Rabu, 28 Juni 2023

Indikator Determinasi Diri


Determinasi diri memiliki kebutuhan secara khusus yang didefinisikan
sebagai nutrisi yang penting untuk pertumbuhan, integritas, dan kesejahteraan.
Dengan demikian, kebutuhan fisiologis dasar berkaitan dengan nutrisi yang
diperlukan untuk kesehatan pada keselamatan tubuh, dan meliputi kebutuhan
seperti oksigen, air bersih, nutrisi yang memadai, dan bebas dari bahaya fisik.
Bersamaan dengan kebutuhan fisik seperti itu, SDT berpendapat bahwa
ada juga kebutuhan psikologis dasar yang harus dipenuhi agar minat,
perkembangan, dan kesejahteraan psikologis dapat dipertahankan. (Ryan & Deci,
2017) Oleh karena itu terdapat tiga kebutuhan psikologis dasar dalam determinasi
diri yakni Autonomy, competence dan relatedness, berikut ini penjelasan ketiga
aspek determinasi diri :
1. Autonomy (Otonomi)
Autonomy adalah suatu bentuk fungsi yang terkait dengan perasaan
kehendak, kongruen, dan terintegrasi (deCharms, 1968; Friedman, 2003;
Ryan, 1993; Shapiro, 1981 yang dikutip oleh Ryan & Deci, 2017:10).
Autonomy adalah kebebasan yang dimiliki individu dalam melakukan
sesuatu berdasarkan pilihannya sendiri yang mengacu pada hal yang
dirasakan dan bersumber dari dirinya sendiri (Ryan & Deci,2000).
Autonomy sangat penting dalam membangun motivasi instrinsik.
Ketika individu melakukan tindakan karena pengaruh eksternal seperti
controlling reward, ancaman, paksaan, penilaian, tenggak waktu, maka hal
tersebut dapat merusak motivasi intrinsik. Sedangkan, ketika individu
diberikam kesempatan untuk memilih, merasa memiliki kebebasan untuk
melakukan hal sesuai minat mereka, maka motivasi instrinsik meningkat
dan individu lebih percaya diri dalam menunjukkan kinerjanya (Deci &
Ryan, 2000).
2. Competence (Kompetensi)
Competence adalah salah satu masalah yang paling banyak diteliti
dalam psikologi dan secara luas dilihat sebagai elemen inti dalam tindakan
termotivasi (Ryan & Deci 2017 : 11). Di SDT, kompetensi mengacu pada
kebutuhan dasar kita untuk merasakan efek dan penguasaan. Orang perlu
merasa mampu beroperasi secara efektif dalam konteks kehidupan penting
mereka. Kebutuhan akan kompetensi terbukti sebagai upaya yang melekat,
diwujudkan dalam rasa ingin tahu, manipulasi, dan berbagai motif
epistemik (Deci & Moller, 2005 yang dikutip oleh Ryan & Deci, 2017).
Kompetensi berfokus pada keinginan untuk bertindak efektif dalam
menghadapi lingkungan (White dalam Deci, 2000). Kebutuhan
kompetensi membuat individu lebih terbuka, tertarik dan belajar lebih baik
dalam beradaptasi dengan tantangan baru (Deci & Ryan, 2000). Dalam
hubungan antara kompetensi dan motivasi intrinsik, respon positif terhadap
suatu perilaku akan memunculkan kepuasan terhadap kebutuhan
kompetensi, yang selanjutnya kan meningkatkan motivasi intrinsic
individu. Sebaliknya, respon negative terhadap suatu perilaku akan
mengurangi rasa puas terhadap kompetensi dan akan menghambat
motivasi instrinsik.
3. Relatedness (Relasi)
Relatedness berkaitan dengan perasaan terhubung secara sosial
(Ryan & Deci, 2017:11). Orang merasakan keterkaitan yang paling khas
ketika mereka merasa diperhatikan oleh orang lain. Namun keterkaitan
juga tentang kepemilikan dan perasaan signifikan antara lain. Jadi sama
pentingnya dengan keterkaitan adalah mengalami diri sendiri sebagai
seseorang yang memberi atau berkontribusi kepada orang lain (Ryan &
Deci 2017, : 11) Keterkaitan adalah hubungan sosial atau relasi sosial
individu dalam berinteraksi dengan individu lain dalam satu komunitas
serta memiliki rasa saling bergantung satu dengan yang lain (Ryan & Deci
2017:11).
Sama halnya dengan aspek autonomy dan kompetensi, aspek
keterkaitan berpengaruh terhadap pertumbuhan determinasi diri, namun
lingkungan sosial dapat menjadi penghambat pertumbuhan determinasi
diri melalui control, kritik dan penolakan sosial. Untuk mendukung
pertumbuhan determinasi diri, individu secara eksternal memerlukan
lingkungan sosial yang mendukung dan secara internal diperlukan adanya
kesadaran individu (mindfulness) dan fungsi autonomy pribadi (Brown &
Ryan, 2004)

Tidak ada komentar: