Mamduh (2004) menjelaskan tentang teori asimetri yang
mengasumsikan bahwa pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan
tidak memiliki informasi yang sama mengenai prospek dan resiko
perusahaan. Pihak tertentu memiliki informasi yang lebih baik
dibandingkan pihak lainnya. Manajer biasanya mempunyai informasi yang
lebih baik dibanding pihak luar (seperti investor). Karena itu, dapat
dikatakan terjadi asimetri informasi antara manajer dengan investor.
Dengan kata lain, perilaku manajer, termasuk dalam keputusannya akan
struktur permodalan perusahaan, dapat dianggap sebagai sinyal oleh
investor.
Menurut Myers & Majluf (1977), terdapat asimetri informasi antara
manajer dengan pihak luar, dengan kata lain manajer memiliki informasi
yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingkan pihak luar.
Pada saat harga saham menunjukkan nilai yang terlalu tinggi (overvalue),
manajer akan cenderung mengeluarkan saham (memanfaatkan harga yang
terlalu tinggi). Tentunya pihak luar (pasar) tidak mau dikecoh. Oleh sebab
itu, pada saat penerbitan saham baru diumumkan, harga akan jatuh karena
pasar menginterpretasikan bahwa harga saham sudah lebih dari nilai
sesungguhnya (overvalue). Teori tersebut dapat menjelaskan fenomena
jatuhnya harga saham pada saat terjadi pengumuman penerbitan saham
baru.
Jika harga saham jatuh, maka pemegang saham lama akan dirugikan
jika dilakukan penerbitan saham baru. Sebaliknya, pemegang saham baru yang akan diuntungkan karena dapat membeli saham dengan harga murah.
Karena jatuhnya harga tersebut berkaitan dengan asimetri informasi, maka
dapat dikatakan bahwa ada biaya asimetri informasi yang berkaitan dengan
penerbitan saham. Biaya tersebut akan semakin besar jika harga saham
jatuh cukup signifikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar