mengatakan bahwa, Identitas nasional terdiri dari dua kata, yaitu
“identitas” dan “nasional”. Kata identitas berasal dari bahasa inggris
identity yang dapat dimaknai sebagai ciri, tanda atau jati diri yang melekat
pada seseorang, kelompok atau sesuatu sehingga membedakan dengan
yang lain. Identitas yang merupakan pernyataan diri hanya berlaku pada
manusia. Melalui refleksi panjang, akhirnya manusia menyadari siapa
dirinya, baik ciri fisik maupun kepribadian.
Pancasila sebagai identitas Nasional, dianggap sebagai kepribadian
bangsa. Sila-sila dalam pancasila dapat menghubungkan kebudayaan
sebagai karakteristik bangsa dengan Pancasila sebagai kepribadian bangsa,
hal ini merupakan suatu kesatuan layaknya keseluruhan sila dalam
Pancasila yang mampu menggambarkan karakteristik yang membedakan
Indonesia dengan negara lain.Identitas Nasional merupakan suatu konsep
kebangsaan yang tidak pernah ada padanan sebelumnya. Perlu dirumuskan
oleh suku-suku tersebut.

Makna Identitas Nasional (skripsi, tesis, dan disertasi)


Makna identitas nasional salah satunya untuk membentuk karakter
yang baik yang melekat terhadap diri seseorang untuk mencintai sebuah
negaranya dengan sepenuh hatinya supaya selalu mengenang perjuangan
yang telah di raih oleh bangsa Indonesia. Karakter yang ditanamkan pada
peserta didik yaitu dengan menanamkan rasa cinta tanah air tehadap
Indonesia dengan memberikan kontribusi positif dalam membangun sebuah
bangsa. Tujuan dari makna pendidikan karakter itu sendiri untuk
meningkatkan mutu pendidikan supaya menghasilkan peserta didik yang
berakhlak mulia, terpadu, dan seimbang.
Karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah “karakter”
berarti “sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan
seseorang dari yang lain. Saptono (2011: 18) mengatakan bahwa, istilah 
karakter berasal dari bahasa Yunani karasso, berarti “cetak biru” , “format
dasar” atau sidik seperti dalam sidik jari. Pendapat lain menyatakan bahwa
istilah karakter berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti
membuat tajam atau membuat dalam.
Tanggung jawab yang besar terhadap suatu kecintaan tanah air
adalah tugas besar bagi kita sebagai generasi muda karena pada dasarnya
harus mengingat dan memperjuangkan sebuah bangsa untuk mencintai
tanah air. Kecintaan tersebut harus di perjuangkan oleh generasi muda
karena pada dasarnya mencintai berarti memperjuangkan sebuah sikap dan
perilaku kita sebagai perilaku waga negara Indonesia. Perilaku yang baik
dapat mencerminkan sebagai warga negara yang baik dengan memiliki
sikap baik, bangga terhadap bangsa, peduli akan budaya yang ada, dapat
ikut serta mempertahankan keutuhan negara.
Salah satu nilai karakter yang telah di jelaskan diatas terdapat satu
karakter yang dapat menguatkan kecintaan terhadap bangsa yaitu karakter
cinta tanah air. Yaumi (2014:104) bahwa, “rasa cinta tanah air merupakan
suatu sikap positif untuk memberikan kontribusi positif dalam membangun
bangsa dan negara”. Cinta tanah air adalah cara berpikir, bersikap, dan
berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang
tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan
politik bangsa.

Pengertian Identitas Nasional (skripsi, tesis, dan disertasi)


Identitas Nasional merupakan suatu ciri yang dimiliki oleh suatu
bangsa yang terkandung unsur-unsur pembentuk seperti suku bangsa,
agama, kebudayaan, dan bahasa. Identitas nasional merupakan suatu jati
diri yang tidak hanya mengacu pada individu, namun berlaku pada suaatu
organisasi atau kelompok (negara). Menuju era globalisasi menjadi sebuah
tantangan bagi generasi muda untuk tetap mempertahankan eksistensi
identitas negara agar nilai-nilai yang berada di lingkungan masyarakat tidak
luntur.
Identitas berarti ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang dimiliki
seorang, kelompok, masyarakat, bahkan suatu bangsa sehingga dengan
identitas itu bisa membedakan dengan yang lain. Winarno (2006: 32)
menyatakan bahwa, “identitas nasional dapat disamakan dengan identitas
kebangsaan. Secara entimologis, identitas nasional berasal dari kata “ 
identitas” dan “nasoinal”. Kata identitas berasal dari bahasa inggris identity
yang memiliki pengertian harfiah ciri, tanda atau jati diri yang melekat
pada seseorang, kelompok atau sesuatu sehingga membedakan dengan
yang lain.”

Nasionalisme (skripsi, tesis, dan disertasi)


Nasionalisme merupakan sikap yang mempertahankan kedaulatan
negara yang memiliki tujuan dan cita-cita bersama untuk kepentingan
nasional. Pendapat Listyarti (2008: 32-33) mengenai nasionalisme
diartikan bahwa nasionalisme berasal dari kata “nasional” dan “isme”,
yaitu paham kebangsaan yang mengandung maksa kesadaran dan
semangat cinta tanah air, memiliki rasa kebanggaan sebagai bangsa,
atau memelihara kehormatan bangsa. Rasa nasiomalisme identik juga
dengan memiliki rasa solidaritas terhadap musibah dan
kekurangberuntungan saudara setanah air, sebangsa, dan senegara.
Nasionalisme juga mengandung makna kesatuan dan persatuan.
Chamim (2006: 103) menyatakan “Nasionalisme berarti
menyatakan suatu afinitas kelompok yang didasarkan atas
bahasa, budaya, keturunan bersama dan terkadang pada agama
dari wilayah bersama terhadap semua pengakuan lain atas
loyalitas seseorang. Sebagai doktrin politik, nasionalisme
memberi basis dan pembenaran ideologis bagi semua bangsa
dunia untuk mengorganisasikan dirinya sendiri kedalam entitasentitas yang bebas atau otonom. Entitas-entitas ini sebagian
besar mengambil bentuk negara nasional merdeka, walaupun
terdapat contoh dimana beberapa bentuk otonom kedaerahan
atau kultural juga di lembagakan”

Identitas Bangsa (skripsi, tesis, dan disertasi)


Bangsa merupakan pekumpulan masyarakat yang merasa
memiliki satu kesatuan Ras, Agama, dan adat istiadat. Winarno (2006:
30) menyatakan bahwa, “Bangsa dalam pengertian sosiologis
antropologis adalah persekutuan hidup masyarakat yang berdiri sendiri
yang masing-masing anggota persekutuan hidup masyarakat yang
berdiri sendiri yang masing-masing anggota persekutuan hidup tersebut
merasa satu kesatuan Ras, Bahasa, Agama, dan adat istiadat”. Chamim
(2006: 93) istilah ”identitas nasional” dibentuk oleh dua kata, yaitu 
“identitas” dan “nasional”. Identitas dapat diartikan sebagai ciri, tanda,
atau jati diri, sedangkan “nasional” berarti kebangsaan. Identitas
nasional dapat diartikan sebagai “jati diri nasional” atau “kepribadian
nasional”. Jati diri nasional suatu bangsa tentu saja berbeda dengan jati
diri bangsa lainnya disebabkan oleh adanya oleh perbedaan latar
belakang sejarah, kebudayaan, maupun geografi

Makna Penguatan Identitas Bangsa (skripsi, tesis, dan disertasi)


Penguatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sesuai
dengan makna kata dasarnya “kuat”, penguatan yang mengandung
makna menambahkan kekuatan pada sesuatu yang dianggap begitu
kuat. Penguatan tersebut sebagai respons terhadap suatu perilaku
seseorang yang dapat meningkatkan suatu tingkah laku seseorang
dengan baik. Penguatan tersebut di dorong dengan adanya rasa kuat
atau percaya diri seseorang untuk memberikan respons yang baik,
makna penguatan tersebut untuk menguatkan mental, kebiasaan, sikap
dan motivasi diri. Makna dari penguatan tersebut memberikan dampak
yang sangat baik terutama dengan adanya penguatan identitas sebuah
bangsa, identitas sebagai jati diri yang timbul dari diri seseorang guna
sebagai mennjadikan sebuah identitas sebuah bangsa itu sendiri, dengan
adanya pribadi dari seseorang.
Nasionalisme rasa adalah upaya untuk mementingkan keutuhan
negara. Kohn (Bauto, 2013: 50) Menyatakan bahwa, “nasionalisme
adalah a sense of belonging suatu paham yang menyatakan bahwa
loyalitas tertinggi individu harus diserahkan kepada bangsa dan
negara”. Nasionalisme artinya mempertahankan kepentingan bangsa 
dan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan. Sejalan dengan
pendapat tersebut, Hazem Zaki Nuseibeh (Bauto, 2013: 50)
berpendapat bahwa, “nasionalisme merupakan peleburan antara rasa
cinta tanh air atau nasinalitet dengan jiwa patriotisme. Seiring dengan
era globalisasi ini maka nasionalisme dikalangan generasi muda
semakin luntur”.
Sikap nasionalisme memberikan inspirasi terhadap kaum muda
saat ini yang hampir punah yang senantiasa mengabaikan sikap
nasionalisme terhadap suatu bangsa dan mencintai sebuah bangsa
sebagai suatu identitas nasional yang seharusnya di cintai dan
perjuangkan. Seiring dengan perkembangan waktu, sikap kepedulian
terhadap memperjuangkan bangsa secara tidak sadar sikap nasionalisme
mulai saat ini semakin luntur tidak adanya rasa yang timbul untuk
mengingat dan mengenang perjuangan yang telah bersusah payah
memperjuangkan sebuah jatidiri bangsa.

Masa Remaja dan Pembentukan Identitas Diri (skripsi, tesis, dan disertasi)


Masa remaja merupakan periode dimana pembentukan identitas
terjadi, dan menjadi lebih baik disepanjang rentang kehidupan.
Pembentukan identitas pada masa remaja merupakan awal dari
pembentukan yang terjadi disepanjang hidup, dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang berhubungan dengan diri dan lingkungan.
Erikson (dalam Santrock, 2003;47) menjelaskan pada masa remaja
individu dihadapkan pada pertanyaan siapa mereka, mereka itu sebenarnya
apa, dan kemana mereka menuju dalam hidupnya. Remaja dihadapkan
dengan banyak peran baru dan status dewasa yang menyangkut pekerjaan 
dan asmara. Bila remaja mengeksplorasi peran-peran tersebut dalam cara
yang sehat dan mendapatkan jalan yang positif untuk diikuti dalam
hidupnya, suatu identitas yang positif akan terbentuk. Bila suatu identitas
dipaksakan pada remaja, bila remaja kurang mengeksplorasi peran-peran
yang berbeda, dan bila jalan ke masa depan yang positif tidak ditentukan,
maka kekacauan identitas terjadi.
Piaget (dalam Jahja, 2011;232) mengemukakan bahwa pada masa
remaja terjadi pematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang
telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk
eksperimentasi, memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Seorang
remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks, mampu menemukan
alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Hal ini akan
membantu remaja untuk dapat membuat suatu komitmen dengan baik,
karena telah mampu berpikir fleksibel dan kompleks sehingga dapat
memilih suatu alternatif yang positif. Remaja juga dapat memahami
dengan baik tentang aspek-espek pokok identitas dirinya, seperti fisik,
kemampuan intelektual, emosi, sikap dan nilai-nilai, maka dia akan siap
untuk berfungsi dalam pergaulannya yang sehat, sehingga dapat mencapai
identitas dirinya dengan baik.
Menurut Santrock (dalam Jahja, 2011;232) pada masa remaja,
mereka (1) Telah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa
rencana atau suatu bayangan, (2) Remaja dapat memahami bahwa tindakan
yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan 
datang, (3) Telah mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka
telah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan pada masa depan, (4)
Telah mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di
masa depan. Dengan demikian remaja telah dapat mengeksplorasikan
peran-peran tertentu dan dapat membuat suatu komitmen, maka remaja
tersebut dapat melewati masa-masa krisis identitas dan menemukan jati
dirinya.

Faktor Terbentuknya Identitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Perkembangan identitas diri remaja dipengaruhi oleh
berbagai macam faktor. Marcia (1993; 46) menyebutkan beberapa
kondisi yang mendahului (antecedent) bagi pembentukan identitas
diri remaja. Pembentukan identitas termasuk identitas dalam bidang
pekerjaan dapat dipengaruhi oleh berbagai variabel yang saling terkait,
termasuk:
a. The extent of identification with the parents priorto and during
adolescence, yaitu tingkat identifikasi dengan orang tua sebelum dan
sesudah masa remaja. Tingkat identifikasi pada orang tua sejak masa
kanak-kanak hingga mencapai masa remaja sangat berperan
memberikan arah pembentukan identitas diri pada remaja. Semua
sikap dan perilaku orang tua menjadi sumber identifikasi bagi anak
dan selanjutnya menjadi komponen pembentuk identitas dirinya.
b. The parenting style(s) with which the person has been reared, yaitu
dengan pola asuh seperti apa seseorang itu dibesarkan. Apabila
hubungan anggota keluarga hangat dan harmonis, serta perlakuan
orang tua terhadap anak positif atau penuh dengan kasih sayang, maka 
remaja akan mampu mengembangkan identitasnya secara realistik dan
stabil.
c. The availability of model figures perceived assuccessful, yaitu
ketersediaan figur yang dijadikan model. Orang-orang yang dipersepsi
oleh remaja sebagai figur yang memiliki posisi di masyarakat, seperti
orang tuanya dan kalangan selebritis. Jika remaja tersebut benar dalam
memilih tokoh idolanya, maka remaja akan tumbuh dengan benar dan
mencapai identitasnya dengan baik. Sebaliknya, jika remaja salah
dalam memilih idolanya, maka remaja akan gagal dalam mencapai
identitasnya.
d. Social expectation about identitychoices araising within the family,
the school, and the peer group, yaitu harapan sosial tentang pilihan
identitas dalam keluarga, sekolah dan teman sebaya. Dalam hal ini,
pengalaman dalam menyampaikan gagasan, penampilan peran-peran
dan bergaul dengan orang lain sangatlah penting bagi perkembangan
identitas.
e. The extent to which the person is exposed to a varietyof identity
alternatives, yaitu sejauh mana individu tersebut mencari berbagai
macam alternatif identitas, seperti mengetahui siapa dirinya,
peranannya sebagai wanita/pria, apa potensi yang dimilikinya dan
kemana arah hidupnya.
f. The extent towhich the preadolescent personality provides an
appropriate foundation for coping with identity concerns, yaitu 
sejauh mana kepribadian pra-remaja memberikan fondasi yang tepat
untuk mengatasi masalah identitas. Hal ini dapat dipengaruhi oleh
pengalaman-pengalaman masa lalu. Pengalaman sejak kecil yang
penuh konflik atau frustasi dan kurang mendapat bimbingan
keagamaan akan berdampak kurang baik bagi perkembangan remaja.
Remaja cenderung akan mengalami kegagalan dalam mengikuti
program sekolah dan cenderung memiliki sifat pribadi tidak jujur,
rasionalisasi (suka memberi alasan-alasan untuk menutupi kelemahan
dirinya), dll. Sebaliknya, pengalaman yang menyenangkan akan
mempengaruhi sifat-sifat pribadi yang taat hukum dan tidak
melampaui batas.

Komitmen (skripsi, tesis, dan disertasi)


Marcia (dalam Mukhlis, 2009; 24) menyebutkan bahwa komitmen
berhubungan dengan keyakinan untuk memilih kemungkinan dan
kesetiaan pada suatu yang dipilih dan pilihan itu susah untuk diubah.
Selanjutnya Marcia (dalam Desmita, 2007; 215) juga menjelaskan 
komitmen merupakan usaha membuat keputusan mengenai pekerjaan
atau ideologi, serta menentukan berbagai strategi untuk merealisasikan
keputusan tersebut. Jadi dapat dikatakan bahwa komitmen adalah
keteguhan hati untuk bertahan pada pilihan yang sudah ditentukan dan
setia melaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Erikson (dalam Yusuf, 2010; 201) meyakini bahwa perkembangan
identitas pada masa remaja berkaitan erat dengan komitmennya terhadap
pekerjaan masa depan, peran-peran masa dewasa dan sistem keyakinan
pribadi. Aktivitas komitmen menurut Marcia (1993; 181-184)
ditunjukkan oleh sejauh mana keteguhan pendirian remaja terhadap
vokasi yang dipilihnya yang ditandai oleh beberapa hal berikut:
1) Knowledgeability (kemampuan mengetahui), yaitu merujuk pada
sejumlah informasi yang dimiliki dan dipahami tentang keputusan
pilihan-pilihan yang telah ditetapkan. Remaja yang memiliki
komitmen dapat menunjukkan pengetahuan yang mendalam,
terperinci dan akurat tentang hal-hal yang telah diputuskan.
2) Activity directed toward implementing the chosen identity elemen
(aktivitas yang menunjukkan kepada imflementasi yang terpilih
dari elemen identitas), yaitu aktivitas yang terarah pada
implementasi elemen identitas yang telah ditetapkan.
3) Emotional tone (irama perasaan/keadaan perasaan), yaitu nada
emosi yang merujuk pada berbagai perasaan yang dirasakan
individu baik dalam penetapan keputusan maupun dalam 
mengimplementasikan keputusan tersebut. Nada emosi terungkap
dalam bentuk keyakinan diri, stabilitas dan optimisme masa depan.
4) Identification with significant other (identifikasi dengan orang- orang yang dianggap ideal), yaitu identifikasi dengan orang-orang
yang dianggap penting yang ditunjukkan dengan sejauh mana
remaja mampu membedakan aspek positif dan negatif dari figur
yang dianggap ideal olehnya.
5) Projecting one’s personal future (kemampuan memproyeksikan
dirinya kemasa akan datang), yaitu kemampuan memproyeksikan
dirinya ke masa depan dengan ditandai oleh kemampuan
mempertautkan rencanannya dengan aspek lain dalam kehidupan
masa depan yang mereka cita-citakan.
6) Resistence to being swayed (ketahanan dari berbagai godaan), yaitu sejauh mana individu memiliki ketahanan terhadap godaan- godaan yang bermaksud untuk mengalihkan keputusan yang telah
mereka tetapkan. Mereka tetap teguh pada keputusannya, tetapi
mereka bukan anti perubahan. Mereka mampu menghargai
berbagai kemungkinan perubahan, mereka mengkaitkannya
dengan kemampuan pribadi dan peluang yang ada.

Eksplorasi (skripsi, tesis, dan disertasi)


Eksplorasi menurut Marcia (1993; 161) adalah merupakan periode
atau tahap berjuang/ aktif bertanya dalam mencapai keputusan tentang
tujuan, nilai dan keyakinan.
Selanjutnya Marcia (1993; 178-181) mengatakan untuk
mengetahui ada tidaknya eksplorasi dalam pembentukan identitas dan
sejauh mana aktifitas remaja mencari informasi tentang masalah
pekerjaan tergambar dari keluasan dan intensitas beberapa hal berikut :
1) Knowledgeability (kemampuan untuk mengetahui), yaitu sejauh
mana tingkat pengetahuan yang dimiliki individu yang ditunjukkan
oleh keluasan dan kedalaman informasi yang berhasil dihimpun
tentang berbagai alternatif pilihan pekerjaan dan study lanjutan
yang mendukung pilihan pekerjaan itu. Intinya pada poin ini,
individu mencari tahu tentang berbagai alternatif vokasional.
2) Activity directed toward gathering information (aktifitas yang
menunjukkan berbagai informasi), yaitu aktivitas yang terarah
untuk mengumpulkan informasi yang menyangkut semua aktivitas 
yang dipandang tepat untuk mencari dan mengumpulkan informasi
yang dibutuhkan berkaitan dengan vokasional.
3) Considering alternative potential identity element (mampu
mempertimbangkan berbagai alternatif elemen atau bagian-bagian
dari identitas), yaitu sejauh mana individu mampu
mempertimbangkan berbagai informasi yang telah dimiliki tentang
berbagai kemungkinan dan peluang dari setiap alternatif yang ada
berkaitan dengan vokasional.
4) Emotional tone (keadaan perasaan), yaitu keadaan emosi yang
masih mengalami keragu-raguan (mungkin atau tidak mungkin)
dalam membuat atau mengambil suatu keputusan. Karena
pelaksanaan pilihan dapat ditunda untuk beberapa waktu.
5) Desire to make an early decision (keinginan untuk membuat
keputusan lebih dini), yaitu keinginan untuk membuat keputusan
secara dini yang ditunjukkan oleh sejauh mana individu memiliki
keinginan untuk memecahkan keragu-raguan atau ketidakjelasan
secepat mungkin, secara realistis dan meyakini apa yang dipandang
tepat bagi dirinya berkaitan dengan vokasional. 

Pembentukan Identitas Vokasional (skripsi, tesis, dan disertasi)


Perkembangan identitas terjadi bertahap dan sedikit demi sedikit.
Keputusan yang diambil tidak hanya sekali dan bersifat final, tetapi harus
diambil berulang kali. Perkembangan identitas tidak berlansung dengan
teratur dan juga tidak berlansung dengan tiba-tiba. Ketika mereka mulai
menyadari mereka akan bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri
dan kehidupan mereka, remaja mulai mencari hidup macam apakah yang
akan mereka jalani.
Sulaeman (1995;95-96) mengatakan pilihan-pilihan yang
mempunyai implikasi vokasional biasanya dimulai pada masa remaja.
Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitas
vokasionalnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal
kehilangan kompas. Melakukan pilihan vokasional dan mencapai 
penyesuaian vokasional adalah proses-proses yang cukup membutuhkan
waktu, oleh karena itu dibutuhkan peran serta lingkungan dan keluarga.
Santrock (2003;344) mengatakan pembentukan identitas tidak
selalu terjadi secara teratur, dan biasanya juga tidak terjadi secara tibatiba. Pada batas paling rendah, pembentukan identitas melibatkan
komitmen kepada kehidupan dalam dunia kerja, pemilihan ideologi dan
orientasi seksual. Melakukan sintesa terhadap komponen identitas dapat
menjadi suatu proses yang lama dan panjang dengan sejumlah
pertentangan dan persetujuan dari berbagai peran dan wajah.
Perkembangan identitas terjadi secara sedikit-sedikit dan keputusan tidak
dibuat sekali saja untuk seterusya, tetapi harus dibuat lagi dan lagi.
Erikson (dalam Santrock, 2003; 342) mendeskripsikan, ketika
remaja secara bertahap menyadari bahwa mereka bertanggung jawab
akan diri mereka dan kehidupan mereka sendiri, remaja kemudian akan
mencari seperti apakah kehidupannya nanti. Banyak orang tua dan orang
dewasa lainnya yang terbiasa memiliki anak yang melakukan apa yang
mereka katakan, akan menjadi terheran-heran atau marah dengan
komentar para remaja dan perubahan suasana hati yang sering terjadi
pada remaja.
Menurut Marcia (dalam Mukhlis, 2009; 23) pembentukan identitas,
termasuk identitas vokasional remaja ditandai dengan ada tidaknya usaha
ekslporasi menyangkut berbagai alternatif vokasional yang 
dikukuhkannya komitmen yang mantap terhadap suatu pilihan karir
berlandaskan pertimbangan yang matang.

Pengertian Identitas Dalam Bidang Vokasional (skripsi, tesis, dan disertasi)


Identitas menurut Erikson (dalam Santrock, 2007; 69) adalah aspek
kunci dari perkembangan remaja. Erikson (dalam Marettih, 2012; 63)
juga mengatakan bahwa salah satu proses sentral pada remaja adalah
pembentukan identitas diri. Dimana identitas diri adalah mengenal dan
menghayati dirinya sebagai pribadi sendiri serta tidak tenggelam dalam
peran yang dimainkan yaitu peran yang bersifat penyesuaian dengan
tuntutan masyarakat.
Woolfolk mengartikan identitas sebagai suatu pengorganisasian
dorongan-dorongan, kemampuan-kemampuan, keyakinan-keyakinan dan
pengalaman individu ke dalam citra diri yang konsisten (dalam yusuf,
2010; 71-72). Upaya pengorganisasian ini melibatkan kemampuan untuk
melibatkan pilihan dan mengambil keputusan, terutama yang
menyangkut pekerjaan, dan falsafah kehidupan. Kegagalan
mengintegrasikan semua aspek ini, atau kesulitan untuk melakukan
pilihan, maka remaja akan mengalami kerancuan peran (role confusion).
Santrock (2007; 69) mengatakan identitas adalah potret diri yang
terdiri dari berbagai potongan. Sementara itu menurut Kroger (dalam
Santrock, 2007; 69) identitas terdiri dari komitmen terhadap arah karir, 
ideologis, dan orientasi seksual. Selanjutnya Marcia (dalam Yusuf, 2010;
201) mengatakan identitas itu merujuk kepada pengorganisasian atau
pengaturan dorongan-dorongan, kemampuan-kemampuan dan keyakinan- keyakinan ke dalam citra diri secara konsisten yang meliputi pekerjaan
dan filsafat hidup. Apabila remaja gagal mengintegrasikan aspek-aspek
dan pillihan atau merasa tidak mampu untuk memilih, maka dia akan
mengalami kebingungan.
Menurut Marcia (1993; 156-157), ada lima area identitas diri
individu yang harus terbentuk pada masa remaja, yaitu : identitas
vokasional, identitas religius, identitas politik, identitas etnis dan identitas
seksual. Sementara itu Santrock (2007; 69) membedakannya kepada
delapan area yaitu : identitas karir/ vokasional, identitas politik, identitas
religius, identitas hubungan, identitas pencapaian atau intelektual,
identitas seksual, identitas etnis atau budaya dan identitas fisik.
Berdasarkan pendapat dua tokoh di atas, vokasional merupakan
salah satu area/bidang identitas yang harus terbentuk pada masa remaja.
Marcia mengatakan (1993; 213) vokasional merupakan salah satu
penilaian terhadap kemampuan diri dalam melakukan eksplorasi dan
pengambilan keputusan dalam pemilihan pekerjaan.
Marcia (dalam Mukhlis, 2009; 23) mendeskripsikan bahwa remaja
yang telah mampu menilai kemampuan serta minatnya, mampu melihat
peluang yang dapat mereka raih serta membuat komitmen terhadap
pilihan pendidikan dan pekerjaan dikatakan sebagai remaja yang telah 
mencapai identitas dalam bidang vokasional. Untuk menentukan
pilihannya, remaja memerlukan berbagai informasi, dan merealisasikan
pengetahuannya dalam membuat keputusan yang sesuai dengan minat
dan kemampuannya.

Konformitas Teman Sebaya pada Remaja (skripsi, tesis, dan disertasi)


Konformitas dapat terjadi dalam beberapa bentuk dan mempengaruhi
aspek-aspek kehidupan remaja (Santrock, 2003). Bagi banyak remaja, bagaimana
mereka dipandang oleh teman sebaya merupakan aspek yang terpenting dalam
kehidupan mereka, sehingga remaja akan melakukan apapun agar dapat diterima
dalam lingkungan sosialnya, khususnya lingkungan kelompok sebaya. Untuk
mereka, dikucilkan oleh lingkungan sosial berarti stress, frustasi dan kesedihan.
Dorongan-dorongan inilah yang mendasari remaja untuk beprilaku konformitas
terhadap teman sebaya (Santrock, 2003).
Konformitas muncul ketika individu meniru sikap/tingkah laku orang
lain karena adanya tekanan yang nyata maupun yang di bayangkan oleh mereka, 
dan tekanan untuk mngikuti teman sebaya menjadi kuat pada masa remaja.
Konformitas terhadap tekanan teman sebaya pada remaja dapat menjadi positif
atau negatif (Santrock, 2003). Untuk nilai-nilai sosial dan moral yang dipegang
oleh sistem sosial, konformitas diperlukan (Baron & Byrne, 2003). Konformitas
sangat penting sebagai upaya individu untuk dapat diterima dalam lingkungan
sosial, tetapi konformitas membatasi kebebasan pribadi dan menjadi tidak sehat
ketika hal tersebut menjadi deskrutif atau mendorong orang untuk melakukan
tindakan yang berlawanan dengan penilaian mereka sendiri (Papalia, 2008).
Condry, Simon, & Bronfenbrenner (Santrock, 2003) menyatakan bahwa
remaja muda laki-laki dan perempuan menghabiskan waktu dua kali lebih banyak
dengan teman sebaya daripada waktu dengan orang tuanya. Disinilah mereka
saling mengisi dan mempengaruhi satu sama lain dan kadang-kadang membentuk
kelompok-kelompok dengan remaja yang memiliki usia sebaya (peer groups).
Piaget dan Kholberg (Santrock; 2007) percaya bahwa hubungan dengan
teman sebaya adalah bagian terpenting dari stimulus sosial yang akan memberikan
tantangan bagi remaja untuk mengembangkan moral mereka. Hubungan memberi
dan menerima bersifat mutual dengan teman sebaya memberikan kesempatan bagi
remaja untuk mengambil peran dan memberikan anak kesempatan merasakan
bahwa peraturan dibuat dengan cara yang demokrasi.
Sementara hampir semua remaja melakukan konformitas terhadap
kelompok teman sebaya, beberapa remaja ada juga yang anti-konformitas. Anti
konformitas muncul ketika individu bereaksi menolak terhadap harapan kelompok 
dan kemudian dengan sengaja menjauh dari tindakan atau kepercayaan yang
dianut kelompok (Santrock, 2003).

Aspek-aspek Konformitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Sears dkk (1985), berpendapat bahwa konformitas akan mudah terlihat
serta mempunyai aspek-aspek yang khas dalam kelompok. Adapun aspek-aspek
yang dimaksud didalamnya adalah:
1) Kekompakan
Kekuatan yang dimiliki kelompok acuan menyebabkan remaja tertarik
dan ingin tetap menjadi anggota kelompok. Eratnya hubungan remaja dengan
kelompok acuan disebabkan perasaan suka antara anggota kelompok serta harapan
memperoleh manfaat dari keanggotaannya. Semakin besar rasa suka anggota yang
satu terhadap anggota yang lain, dan semakin besar harapan untuk memperoleh
manfaat dari keanggotaan kelompok serta semakin besar kesetiaan mereka, maka
akan semakin kompak kelompok tersebut. Kekompakan tersebut dapat
dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut; 
a. Penyesuaian diri
Kekompakan yang tinggi menimbulkan tingkat konformitas yang
semakin tinggi. Alasan utamanya adalah bahwa bila orang merasa dekat
dengan anggota kelompok lain, akan semakin menyenangkan bagi mereka
untuk mengakui kita dan semakin menyakitkan bila mereka mencela kita.
Kemungkinan untuk menyesuaikan diri akan semakin besar bila kita
mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi anggota sebuah kelompok
tertentu.
b. Perhatian terhadap kelompok
Peningkatan koformitas terjadi karena anggotanya enggan disebut
sebagai orang yang menyimpang. Seperti yang telah kita ketahui,
penyimpangan menimbulkan resiko ditolak. Orang yang terlalu sering
menyimpang pada saat-saat yang penting diperlukan, tidak menyenangkan,
dan bahkan bisa dikeluarkan dari kelompok. Semakin tinggi perhatian
seseorang dalam kelompok semakin serius tingkat rasa takutnya terhadap
penolakan, dan semakin kecil kemungkinan untuk tidak meyetujui kelompok.
2) Kesepakatan kelompok
Pendapat kelompok acuan yang sudah dibuat memiliki tekanan kuat
sehingga remaja harus loyal dan menyesuaikan pendapatnya dengan pendapat
kelompok. Kesepakatan tersebut dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu;
a. Kepercayaan
Penurunan melakukan konformitas yang drastis karena hancurnya
kesepakatan disebabkan oleh faktor kepercayaan. Tingkat kepercayaan 
terhadap mayoritas akan menurun bila terjadi perbedaan pendapat, meskipun
orang yang berbeda pendapat itu sebenarnya kurang ahli bila dibandingkan
anggota lain yang membentuk mayoritas. Bila seseorang sudah tidak
mempunyai kepercayaan terhadap pendapat kelompok, maka hal ini dapat
mengurangi ketergantungan individu terhadap kelompok sebagai sebuah
kesepakatan.
b. Persamaan Pendapat
Bila dalam suatu kelompok terdapat satu orang saja tidak sependapat
dengan anggota kelompok yang lain maka konformitas akan turun. Kehadiran
orang yang tidak sependapat tersebut menunjukkan terjadinya perbedaan yang
dapat berakibat pada berkurangnya kesepakatan kelompok. Jadi dengan
persamaan pendapat antar anggota kelompok maka konformitas akan semakin
tinggi.
c. Penyimpangan terhadap pendapat kelompok
Bila orang mempunyai pendapat yang berbeda dengan orang lain dia
akan dikucilkan dan dipandang sebagai orang yang menyimpang, baik dalam
pandangannya sendiri maupun dalam pandangan orang lain. Bila orang lain
juga mempunyai pendapat yang berbeda, dia tidak akan dianggap
menyimpang dan tidak akan dikucilkan. Jadi kesimpulan bahwa orang yang
menyimpang akan menyebabkan penurunan kesepakatan merupakan aspek
penting dalam melakukan konformitas. 
3) Ketaatan
Tekanan atau tuntutan kelompok acuan pada remaja membuatnya rela
melakukan tindakan walaupun remaja tidak menginginkannya. Bila
ketaatannya tinggi maka konformitasnya akan tinggi juga. Ada beberapa hal
yang dapat menimbulkan ketaatan, yaitu;
a. Tekanan karena Ganjaran, Ancaman, atau Hukuman
Salah satu cara untuk menimbulkan ketaatan adalah dengan
meningkatkan tekanan terhadap individu untuk menampilkan perilaku yang
diinginkan melalui ganjaran, ancaman, atau hukuman karena akan
menimbulkan ketaatan yang semakin besar. Semua itu merupakan insentif
pokok untuk mengubah perilaku seseorang.
b. Harapan Orang Lain
Seseorang akan rela memenuhi permintaan orang lain hanya karena
orang lain tersebut mengharapkannya. Dan ini akan mudah dilihat bila
permintaan diajukan secara langsung. Gejala ini sangat mudah dilihat bila
permintaan diajukan secara langsung. Misalnya, bila kita menyatakan kepada
teman kita bahwa mereka harus menyumbang sejumlah uang, dan
memberikan peringatan kepada teman kita apabila dia tidak menyumbangkan
sejumlah uang maka kita akan memberikan uang yang lebih banyak. Harapan- harapan orang lain dapat menimbulkan ketaatan, bahkan meskipun harapan itu
bersifat implisit. Salah satu cara untuk memaksimalkan ketaatan adalah
dengan menempatkan individu dalam situasi yang terkendali, dimana segala 
sesuatunya diatur sedemikian rupa sehingga ketidaktaatan merupakan hal yang
hampir tidak mungkin timbul.

Alasan Terjadinya Konformitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Menurut Sears (1985) pada dasarnya, orang melakukan konformitas
karena dua alasan yaitu:
1) Perilaku orang lain memberikan informasi yang bermanfaat, meliputi:
a. Kurangnya informasi. Orang lain merupakan sumber informasi yang
penting. Sering kali mereka mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui;
dengan melakukan apa yang mereka lakukan kita akan memperoleh
manfaat dari pengetahuan mereka. Oleh karena itu, tingkat konformitas
yang didasarkan pada informasi ditentukan oleh dua aspek situasi; sejauh
mana mutu informasi yang dimiliki orang lain tentang apa yang benar dan
sejauh mana kepercayaan diri kita terhadap penilaian kita sendiri.
b. Kepercayaan terhadap kelompok. Faktor utamanya adalah apakah individu
mempercayai informasi yang dimiliki oleh kelompok atau tidak. Apabila
dalam situasi konformitas, individu mempunyai suatu pandangan dan
kemudian menyadari bahwa kelompoknya menganut pandangan yang
bertentangan. Individu ingin memberikan informasi yang tepat. Oleh
karena itu, semakin besar kepercayaan kelompok sebagai sumber
informasi yang benar, semakin besar pula kemungkinan untuk
menyesuaikan diri terhadap kelompok. Bila orang tersebut berpendapat
bahwa kelompok selalu benar, dia akan mengikuti apapun yang dilakukan
kelompok tanpa mempedulikan pendapat sendiri. Demikian pula, bila
kelompok mempunyai informasi penting yang belum dimiliki individu, 
konformitas akan semakin meningkat. Mekanisme kerjanya adalah sebagai
berikut; individu memutuskan bahwa dia salah dan kelompoknya benar.
c. Kepercayaan yang lemah terhadap penilaian sendiri. Sisi lain adalah
bahwa sesuatu yang meningkatkan kepercayaan individu terhadap
penilaiannya sendiri akan menurunkan konformitas. Salah satu faktor yang
sangat mempengaruhi rasa percaya diri dan tingkat konformitas adalah
tingkat kepercayaan orang tersebut pada kemampuannya sendiri untuk
menampilkan suatu reaksi. Rasa percaya individu terhadap penilaian
sendiri akan menurunkan tingkat konformitas karena kemudian kelompok
bukan merupakan sumber informasi yang unggul lagi. 2) Individu menyesuaikan diri karena ingin diterima secara sosial dan
menghindari celaan, meliputi:
a. Rasa takut terhadap celaan. Alasan utama konformitas yang kedua adalah
demi memperoleh persetujuan atau menghindari celaan kelompok. Salah
satu alasan mengapa kita tidak mengenakan pakaian bergaya Hawai ke
tempat ibadah adalah kerena semua umat yang akan melihat dengan rasa
tidak senang.
b. Rasa takut terhadap penyimpangan. Rasa takut dipandang sebagai orang
yang menyimpang merupakan faktor dasar hampir dalam situasi sosial.
Karena kita tidak mau dilihat sebagai orang yang lain dari yang lain, hal
ini diperkuat oleh tanggapan kelompok terhadap perilaku yang
menyimpang. Orang tidak mau mengikuti apa yang berlaku di dalam 
kelompok akan menanggung resiko mengalami akibat yang tidak
menyenangkan.
Selanjutnya Deutsch dan Greetd juga menyebutkan ada dua penyebab
mengapa orang berperilaku konform (Sarwono, 1999):
1) Pengaruh norma, yaitu disebabkan oleh keinginan untuk memenuhi harapan
orang lain sehingga dapat lebih diterima oleh orang lain.
2) Pengaruh informasi, yaitu karena adanya bukti-bukti dan informasi-informasi
mengenai realitas yang diberikan oleh orang lain yang dapat diterimanya atau
tidak dapat dielakkan lagi.

Pengertian Konformitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Sunarto (2004) mengemukakan bahwa konformitas merupakan
perubahan tingkah laku sebagai akibat dari tekanan kelompok. Ini terlihat dari
kecendrungan remaja untuk selalu menyamakan perilakunya dengan kelompok
acuan sehingga dapat terhindar dari celaan maupun keterasingan (Mappiare,
1982). Sedangkan menurut Conger (Yusuf, 2006) konformitas remaja adalah
penyesuaian perilaku remaja untuk menganut pada norma kelompok acuan,
menerima ide atau aturan-aturan yang menunjukkan bagaimana remaja
berperilaku.
Kedua defenisi yang diungkapkan, terlihat kesamaan yang dimaksud
dalam konformitas yaitu terjadi karena adanya kecendrungan untuk menyamakan
atau menyesuaikan perilaku dengan kelompok acuan. Kelompok acuan yang
dimaksud adalah kelompok teman sebaya yaitu sekumpulan atau beberapa
individu sebaya (seusia) yang memiliki hubungan dan interaksi yang erat saling
terikat dan bergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan bersama. Keisler & 
Kiesler (Sarwono, 1999) juga menyatakan bahwa konformitas merupakan
perubahan perilaku atau kepercayaan individu sebagai akibat dari adanya tekanan
kelompok secara nyata maupun tidak nyata (hanya bayangan).
Menurut Soetjiningsih (2004) konformitas pada teman sebaya muncul
pada masa remaja awal dan pada usia pertengahan keterlibatan remaja dalam
kelompok semakin besar, yang ditunjukkan dengan menyamakan diri dengan
teman sebaya dalam hal pakaian, bergaya, berperilaku, berkegiatan dan
sebagainya (Santrock, 2003). Sebagian remaja beranggapan bila mereka
berpakaian atau menggunakan aksesoris yang sama dengan yang sedang diminati
kelompok acuan, maka timbul rasa percaya diri dan kesempatan diterima
kelompok lebih besar (Hurlock, 1982). Oleh karena itu remaja cendrung
menghindari penolakan dari teman sebaya dengan bersikap konform atau sama
dengan teman sebaya.

Aspek-aspek Status Identitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Jika memakai teori Marcia (Santrock, 2007) identitas diri pada remaja
dapat berada pada salah satu dari empat status identitas (diffusion, foreclasure,
moratorium, dan achievement). Selanjutnya, Marcia (Desmita, 2008)
mengklasifikasikan siswa dalam kategori status identitas berdasarkan pada dua
pertimbangan: (1) apakah mereka mengalami suatu krisis identitas atau tidak, dan
(2) pada tingkat mana mereka memiliki komitmen. Dalam studi empirik tentang
perkembangan identitas Marcia (Desmita, 2008) menginterview aspek-aspek
identitas yaitu :
a. Aspek pekerjaan, merupakan kesadaran remaja akan keberadaan dirinya
berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan konflik dalam memilih
pekerjaan. 
b. Aspek keyakinan agama, merupakan kesadaran remaja akan keberadaan
dirinya berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan konflik dalam
keyakinan agama.
c. Aspek politik, merupakan kesadaran remaja akan keberadaan dirinya
berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan konflik dalam menganut paham
politik tertentu

Identity Moratorium (skripsi, tesis, dan disertasi)


Merupakan istilah yang digunakan Marcia (Santrock, 2003) bagi remaja
yang berada dalam krisis (sedang mengeksplorasi alternatif-alternatif), namun
tidak memiliki komitmen sama sekali atau memiliki komitmen yang tidak terlalu
jelas. Remaja dengan identitas moratorium sering dianggap berada dalam krisis. 
Krisis ini ditunjukkan dengan banyaknya melakukan eksplorasi pemikiran,
kesadaran dan intelektual terhadap elemen-elemen identitas dan ditandai dengan
memiliki perilaku yang banyak berhubungan dengan orang lain (Seotijiningsih,
2004). Papalia (2008) mengemukakan bahwa remaja yang moratorium memiliki
kecemasan dan kebebasan yang tinggi.

Identity Diffusion/ Confusion (skripsi, tesis, dan disertasi)


Merupakan istilah yang digunakan Marcia (Santrock, 2003). bagi remaja
yang belum pernah mengalami krisis (belum pernah mengksplorasi alternatif- alternatif yang berarti) atau membuat suatu komitmen Menurut Santrock (2003)
identitas disffusion/confussion merupakan suatu kemunduran dalam perspektif
waktu, inisiatif, dan kemampuan untuk mengkoordinasikan perilaku dimasa kini
dengan tujuan dimasa depan. Remaja dengan status ini yaitu remaja yang
mengalami kebingungan tentang siapa dirinya dan mau apa dalam hidupnya
(Yusuf, 2011). Selain itu, mereka juga menunjukkan karakteristik seperti, konsep
diri yang kurang kuat, menunjukkan tingkat kecemasan dan kategangan internal
yang tinggi, dan tidak dapat memperkirakan ciri atau sifat kepribadian yang
dimilikinya (Santrock, 2007)

Perkembangan Status Identitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Menurut Marcia (Desmita, 2008) pembentukan identitas diri memerlukan
adanya dua elemen penting, yaitu eksplorasi (krisis) dan komitmen. Eksplorasi 
menunjuk pada suatu masa di mana seseorang berusaha menjelajahi berbagai
alternatif pilihan yang ada, serta menetapkan dan memberikan perhatian terhadap
alternatif tersebut. Sedangkan komitmen merujuk pada usaha membuat keputusan
mengenai pekerjaan atau ideologi, serta menentukan berbagai strategi untuk
merealisasikan keputusan tersebut. Seseorang dikatakan memiliki komitmen bila
elemen identitasnya berfungsi mengarahkan tindakannya, dan selanjutnya tidak
membuat perubahan yang berarti terhadap elemen identitas tersebut.
Halim (2010) menyatakan untuk dapat merasakan peranan masa depan
dalam masyarakat, remaja harus mengetahui kedudukan identitasnya (identity
status), karena kedudukan identitas adalah bagian penting dalam pembentukan
identitas diri. Bagaimana individu pada masa remaja melalui proses pembentukan
identitas, peneliti aliran Erikson, James Marcia (Desmita, 2008) mengemukakan
bahwa terdapat empat status identitas, tergantung dari cara menyelesaikan krisis
identitas

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Identitas (skripsi, tesis, dan disertasi)


Soetijiningsih (2004) mengemukakan beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi perkembangan identitas seseorang, yaitu;
1) Keluarga
Orang tua adalah sosok yang penting dalam perkembangan identitas
remaja (Santrock, 2003). Salah satu faktor yang berkaitan dengan perkembangan
identitas remaja adalah iklim keluarga. Iklim keluarga yang sehat, yaitu interaksi
sosioemosional diantara anggota keluarga (ibu-ayah, orang tua-anak, dan anak- anak) sikap dan perlakuan orang tua terhadap anak berjalan dengan harmonis dan
penuh kasih sayang, remaja akan mampu mengembangkan identitasnya secara
realistik dan stabil (stabil). Sebaliknya, dengan iklim keluarga yang kurang sehat,
ramaja akan mengalami kegagalan dalam mencapai identitasnya secara matang,
mereka akan mengalami kebingungan, konflik atau frustasi (Yusuf, 2011).
2) Reference group
Reference group merupakan kelompok-kelompok yang terbentuk ketika
memasuki masa remaja. Pada umumnya remaja menjadi anggota kelompok usia
sebaya (peer group) (Seotijiningsih. 2004). Misalnya kelompok agama atau
kelompok yang berdasarkan kesamaan minat tertentu. Teman sebaya merupakan
kelompok acuan bagi seorang anak untuk mengidentifikasi dirinya dan untuk
mengikuti standar kelompok. Sejak seorang remaja menjadi bagian dari
kelompok teman sebaya tersebut, identitas dirinya sudah mulai terbentuk, karena
teman sebaya membantu remaja untuk memahami identitas diri (jati/diri) sebagai
suatu hal yang sangat penting (Yusuf, 2011). Melalui kelompok tersebut remaja 
dapat memperoleh nilai-nilai dan peran yang dapat menjadi acuan bagi dirinya.
Kelompok tersebut dapat membantu remaja untuk mengetahui dirinya dalam
perbandingannya dengan orang lain sehingga mereka dapat membandingkan
dirinya dengan kelompoknya, nilai-nilai yang ada pada dirinya dengan nilai-nilai
dalam kelompok yang selanjutnya akan berpengauh kepada pertimbangan- pertimbangan apakah dia akan menerima atau menolak nilai-nilai yanga ada
dalam kelompok tersebut (Seotijiningsih, 2004). Studi-studi kontemporer tentang
remaja, juga menunjukkan bahwa hubungan yang positif dengan teman sebaya
diasosiasikan dengan penyesuaian sosial yang positif (Desmita, 2008).
3) Significant other
Yaitu merupakan seorang yang sangat berarti, seperti sahabat, guru,
kakak, bintang olahraga atau bintang film atau siapapun yang dikagumi. Orang- orang tersebut menjadi tokoh ideal (idola) karena mempunyai nilai-nilai ideal bagi
remaja dan mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan identitas
diri, karena pada saat ini remaja giat-giatnya mencari model. Tokoh ideal tersebut
dijadikan model atau contoh dalam proses identifikasi. Remaja cenderung akan
menganut dan menginternalisasikan nilai-nilai yang ada pada idolanya tersebut ke
dalam dirinya. Sehingga remaja sering berperilaku seperti tokoh idealnya dengan
meniru sikap maupun perilakunya dan bahkan merasa seolah-olah menjadi seperti
mereka (Seotjiningsih, 2004).

Pengertian Identitas Diri (skripsi, tesis, dan disertasi)


Identitas diri adalah proses menjadi seorang individu yang unik dengan
peran yang penting dalam hidup (Papalia, 2008), suatu kesadaran akan kesatuan
dan kesinambungan pribadi, serta keyakinan yang relatif stabil sepanjang rentang
kehidupan (Desmita, 2008), dan merupakan pengorganisasian dorongan-dorongan
(drives), kemampuan-kemampuan (abilities), keyakinan-keyakinan (beliefs), dan
pengalaman kedalam citra diri (image of self) yang konsisten yang meliputi
kemampuan memilih dan mengambil keputusan, baik menyangkut pekerjaan,
orientasi seksual, dan filsafah hidup (Woolfolk, dalam Yusuf, 2011). Bila
seseorang telah memperoleh identitas, maka ia akan menyadari ciri-ciri khas
kepribadiaanya, seperti kesukuan atau ketidaksukuannya, aspirasi, tujuan masa
depan yang diantisipasi, perasaan bahwa ia dapat dan harus mengatur orientasi
hidupnya (Desmita, 2008).
Menurut Erikson, identitas diri berarti perasaan dapat berfungsi sebagai
seseorang yang berdiri sendiri tetapi yang berhubungan erat dengan orang lain. Ini
berarti menjadi seorang dari kelompok tetapi sekaligus memiliki ciri-ciri yang
berbeda dengan kelompok yang merupakan kekhususan dari individu itu. Identitas
diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa
perannya dalam masyarakat. Apakah ia seorang anak atau seorang dewasa?
Apakah nantinya ia dapat menjadi seorang ayah? Apakah ia mampu percaya diri 
sekalipun latar belakang ras atau agama atau nasionalnya membuat beberapa
orang merendahkannya? Secara keseluruhan, apakah ia akan berhasil atau akan
gagal? (Hurlock, 1980). Pertanyaan-pertanyaan ini tidak begitu penting pada masa
anak-anak, namun menjadi kian umum dan intens pada masa remaja. Tidak jarang
ramaja menjadi ragu terhadap eksistensi dirinya sendiri, sehingga pencapaian
identitas diri merupakan salah satu tugas yang penting dan mendasar dalam
kehidupan remaja (Purwandi, 2004).
Erikson (Desmita, 2008) juga menyatakan salah satu tugas terpenting
yang dihadapi remaja adalah menyelesaikan krisis identitas, sehingga diharapkan
terbentuk suatu identitas diri yang stabil pada akhir masa remaja. Remaja yang
berhasil mencapai suatu identitas yang stabil, akan memperoleh suatu pandangan
yang jelas tentang dirinya, memahami perbedaan dan persamaan dengan orang
lain, menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya, penuh percaya diri, tanggap
terhadap berbagai situasi, mampu mengambil keputusan penting, mampu
mengantisipasi tantangan masa depan, serta mengenal perannya dalam
masyarakat.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
identitas diri adalah kesadaran individu untuk menempatkan diri dan memberi arti
pada dirinya sebagai seorang pribadi yang unik serta memiliki ciri-ciri berbeda
dengan kelompoknya, memiliki keyakinan yang relatif stabil, serta memiliki peran
penting dalam konteks kehidupan masyarakat. Identitas diri dapat berisi atribut
fisik, keyakinan, tujuan, harapan, prinsip moral atau gaya sosial.

Motivasi Melakukan Identitas Sosial (skripsi, tesis, dan disertasi)


Social identity dimotivasi oleh dua proses yaitu self-enhacement dan
uncertainty reduction yang menyebabkan individu untuk berusaha lebih baik
dibandingkan kelompok lain. Motivasi ketiga yang juga berperan adalah optimal
distinctiveness. Ketiga motivasi ini akan dijelaskan sebagai berikut (Burke, 2006
dalam Hogg & Vaughan, 2011):
a) Self-enhancement dan positive distinctiveness
Positive distinctiveness mencakup keyakinan bahwa ”kelompok kita”
lebih baik dibandingkan “kelompok mereka”. Kelompok dan anggota yang
berada di dalamnya akan berusaha untuk mempertahankan positive
distinctiveness tersebut karena hal itu menyangkut dengan martabat, status,
dan kelekatan dengan kelompoknya. Positive distinctiveness seringkali
dimotivasi oleh harga diri anggota kelompok. Ini berarti bahwa harga diri
yang rendah akan mendorong terjadinya identifikasi kelompok dan perilaku
antar kelompok. Dengan adanya identifikasi kelompok, harga diri pun akan
mengalami peningkatan. Self-enhancement tak dapat disangkal juga terlibat
dalam proses identitas sosial. Karena motif individu untuk melakukan social
identity adalah untuk memberikan aspek positif bagi dirinya, misalnya
meningkatkan harga dirinya, yang berhubungan dengan self enhancement. 
b) Uncertainty Reduction
Motif social identity yang lain adalah uncertainty reduction. Motif ini
secara langsung berhubungan dengan kategorisasi sosial. Individu berusaha
mengurangi ketidakpastian subjektif mengenai dunia sosial dan posisi
mereka dalam dunia sosial. Individu suka untuk mengetahui siapa mereka
dan bagaimana seharusnya mereka berperilaku. Selain mengetahui dirinya,
mereka juga tertarik untuk mengetahui siapa orang lain dan bagaimana
seharusnya orang lain tersebut berperilaku. Kategorisasi sosial dapat
menghasilkan uncertainty reduction karena memberikan group prototype
yang menggambarkan bagaimana orang (termasuk dirinya) akan/dan
seharusnya berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam
uncertainty reduction, anggota kelompok terkadang langsung menyetujui
status keanggotaan mereka karena menentang status kelompok berarti
meningkatkan ketidakpastian self-conceptualnya. Individu yang memiliki
ketidakpastian self-conceptual akan termotivasi untuk mengurangi
ketidakpastian dengan cara mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok
yang statusnya tinggi atau rendah. Kelompok yang telah memiliki kepastian
self-conceptual akan dimotivasi oleh self-enhancement untuk
mengidentifikasi dirinya lebih baik terhadap kelompoknya.
c) Optimal Distinctiveness
Motif ketiga yang terlibat dalam proses social identity adalah optimal
distinctiveness. Menurut Brewer (1991), individu berusaha menyeimbangkan
dua motif yang saling berkonflik (sebagai anggota kelompok atau sebagai
individu) dalam meraih optimal distinctiveness. Individu berusaha untuk
menyeimbangkan kebutuhan mempertahankan perasaan individualitas 
dengan kebutuhan menjadi bagian dalam kelompok yang akan menghasilkan
definisi dirinya sebagai anggota kelompok (Ellemers, 1999).