Identitas menurut Erikson (dalam Santrock, 2007; 69) adalah aspek
kunci dari perkembangan remaja. Erikson (dalam Marettih, 2012; 63)
juga mengatakan bahwa salah satu proses sentral pada remaja adalah
pembentukan identitas diri. Dimana identitas diri adalah mengenal dan
menghayati dirinya sebagai pribadi sendiri serta tidak tenggelam dalam
peran yang dimainkan yaitu peran yang bersifat penyesuaian dengan
tuntutan masyarakat.
Woolfolk mengartikan identitas sebagai suatu pengorganisasian
dorongan-dorongan, kemampuan-kemampuan, keyakinan-keyakinan dan
pengalaman individu ke dalam citra diri yang konsisten (dalam yusuf,
2010; 71-72). Upaya pengorganisasian ini melibatkan kemampuan untuk
melibatkan pilihan dan mengambil keputusan, terutama yang
menyangkut pekerjaan, dan falsafah kehidupan. Kegagalan
mengintegrasikan semua aspek ini, atau kesulitan untuk melakukan
pilihan, maka remaja akan mengalami kerancuan peran (role confusion).
Santrock (2007; 69) mengatakan identitas adalah potret diri yang
terdiri dari berbagai potongan. Sementara itu menurut Kroger (dalam
Santrock, 2007; 69) identitas terdiri dari komitmen terhadap arah karir,
ideologis, dan orientasi seksual. Selanjutnya Marcia (dalam Yusuf, 2010;
201) mengatakan identitas itu merujuk kepada pengorganisasian atau
pengaturan dorongan-dorongan, kemampuan-kemampuan dan keyakinan- keyakinan ke dalam citra diri secara konsisten yang meliputi pekerjaan
dan filsafat hidup. Apabila remaja gagal mengintegrasikan aspek-aspek
dan pillihan atau merasa tidak mampu untuk memilih, maka dia akan
mengalami kebingungan.
Menurut Marcia (1993; 156-157), ada lima area identitas diri
individu yang harus terbentuk pada masa remaja, yaitu : identitas
vokasional, identitas religius, identitas politik, identitas etnis dan identitas
seksual. Sementara itu Santrock (2007; 69) membedakannya kepada
delapan area yaitu : identitas karir/ vokasional, identitas politik, identitas
religius, identitas hubungan, identitas pencapaian atau intelektual,
identitas seksual, identitas etnis atau budaya dan identitas fisik.
Berdasarkan pendapat dua tokoh di atas, vokasional merupakan
salah satu area/bidang identitas yang harus terbentuk pada masa remaja.
Marcia mengatakan (1993; 213) vokasional merupakan salah satu
penilaian terhadap kemampuan diri dalam melakukan eksplorasi dan
pengambilan keputusan dalam pemilihan pekerjaan.
Marcia (dalam Mukhlis, 2009; 23) mendeskripsikan bahwa remaja
yang telah mampu menilai kemampuan serta minatnya, mampu melihat
peluang yang dapat mereka raih serta membuat komitmen terhadap
pilihan pendidikan dan pekerjaan dikatakan sebagai remaja yang telah
mencapai identitas dalam bidang vokasional. Untuk menentukan
pilihannya, remaja memerlukan berbagai informasi, dan merealisasikan
pengetahuannya dalam membuat keputusan yang sesuai dengan minat
dan kemampuannya.
Minggu, 23 Oktober 2022
Pengertian Identitas Dalam Bidang Vokasional (skripsi, tesis, dan disertasi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar