Dalam Michael A Hogg (2004), proses identitas sosial melalui 3 tahapan
yaitu Social Categorization, Prototype, dan Depersonalization. Untuk memahami
apa yang dimaksud oleh Hogg diatas peneliti akan menjelaskan tiap tahapan,
sebagai berikut:
Kategorisasi sosial berdampak pada definisi diri, perilaku, persepsi pada
prototype yang menjelaskan dan menentukan perilaku. Ketika ketidakmenentuan
identitas ini terjadi, maka konsepsi tentang diri dan sosialnya juga tidak jelas.
Prototype juga bisa menjadi sebuah momok bagi kelompok sosial. Dengan
memberikan prototype yang berlebihan pada kelompoknya, maka penilaian yang
dilakukan kepada kelompok lain adalah jelek. Sterotype akan muncul pada kondisi
seperti ini. Pada dasarnya stereotype muncul dari kognisi individu dalam sebuah
kelompok. Stereotype juga bisa muncul dari kelomopok satu terhadap kelompok
lain yang berada diluar dirinya.
Secara kognitif, orang akan merepresentasikan kelompok-kelompoknya
dalam bentuk prototype-prototype. Selain itu atribut-atribut yang menggambarkan
kesamaan dan hubungan struktur dalam kelompok. Hal ini dilakukan untuk
membedakan dan menentukan keanggotaan kelompok.
Prototype adalah konstruksi sosial yang terbentuk secara kognitif yang
disesuaikan dengan pemaksimalan perbedaan yang dimiliki oleh kelompok
dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan untuk menonjolkan keunggulan
kelompoknya. Kepentingan dari kelompok untuk membentuk prototype adalah
untuk merepresentasikan kelompoknya di wilayah sosial yang lebih luas.
Biasanya prototype itu berdiri sendiri. Dia tidak semata-mata ditopang atau
didapat dari adanya perbandingan antar kelompok sosial. Dengan demikian proses
yang terjadi dalam kelompok sosial tidak mungkin keluar dari kelompok ini. Perlu
diketahui bahwa prototype itu senantiasa berkembang dari waktu kewaktu.
Prototype juga bisa dianggap sebagai representasi kognitif dari norma
kelompok. Dimana norma kelompok tersebut dibentuk atas regulasi sosial yang
hanya dibatasi oleh anggota kelompok. Hal yang paling penting dalam hal ini
adalah penjelasan perilaku dan penegasan posisi bahwa dia adalah kelompok
sosial tertentu. Norma sosial merupakan aturan yang dibuat atas kesepakatan
anggota kelompoknya.Norma sosial menjadi landasan dalam berfikir dan bergerak
kelompok. Dengan demikian norma sosial tidak menjadi penjelasan keadaan
sosial. Norma sosial ini mengatur tentang bagaimana individu dalam kelompok
harus bersikap dan berperilaku.
Depersonalisasi adalah proses dimana individu menginternalisasikan
bahwa orang lain adalah bagian dari dirinya atau memandang dirinya sendiri
sebagai contoh dari kategori sosial yang dapat digantikan dan bukannya individu
yang unik.
Robert A Baron dan Don Byrne (2003), Identitas sosial tidak datang
dengan sendirinya. Dalam pembentukan suatu identitas ada proses motivasimotivasi. Hogg (2004), memberikan penjelasan bahwa dalam proses pembentukan
identitas, individu memiliki dua motivasi.
a. Self Enchacemen (peningkatan diri)
Self Enchancemen ini oleh individu dimanfaatkan untuk memajukan atau
menjaga status kelompok mereka terhadap kelompok lain yang berada diluar
dirinnya. Selain itu juga berfungsi untuk mengevaluasi identitas kolektif. Dalam
konteks kelompok yang lebih menonjol, Self dalam pembahasan Hogg dapat
dimaknai sebagai Collective Self atau identitas sosial.
b. Uncertainty Reduction (reduksi yang tidak menentu)
Uncertainty Reduction dilakukan untuk mengetahui posisi kondisi sosial
dimana ia berada. Tanpa motivasi ini individu tidak akan tahu dirinya sendiri, apa
yang harus dilakukan, dan bagaimana mereka harus melakukannya. Sekaligus
berfungsi untuk pembentukan protoype identitas sosial.
5. Dimensi Identitas sosial
Menurut Jackson dan Smith (1999), identitas sosial dapat
dikonseptualisasikan paling baik dalam empat dimensi: persepsi dalam konteks
antar kelompok, daya tarik in-group, keyakinan yang saling terkait, dan
dipersonalisasi.
Minggu, 23 Oktober 2022
Terbentuknya Identitas Sosial (skripsi, tesis, dan disertasi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar