Perkembangan identitas diri remaja dipengaruhi oleh
berbagai macam faktor. Marcia (1993; 46) menyebutkan beberapa
kondisi yang mendahului (antecedent) bagi pembentukan identitas
diri remaja. Pembentukan identitas termasuk identitas dalam bidang
pekerjaan dapat dipengaruhi oleh berbagai variabel yang saling terkait,
termasuk:
a. The extent of identification with the parents priorto and during
adolescence, yaitu tingkat identifikasi dengan orang tua sebelum dan
sesudah masa remaja. Tingkat identifikasi pada orang tua sejak masa
kanak-kanak hingga mencapai masa remaja sangat berperan
memberikan arah pembentukan identitas diri pada remaja. Semua
sikap dan perilaku orang tua menjadi sumber identifikasi bagi anak
dan selanjutnya menjadi komponen pembentuk identitas dirinya.
b. The parenting style(s) with which the person has been reared, yaitu
dengan pola asuh seperti apa seseorang itu dibesarkan. Apabila
hubungan anggota keluarga hangat dan harmonis, serta perlakuan
orang tua terhadap anak positif atau penuh dengan kasih sayang, maka
remaja akan mampu mengembangkan identitasnya secara realistik dan
stabil.
c. The availability of model figures perceived assuccessful, yaitu
ketersediaan figur yang dijadikan model. Orang-orang yang dipersepsi
oleh remaja sebagai figur yang memiliki posisi di masyarakat, seperti
orang tuanya dan kalangan selebritis. Jika remaja tersebut benar dalam
memilih tokoh idolanya, maka remaja akan tumbuh dengan benar dan
mencapai identitasnya dengan baik. Sebaliknya, jika remaja salah
dalam memilih idolanya, maka remaja akan gagal dalam mencapai
identitasnya.
d. Social expectation about identitychoices araising within the family,
the school, and the peer group, yaitu harapan sosial tentang pilihan
identitas dalam keluarga, sekolah dan teman sebaya. Dalam hal ini,
pengalaman dalam menyampaikan gagasan, penampilan peran-peran
dan bergaul dengan orang lain sangatlah penting bagi perkembangan
identitas.
e. The extent to which the person is exposed to a varietyof identity
alternatives, yaitu sejauh mana individu tersebut mencari berbagai
macam alternatif identitas, seperti mengetahui siapa dirinya,
peranannya sebagai wanita/pria, apa potensi yang dimilikinya dan
kemana arah hidupnya.
f. The extent towhich the preadolescent personality provides an
appropriate foundation for coping with identity concerns, yaitu
sejauh mana kepribadian pra-remaja memberikan fondasi yang tepat
untuk mengatasi masalah identitas. Hal ini dapat dipengaruhi oleh
pengalaman-pengalaman masa lalu. Pengalaman sejak kecil yang
penuh konflik atau frustasi dan kurang mendapat bimbingan
keagamaan akan berdampak kurang baik bagi perkembangan remaja.
Remaja cenderung akan mengalami kegagalan dalam mengikuti
program sekolah dan cenderung memiliki sifat pribadi tidak jujur,
rasionalisasi (suka memberi alasan-alasan untuk menutupi kelemahan
dirinya), dll. Sebaliknya, pengalaman yang menyenangkan akan
mempengaruhi sifat-sifat pribadi yang taat hukum dan tidak
melampaui batas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar