Sabtu, 22 Oktober 2022

Hubungan Leader-member exchange dengan Perilaku Kerja Inovatif (skripsi, tesis, dan disertasi)


Menurut De Jong (2007) pada penelitiannya yang berjudul individual
innovation: the connection between leadership and employees’ innovation
work behavior, perilaku kerja inovatif didefinisikan sebagai suatu perilaku
kerja yang bertujuan untuk mencapai inisiasi dan pengenalan suatu ide,
proses, prosedur maupun produk baru yang berguna bagi organisasi. Saat ini
perilaku kerja inovatif pada karyawan dianggap penting untuk keberhasilan
organisasi (Attitumpong, 2017), karena karyawan menjadi aset penting oleh
perusahaan untuk menghasilkan inovasi (Afsar, Badir & Saeed, 2014).
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah
faktor penting untuk mempengaruhi perilaku kerja inovatif karyawan (Li &
Zheng, 2014). Namun hubungan interpersonal yang terjalin antara atasan dan
bawahan memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan dengan
kepemimpinan lain (Alsughayir, 2017). Menurut Alsughayir (2017) ketika 
bawahan melihat langsung bagaimana atasannya bekerja, maka bawahan akan
terdorong untuk meningkatkan performa kerjanya.
Secara teoritis, atasan dan bawahan sama-sama memiliki peran dalam
pengembangan organisasi, untuk itu perlu ada kesepakatan bersama mengenai
sejauh mana bawahan boleh mengambil keputusan bersama mengenai
otonomi dalam organisasi (Graen & Cashman, 1975). Kualitas leadermember exchange yang tinggi ditunjukkan dengan adanya perilaku saling
mendukung dan mengasihi satu sama lain akan membuat bawahan lebih
dipercaya oleh atasan dalam pengambilan keputusan (Scott & Bruce, 1994).
Selain itu individu cenderung menggenaralisasikan hubungan atasan dan
bawahan sebagai hubungan dengan organisasi (Scott & Bruce, 1994).
Menurut Knol & Van Linge (2009) karyawan dengan kualitas leader-member
exchange yang tinggi akan lebih banyak bertukar informasi dengan atasannya
dan memiliki kekuatan informal dibandingkan dengan karyawan yang
lainnya. Hal tersebut akan memudahkan bawahan dalam menghasilkan ide,
karena salah sau faktor penting dalam menghasilkan ide adalah mengenal
lingkungan kerja dengan baik dan terus memperbarui informasi mengenai
kegiatan industri yang serupa dengan pekerjaannya (Gupta, 2014).
Menurut De Jong (2007) perilaku kerja inovatif mencakup pembuatan
ide sampai mengimplementasikan ide tersebut. Dengan demikian karyawan
membutuhkan dukungan dan kepercayaan dari atasan untuk dapat
mengimplementasikan ide yang mereka miliki (Singh & Sarkar, 2012). Hal
tersebut sejalan dengan dimensi leader-member exchange, yaitu loyalitas 
yang berarti karyawan menganggap atasan mereka memberikan dukungan
dan kepercayaan secara konsisten dari suatu situasi ke situasi yang lain (Liden
& Maslyn, 1998). Konsisten dengan teori pertukaran sosial, karyawan
memberikan timbal balik atas loyalitas atasannya melalui keterlibatan yang
lebih tinggi dalam usaha, kinerja, dan hasil yang positif (Schermuly, Meyer &
Diammer 2013).
Menurut Janssen (2000) karyawan akan merespon lebih inovatif
terhadap tuntutan pekerjaan yang lebih tinggi ketika mereka merasa bahwa
upaya mereka cukup dihargai oleh pemimpin mereka. Hal tersebut sejalan
dengan dimensi leader-member exchange, yaitu kontribusi. Karyawan yang
memiliki leader-member exchange tinggi akan mengembangkan perasaan
positif berupa keinginan untuk membalas kebaikan atasannya melalui
organisasi (Gupta, 2014). Hal tersebut menjadi faktor yang memotivasi
karyawan untuk menghasilkan ide bagi organisasi

Tidak ada komentar: