Kepala pekon sebagai pemimpin bertipe laissez faire menghendaki semua
komponen pelaku aparat pekon menjalankan tugasnya dengan bebas. Oleh
karena itu tipe kepemimpinan bebas merupakan kemampuan mempengaruhi
orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan diserahkan pada bawahan. Karena
arti lassez sendiri secara harfiah adalah mengizinkan dan faire adalah bebas.
Pemimpin laissez-faire merupakan kebalikan dari kepemimpinan otokratis, dan
sering disebut liberal, karena ia memberikan banyak kebebasan kepada para
tenaga aparat pekon untuk mengambil langkah-langkah sendiri dalam
menghadapi sesuatu. Jika pemimpin otokratis mendominasi, maka tipe
pemimpin laissez-faire ini menyerahkan persoalan sepenuhnya pada anggota.
Pada tipe kepemimpinan laissez faire ini sang pemimpin praktis tidak
memimpin, sebab ia membiarkan kelompoknya berbuat semau sendiri. Kepala
pekon bersifat pasif, tidak ikut terlibat langsung dengan tenaga aparatur pekon,
dan tidak mengambil inisiatif apapun.(Juniarti, 2010 :37).
Kepala pekon yang memiliki laissez-faire biasanya memposisikan diri sebagai
penonton, meskipun ia berada ditengah-tengah para tenaga aparat pekon dalam
rapat pekon, karena ia menganggap pemimpin jangan terlalu banyak
mengemukakan pendapat, agar tidak mengurangi hak dan kebebasan anggota.
Dalam suasana kerja yang dihasilkan oleh kepemimpinan aparat desa semacam
itu, tidak dapat dihindarkan timbulnya berbagai masalah. (Kartono,2003:53).
Adapun ciri-ciri khusus gaya kepemimpinan laissez faire yaitu:
a) Pemimpin memberikan kebebasan penuh dalam mengambil keputusan
baik secara kelompok atau individual dengan minimum partisipasi
pemimpin bahkan terkesan acuh tak acuh.
b) Pemimpin memberikan kebebasan mutlak kepada stafnya dalam
menentukan segala sesuatu yang berguna bagi kemajuan organisasinya
tanpa bimbingan darinya
c) Pemimpin tidak berpartisipasi sama sekali dalam organisasi yang
dipimpinnya.
d) Pemimpin memberikan komentar spontan atas aktivitas-aktivitas anggota
dan ia tidak berusaha sama sekali untuk menilai atau tidak melakukan
evaluasi terhadap kinerja guru
Dari gaya kepemimpinan laissez faire diatas dalam kontek pemerintahan di
indonesia sangat sulit untuk dilaksanakan karena keadaan pekon kita masih
mengalami beberapa kendala mulai dari masalah pendanaan, sumber daya
manusia, kemandirian, dan lain sebagainya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar