Selasa, 28 September 2021

Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis (skripsi dan tesis)


Berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan
psikologis seseorang menurut Ryff (1995), antara lain :
a. Dukungan Sosial
Gambaran berbagai ungkapan perilaku suportif (mendukung) kepada
seorang individu yang diterima oleh individu yang bersangkutan dari orangorang yang cukup bermakna dalam hidupnya. An dan Cooney (2006),
menyatakan bahwa bimbingan dan arahan dari orang lain (generativity)
memiliki peran yang penting pada kesejahteraan psikologis. Hal ini termasuk
kedalam perilaku hubungan (Relation Behaviour) yang mana pemimpin,
mendengar, memfasilitasi, dan mendukung mahasiswa yang bekerja sebagai
karyawan, sehingga karyawan dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik
(Hersey & Blanchard, 1988). Dukungan sosial yang diberikan adalah untuk
mendukung karyawan dalam mencapai tujuan dan kesejahteraan sikologisnya,
sehingga mahasiswa yang menjadi karyawan dapat menerima dirinya lebih
positif.
b. Status sosial ekonomi
Ryff (1999), menyatakan bahwa faktor status sosial ekonomi menjadi
sangat penting dalam peningkatan kesejahteraan psikologis, bahwa tingkat
keberhasilan dalam pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik, menunjukkan
tingkat kesejahteraan psikologis juga lebih baik. Ryan dan Deci (2001),
menegaskan status sosial ekonomi berhubungan dengan dimensi penerimaan
diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan dan pertumbuhan pribadi. Status
sosial ekonomi mempengaruhi kesejahteraaan psikologis seseorang. Seperti
besarnya pemasukan dalam keluarga, tingkat pendidikan, keberhasilan
pekerjaan, kepemilikan materi dan status sosial di masyarakat. (Pinquart &
Sorenson, 2000). Sehingga dapat dikatakan, semakin tinggi status sosial dapat
serta merta mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang.
c. Jaringan sosial
Berkaitan dengan aktivitas sosial yang diikuti oleh individu seperti aktif
dalam pertemuan-pertemuan atau organisasi, kualitas dan kuantitas aktivitas
yang dilakukan, dan dengan siapa kontak sosial dilakukan membuat seorang
individu memiliki kecenderungan kesejahteraan yang rendah atau yang tinggi
ditunjang dari siapakah orang-orang yanng berada di lingkungan sosial
individu, semakin baik kontak sosial yang terkait dengan individu, semakin
tinggi tingkat kesejahteraan individu tersebut. (Pinquart & Sorenson, 2000).
d. Religiusitas
Hal ini berkaitan dengan transendensi segala persoalan hidup kepada
Tuhan Individu yang memiliki tingkat religiusitas tinggi lebih mampu
memaknai kejadian hidupnya secara positif sehingga hidupnya menjadi lebih
bermakna (Bastaman, 2000). Pernyataan tersebut memang punyai keterikatan
dengan peranan tentang semakin tinggi seseorang memaknai hidupnya seara
positif maka kesejahteraan hidup yang dirasakan juga tinggi.
e. Kepribadian
Gutie´rrez, Jime´nez, Herna´ndez, dan Puente (2004), menyatakan
kepribadian merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam
kesejahteraan psikologis.
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis antara lain
menurut Ryff & Singer (1996) sebagai berikut:
a. Usia
Ryff dan Keyes (1995) mengemukakan bahwa perbedaan usia
mempengaruhi perbedaan dimensi-dimensi kesejahteraan psikologis. Dalam
penelitiannya ditemukan bahwa dimensi penguasaan lingkungan dan dimensi
otonomi mengalami peningkatan seiring bertambahnya usia, terutama dari
dewasa muda hingga madya.
b. Jenis kelamin
Sejak kecil stereotipe gender telah tertanam dalam diri, anak lakilaki
digambarkan sebagai sosok yang agresif dan mandiri, sementara itu perempuan
digambarkan sebagai sosok yang pasif dan tergantung, serta sensitif terhadap
perasaan orang lain (Papalia, dkk., 1998). Tidaklah mengherankan bahwa sifatsifat stereotipe ini akhirnya terbawa oleh individu sampai individu tersebut
dewasa. Sebagai sosok yang digambarkan tergantung dan sensitif terhadap
perasaan sesamanya, sepanjang hidupnya wanita terbiasa untuk membina
keadaan harmoni dengan orang-orang di sekitarnya.
c. Status sosial ekonomi
Penelitian Diener dan Diener menunjukkan bahwa perubahan
penghasilan seseorang penting untuk kesejahteraan psikologisnya daripada
orang yang berpenghasilan tetap. Diener dan Diener juga mengamati bahwa
orang-orang yang berpenghasilan tinggi berada pada level kepuasan yang
tinggi pula, sehingga mereka dapat merasakan kesejahteraan psikologis (dalam
Hidalgo, 2010).
d. Budaya
Budaya dan masyarakat terkait dengan norma, nilai dan kebiasaan yang
berada dalam masyarakat. Budaya individualistik dan kolektivistik
memberikan perbedaan dalam kesejahteraan psikologis.
Berdasarkan pemaparan di atas penulis menyimpulkan faktor yang
mempengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa yang bekerja berdasarkan
teori Ryff (1995), yaitu dukungan sosial sebagai ungkapan perilaku mendukung
kepada seorang individu yang diterima oleh individu yang bersangkutan dari
orang-orang yang bermakna dalam hidupnya, status ekonomi sosial yaitu
tingkatan ekonomi yang dipandang orang lain terhadap individu tersebut, jaringan
sosial yaitu kontak sosial yang dimiliki indiidu dalam lingkungan sekitarnya,
religiusitas yaitu pemaknaan diri individu dalam hidup kepada Tuhan, dan
keribadian sebagai acuan hidup individu dalam bersikap dan bersifat tehadap
kehidupan yang dijalani. Namun penulis lebih memfokuskan dukungan sosial
sebagai dasar variabel bebas penelitian dikarenakan aspek kesejahteraan
psikologis yang diungkapkan Ryff (1989) yaitu hubungan positif dengan orang
lain menunujukkan adanya hubungan kesejahteraan psikologis dengan dukungan
sosial. Selain itu variabel dukungan sosial dirasa lebih relevan dalam pengaruh
aspek-aspek kesejahteraan psikologis pada mahasiswa setelah mengetahui hasil
dari wawanara dan penelitian yang didapatkan sebelumnya yaitu kurangnya
berbagai dukungan dari teman dan rekan kerja mempengaruhi sedangnya
kesejahteraan psikologis mahasiswa yang bekerja. 

Tidak ada komentar: