Rabu, 28 Juni 2023

Kinerja Individu dalam Kelompok


a) Kinerja Individu
Mahsun (dalam Wulandari dan Tjahjono, 2011) menyatakan bahwa
kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian
pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran,
tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu
organisasi. Menurut Mangkunegara (2005) menyatakan bahwa hasil kerja
secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.
Kinerja sangat dipengaruhi oleh bermacam-macam ciri dari pribadi
masing-masing individu. Seorang pemimpin memerlukan karyawan yang
kinerjanya tinggi guna mewujudkan tujuan perusahaan. Kinerja merupakan
hal yang melekat pada karyawan. Karyawan yang memiliki kinerja yang
bagus atau prestasi kerja akan membawa dampak yang baik bagi diri
karyawan dan juga bagi perusahaan tempat bekerja.
Adapun faktor-faktor penentu pencapaian prestasi kerja atau kinerja
individu dalam organisasi menurut Mangkunegara (2005) adalah sebagai
berikut: (1) Faktor Individu Secara psikologis, individu yang normal adalah
individu yang memiliki integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan
fisiknya. Dengan adanya integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisik,
maka individu tersebut memiliki konsentrasi diri yang baik. Konsentrasi
yang baik ini merupakan modal utama individu untuk mampu mengelola dan
mendayagunakan potensi dirinya secara optimal dalam melaksanakan
kegiatan atau aktivitas kerja sehari-hari dalam kinerjanya mencapai tujuan
organisasi. (2) Faktor Lingkungan Organisasi, faktor lingkungan kerja
organisasi sangat menunjang bagi individu dalam mencapai prestasi kerja.
Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang
jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi
kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis,
peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai. Kinerja
merupakan bagian hasil dari suatu proses pekerjaan. Setiap karyawan
dituntut untuk memiliki kompetensi yaitu kemampuan atau kecakapan
dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan yang telah menjadi tanggung
jawabnya.
b) Kelompok
Kreitner dan Kinicki (2015) menyebutkan bahwa kelompok (group)
adalah dua atau beberapa orang yang berinteraksi secara bebas dengan
memiliki norma dan tujuan kolektif serta memiliki identitas bersama. Jika
kelompok dibentuk oleh seorang manajer untuk membantu perusahaan
mencapai tujuannya, maka kelompok tersebut disebut sebagai kelompok
formal (formal group). Sedangkan kelompok yang dibangun untuk tujuan
pertemanan, minat yang sama disebut sebagai kelompok informal (informal
group).
Psikolog organisasional Edgar Schein mengemukakan bahwa ukuran
sebuah kelompok dibatasi oleh kemungkinan adanya interaksi mutual dan
kesahadaran mutual. Jumlah orang saja tidak termasuk dalam defenisi ini
karena mereka tidak berinteraksi dan tidak menyadari diri mereka sebagai
kelompok meskipun saling menyadari kehadiran orang lain di sekitar.
Sedangkan tim-tim kerja, komite, badian depatremen, kelompok-kelompok
kecil, dan berbagai asosiasi informal lainnya di antara anggota
organisasional dianggap sebagai kelompok (dalam Kreitner dan Kinicki,
2015)

Tidak ada komentar: