Senin, 31 Mei 2021

Determinasi diri (skripsi dan tesis)

 
Determinasi diri diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia sebagai menentukan nasib sendiri.
Determinasi dirimerupakan salah satu teori motivasi
Determinasi diri berfokus pada intrinsic motivation
atau motivasi yang muncul dari dalam diri seseorang
(Deci & Ryan, www.selfdetermination.org). Deci &
Ryan (dalam Field, Hoffman & Posch. 1997)
berdasarkan prespektif psikologi mendefinisikan
determinasi diri sebagai kapasitas seseorang untuk
memilih dan memiliki beberapa pilihan untuk
menentukan suatu tindakan atau dikatakan kebulatan
tekad seseorang atau ketetapan hati seseorang pada
suatu tujuan yang hendak dicapainya. Determinasi diri
adalah kemampuan diri dalam mengidentifikasi dan
mencapai tujuan berdasarkan pengetahuan dan
penilaian individu terhadap diri sendiri (Field &
Hoffman, 1994, p. 164 dalam Field, Hoffman &
Posch. 1997). Powers, dkk (dalam dalam Field,
Hoffman & Posch. 1997) berpendapat bahwa
determinasi diri merupakan sikap dan kemampuan
individu yang dapat memfasilitasi dirinya dalam
mengidentifikasi dan mencapai tujuan. Power juga
berpendapat bahwa determinasi diri dapat
direfleksikan sebagai penguasaan diri sendiri atau
kontrol diri, berpartisipasi aktif dalam pembuatan
keputusan, dan kemampuan memimpin diri sendiri
untuk menggapai tujuan hidup pribadi yang bernilai.
Berdasarkan beberapa pengertian yang
dipaparkan, dapat terlihat bahwa determinasi diri
terdiri dari beberapa komponen. Palmer dan
Wehmeyer (2003) menyatakan bahwa komponen
pemecahan masalah dan penentuan tujuan merupakan
komponen yang penting dalam determinasi diri. Kedua
komponen tersebut perlu dimiliki oleh individu sejak
dini. Niemic dan Ryan (2009) mengungkapkan bahwa
komponen determinasi diri terdiri dari otonomi
(autonomy), kompetensi (competence), dan relasi
(relatedness). Deci dan Ryan melihat ketiga komponen
itu sebagai tiga kebutuhan psikologis bawaan yang
mendasari perilaku (dalam Schunk, Pintrich, Meece,
2012). Kebutuhan otonomi mengacu pada kebutuhan
untuk merasakan kontrol, bertindak sebagai agen/
penyebab perilaku mandiri, atau memiliki otonomi
dalam interaksi dengan lingkungan, atau suatu persepsi
lokus kualitas internal dari sudut pandang persepsi
penyebab (Ryan & Deci, 2000 dalam Schunk,
Pintrich, Meece, 2012). Individu-individu memiliki
suatu kebutuhan psikologis pokok untuk mengalami
perasaan otonomi dan perasaan kontrol. Otonomi
berkaitan dengan keberadaan individu secara mandiri.
Jika dikaitkan dengan pengambilan keputusan, individu
mampu mengambil keputusan sendiri bagi dirinya.
Kompetensi digambarkan sebagai kemampuan
yang dimiliki oleh seseorang dalam mendukung
tindakan yang akan dilakukan dalam mencapai tujuan.
Kebutuhan untuk memiliki kompetensi serupa dengan
kebutuhan memiliki penguasaan terhadap lingkungan
(White, 1959 dalam Schunk, Pintrich, Meece, 2012).
Individu-individu perlu merasa dirinya kompeten dan
bertingkah laku kompeten dalam interaksinya dengan
individu lain, dalam mengerjakan tugas dan aktivitas,
dan dalam konteks yang lebih besar.
Relasi berkaitan dengan hubungan seseorang
dengan orang lain. (Niemic dan Ryan, 2009).
Kebutuhan keterkaitan (relatedness)mengacu pada
kebutuhan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok,
atau kadang-kadang dinamakan kebutuhan kecocokan
sosial (belongingness) (Schunk, Pintrich, Meece,
2012).

Tidak ada komentar: