Beban ganda pada perempuan tidak hanya dipengaruhi gender yang
dikonstruksikan secara sosial, akan tetapi juga dipengaruhi oleh budaya patriarki.
Patriarki merupakan sebuah sistem struktur sosial dan praktiknya di mana laki-laki
menekan, mendominasi serta mengeksploitasi perempuan (Azisah, 2016:7).
Menurut Handayani & Sugiarti (2006:9) di negara Indonesia mayoritas menganut
21
paham patriarki, yakni yang berkuasa dalam keluarga adalah bapak. Patriarki
adalah suatu pemikiran bahwa laki-laki memegang kekuasaan atas semua peran
penting pada suatu masyarakat, pemerintahan, industri, militer, iklan, dan
sebagainya. Dapat dipahami budaya patriarki mengutamakan pihak laki-laki,
sedangkan pihak perempuan berada di belakang laki-laki dan tereksploitasi hakhaknya sehingga kurang leluasa dalam mengembangkan potensi dalam dirinya.
Pihak laki-laki menguasai semua akses penting baik dalam ranah keluarga, sosial
hingga pemerintahan. Selain itu budaya patriarki menempatkan laki-laki sebagai
sosok pemimpin, sedangkan perempuan sebagai pengikutnya. Dengan
mengutamakan pihak laki-laki sebagai pemimpin, berakibat pada semua keputusan
ditentukan oleh laki-laki.
Budaya patriarki ini sudah disosialisasikan sejak lama, dan memunculkan
perbedaan pada laki-laki dan perempuan. Budaya patriarki membentuk identitas
maskulin serta feminin sebagai hasil dari proses sosialisasi di masyarakat.
Sosialisasi terutama terjadi pada suatu masa anak-anak pada saat laki-laki serta
perempuan sedang belajar mengenai perilaku yang sesuai jenis kelamin mereka
(Handayani & Sugiarti, 2006:12) Sejak kecil laki-laki diharuskan untuk kuat serta
agresif, sehingga menjadikan anak laki-laki terlatih, tersosialisasi hingga
menimbulkan motivasi untuk menjadi lebih besar, kuat secara fisik. Sedangkan
perempuan diharuskan untuk lemah lembut, rapi, rajin. Sejak bayi sudah terjadi
proses sosialisasi tersebut pada kedua jenis kelamin. dapat dilihat dari proses
pemilihan baju yang berbeda, mainan yang berbeda hingga perlakuan atau
pengasuhan yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan.
Langgengnya budaya patriarki ini menguatkan posisi laki-laki yang di atas
perempuan. Menurut Handayani & Sugiarti (2006:10) yang dihadapi oleh
masyarakat sekarang adalah dominasi dan superioritas laki-laki. Laki-laki
diposisikan lebih tinggi dan mendominasi, sedangkan perempuan lebih rendah dan
tersubordinasi oleh laki-laki. Sehingga hal tersebut berakibat pada perbedaan peran
yang melekat pada kedua jenis kelamin laki-laki serta perempuan. Peran ini
meliputi produktif serta reproduktif dan sosial. Peran produktif ini mencakup
mengenai pekerjaan yang mengutamakan laki-laki. Sedangkan peran reproduktif
yang umumnya menyangkut pekerjaan domestik serta pengasuhan anak dipegang
oleh perempuan. peran ini melekat pada perempuan, tetapi tidak pada laki-laki.
Peran sosial ini berhubungan dengan aktivitas kegiatan sosial, menyangkut kegiatan
politik, organisasi serta kepemimpinan di suatu kelompok masyarakat. Peran sosial
ini mayoritas dikuasai oleh laki-laki, karena menyangkut kepemimpinan dan
pembuatan suatu keputusan
Rabu, 28 Juni 2023
Budaya Patriarki mengukuhkan Beban ganda Pada Perempuan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar