Earnings volatility merupakan simpang baku rasio pendapatan operasi
perusahaan sebelum dikurangkan dengan tingkat bunga serta pajak (EBIT).
Earnings volatility menggambarkan naik turunnya pendapatan perusahaan
dalam suatu periode. Dalam kata lain, earnings volatility adalah gambaran
tingkat kestabilan pendapatan atau laba suatu perusahaan. Menurut teori
signalling yang dikemukakan Jama’an (2008), perusahaan seharusnya
memberikan isyarat kepada pengguna laporan keuangan (kreditur atau
investor). Isyarat ini dapat berupa promosi atau informasi lain yang
menyatakan bahwa perusahaan tersebut dalam konidisi baik.
Laba yang stabil merupakan indikasi bahwa prospek perusahaan di
masa mendatang akan tetap baik. Hal ini ditangkap investor sebagai isyarat
baik bagi keamanan investasinya. Sebaliknya, jika laba perusahaan
cenderung volatil, investor akan dihadapkan dengan resiko bagi
kelangsungan investasinya. Perubahan tingkat laba mengindikasikan adanya
sebuah volatilitas pendapatan perusahaan (Kinyua, 2013). Bathala et al.
(1994) menyatakan bahwa, earnings volatility merupakan tanda yang
mewakili sebuah resiko bisnis. Dan resiko bisnis menurut Gitman (2003)
merupakan resiko yang dihadapi oleh perusahaan dimana perusahaan tidak
mampu menutupi biaya operasional.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Zakaria et al. (2012),
Lashgari et al. (2014) dan Jannah (2016), perusahaan dengan tingkat earnings
volatility yang tinggi cenderung menggambarkan pencapaian laba perusahaan
25
yang naik turun, sehingga berpengaruh positif signifikan terhadap stock price
volatility.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar