a. Pengertian
Definisi keluarga menurut Murdock yaitu:
“Social group characterized by common residence, economic
cooperation, and reproduction. It includes adults of both sexes,
at least two of whom maintain a socially aprovved sexual
realtionship, and one or more children, own or adapted, of the
sexually cohabiting adults.”
Berdasarkan paparan Murdock tadi, maka keluarga terdiri atas
lelaki dewasa, dan perempuan dewasa dengan kesepakatan
berhubungan seksual dan bisa mempunyai anak. Mereka juga bisa
tinggal dalam satu rumah.
Dalam keluarga terjadi proses sosialisasi dan enkulturasi.
Penekanan sosialisasi pada sesuatu hal yang khusus sengaja diajarkan
dan diberi ganjaran, maka kemudian akan terbentuk keterampilanketerampilan dan karakteristik yang bisa mengembangkan individu.
Enkulturasi merujuk pada pengembangan secara umum individu untuk
bisa beradaptasi dengan norma dan nilai yang berlaku dalam
masyarakat serta bergabung di dalam kelompok budayanya.8
b. Fungsi Keluarga
1) Fungsi Keagamaan
Dalam keluarga dan anggotanya fungsi ini perlu didorong dan
dikembangkan agar kehidupan keluarga sebagai wahana persemaian
nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk menjadi insan agamis yang
penuh iman dan takwa kepada tuhan Yang Maha Esa.
2) Fungsi Sosial Budaya
Fungsi ini memberikan kesempatan kepada keluarga dan
seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya
bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan, sehingga dalam
hal ini diharapkan ayah dan ibu dapat mengajarkan dan meneruskan
tradisi, kebudayaan dan sistem nilai moral kepada anaknya.
3) Fungsi Cinta Kasih
Hal ini berguna untuk memberikan landasan yang kokoh
terhadap hubungan anak dengan anak, suami dengan istri, orang tua
dengan anaknya serta hubungan kekerabatan antargenerasi,
sehingga keluarga menjadi wadah utama bersemainya kehidupan
yang penuh cinta kasih lahir dan batin. Cinta menjadi pengarah dari
perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap yang bijaksana.
4) Fungsi Melindungi
Fungsi ini dimaksudkan untuk menambah rasa aman dan
kehangatan pada setiap anggota keluarga.
5) Fungsi Reproduksi
Fungsi yang merupakan mekanisme untuk melanjutkan
keturunan yang direncanakan dapat menunjang terciptanya
kesejahteraan manusia di dunia yang penuh iman dan takwa.
6) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan
Fungsi yang memberikan peran kepada keluarga untuk
mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam
kehidupannya di masa yang akan datang.
7) Fungsi Ekonomi
Sebagai unsur pendukung kemandirian dan ketahanan keluarga.
c. Sosialisasi Gender
Untuk mengarahkan perilaku kita, masyarakat pun
menggunakan sosialisasi gender. Dengan mengharapkan sikap dan
perilaku berbeda dari kita karena kita laki-laki atau perempuan.
Kelompok manusia mendorong anak laki-laki atau perempuan ke arah
yang berbeda dalam hidup. Landasan sikap dan perilaku yang
bertentangan sedemikian mendalamnya, sehingga sebagai orang
dewasa sebagian besar diantara kita bertindak, berpikir, dan bahkan
berperasaan sesuai dengan panduan kebudayaan kita mengenai apa
yang pantas bagi jenis kelamin kita.
1) Pesan-pesan Gender dalam Keluarga
Orang tua kita adalah orang lain penting yang pertama yang
mengajarkan kepada kita dalam pembagian dunia secara simbolis
ini. Orientasi gender mereka sendiri telah tertanam sedemikian
dalam sehingga mereka bahkan melakukan sebagian besar
pengajaran tersebut tanpa menyadari apa yang sedang mereka
lakukan. Pelajaran seperti ini berlangsung sepanjang masa kanakkanak. Atas dasar jenis kelamin mereka, anak-anak diberi mainan
yang berbeda jenisnya. Orang tua membiarkan anak laki-laki
prasekolahnya berjalan lebih jauh dari rumahnya dari pada anak
perempuan prasekolah mereka, dan secara halus mereka
mendorong anak laki-laki untuk berpartisipasi dalam penilaian
yang kasar, bahkan untuk menjadi lebih kotor dan lebih
menantang.
Pengalaman sosialisasi yang seperti ini merupakan inti
penjelasan sosiologis terhadap perbedaan laki-laki dan perempuan.
Namun kita perlu mencatat bahwa beberapa orang Sosiolog
menganggap Biologi sebagai sebab perbedaan tersebut.
2) Pesan-pesan Gender dari Teman Sebaya
Para Sosiolog menekankan bagaimana proses pemilahan yang
dimulai dari dalam keluarga ini diperkuat sewaktu anak-anak
dihadapkan pada aspek lain dalam masyarakat. Di antara pengaruh
lain tersebut, salah satu yang sangat kuat adalah kelompok sebaya
(peer group), individu yang lebih kurang usianya sama, yang terikat
dengan kepentingan bersama. Contoh kelompok sebaya ialah
teman-teman sekelas, dan anak-anak di lingkungan tetangga.
3) Pesan-pesan Gender dalam Media Massa
Para sosiolog menekankan bagaimana proses pemilahan yang
dimulai dalam keluarga diperkuat ketika anak dihadapkan pada
aspek lain dalam masyarakat, yang khususnya penting ialah media
massa, bentuk komunikasi yang ditujukan pada khalayak umum.9
4) Identitas Gender dalam Keluarga
Identitas gender merupakan definisi diri tentang seseorang,
khususnya sebagai perempuan atau laki-laki, yang berinteraksi
secara kompleks antara kondisi biologisnya sebagai perempuan
maupun laki-laki dengan berbagai karakterstik perilakunya yang
dikembangkan sebagai hasil proses sosialisasinya.
Identitas gender ini mulai berkembang pada saat seorang
bayi berinteraksi dengan orang-orang tertentu yang berada di
sekitarnya, baik ayah, ibu, maupun pengasuh. Perilaku orang
dewasa dalam berinteraksi dengan seorang bayi secara tidak
disadari sepenuhnya akan dipengaruhi oleh stereotipe yang
berlaku. Berdasarkan hasil penelitian, orang tua akan lebih
memberikan responnya terhadap anak yang memiliki jenis kelamin
yang sama dan cenderung bermain dengan anak yang
bersangkutan, utamanya jika bayi tersebut anak pertama dan lakilaki.
Hubungan interaksi antara orangtua dengan anak juga
dipengaruhi oleh gambaran ayah dan ibu mengenai diri si anak
tersebut. Pengembangan identitas gender sangat erat kaitannya
dengan aspek biologis, sehingga hal ini merupakan bagian yang
esensial dari konsep dan persepsi diri seseorang. Identitas gender
seseorang mencakup sikap tentang dirinya yang berlangsung
secara sadar maupun tidak identitas gender ini mulai berkembang
sejak usia dini kemudian diperkuat karena interaksinya dengan
sejumlah orang dewasa. Sedangkan orang dewasa cenderung akan
menampakkan sikap dan perilaku yang telah dibentuk oleh
keanggotaannya dalam kelompok gender tertentu.
Menurut teori sosialisasi (social learning), melihat bahwa
perbedaan peran gender merupakan hasil dari tuntutan dan harapan
lingkungan. Teori ini menjelaskan mengenai sikap anak
perempuan dan laki-laki yang sejak lahir diasuh atau diperlakukan
berbeda. Perilaku dan kepribadian seorang anak laki-laki maupun
perempuan sejak awal ditentukan oleh perkembangan
seksualitasnya. Anak secara terarah memilih dan mengisi peran
gendernya dengan menerapkan konsep penguatan dan meniru.
Penguatan ini terjadi bila orang tua (orang yang berada di
sekitarnya) memberikan dan membelikan suatu hadiah dengan
motif dan warna tertentu, jenis mainan tertentu, atau memberikan
dan membelikan suatu hadiah kepada sang anak bila
memperlihatkan perilaku yang diinginkan. Penguatan terhadap
peran gender ini juga dapat terjadi melalui penggunaan kata-kata
yang khas kepada anak perempuan maupun laki-laki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar