Growth in assets merupakan indikator seberapa banyak perusahaan
memaksimalkan penggunaan dana dari sumber modal. Teori free cash flow
yang dikemukakan oleh Jensen (1986) dalam Mamduh (2004) menyebutkan
bahwa perusahaan yang sedang dalam tahap berkembang memiliki arus kas
bebas (free cash flow) yang minim, hal ini dikarenakan sebagian besar dana
hasil dari keuntungan perusahaan lebih digunakan untuk membiayai proyek
yang memiliki nilai bersih saat ini (net present value) yang positif
(berekspansi). Teori ini didukung oleh penelitian yag dilakukan oleh Charitou
(1998) yang menyatakan bahwa manajer perusahaan berkembang lebih
gemar menginvestasikan pendapatan setelah pajak dan memiliki harapan
kinerja yang lebih baik dalam pertumbuhan aset secara keseluruhan.
Berdasarkan teori yang dijelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa
secara naluriah, manajer perusahaan berkembang lebih memilih untuk
mengembangkan perusahaannya, baik untuk mendiversifikasi sektor
perusahaan maupun memperbaiki kinerja produksi yang dilakukan dengan
berinvestasi pada penambahan aktiva tetap perusahaan. Kegiatan
membagikan deviden sama halnya dengan membuang peluang untuk mengembangkan perusahaan supaya lebih besar dan lebih profitabel.
Menurut Hashimejoo (2012), perusahaan yang sedang dalam tahap
berkembang akan cenderung menggunakan laba untuk diinvestasikan
kembali daripada membagikannya pada investor.
Pertumbuhan aset dapat dihubungkan dengan tingkat prospektifitas
suatu perusahaan tersebut. Perusahaan dengan pertumbuhan aset yang tinggi
tentu akan semakin efisien dalam melakukan kegiatan produksi. Semakin
besar aset diharapkan semakin besar pula tingkat hasil operasional suatu
perusahaan. Pertumbuhan aset yang diikuti oleh pertumbuhan hasil
operasional akan semakin menambah kepercayaan pihak luar (kreditur,
investor) terhadap prospek di masa mendatang suatu perusahan. Semakin
tinggi kepercayaan investor terhadap suatu perusahaan maka akan semakin
panjang pula periode investor dalam menahan saham tersebut untuk tidak
dijual. Hal ini menyebabkan stock price volatility menjadi rendah karena
kebanyakan investor tersebut enggan menjual saham dalam periode waktu
yang pendek.
Asghar (2011) dalam penelitiannya memperlihatkan bahwa growth in
assets berpengaruh negatif signifikan terhadap stock price volatility. Hal ini
berarti semakin tinggi tingkat pertumbuhan aset suatu perusahaan, maka
tingkat volatilitas harga suatu saham tersebut akan semakin kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar