Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang berarti dorongan atau
penggerakan. Secara umum motivasi dapat diartikan sebagai dorongan dan
keinginan serta upaya yang muncul dari diri seorang individu untuk melakukan
suatu hal.
Menurut Robbin (2002:55) dalam Andiyanto (2011) mengemukakan
bahwa motivasi adalah keinginan untuk melakukan sebagai kesediaan untuk
mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi,
yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan
individual. Seorang individu melakukan sesuatu atas dasar keinginan serta adanya
dorongan untuk memenuhi kebutuhan. Motivasi sebagai dorongan seorang
individu menjadi sangat penting, tanpa adanya dorongan tersebut maka individu
tersebut tidak termotivasi untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan yang
dibebankan.
Morrison (1993) dalam Andiyanto (2011) memberikan pengertian
motivasi sebagai kecenderungan seseorang melibatkan diri dalam kegiatan yang
mengarah ke sasaran. Jika perilaku tersebut mangarah pada suatu obyek atau
sasarannya maka dengan motivasi tersebut akan diperoleh pencapaian target atau
sasaran sebesar-besarnya sehingga pelaksanaan tugas dapat dikerjakan dengan
sebaik-baiknya, sehingga efektifitas kerja dapat dicapai. Dengan adanya target
atau sasaran itulah yang mengarahkan serta memotivasi karyawan untuk
mengerjakan sesuatu.
Menurut Donald (2007;73) dalam Fatchiyah (2014) motivasi adalah
perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling"
dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Pendapat Harold (1989) dalam Andiyanto (2011) mengatakan bahwa
motivasi sebagai suatu reaksi yang diawali dengan adanya kebutuhan yang
menumbuhkan keinginan dan upaya mencapai tujuan yang selanjutnya
menimbulkan tensi (ketegangan) yaitu keinginan yang belum terpenuhi, yang
kemudian menyebabkan timbulnya tindakan yang mengarah pada tujuan dan
akhirnya akan memuaskan keinginan. Sedangkan Robbins (2001) dalam
Andiyanto (2011) mendefenisikan motivasi sebagai kesediaan untuk
mengeluarkan tingkat daya yang tinggi untuk tujaun organisasi, yang dikondisikan
oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual.
Menurut Maslow (1943) dalam Andiyanto (2011) mengemukakan bahwa
pada dasarnya setiap manusia memiliki kebutuhan pokok. Karena menyangkut
kebutuhan manusia, maka teori ini digunakan untuk menunjukan kebutuhan
seseorang yang harus dipenuhi agar individu tersebut termotivasi untuk bekerja.
Maslow berpendapat bahwa kondisi manusia berada pada kondisi mengejar yang
berkesinambungan, jika satu kebutuhan terpenuhi, langsung kebutuhan tersebut
diganti oleh kebutuhan lain.
1. Kebutuhan Fisiologikal
Kebutuhan yang timbul berdasarkan kondisi fisiologikal badan, misalnya
kebutuhan untuk makanan, minuman, istirahat, sex. Kebutuhan inilah yang
merupakan kebutuhan pertama dan utama yang wajib dipenuhi pertama-tama
oleh setiap individu. Kebutuhan fisiologikal merupakan kebutuhan primer atau
kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Kebutuhan utama inilah yag mendorong
setiap individu untuk melakukan pekerjaan apa saja, kerena ia akan
memperoleh imbalan, baik berupa uang ataupun barang yang akan digunakan
untuk memenuhi kebutuhan utama ini. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi,
maka individu berhenti eksistensinya.
2. Kebutuhan Rasa Aman
Kebutuhan ini mencakup kebutuha untuk dilindungi dari bahaya dan ancaman
fisik. Dalam pekerjaan, kita jumpai kebutuhan ini dalam bentuk perasaan aneh
sewaktu menjadi tenaga kerja baru atau pindah sewaktu ke kota baru.
3. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan ini mencakup memberi dan menerima persahabatan, cintaa kassih,
rasa memiliki. Setiap orang ingin menjadi anggota kelompok sosial, ingin
mempunyai teman. Dalam pekerjaan adanya kelompok informal yang
merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan sosial seorang tenaga kerja.
4. Kebutuhan Harga Diri
Kebutuhan harga diri meliputi dua jenis :
a. Faktor-faktor Internal seperti kebutuhan harga diri, kepercayaan diri,
otonomi dan kompetensi.
b. Faktor-faktor External seperti mencaakup kebutuhan untuk dikenali,
diakui dan status.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan yang
dirasakan dimiliki. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan untuk menjadi kreatif,
kebutuhan untuk dapat merealisasikan potensinya secara penuh. Kebutuhan ini
menekankan kebebasan dalam melaksanakan tugas pekerjaanya.
Motivasi kerja berpengaruh terhadap tingkat perpindahan karyawan, dari
karyawan baru atau pemula menjadi karyawan yang terampil dan berpengalaman.
Karyawan akan menjalankan pekerjaan yang diberikan kepadanya dengan baik.
Pada umumnya, tidak terlaksananya tugas atau pekerjaan yang dibebankan
tentu ada sebab-sebabnya. Mungkin dikarenakan karyawan yang bersangkutan
tidak mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan,
akan tetapi mungkin juga oleh karena karyawan tidak mempunyai dorongan
(motivasi) untuk bekerja dengan baik. Dalam hal ini tugas pimpinan adalah agar
dapat memberikan dorongan (motivasi) kepada bawahannya sehingga mampu
bekerja sesuai dengan pengarahan yang diberikan. Bila dalam suatu organisasi ada
petunjuk bahwa motivasi kerja turun, hendaknya organisasi segera mencari
penyebabnya dan segera ditentukan upaya penyelesaianya. Dengan adanya
motivasi kerja yang tinggi, pekerjaan lebih cepat terselesaikan, mengurangi
tingkat kesalahan ataupun memperkecil tingkat absensi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar