Untuk memperjelas dalam memahami gaya kepemimpinan
kontingensi/situasional dan demokratis terlebih dahulu perlu kita ketahui
definisi kepemimpinan itu sendiri. Katz dan Khan (dalam Sugandha, 1986:
181) mengatakan bahwa:
Kepemimpinan adalah sebagai tambahan pengaruh yang melebihi dan
mengatasi kepatuhan mekanis pada pengaruh rutin organisasi, dengan
perkataan lain kepemimpinan terjadi jika seorang individu dapat
mendorong orang lain mengerjakan sesuatu atas kemauannya sendiri dan
bukan mengerjakan karena kewajiban atau takut akan konsekuensi dari
ketidak patuhan. Unsur sukarela inilah yang membedakan kepemimpinan
dari proses pengaruh lainnya seperti wewenang dan kekuasaan.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugandha (1986:70) sebagi berikut:
Seorang pemimpin memiliki sifat-sifat unggul sehingga mampu
menempatkan diri pada posisinya secara efektif terhadap segala hubungan
18
yang terjadi antara sesama anggota atau antara kelompok. Masalah-
masalah yang dihadapi serta kondisi dan situasi organisasi yang
dipimpinnya. Oleh karena itu dalam usaha mempengaruhi orang-orang
yang dipimpin agar bersedia melaksanakan tugas pekerjaan dengan sebaik-
baiknya. Tidak mustahil apabila tiap-tiap pemimpin mempunyai gaya atau
cara tersendiri dalam memimpin atau mendorong bawahannya.
Jadi dari pendapat Katz dan Kahn dapat dikatakan bahwa kepemimpinan
merupakan cara mempengaruhi dan mendorong orang lain agar orang tersebut
melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan.
Menurut Humphill (Wijaya, 2012:21) menyatakan bahwa leadership is the
initiation of acts that result in a consistent pattern of group interaction
directed toward the solution of mutual problems ( Kepemimpinan adalah
langkah pertama yang hasilnya berupa pola interaksi kelompok yang
konsisten dan bertujuan menyelesaikan problem yang saling berkaitan).
Sedangkan menurut Thoha bahwa kepemimpinan adalah suatu aktivitas untuk
mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka mau diarahkan untuk
mencapai tujuan tertentu. Jadi kepemimpinan adalah merupakan upaya
bagaimana mengambil langkah sebagai upaya menyelesaikan suatu persoalan.
Dari uraian di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keberadaan
seorang pemimpin sangat dibutuhkan untuk mengkoordinir seluruh aktifitas
kelompok suatu organisasi dan tidak terlepas dari gaya kepemimpinannya.
Karena berhasil atau tidaknya suatu organisasi dirasa sangat tergantung dari
gaya kepemimpinan seorang pemimpin. Secara umum gaya kepemimpinan
dapat digolongkan kedalam kategori yaitu gaya kepemimpinan demokratis
dikaitkan dengan kekuatan personal dan keikutsertaan para pengikutnya
dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan (Thoha, 2002:
265-166).
Lebih lanjut Thoha (2002: 272-275) membagi gaya model kepemimpinan
menjadi dua yakni gaya yang efektif dan gaya yang tidak efektif. Gaya yang
efektif dibagi menjadi empat yaitu:
- Eksekutif, yaitu memberikan perhatian kepada tugas-tugas pekerjaan
dan hubungan kerja, biasanya gaya ini disebut dengan gaya
mmotivator yaang baik, mau menetapkan setandar kerja yang tinggi,
mengenal perbedaan antara individu, dan keingina mempergunakan
jam kerja tim dalam manajemen. - Pencinta pengembangan (developer), yaitu memberikan perhatian yang
maksimum terhadap hubungan kerja, dan perhatian minimum terhadap
tugas-tugas pekerjaan. - Otokratis yang baik hati (benevolent autocrat), yaitu memberikan
perhatian maksimum kepada tugas, dan perhatian minimum terhadap
hubungan kerja. - Birokrat, yaitu gaya yang memberikan perhatian yang minimum baik
terhadap tugas maupun terhadap hubungan kerja. Pada gaya ini
pemimpin sangat tertarik kepada peraturan-peraturan dan
menginginkan memeliharanya dan mengontrol situasi secara teliti.
Selanjutnya gaya yang tidak efektif dapat dilihat antara lain: - Pencinta kompromi (compromiser), yakni gaya yang memberikan
perhatian yang besar terhadap tugas dan hubungan kerja dalam suatu
situasi yang menekankan pada kompromi. - Missionari, yakni gaya yang memberikan penekanan yang maksimum
pada orang dan hubungan kerja, tetapi memberikan perhatian yang
minimum terhadap perilaku yang tidak sesuai. - Otokrat, gaya seperti ini tidak mempunyai kepercayaan kepada orang
lain, tidak menyenangkan dan hanya tertarik kepada jenis pekerjaan
yang segera selesai - Lari dari tugas (deserter), gaya yang sama sekali tidak memberikan
perhatian baik kepada tugas maupun pada hubungan kerja, pemimpin
seperti ini hanya bersifat pasif.
Gaya kepemimpinan dengan pendekatan kontingensi/situasional menjadi
solusi untuk menjelaskan efektifitas pimpinan terhadap bawahan. Pendekatan
kepemimpinan kontingensi/situasional ini meletakkan pada perilaku pimpinan
dengan bawahannya (Agusman,2004: 35)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar