Menurut Haryoguritno dalam Yuwono (2011: 11), kata kris berarti
menghunus. Keris sebagai benda artefak menurut Kusni dalam Yuwono (2011:
11) berasal dari kata ke = kekeran dan ris = aris. Kekeran sendiri berarti pagar,
penghalang atau pengendalian. Aris berate tenang, lambat dan halus. Nama keris
sendiri berasal dari proses jarwadosok yang kemudian menjadi bahasa Jawa
ngoko.
Menurut Zoetmulder dan Robson dalam buku “Kamus Jawa KunoIndonesia jilid 1” dikutip dari buku Keris Naga oleh Yuwono (2011: 11), bahwa
kata aris atau haris berarti kelakuan atau tindakan yang tenang, sabar, lemah
lembut dan halus. Sedangkan menurut G.P.H Hadiwidjojo (1950) dalam Yuwono
(2011: 11), bahwa keris berasal dari bahasa Jawa Kuno yang tumbuh dari kata
kres dalam bahasa Sansekerta. Hal ini di perkuat dengan dijumpainya keris dalam
prasasti-prasasti kuno sebagai data arkeologis. Tepatnya dalam lempengan
prasasti prunggu asal Karang Tengah tahun 748 Saka (842 Masehi), menyebutkan
sesaji untuk menetapkan Poh sebagai daerah bebas pajak. Sesaji tersebut berupa
kres, wangkiul, tewek punukan, wesi penghantam (Hasrinuksmo, 2008: 24 dalam
Yuwono, 2011: 11).
Minggu, 23 Oktober 2022
Makna dan Bentuk Keris dalam Budaya Nusantara (skripsi, tesis, dan disertasi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar