Kamis, 29 Juli 2021
Elemen-elemen Ekuitas Merek (skripsi dan tesis)
a. Kesadaran Merek (Brand Awareness)
Aaker dalam Handayani, dkk (2010: 62), mendefinisikan
kesadaran merek adalah kemampuan dari konsumen potensial
untuk mengenali atau mengingat bahwa suatu merek termasuk ke
dalam kategori produk tertentu. Menurut Durianto, dkk (2004:
30), brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli
untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian
dari suatu kategori produk tertentu.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
kesadaran merek merupakan kesanggupan calon pembeli untuk
mengenali atau mengingat kembali suatu merek sebagai bagian
dari suatu kategori produk tertentu. b. Asosiasi Merek (Brand Association)
Aaker dalam Handayani, dkk (2010: 76), mendefinisikan
brand association sebagai segala sesuatu yang terhubung di
memori konsumen terhadap suatu merek. Schiffman dan Kanuk
(2000: 111), menambahkan bahwa asosiasi merek yang positif
mampu menciptakan citra merek yang sesuai dengan keinginan
konsumen, sehingga dapat menciptakan rasapercaya diri
konsumen atas keputusan pembelian merek tersebut.
Menurut Simamora (2003: 63), asosiasi merek adalah
segala hal yang berkaitan tentang merek dalam ingatan. Sedangkan
menurut Durianto,dkk (2004: 61), asosiasi merek merupakan
segala kesan yang muncul dibenak seseorang yang terkait dengan
ingatannya mengenai suatu merek. Berdasarkan definisi diatas
dapat disimpulkan bahwa asosiasi merek merupakan segala hal
atau kesan yang ada dibenak seseorang yang berkaitan dengan
ingatannya mengenai suatu merek. Kesan-kesan yang terkait
merek akan semakin meningkat dengan semakin banyaknya
pengalaman konsumen dalam mengkonsumsi atau menggunakan
suatu merek atau dengan seringnya penampakan merek tersebut
dalam strategi komunikasinya. c. Persepsi Kualitas (Perceived Quality)
Aaker dalam Handayani, dkk (2010: 84), mendefinisikan
perceived quality sebagai persepsi konsumen terhadap kualitas
atau keunggulan suatu produk atau jasa sehubungan dengan tujuan
yang diinginkannya, dibandingkan dengan alternatif-alternatif lain.
Simamora (2001:78) menyatakan bahwa persepsi kualitas adalah
persepsi pelanggan terhadap kualitas atau keunggulan suatu
produk atau jasa layanan ditinjau dari fungsinya secara relative
dengan produk-produk lain.
Sedangkan menurut Durianto dkk (2001:96), persepsi
kualitas adalah persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas
atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan
apa yang diharapkan oleh pelanggan.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
persepsi kualitas merupakan persepsi dari pelanggan terhadap
keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa
layanan berkaitan dengan harapan pelanggannya.
d. Loyalitas Merek (Brand Loyalty)
Aaker (1997: 56), mendefinisikan bahwa brand loyalty
adalah sebuah ukuran ketertarikan konsumen terhadap suatu
merek. Menurut Rangkuti (2002: 60), loyalitas merek adalah satu
ukuran kesetiaan konsumen terhadap suatu merek. Sedangkan menurut Simamora (2001: 70), menyatakan
bahwa loyalitas merek adalah ukuran kedekatan konsumen pada
sebuah merek. Sedangkan menurut Durianto, dkk (2004: 126),
loyalitas merek merupakan suatu ukuran keterkaitan seorang
konsumen kepada sebuah merek.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
loyalitas merek merupakan ukuran kesetiaan, kedekatan atau
keterkaitan pelanggan pada sebuah merek. Ukuran ini mampu
memungkinkan ada atau tidaknya seorang pelanggan beralih ke
merek produk yang lain, terutama jika pada merek tersebut
dihadapi adanya perubahan, baik menyangkut harga ataupun
atribut lainnya.
3. Keputusan Pembelian
Keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli itu sebenarnya
merupakan keputusan dari sejumlah keputusan. Setiap keputusan membeli
mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh komponen seperti yang
dikemukakan oleh Basu Swastha dan Irawan (2001), yaitu sebagai berikut:
a. Keputusan tentang jenis produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli jenis suatu
produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini
perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang
berminat membeli suatu produk tertentu serta alternatif lain yang
mereka pertimbangkan. b. Keputusan tentang bentuk produk
Konsurnen dapat mengambil keputusan untuk membeli bentuk
suatu produk tertentu, dalam hal ini perusahaan harus melakukan riset
pemasaran untuk mengetahui kesukaan konsumen tentang produk yang
bersangkutan agar dapat memaksimumkan daya tarik mereknya.
c. Keputusan tentang merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang
akan dibeli, setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri.
Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen
memilih sebuah merek suatu produk.
d. Keputusan tentang penjual
Konsumen harus mengambil keputusan dimana produk tersebut
akan dibeli, dalam hal ini produsen, pedagang besar, pengecer harus
mengetahui bagaimana konsumen memilih penjual tertentu.
e. Keputusan tentang jumlah produk
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak
produk yang akan dibelinya pada suatu saat. Dalam hal ini perusahaan
harus mempersiapkan produk sesuai dengan keinginan yang berbedabeda dari pembeli.
f. Keputusan tentang waktu pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia harus
melakukan pembelian, oleh karena itu, perusahaan harus mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam penentuan waktu pembelian. Dengan demikian, perusahaan dapat
mengatur waktu produksi kegiatan pemasarannya.
g. Keputusan tentang cara pembayaran
Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara
pembayaran produk yang dibeli, apakah secara tunai atau cicilan.
Keputusan tersebut akan mempengaruhi keputusan tentang penjual dan
jumlah pembelinya. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui
keinginan pembeli terhadap cara pembayarannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar