Minggu, 23 Oktober 2022

Dimensi Identitas Sosial (skripsi, tesis, dan disertasi)


Menurut Jackson and Smith (dalam Barron and Donn, 1991) ada empat
dimensi dalam mengkonseptualisasikan social identity, yaitu:
a) Persepsi konteks antar kelompok
Dengan mengidentifikasikan diri pada sebuah kelompok, maka status
dan gengsi yang dimiliki oleh kelompok tersebut akan mempengaruhi
persepsi setiap individu di dalamnya. Persepsi tersebut kemudian membuat
individu memberikan penilaian, baik terhadap kelompoknya maupun
kelompok yang lain.
b) Daya tarik in-group
Secara umum, in-group dapat diartikan perasaan memiliki terhadap
kelompok dan “common identity” (identitas umum). Sedangkan out-group
adalah suatu kelompok yang dipersepsikan jelas berbeda dengan “ingroup”. Adanya perasaan “in-group” sering menimbulkan “in-group bias”,
yaitu kecenderungan untuk menganggap baik kelompoknya sendiri.
Menurut Tajfel & Turner (dalam forsyth, 2010) in-group bias merupakan
refleksi perasaan tidak suka pada out-group dan perasaan suka pada ingroup. Hal tersebut terjadi kemungkinan karena loyalitas terhadap
kelompok yang dimilikinya yang pada umumnya disertai devaluasi
kelompok lain.
Berdasarkan Social Identity Theory, Henry Tajfel dan John Turner
(1982) mengemukakan bahwa prasangka biasanya terjadi disebabkan oleh
“in group favoritism”, yaitu kecenderungan untuk mendiskriminasikan
dalam perlakuan yang lebih baik atau menguntungkan in group di atas out 
group. Berdasarkan teori tersebut, setiap orang akan berusaha
meningkatkan harga diri yang meliputi identitas pribadi (personal identity)
dan identitas sosial (social identity) yang berasal dari kelompok yang kita
miliki. Kita dapat memperteguh harga diri kita dengan prestasi yang kita
miliki secara pribadi dan bagaimana kita membandingkan dengan individu
lain.
c) Keyakinan saling terkait
Social identity merupakan keseluruhan aspek konsep diri seseorang
yang berasal dari kelompok sosial mereka atau kategori keanggotaan
bersama secara emosional dan hasil evaluasi yang bermakna. Artinya,
seseorang memiliki kelekatan emosional terhadap kelompok sosialnya.
Kelekatan itu sendiri muncul setelah menyadari keberadaannya sebagai
anggota suatu kelompok tertentu. Orang memakai identitas sosialnya
sebagai sumber dari kebanggaan diri dan harga diri.
Semakin positif kelompok dinilai maka semakin kuat identitas
kelompok yang dimiliki dan akan memperkuat harga diri. Sebaliknya jika
kelompok yang dimiliki dinilai memiliki prestise yang rendah maka hal itu
juga akan menimbulkan identifikasi yang rendah terhadap kelompok.
Apabila terjadi sesuatu yang mengancam harga diri maka kelekatan
terhadap kelompok akan meningkat dan perasaan tidak suka terhadap
kelompok lain juga meningkat.
d) Depersonalisasi
Ketika individu dalam kelompok merasa menjadi bagian dalam
sebuah kelompok, maka individu tersebut akan cenderung mengurangi
nilai-nilai yang ada dalam dirinya, sesuai dengan nilai yang ada dalam 
kelompoknya tersebut. Hal ini juga dapat disebabkan oleh perasaan takut
tidak „dianggap‟ dalam kelompoknya karena telah mengabaikan nilai
ataupun kekhasan yang ada dalam kelompok tersebut. Keempat dimensi
tersebut cenderung muncul ketika individu berada di tengah-tengah
kelompok dan ketika berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya.

Tidak ada komentar: