Dividend yield adalah tingkat pengembalian berupa deviden atas
investasi yang telah ditanamkan investor (Khurniaji, 2013). Perusahaan
dalam kebijakan pembagian devidennya tentu mempertimbangkan berbagai
aspek agar dapat dihasilkannya keputusan yang tepat mengenai besaran
deviden yang dibagikan serta tingkat frekuensi pembagian deviden dalam
suatu periode waktu. Pembagian deviden oleh perusahaan kepada investor
merupakan cerminan dari kemapanan perusahaan dalam hal profitabilitas.
Pembagian deviden dapat mempengaruhi tingkat investasi yang kemudian
berdampak pada harga saham perusahaan (Zakaria, 2012).
Korelativitas antara dividend yield dengan stock price volatility dapat
dijelaskan dengan teori signalling. Teori signalling menurut Jama’an (2008),
mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan
memberikan isyarat kepada pengguna laporan keuangan, salah satunya adalah
kepada para pemegang saham. Teori signalling menjelaskan bahwa
pemberian isyarat dilakukan oleh manajer untuk mengurangi asimetri
informasi. Manajer menerima informasi mengenai profitabilitas dan arus kas
bebas (free cashflow) pada masa yang akan datang yang tidak dimiliki oleh
investor, sehingga investor dituntut untuk mempersepsikan sendiri sesuai
dengan analisanya untuk menangkap pesan yang terkandung dalam isyarat
pada sebuah kebijakan deviden perusahaan (Satmoko, 2012).
Pembagian deviden merupakan salah satu isyarat yang diberikan suatu
perusahaan terhadap pemegang saham. Menurut Miller & Rock (1985),
pengumuman deviden memberikan informasi penting untuk membentuk
pendapatan perusahaan saat ini yang akhirnya menjadi dasar untuk
memprediksi pendapatan-pendapatan perusahaan di masa yang akan datang.
Selanjutnya, dalam kondisi tertentu, dengan mengesampingkan adanya
asimetri informasi yang ada, pembagian deviden dapat diterjemahkan oleh
pemegang saham sebagai tanda kesehatan finansial perusahaan atau tanda
konservatisme perusahaan dalam melakukan ekspansi. Artinya, isyarat ini
dapat berarti buruk atau baik tergantung pada kepentingan masing-masing
para pemegang saham. Pemegang saham yang menghendaki adanya bukti
bahwa perusahaan profitable tentu akan menyukai pembagian deviden, akan
tetapi pemegang saham yang menghendaki perusahaan untuk
mengalokasikan keuntungannya dalam ekspansi perusahaan supaya lebih
besar dan semakin bernilai tentu kurang menyukai kebijakan pembagian
deviden. Perbedaan kebutuhan pada tiap-tiap pemegang saham tersebut
sejalan dengan teori clientele effect yang diungkapkan oleh Black & Scholes
(1974).
Teori lain yang menjelaskan korelativitas antara dividend yield dengan
stock price volatility adalah teori bird in the hand yang diungkapkan oleh
Gordon (1959) dan Lintner (1956). Menurut teori bird in the hand, investor
cenderung menjatuhkan pilihan pada perusahaan yang lebih sering
membagikan deviden daripada menunggu harapan deviden yang lebih tinggi
di masa mendatang atau perolehan capital gain dengan jangka waktu yang
20
lebih lama. Ilustrasi yang digambarkan dalam teori ini yaitu satu burung di
tangan lebih baik daripada ribuan burung di angkasa. Investor dalam
analisanya tentu memperhitungkan besaran resiko yang didapat jika ia
menahan sahamnya lebih lama, karena semakin kecil resiko maka semakin
baik sebuah investasi tersebut (Kinder, 2002).
Akibat perhitungan resiko dari investor tersebut, keputusan menahan
atau melepas suatu saham merupakan kebijakan investor yang didasarkan
pada seberapa aman saham tersebut terhindar dari kerugian yang ditimbulkan
akibat fluktuasi saham dalam jangka waktu tertentu. Semakin kecil
perusahaan membagikan deviden serta semakin rendah frekuensi perusahaan
dalam membagikan deviden, maka semakin pendek jangka waktu investor
dalam menahan saham tersebut dan memilih untuk menjualnya secara cepat
pada titik harga tertentu di pasar modal. Hal tersebut akan berpengaruh pada
tingkat stock price volatility perusahaan. Menurut Baskin (1989) dalam Allen
& Rachim (1996), deviden dapat digunakan sebagai proksi sebuah resiko bagi
pendapatan perusahaan di masa yang akan datang. Konsekuensinya, jika
manajemen perusahaan dapat menjaga stabilitas harga saham berkat
informasi positif yang terkandung dalam pembagian deviden, dapat
dipastikan bahwa manajer dapat menghindari resiko pasar saham dan
memperkecil tingkat volatilitas harga saham.
Logika teori di atas sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Baskin (1989), Khaled et al. (2011), Nishat & Irfan (2008), Suleman (2011)
dan Hashemijoo et al. (2012) yang menyatakan dividend yield berpengaruh
21
negatif signifikan terhadap stock price volatility.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar