Adanya perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi
masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender
inequalities). Namun yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan
gender tersebut telah melahirkan beberapa ketidakadilan, baik bagi
kaum laki-laki dan terutama bagi perempuan. Ketidakadilan gender
merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum laki-laki dan
perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Ketidakadilan gender
termanifestasikan dalam berbagai bentuk antara lain: marginalisasi
atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak
penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotipe, atau melalui
pelabelan negatif, kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan
lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender.
Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana
kaum laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut.
Beberapa manifestasi yang ditimbulkan dari adanya ketidaksetaraan
gender yaitu sebagai berikut:2
1) Marginalisasi
Permasalahan-permasalahan dalam negara seperti
kemiskinan sebenarnya merupakan akibat dari proses marginalisasi
yang menimpa kaum laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender
sebagai akibat dari beberapa perbedaan jenis dan bentuk, tempat
dan waktu, serta mekanisme dari proses marginalisasi kaum
perempuan. Perbedaan gender bila dilihat dari sumbernya dapat
berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsir agama,keyakinan tradisi, dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu
pengetahuan.
2) Subordinasi
Subordinasi timbul sebagai akibat pandangan gender
terhadap kaum perempuan. Sikap yang menempatkan perempuan
pada posisi yang tidak penting muncul dari adanya anggapan bahwa
perempuan itu emosional atau irasional, sehingga perempuan tidak
bisa tampil memimpin merupakan bentuk subordinasi yang
dimaksud. Proses subordinasi yang disebabkan karena gender
terjadi dalam segala macam bentuk dan mekanisme yang berbeda
dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Dalam kehidupan
di masyarakat, rumah tangga, dan bernegara, banyak kebijakan
yang dikeluarkan tanpa menganggap penting kaum perempuan.
3) Stereotipe (Pelabelan)
Pelabelan atau penandaan negatif terhadap kelompok
atau jenis kelamin tertentu, secara umum dinamakan stereotipe.
Akibat dari stereotipe ini biasanya timbul diskriminasi dan
ketidakadilan. Salah satu bentuknya bersumber dari pandangan
gender. Misalnya adanya keyakinan dalam masyarakat bahwa lakilaki adalah pencari nafkah maka setiap pekerjaan yang dilakukan
oleh perempuan dinilai hanya sebagai tambahan saja, sehingga
pekerjaan perempuan boleh saja dibayar lebih rendah dibanding
laki-laki.
4) Violence (Kekerasan)
Violence atau kekerasan merupakan assoult (invasi) atau
serangan terhadap kekerasan fisik maupun integritas mental
psikologi seseorang yang dilakukan terhadap jenis kelamin tertentu,
umumnya perempuan sebagai akibat dari perbedaan gender. Bentuk
dari kekerasan ini seperti pemerkosaan dan pemukulan, hingga pada
bentuk yang lebih halus lagi seperti sexual harassement (pelecehan)
dan penciptaan ketergantungan. Gender violence pada dasarnya
disebabkan karena ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam
masyarakat.
5) Beban Kerja
Peran gender perempuan dalam anggapan masyarakat luas
adalah mengelola rumah tangga sehingga banyak perempuan yang
menanggung beban kerja domestik lebih banyak dan lebih lama
dibanding kaum laki-laki. Beban kerja yang diakibatkan bias gender
tersebut kerap kali diperkuat dan disebabkan oleh adanya keyakinan
atau pandangan di masyarakat bahwa pekerjaan yang dianggap
masyarakat sebagai jenis pekerjaan perempuan, seperti semua
pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah
dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang dianggap sebagai
pekerjaan laki-laki, dan dikategorikan sebagai pekerjaan yang
bukan produktif sehingga tidak diperhitungkan dalam statistik
ekonomi negara.
Rabu, 28 Juni 2023
Ketidaksetaraan Gender dalam Masyarakat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar