Selasa, 28 September 2021

Relasi dalam Keluarga (skripsi dan tesis)


a. Relasi pasangan suami istri
Relasi suami istri memberikan landasan dan menentukan warna bagi
keseluruhan relasi didalam keluarga. Banyak keluarga yang berantakan
ketika terjadi kegagalan dalam relasi suami istri. Kunci bagi kelanggengan
perkawinan adalah keberhasilan melakukan penyesuaian di antara
pasangan. Penyesuaian ini bersifat dinamis dan memerlukan sikap dan
cara berpikir yang luwes. Terdapat tiga indikator bagi proses penyesuaian
sebagaimana diungkapkan Gleen, yakni “konflik, komunikasi, dan berbagi
tugas rumah tangga” (Ulfiah, 2016).
Menurut David H. Olson dan Amy K. Olson, terdapat sepuluh aspek
yang membedakan antara pasangan yang bahagia dan yang tidak bahagia,
yaitu komunikasi, fleksibilitas, kedekatan, kecocokan kepribadian,
resolusi konflik, relasi seksual, kegiatan diwaktu luang, keluarga dan
teman, pengelolaan keuangan, dan keyakinan spiritual (Ulfiah, 2016).
Diantara sepuluh aspek tersebut, lima aspek yang lebih menojol adalah
komunikasi, fleksibilitas, kedekatan, kecocokan kepribadian dan resolusi
konflik. Kesalahpahaman dalam komunikasi dapat menimbulkan konflik,
yang sering menggunakan komunikasi negative. Gaya komunikasi
negative biasanya menggunakan pernyataan “kamu”. Gaya kominikasi
positif biasanya menekankan sikap asertif dan menggunakan pernyataan
“aku” (Ulfiah, 2016).
b. Relasi orang tua anak
Menurut Hinde, relasi orang tua-anak mengandung beberapa prinsip
pokok, yaitu interaksi, kontribusi, keunikan, pengharapan masa lalu, dan
antisipasi masa depan (Ulfiah, 2016).
c. Relasi antar saudara
Walaupun berbagai penelitian menunjukkan berbagai hal negative
dalam hubungan antar saudara yang dikenal dengan sebutan sibling
rivalry, namun keberadaan saudara kandung sebagaimana dikemukakan
Ihinger-Talman & Hsio juga bermanfaat, yaitu sebagai tempat uci coba
(testing ground), sebagai guru, sebagai mitra, sebagai sarana untuk belajar,
sebagai sarana untuk mengetahui manfaat dari komitmen dan kesetiaan,
sebagai pelindung bagi saudaranya, sebagai penerjemah dari maksud
orang tua dan teman sebaya terhadap adiknya, dan sebagai pembuka jalan
saat ide baru tentang suatu perilaku dikenalkan pada keluarga (Ulfiah,
2016).

Tidak ada komentar: