Sabtu, 22 Oktober 2022

Faktor yang Mempengaruhi Organizational Commitment (skripsi, tesis, dan disertasi)


Faktor-faktor yang mempengaruhi organizational commitment menurut Dyne
dan Graham dalam Priansa (2016: 243) adalah faktor personal, faktor situasional, dan
faktor posisional.
1. Personal
Pada faktor personal meliputi ciri kepribadian tertentu dari karyawan, usia
dan masa kerja, tingkat pendidikan, jenis kelamin, status perkawinan, dan
keterlibatan kerja. Ciri-ciri kepribadian tertentu yang dimiliki karyawan
seperti teliti, ekstrovert, berpandangan positif (optimis), cenderung lebih
komit pada perusahaan. Demikian juga individu yang lebih berorientasi
kepada tim menempatkan tujuan kelompok di atas tujuan sendiri serta
individu yang altruistik (senang membantu) akan cenderung lebih komit.
Usia dan masa kerja berhubungan positif dengan organizational
commitment. Karyawan yang memiliki masa kerja dan usia yang lebih tua, 
lebih komit terhadap perusahaan dibandingkan dengan karyawan muda dan
memiliki masa kerja yang sebentar. Selanjutnya, semakin tinggi tingkat
pendidikan karyawan, semakin banyak harapan yang mungkin tidak dapat di
akomodir, sehingga komitmennya semakin rendah.
Jenis kelamin juga mempengerahui organizational commitment
karyawan. Wanita pada umumnya menghadapi tantangan lebih besar dalam
mencapai kariernya, sehingga komitmennya lebih tinggi. Pegawai yang sudah
menikah lebih terikat dengan organisasinya, karena karyawan tersebut
memiliki kebutuhan yang lebih tinggi daripada karyawan yang belum
menikah, maka dari itu status perkawinan mempengaruhi organizational
commitment karyawan. Dan yang terakhir adalah keterlibatan kerja. Tingkat
keterlibatan kerja individu berhubungan positif dengan organizational
commitment. Karyawan yang lebih dilibatkan dalam organisasi akan merasa
lebih komit dibandingkan dengan karyawan yang kurang dilibatkan oleh
perusahaan.
2. Situasional
Pada faktor situasional meliputi nilai (value) di tempat kerja, keadilan
organisasi, karakteristik pekerjaan, dan dukungan organisasi. Nilai-nilai yang
dibagikan oleh perusahaan kepada karyawan sangat mempengaruhi hubungan
saling keterikatan karyawan. Nilai-nilai kualitas, inovasi, kooperasi,
partisipasi dan kepercayaan akan mempermudah setiap pegawai untuk saling
berbagi dan membangun hubungan yang erat. Jika para pegawai memiliki
keterikatan yang kuat, maka komitmen terhadap organisasi akan lebih besar.
Keadilan organisasi meliputi keadilan yang berkaitan dengan kewajaran
alokasi sumber daya, keadilan dalam proses pengambilan keputusan, serta
keadilan dalam persepsi kewajaran atas pemeliharaan hubungan antar pribadi.
Jika perusahaan dapat menerapkan keadilan organisasi, maka karyawan akan
lebih komitmen terhadap perusahaan.
Selanjutnya adalah karakteristik pekerjaan. Karakteristik pekerjaan
meliputi pekerjaan yang penuh makna, otonomi dan umpan balik yang dapat
menjadi motivasi kerja yang internal. Jerigan dan Beggs menyatakan
kepuasan atas otonomi, status dan kebijakan merupakan prediktor penting
dari komitmen. Karakteristik spesifik dari pekerjaan dapat meningkatkan
tanggung jawab, serta rasa keterikatan terhadap rasa organisasi. 
Dukungan organisasi mempunyai hubungan yang positif dengan
organizational commitment. Hubungan ini didefinisikan sebagai sejauh mana
pegawai memersepsi bahwa organisasi (lembaga, pimpinan, rekan) memberi
dorongan, respek, menghargai kontribusi dan memberi apresiasi bagi
karyawan dalam pekerjaannya. Hal ini berarti jika organisasi peduli dengan
keberadaan dan kesejahteraan karyawan dan juga menghargai kontribusinya,
maka karyawan akan menjadi komit.
3. Posisional
Pada faktor posisional meliputi masa kerja dan tingkat pekerjaan. Masa
kerja yang lama akan semakin membuat karyawan komit, hal ini disebabkan
oleh karena semakin lama masa kerja, memberi peluang karyawan untuk
menerima tugas menantang, otonomi semakin besar, serta peluang promosi
yang lebih tinggi. Juga peluang investasi pribadi berupa pikiran, tenaga dan
waktu yang semakin besar, hubungan sosial lebih bermakna, serta akses
untuk mendapat informasi pekerjaan baru makin berkurang.
Tingkat pekerjaan juga mempengaruhi organizational commitment
karyawan. Berbagai penelitian menyebutkan status ekonomi sebagai
prediktor komitmen paling kuat. Status yang tinggi cenderung meningkatkan
motivasi maupun kemampuan aktif terlibat dalam perusahaan.

Tidak ada komentar: