Menurut Sears (1985) pada dasarnya, orang melakukan konformitas
karena dua alasan yaitu:
1) Perilaku orang lain memberikan informasi yang bermanfaat, meliputi:
a. Kurangnya informasi. Orang lain merupakan sumber informasi yang
penting. Sering kali mereka mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui;
dengan melakukan apa yang mereka lakukan kita akan memperoleh
manfaat dari pengetahuan mereka. Oleh karena itu, tingkat konformitas
yang didasarkan pada informasi ditentukan oleh dua aspek situasi; sejauh
mana mutu informasi yang dimiliki orang lain tentang apa yang benar dan
sejauh mana kepercayaan diri kita terhadap penilaian kita sendiri.
b. Kepercayaan terhadap kelompok. Faktor utamanya adalah apakah individu
mempercayai informasi yang dimiliki oleh kelompok atau tidak. Apabila
dalam situasi konformitas, individu mempunyai suatu pandangan dan
kemudian menyadari bahwa kelompoknya menganut pandangan yang
bertentangan. Individu ingin memberikan informasi yang tepat. Oleh
karena itu, semakin besar kepercayaan kelompok sebagai sumber
informasi yang benar, semakin besar pula kemungkinan untuk
menyesuaikan diri terhadap kelompok. Bila orang tersebut berpendapat
bahwa kelompok selalu benar, dia akan mengikuti apapun yang dilakukan
kelompok tanpa mempedulikan pendapat sendiri. Demikian pula, bila
kelompok mempunyai informasi penting yang belum dimiliki individu,
konformitas akan semakin meningkat. Mekanisme kerjanya adalah sebagai
berikut; individu memutuskan bahwa dia salah dan kelompoknya benar.
c. Kepercayaan yang lemah terhadap penilaian sendiri. Sisi lain adalah
bahwa sesuatu yang meningkatkan kepercayaan individu terhadap
penilaiannya sendiri akan menurunkan konformitas. Salah satu faktor yang
sangat mempengaruhi rasa percaya diri dan tingkat konformitas adalah
tingkat kepercayaan orang tersebut pada kemampuannya sendiri untuk
menampilkan suatu reaksi. Rasa percaya individu terhadap penilaian
sendiri akan menurunkan tingkat konformitas karena kemudian kelompok
bukan merupakan sumber informasi yang unggul lagi. 2) Individu menyesuaikan diri karena ingin diterima secara sosial dan
menghindari celaan, meliputi:
a. Rasa takut terhadap celaan. Alasan utama konformitas yang kedua adalah
demi memperoleh persetujuan atau menghindari celaan kelompok. Salah
satu alasan mengapa kita tidak mengenakan pakaian bergaya Hawai ke
tempat ibadah adalah kerena semua umat yang akan melihat dengan rasa
tidak senang.
b. Rasa takut terhadap penyimpangan. Rasa takut dipandang sebagai orang
yang menyimpang merupakan faktor dasar hampir dalam situasi sosial.
Karena kita tidak mau dilihat sebagai orang yang lain dari yang lain, hal
ini diperkuat oleh tanggapan kelompok terhadap perilaku yang
menyimpang. Orang tidak mau mengikuti apa yang berlaku di dalam
kelompok akan menanggung resiko mengalami akibat yang tidak
menyenangkan.
Selanjutnya Deutsch dan Greetd juga menyebutkan ada dua penyebab
mengapa orang berperilaku konform (Sarwono, 1999):
1) Pengaruh norma, yaitu disebabkan oleh keinginan untuk memenuhi harapan
orang lain sehingga dapat lebih diterima oleh orang lain.
2) Pengaruh informasi, yaitu karena adanya bukti-bukti dan informasi-informasi
mengenai realitas yang diberikan oleh orang lain yang dapat diterimanya atau
tidak dapat dielakkan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar