Dewasa ini kepuasan customer dan pemahaman mengenai pasar adalah elemen yang penting untuk dipertimbangkan dalam menetapkan strategi supply chainyang baru. Beberapa strategi seperti lean supply chain, agile supply chain dan leagile supply chain (kombinasi dari lean dan agile) adalah beberapa strategi dari banyak strategi supply chain di dunia modern dewasa ini. Terdapat perbedaan yang mendasar dari ketiga strategi ini. Lean supply chain tidak dapat dilepaskan dari hubungan yang kuat antara lean manufacturing (LM) dan supply chain management (Drohomeretski et al., 2012). Kesamaan tujuan antara LM dan SCM adalah meningkatkan nilai pengiriman kepada konsumen, bergantung pada sistem just-in-time, menghilangkan berbagai sumber waste didalam supply chain, melibatkan semua elemen chain dalam proses penambahan atau penciptaan nilai, mengembangkan kolaborasi dengan konsumen dan supplier, mengurangi jumlah supplier dan mengembangkan efisiensi supplier (Shadur & Bamber, 1994). Waste dapat diukur dari waktu, inventory, dan biaya yang sebenarnya tidak diperlukan.
Lean supply chain memiliki makna untuk memproduksi apa dan sebanyak yang diperlukan, ketika diperlukan dan dimana diperlukan. Lean memproduksi lebih banyak dan melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (Mohammed et al., 2008). Hal ini berarti fokus terhadap setiap produk dan aliran nilainya. Untuk melakukan ini, perusahaan harus siap untuk bertanya dan mengerti aktivitas apa yang memberikan nilai dan yang waste. Lean supply chaintidak hanya tentang mengeliminasi waste, namun mengeliminasi waste dan menambah nilai. (Tompkins, 2003). Komponen utama dari lean supply chain adalah lean supplier, lean procurement, lean manufacturing, lean warehousing, lean transportation dan lean customer (Tompkins, 2003). Aspek kunci dari lean supply chain adalah kecepatan dan responsiveness kepada konsumen, mengurangi inventori, mengurangi biaya, meningkatkan kepuasan konsumen, dan menggunakan supply chain sebagai kekuatan kompetitif (Schultz, 2006). Menurut (Huang et al., 2002), Lean supply chain cocok digunakan pada proses yang mempunyai tujuan utama untuk memasok permintaan yang cukup dapat diperkirakan pada biaya yang paling rendah. Agility didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk merespon perubahan yang cepat pada permintaan baik itu volume dan variasi (Christoper, 2000). Paradigma Leandan Agile walaupun sangat berbeda, namun hal itu dapat dikombinasikan secara baik pada supply chain. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kebutuhan agility dan lean tergantung pada strategi supply chain, dimana mempertimbangkan pengetahuan pasar dan memposisikan de-coupling point. Kombinasi agility dan lean didalam satu supply chain dengan menggunakan strategi de-coupling point dinamakan “leagility” (Naylor et al., 1999)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar