Selasa, 28 September 2021

Perbedaan Psychological Well-Being antara Laki-laki dan Perempuan (skripsi dan tesis)


Psychological well-being penting ketika individu memasuki masa usia
muda, maka hal tersebut juga akan berkaitan pada masa usia remaja. Secara
umum remaja adalah mereka yang berusia 13-21 tahun.Remaja merupakan masa
transisi (peralihan) untuk menuju masa dewasa. Pada saat anak memasuki masa
remaja mereka tidak mau dikekang atau dibatasi secara kaku oleh aturan keluarga.
Mereka ingin memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri guna
mewujudkan jati diri (self identity). Hanya saja cara berpikir mereka cenderung
egosentris dan sulit untuk memahami pola pikir orang lain.
Menurut Ryff (1989) dalam penelitiannya perbedaan jenis kelamin
mempengaruhi aspek - aspek kesejahteraan psikologis. Ditemukan bahwa
perempuan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam membina hubungan
yang positif dengan orang lain serta memiliki pertumbuhan pribadi yang lebih
baik daripada pria. Namun dalam penelitian lain Ryff et all (dalam Pappalia,
2009) menyatakan perempuan kulit hitam dan hispanik memiliki memiliki skor
kesejahteraan psikologi lebih rendah dari pada laki-laki kulit hitam dan hispanik
dalam beberapa bidang.
Sedangkan hasil penelitian Misero dan Haryadi (2012) menyimpulkan
bahwa ada hubungan yang negatif dan signifikan antara adjustment problems
dengan psychological well-being pada siswa akseleran. Ada hubungan yang
negatif dan signifikan antara adjustment problems dimensi tugas sekolah yang
tidak menantang dan sikap perfeksionis dengan psychological well-being pada
siswa akseleran. Tidak ada hubungan yang signifikan antara adjustment problems
dimensi lainnya dengan psychological well-being pada siswa akseleran. Secara
umum tidak terdapat perbedaan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam hal
adjustment problems dan psychological well-being.
Program studi di SMK Negeri 1 Purwokerto terdiri dari Akuntansi,
Administrasi Perkantoran, Farmasi, Pemasaran, Perbankan Syariah dan Tehnik
Informatika. Program-program tersebut lebih banyak diikuti oleh peserta didik
perempuan karena peserta didik perempuan yang secara psikologis lebih feminim
dari pada peserta didik laki-laki yang lebih banyak mengambil jurusan-jurusan
yang ada disekolah kejuruan seperti permesinan, otomotif dan lain-lain.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan
psychological well-being antara laki-laki dan perempuan sehingga peneliti ingin
melakukan penelitian secara lebih lanjut tentang perbedaan Psychological WellBeing antara peserta didik laki-laki dengan peserta didik perempuan kelas X SMK
Negeri 1 Purwokerto tahun ajaran 2015/2016.

Tidak ada komentar: