Saham merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling
populer. Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang
atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas (Bursa
Efek Indonesia, 2012). Dengan penyertaan modal tersebut, maka pihak tersebut
memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset perusahaan dan
berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Saham menjadi salah satu instrumen yang menarik bagi para investor
dikarenakan dengan memiliki saham para investor memiliki dua keuntungan
(Bursa Efek Indonesia, 2012), yaitu:
1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan
dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan yang diberikan
setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS.
2. Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital
Gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar
sekunder.
Namun, sebagai instrumen investasi, saham juga memiliki resiko antara
lain (Bursa Efek Indonesia, 2012):
1. Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana
investor menjual saham lebih rendah dari harga beli.
2. Resiko Likuiditas
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh pengadilan,
atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari
pemegang saham mendapat prioritas terakhir. Setelah seluruh kewajiban
perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan), jika
masih terdapat sisa dari hasil penjualan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proposional kepada seluruh pemegang saham. Namun, jika tidak
terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan
memperoleh hasil dari likuiditas tersebut. Kondisi ini merupakan resiko
terberat yang mungkin dialami oleh pemegang saham.
Menurut Bursa Efek Indonesia (2012), di dalam pasar sekunder atau dalam
aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi
baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi
karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Permintaan dan
penawaran atas saham tersebut terjadi karena banyak faktor, baik yang sifatnya
spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan
tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti kondisi
perekonomian mau pun non perekonomian suatu negara dimana perusahaan
tersebut berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar