Sabtu, 01 Mei 2021
Hubungan antara Struktur Kepemilikan Keluarga dan Kinerja Perusahaan (skripsi dan tesis)
Perusahaan dikategorikan milik
keluarga jika di perusahaan tersebut terdapat
anggota keluarga yang menduduki bagian
Board of Director atau manajerial atau
presentase kepemilikan sahamnya 10% atau
lebih. Biasanya perusahaan keluarga memiliki
insentif yang tinggi untuk mengontrol
perusahaan serta memiliki pengetahuan lebih
akan perusahaan sehingga kontrol yang
dilakukan keluarga lebih efektif (Anderson &
Reeb, 2003; Shyu, 2011). Sehingga perusahaan
dengan struktur kepemilikan keluarga
diyakini dapat mengurangi agency problem
antara principal dan agent (Fama & Jensen,
1983). Dengan berkurangnya agency problem
maka akan mengurangi agency cost dan bisa
menaikan profitabilitas perusahaan. Jensen
dan Meckling (1976) ketika keluarga sebagai
pemegang saham, mereka akan memiliki
insentif untuk meminimalisasi masalah
keagenan dan mengawasi keputusankeputusan manajerial yang berkaitan dengan
perusahaan sehingga dapat meningkatkan
kinerja perusahaan. Di sisi lain perusahaan
keluarga cenderung mempertahankan anggota
keluarga yang tidak kompeten sehingga
keluarga yang berada duduk dalam
manajemen tidak bekerja dengan baik serta keluarga melakukan tindakan yang
menguntungkan diri sendiri dengan
memberikan kompensasi yang berakibat
anggota yang bukan anggota keluarga merasa
tidak dihargai dan menurukan profitabilitas
perusahaan. Hal ini telah di teliti oleh Fama
dan Jensen (1983); Leksmono (2010); Abdullah
et al (2011); Miller (2007); Villalonga dan Amit
(2006); Cucculelli dan Micucci (2008); Rehman
dan Shah (2013); Fazlzadeh, et al (2011);
Onder (2003); Lauterbach dan Vaninsky
(1999); Morck et al (1988); Juniarti (2015).
yang menyatakan bahwa kepemilikan
keluarga berpengaruh negatif terhadap
kinerja perusahaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar