Rabu, 28 Juni 2023

Gaya Kepemimpinan


a) Pengertian Kepemimpinan
Ada beberapa pengertian tentang kepemimpinan yang dikemukakan
oleh para ahli di bidang sumber daya manusia dan pada dasarnya
mempunyai arti atau makna yang tidak jauh berbeda.
Terdapat empat persamaan antara banyaknya definisi kepemimpinan
(leadership): (1) kepemimpinan merupakan sebuah proses antara seorang
pemimpin dan para pengikut, (2) kepemimpinan melibatkan pengaruh
sosial, (3) kepemimpinan terjadi di banyak tingkatan dalam organisasi (pada
tingkat individu contohnya, kepemimpinan melibatkan mentoring,
pelatihan, menginspirasi dan memotivasi; pemimpin juga membangun tim,
menghasilkan kohesi, dan menyelesaikan konflik pada tingkat kelompok;
terakhir para pemimpin membangun budaya dan menghasilkan perubahan
pada tingkat organisasi), dan (4) kepemimpinan fokus pada pencapaian
sasaran. Berdasarkan persamaan-persamaan ini, maka kepemimpinan
didefinisikan sebagai “sebuah proses dimana seseorang individu
memengaruhi sekelompok individu lainnya untuk mencapai sasaran yang
sama (Kreitner dan Kinicki, 2015).
Kepemimpinan diartikan sebagai cara manajemen untuk
mempengaruhi, mengkoordinasikan dan mengarahkan aktifitas orang lain
dalam rangka mencapai tujuan kelompok atau tujuan organisasi, (Stoner
and Wankel, 1995; Insan, 2017).
Kesimpulan dari beberapa definisi di atas adalah bahwa menjadi
seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, banyak keahlian yang harus
dimiliki dan menjadi tanggung jawab seorang pemimpin tersebut. Jadi
pengertian kepemimpinan adalah suatu proses pengarahan/mempengaruhi
orang lain dengan cara menggerakan sumber daya yang ada secara efektif
dan efisien dalam proses manajemen untuk mencapai tujuan organisasi
yang diharapkan.
b) Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha menerangkan faktorfaktor yang memungkinkan munculnya kepemimpinan dan sifat dari
kepemimpinan. Studi tentang kepemimpinan bisa dikelompokkan menjadi
lima pendekatan. Robbins dan Coulter (2010) meguraikan kelima teori
kepemimpinan tersebut adalah :
1) Teori Sifat (Trait Theories)
Fokus riset kepemimpinan pada tahun 1920-an dan 1930-an
tereletak pada proses memahami sifat pemimpin yaitu, katakteristik
yang dapat membedakan antara pemimpin dan non pemimpin. Sifat-
sifat yang dipelajari adalah fisik, penampilan, golongan sosial,
stabilitas emosi, kelancaran berbicara dan kemampuan bersosialisasi.
Mengindentifikasi sifat yang berkaitan dengan kepemimpinan
akhirnya berhasil, sehingga tujuh sifat yang dapat dikategorikan
berkaitan dengan kepemimpinan. (1) penggerak (driver), sifat ini
berkaitan dengan fungsi inisiatif, ambisius, memiliki banyak energi,
dan tak kenal lelah. (2) Hasrat untuk memimpin (desire to lead),
pemimpin yang memiliki hasrat untuk mempengaruhi orang lain,
sehingga menunjukkan kemauan untuk menerima tanggung jawab. (3)
Kejujuran dan integritas (honesty anda integrity), pemimpin yang
membangun hubungan kuat dengan bawahan dan seantiasa berkata
jujur sesuai konsisten dengan apa yang dilakukannya. (4) Kepercayaan
diri (self confidence), Pemimpin harus menunjukkan kepercayaan diri
agar dapat menyakinkan pengikut. (5) Kecerdasan (intelligence),
pemimpin harus cerdas untuk mengumpulkan, menyatukan dan
memahami informasi serta mampu menciptakan visi. (6) Pengetahuan
yang relevan (job-relevant knowledge), pemimpin harus memiliki
pengetahuan yang tinggi mengenai perusahaan, industri dan
permasalahan teknis agar mampu mengambil keputusan yang tepat.
(7) Extraversion, pemimpin adalah orang yang enerjik dan penuh
semangat serta suka bergaul, tegas dan jarang berdiam diri atau
menarik diri.
2) Teori Perilaku (Behavioral Theories)
Teori perilaku adalah teori kepemimpinan yang mengindentifikasi
perilaku yang membedakan antara kepemimpinan efektif dan tidak
efeketif. Empat penelitian di tempat antara lain, Universitas Lowa,
Negara Bagian Ohio, Universitas Michigan dan Grid Manajerial
menemukan empat kesimpulan. (1) Gaya demokratis adalah gaya
kepemimpinan yang paling efektif, meskipun studi lain menunjukkan
berbagai macam hasil. (2) High-high leader (memiliki konsiderasi dan
inisiasi struktur yang tinggi) dapat mencapai kinerja dan kepuasasn
karyawan yang tinggi, namun tidak dalam semua situasi. (3) Pemimpin
yang berorientasi pada karyawan diasosiasikan dengan produktivitas
kelompok dan kepuasan kerja yang tinggi. (4) Pemimpin
menghasilkan prestasi kerja terbaik dengan gaya 9,9 (perhatian tinggi
terhadap produksi dan orang).
3) Teori Kontingensi Model Fiedler
Teori ini adalah teori kepemimpinan yang menjelaskan bahwa kinerja
kelompok yang efektif tergantung pada kesesuaian antara gaya
kepemimpinan dan banyaknya kendali serta pengawasan terhdap
situasi itu.
Penelitian Fiedler mengemukakan tiga dimensi kontingensi yang
menentukan faktor-faktor kunci situasional terhadap efektivitas
kepemimpinan:
a. Relasi pemimpin-anggota, tingkat keyakinan diri, kepercayaan,
dan rasa hormat karyawan terhadap pemimpinnya; dinilai sebagai
baik atau tidak baik.
b. Struktur tugas, tingkat dimana penugasan pekerjaan
distrukturisasi dan diformulasi; dinilai sebagai tinggi atau rendah.
c. Posisi kekuatan, tingkat pengaruh seorang pemimpin atas
aktivitas seerti, perekrutan, pemecatan, pendisiplinan, promosi,
dan peningkatan gaji; dinilai sebagai kuat atau lemah.
4) Teori Kepemimpinan Situasi Hersey dan Blanchard
Teori ini adalah teori kepemimpinan yang berfokus pada kesiapan
pengikutnya. Penekanan pada para pengikut dalam efektivitas
kepemimpinan merefleksikan kenyataan bahwa pengikutlah yang
menerima atau menolak pemimpinnya. Kesiapan didefinisikan oleh
Hersey dan Blanchard sebagai tingkat dimana orang memiliki
kemampuan dan kemauan untuk menyelesaikan pekerjaan terntentu.
Hersey dan Blanchard maju lebih jauh dengan mempertimbangkan
masing-masing sebagai tinggi atau rendah lalu menggabungkannya
dengan 4 gaya kepemimpinan. (1) Telling (pekerjaan tinggi-relasi
rendah), pemimpin menentukan peranan karyawan dan mengatur
kapan, apa, dimana dan bagaimana karywan melaksanakan tugasnya.
(2) Selling (pekerjaan tinggi-relasi tinggi), pemimpin menunjukkan
perilaku yang mengarahkan dan mendukung. (3) Participating
(pekerjaan rendah-relasi tinggi), pemimpin dan pengikutnya bersamasama membuat keputusan, yang mana pemimpin memiliki peranan
sebagai fasilitator dan komunikator. (4) Delegating (pekerjaan rendahrelasi rendah), pemimpin kurang memberikan pengarahan dan
dukungan.
5) Teori Jalur-Tujuan (Path-Goal Theory)
Teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh Robert House,
menyatakan bahwa tugas pemimpin adalah membantu pengikutnya
mencapai tujuan dan mengarakan atau memberikan dukungan sesuai
kebutuhan untuk memastikan bahwa tujuan mereka sejalan dengan
tujuan kelompok atau organisasi.
House mengidentifikasi empat perilaku kepemimpinan antara lain; (1)
Pemimpin yang mengarahkan (directive leader) adalah pemimpin
yang memberitahukan pada bawahannya apa yang diharapkan dari
mereka, jadwal dan tugas yang spresifik serta cara menyelesaikannya.
(2) Pemimpin yang mendukung (supportive leader) adalah pemimpin
yang menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan pengikutnya dan
bersifat ramah. (3) Pemimpin yang partisipatif (participative leader)
adalah pemimpin yang berkonsultasi dengan anggota kelompok dan
menggunakan saran-saran dan ide mereka sebelum mengambil
keputusan. (4) Pemimpin yang berorientasi pada prenstasi
(achievement-oriented leader) adalah pemimpin yang menetapkan
sekumpulan tujuan yang menantang dan mengharapkan bawahannya
untuk berprestasi semaksimal mungkin.
c) Gaya Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan transformasional sebagai pengaruh pemimpin atau
atasan terhadap bawahan, dimana bawahan merasakan kepercayaan,
kebanggaan, loyalitas dan rasa hormat kepada atasan dan mereka
dimotivasi untuk berbuat melebihi apa yang ditargetkan atau diharapkan
(Satriani et, al., 2012)
Robbins dan Cuolter (2010) mengemukanan bahwa tipe pemimpin
transformasi (transformational leader) adalah pemimpin yang
menstimulasi dan menginspirasi (transformasi) bawahannya untuk
mencapai hasil yang luar biasa. Kepemimpinan transformasional dinilai
lebih efektif dibandingkan kepemimpinan transaksional. Hal ini merujuk
pada hasil-hasil penelitian di berbagai bidang yang menemukan bahwa
kepemimpinan transformasional memiliki ikatan kuat dengan perputaran
karyawan yang rendah serta tingkat produktivitas, tingkat kepuasaan
pegawai, kreativitas, pencapaian tujuan dan kesejahteraaan bawahan yang
tinggi.
Menurut Bass dan Avolio (dalam Kreitner dan Kinicki, 2015), bahwa
kepemimpinan transformasional memiliki kreiteria antara lain; pemimpin
yang memotivasi dengan inspirasional, pengaruh ideal, pertimbangan yang
bersifat individual, dan stimulasi intelektual.
Penerapan gaya kepemimpinan transformasional yang tepat dapat
menghasilkan kinerja karyawan yang tinggi, motivasi kerja bagi karyawan,
hasil kerja yang lebih besar, dan imbalan internal. Hal ini karena gaya
kepemimpinan transformasional dapat membantu para karyawan menjadi
lebih percaya untuk mencapai sasaran-sasaran yang ada dan bekerja sesuai
dengan arah yang akan datang. Pada setiap tahap dari proses
transformasional tersebut, kinerja karyawan ditentukan oleh keberhasilan
pemimpin (Mondiani, 2012).
d) Gaya Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transaksional adalah perilaku pemimpin yang
memfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin
dengan anggota yang melibatkan hubungan pertukaran. Kepemimpinan
transaksional harus mampu mengenali apa yang diinginkan anggota dari
pekerjaanya dan memastikan apakah telah mendapatkan apa yang
diinginkan. Kepemimpinan transaksional memiliki proses yaitu
memperkenalkan apa yang diinginkan bawahan dari pekerjaannya dan
memikirkan apa yang akan bawahannya peroleh jika hasil kerjanya bagus.
Pemimpin dan para pengikutnya merupakan pihak-pihak yang independen
yang masing-masing mempunyai tujuan, kebutuhan, dan kepentingan
sendiri.
Menurut Robbins dan Coulter (2010) bahwa pemimpin transaksional
(transactional leader) adalah pemimpin yang memimpin dengan
menggunakan pertukaran sosial atau transaksi. Pemimpin transaksi
mengarahkan atau memotivasi bawahannya untuk bekerja mencapai tujuan
dengan memberikan penghargaan atas produktivitas mereka.
Bass (dalam Tjahjono, 2004), memandang kepemimpinan transaksional
sebagai sebuah pertukaran imbalan-imbalan untuk mendapatkan kepatuhan.
Beberapa komponen penting di dalamnya meliputi perilaku transaksional
(disebut perilaku “contingent reward”) mencakup kejelasan mengenai
pekerjaan yang diminta untuk memperoleh imbalan-imbalan, penggunaan
insentif dan contingent rewards untuk mempengaruhi motivasi. Komponen
selanjutnya adalah “active management by exception” termasuk
pemantauan dari para bawahan dan tindakan-tindakan memperbaiki untuk
memastikan bahwa pekerjaan tersebut telah dilaksanakan secara efektif
Menurut Bass dan Riggio dalam Goei dan Winata, (2016) menyatakan
bahwa Gaya kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan yang
terjadi ketika pemimpin memberikan penghargaan atau mendisiplinkan
pengikutnya, bergantung pada adekuasi performa pemimpin. Dimensidimensi dari gaya kepemimpinan transaksional, yaitu: (1) Imbalan bersyarat
(Conditional reward), kondisi ini akan bersifat transaksional apa bila
imbalan berupa materi seperti uang, namun bersifat transformasional bila
imbalan berupa psikologis seperti pujian. (2) Manajemen dengan
pengecualian aktif (active management by exception), adalah gaya
kepemimpinan di mana pemimpin secara aktif mengawasi penyimpanganpenyimpangan dari standar, kesalahan-kesalahan, dan kekeliruankekeliruan dalam tugas-tugas pengikutnya dan mengambil langkah korektif
secepatnya. (3) Manajemen dengan pengecualian pasif (passive
management by exception), adalah gaya kepemimpinan di mana pemimpin
akan menunggu secara pasif munculnya penyimpangan-penyimpangan,
kesalahan-kesalahan, dan kekeliruan-kekeliruan kemudian mengambil
langkah korektif

Tidak ada komentar: