Seperti halnya kebanyakan variabel perekonomian lainnya, perubahan harga
saham mengalami fluktuasi yang tinggi dan cepat. Bean (2003) menjelaskan
bahwa harga ekuitas dapat berubah-ubah karena adanya komponen gelembung
eksogen dan stokastik, yang tumbuh secara eksponensial tetapi dapat runtuh.
Selama munculnya gelembung yang terjadi karena suku bunga (premi)
pembiayaan eksternal rendah, maka investasi, permintaan agregat dan output
potensial meningkat, sedangkan bila gelembung runtuh maka proses berbalik.
Detken dan Smets (2004) menemukan bahwa harga saham dan real estate
meningkat kuat selama periode boom atau kenaikan harga yang cepat dan jatuh
setelah periode boom. Pertumbuhan riil PDB sangat kuat selama boom, yang
terutama didorong oleh investasi swasta total dan juga tercermin dalam investasi
perumahan. Dan untuk melihat perubahan atau untuk memperbandingkan suatu
keadaan dengan keadaan sebelumnya, suatu formula statistik yang dapat
digunakan adalah angka indeks.
Indeks harga saham sering dipakai sebagai barometer kondisi
perekonomian di berbagai negara yang didasarkan pada kondisi pasar terkini. Hal
ini karena indeks harga saham dapat menjadi konklusi dari pengaruh simultan berbagai faktor, khususnya fenomena yang terjadi dalam perekonomian (BEI,
2012).
Penggunaan indeks harga saham memiliki manfaat sebagai berikut (BEI,
2012):
1. Memudahkan pemantauan atas perubahan harga saham setiap hari.
2. Memberikan gambaran mengenai perkembangan dari pasar modal secara
keseluruhan bahkan dapat menjadi indikator perkembangan perekonomian
suatu Negara.
3. Untuk memperkirakan keuntungan/kerugian yang akan diperoleh
berdasarkan ramalan atas gejala harga saham di waktu yang akan datang.
Salah satu indeks harga saham yang dikeluarkan oleh Bursa Efek
Indonesia (BEI) adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG merupakan
indikator pasar saham yang dihitung secara menyeluruh dari total saham yang
tercatat di BEI. IHSG mulai diperkenalkan tanggal 1 April 1983 untuk seluruh
saham preferen dengan tahun dasar tanggal 10 Agustus 1982, dimana saat itu
IHSG dihitung dengan nilai 100 dengan total saham yang tercatat sebanyak 13
saham. IHSG dihitung dengan menggunakan rata-rata tertimbang dari nilai pasar
(market value weighted average index)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar