Rabu, 30 Desember 2020

Analisis Makro (skripsi dan tesis)


Analisis makro untuk mengetahui kondisi ekonomi negara secara
keseluruhan, yang perlu dilihat apakah ekonomi masih bertumbuh, inflasi
tidak mengancam pertumbuhan akan mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan. Untuk mengetahui kondisi ekonomi Indonesia beberapa
indicator yang harus diketahui:
a. GDP (Gross Domestic Product)
GDP (gross domestic produk) atau PDB (produk domestik Bruto) para
pemikir ekonomi telah memberikan pengertian bahwa pengertian PDB
adalah total keseluruhan nilai output baik itu barang atau jasa yang
diproduksi pada suatu wilayah pada kurun waktu tertentu, biasanya satu
tahun.14 PDB adalah indikator utama untuk mengukur kekuatan ekonomi
suatu negara. PDB mengukur nilai output barang dan jasa yang dihasilkan
suatu negara, tanpa mempertimbangkan asal perusahaan yang menghasilkan
barang atau jasa tersebut.15 PDB dapat dibedakan menjadi PDB nominal dan
PDB riil. PDB nominal mengukur pertumbuhan ekonomi yang disebabkan
oleh bertambahnya produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh ekonomi
nasional dan inflasi. Sedangkan PDB riil adalah perhitungan pertumbuhan
ekonomi yang disebabkan oleh bertambahnya produk barang dan jasa yang
dihasilkan oleh ekonomi nasional tanpa memperhitungkan inflasi.
Pada dasarnya, Pertumbuhan PDB dipengaruhi oleh konsumsi dan
investasi swasta, konsumsi dan investasi pemerintah, besarnya ekspor dan
impor. Peningkatan PDB berpengaruh positif terhadap pertumbuhan
perusahaan. Dengan tingkat pertumbuhan PDB yang tinggi di suatu negara,
maka diasumsikan sedang terjadi pertumbuhan ekonomi di Negara tersebut
dan kondisi ini akan memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk
meningkatkan penjualannya.
b. Angka inflasi
Angka inflasi adalah angka yang mengukur tingkat harga barang dan
jasa yang dibeli oleh konsumen. Angka inflasi yang tinggi, yang ditunjukan
dengan naiknya harga-harga barang, biasanya akan mendorong Bank
Indonesia (BI) untuk menaikan suku bunga. Biasanya diikuti oleh
perbankan dengan menaikan suku bunga pinjaman.
c. Tingkat suku bunga
Tingkat suku bunga merupakan ukuran keuntungan investasi yang
digunakan oleh pemilik modal atau investor, selain itu juga merupakan
ukuran biaya modal yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk
menggunakan dana dari pemilik modal. Bank Indonesia menggunakan
tingkat suku bunga sebagai salah satu alat untuk mengendalikan jumlah
uang yang beredar dan juga untuk mendorong investasi di Indonesia.
Kebijakan tingkat suku bunga rendah yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia akan membuat perusahaan-perusahaan akan lebih mudah
mendapatkan modal untuk melakukan investasi. Selain itu, diharapkan
masyarakat dalam hal ini akan terdorong untuk melakukan investasi dan
konsumsi daripada menabung, sehingga akan meningkatkan permintaan
terhadap produk sektor usaha yang pada akhirnya akan meningkatkan
profitabilitas perusahan. Namun perlu diperhatikan dengan investasi yang
meningkat, hal itu tentunya akan menambah jumlah uang yang beredar.
Apabila jumlah peningkatan uang beredar terlalu tinggi, maka akan
menyebabkan ekonomi terlalu ekspansif dan menyebabkan inflasi yang
tinggi.
Sebaliknya, dalam kondisi inflasi, Bank Indonesia akan melakukan
kebijakan uang ketat dan meningkatkan suku bunga, hal ini akan
menyebabkan naiknya biaya modal perusahan yang akan berpengaruh
terhadap profitabilitas perusahaan. Selain itu dengan naiknya tingkat suku bunga akan membuat masyarakat lebih suka menabung dibandingkan
investasi atau konsumsi. Dalam jangka panjang, keadaan ini akan membuat
perekonomian menjadi stagnan. Oleh sebab itu peranan Bank Indonesia
sangat diperlukan dalam mengendalikan jumlah uang yang beredar dan
inflasi melalui penetapan tingkat suku bunga atau BI Rate.
Untuk menjaga stabilitas perekonomian, pada umumnya kebijakan
Bank Indonesia yang terkait pada penetapan tingkat suku bunga adalah
dengan menaikkan BI Rate apabila inflasi beberapa bulan ke depan
diperkirakan akan melampaui sasaran yang sudah ditetapkan, demikian juga
sebaliknya, Bank Indonesia akan menurunkan BI Rate apabila inflasi dalam
beberapa bulan ke depan akan berada di bawah sasaran yang sudah
ditetapkan.
d. Indek Harga Saham Gabungan (IHSG)
Umumnya di bursa saham dunia mengenal lebih dari satu indeks.
Contohnya di AS, ada S&P500, Dow Jones, Nasdaq. Sedangkan di BEI, ada
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau Jakarta Composite Index (JCI),
Indeks LQ45, Jakarta Islamic Index (JII), Indeks Sektoral, serta Indeks
Individual. Selain indeks utama tersebut, indeks lainnya adalah Kompas100 dan Bisnis-27.
IHSG pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1983. Tapi, hari
dasar perhitungan IHSG adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai 100.
Kalau IHSG merepresentasikan rata-rata dari seluruh saham di BEI. Indeks
harga saham mempunyai tiga manfaat utama. Yaitu: sebagai penanda arah
pasar, pengukur tingkat keuntungan, dan tolok ukur kinerja portofolio.
o Penanda Arah Pasar
Boleh dibilang, Indeks merupakan nilai representatif atas rata-rata
dari sekelompok saham. Karena menggunakan harga hampir semua
saham di BEI dalam perhitungannya, IHSG menjadi indikator kinerja bursa saham paling utama. Gampangnya, jika ingin melihat kondisi bursa
saham saat ini, kita tinggal melihat pergerakan angka IHSG.
Jika IHSG cenderung meningkat seperti yang terjadi akhir-akhir ini,
artinya harga-harga saham di BEI sedang meningkat. Sebaliknya, jika
IHSG cenderung turun, artinya harga-harga saham di BEI sedang
merosot. Sekedar catatan, persentase kenaikan atau penurunan IHSG
akan berbeda dibanding dengan kenaikan atau penurunan harga masingmasing saham. Kadang ada kalanya peningkatan atau penurunan harga
saham melebihi atau bahkan berlawanan dengan pergerakan angka
IHSG.
o Pengukur Tingkat Keuntungan
Misalnya kita dapat menghitung secara rata-rata berapa keuntungan
berinvestasi di pasar saham. Sebagai contoh di tahun 2013, IHSG bernilai
4400. Tahun 2008 IHSG bernilai 1400. Kita dapat menghitung secara
sederhana berinvestasi selama 5 tahun dari tahun 2008-2013
menghasilkan keuntungan (4400-1400)/1400*100% = 214%. Secara
rata-rata per tahun keuntungan berinvestasi di pasar saham adalah 214%.
Berarti per tahun 42,8%. Angka tersebut belum termasuk keuntungan
dari deviden.
o Tolok ukur kinerja portofolio
Bila memiliki reksadana atau portofolio saham, bias
membandingkan kinerjanya dengan IHSG. Misalnya dalam 5 tahun
terakhir IHSG naik sebanyak 214%. Kalau reksadana atau portofolio
kinerjanya di bawah angka tersebut, sebaiknya perlu berganti strategi.

Tidak ada komentar: