Rabu, 29 Desember 2021

Pengendalian resiko (skripsi dan tesis)


Menurut trimawan heru (2008) Pada dasarnya upaya pencegahan dan
penanggulangan kecelakaan kerja dapat dilakukan melalui 2
pendekatan, yaitu:
1. Pengendalian secara tekhnis
Secara filosofis pengendalian secara tekhnik harus sudah
dilakukan pada tahap rencana. Saat terbaik dari penerapan
pengendalian secara tekhnik adalah saat bangunan industry dalam
proses pembangunan. Pengendalian secara tekhnik ini terdiri dari
pengendalian umum dan khusus 
a. Pengendalian umum (general control methods)
1) Subtitusi
Satu metode pengendalian yang cukup efektif adalah
pergantian bahan yang sangat toksis dengan bahan yang tidak
atau kurang toksis. Mengganti bahan yang berbahaya terhadap
kesehatan dengan yang tidak atau kurang berbahaya. Contoh:
penggantian methyl bromide sebagai bahan pendingin dengan
freon.
2) Pengubahan proses
Pengubahan proses dilakukan untuk menekan sekecil
kecilnya pemaparan bahan pencemar terhadap pekerja.
Pengubahan proses tersebut umumnya dilakukan untuk
perbaikan kondisi kerja, namun juga dilakukan untuk
meningkatkan atau pengurangan bahaya produksi, dengan
cara modifikasi komponen sehingga bahan pencemar di
udara dapat dikurangi. Contoh : pada industry mobil jumlah
debu timah yang dihasilkan dari mesin penggiling yang
berputar dengan kecepatan tinggi dikurangi dengan
mengurangi kecepatan perputaran mesin.
3) Isolasi
Dilakukan dengan cara penutupan pelaksanaan proses atau
kerja untuk mengurangi jumlah pekerja yang terpapar.
Isolasi dapat berupa penghalang yang berupa sarana fisik,
seperti penggunaan panel untuk mengurangi sekecil
mungkin perjalanan suara mesin keruang yang lain. Isolasi
dapat pula dilakukan dengan pengendalian jarak jauh
(remote control) sehingga para pekerja tidak harus berada
didekat mesin yg bising. 
4) Metode pembahsahan
Bahaya debu yang berterbangan di udara ditekan dengan
pemberian air atau cairan lainnya yang sesuai. Pembasahan
lantai sebelum penyapuan untuk mengendapkan debu yang
berbahaya yang menyebar dianjurkan, apabila metode lain
yang lebih baik seperti alat pembersih racun tak dapat
digunakan
5) Ventilasi umum
Pada prinsipnya ventilasi umum adalah penipisan untuk
menciptakan untuk menciptakan atmosfir yang aman dan
sehat. System ini menggunakan pemanasan alamiah melalui
pintu atau jendela yang terbuka, ventilator atau atap, dan
cerobong asap.
6) Penggunaan rambu-rambu
Rambu-rambu pencegahan kecelakaan kerja diperusahaan
dapat berupa warna, tanda-tanda peringatan, petunjukpetunjuk, label-label, atau sinyal-sinyal yang berbunyi
apabila keadaan menunjukkan bahaya
b. Pengendalian khusus
1) Penggunaan alat pelindung diri
Berbagai jenis pekerjaan tentulah memiliki potensi bahaya
yang berbeda, oleh sebab itu alat pelindung diri harus
mempunyai kemampuan yang pasti untuk melindungi
seseorang dalam pekerjaannya, fungsinya mengisolasi
tenaga kerja dari bahaya tempat kerja. 
2. Pengendalian secara administrative
Pengendalian secara administrative mencakup penetapan prosedurprosedur, pemberlakuan jadwal kerja, rotasi atau perputaran
pemberian tugas pekerjaan sehingga tidak terdapat pekerja yang
terpapar secara berlebihan, pemantaun dan tindakan dini agar tidak
berakibat merugikan pekerja.
a. Penetapan prosedur
Salah satu cara mencegah kecelakaan kerja adlah dengan
menetapkan prosedur pekerjaan dan melatih para pekerja untuk
bisa menjalankan prosedur tersebut. Dengan prosedur ini akan
memudahkan semua aktifitas yang ada, sebab prosedur ini
akan menjadi pedoman tentang apa yang semestinya
dikerjakan. Setiap pekerja akan lebih mudah untuk
melaksanakan pekerjaan apabila ada prosedur.
b. Pemberlakuan peraturan
Dalam melaksanakan pekerjaan, setiap pekerja diikat oleh
peraturan yang ketat untuk memenuhi prosedur tersebut.
Peraturan ini juga mengandung sangsi bagi yang melanggar.
c. Penyesuaian jadwal kerja
Waktu kerja adalah waktu bagi seseorang menentukan efisiensi
dan produktifitasnya. Lamanya seseorang bekerja secara baik
pada umumnya 6-8 jam, sisanya (16-18 jam) dipergunakan
untuk keperluan keluarga, bermasyarakat, istirahat, tidur dan
lain-lain. Memperpanjang waktu kerja lebih dari kemampuan
tersebut biasanya tidak efisien, bahkan biasanya terlihat
penurunan produktifitas serta kecenderungan untuk timbul
kelelahan, penyakit, bahkan kecelakaan. 
d. Rotasi atau perputaran dalam pemberian tugas
Orang-orang yang bekerja keras diatas 40 jam perminggu
memiliki tingkat kemungkinan penurunan mental lebih tinggi
diusia paruh baya, sementara pekerja giliran malam memiliki
resiko lebih besar dalam kecelakaan, gangguan tidur, hingga
masalah pencernaan.
e. Komunikasi dan konsultasi
Tahap ini adalah mengkomunikasikan risiko atau bahaya
kepada semua pihak yang berkepentingan dengan kegiatan organisasi
atau perusahaan. Hasil dan proses pengembangan manajemen risiko
juga dikonsultasikan ke seluruh pihak seperti pekerja, ahli, mitra kerja,
pemasok dan lainnya yang kemungkinan terpengaruh oleh penerapan
manajemen risiko dalam organisasi.
f. Pemantauan ulang
Proses manajemen risiko dipantau untuk menentukan atau
mengetahui adanya penyimpangan atau kendala dalam
pelaksanaannya. Pemantauan perlu dilakukan untuk memastikan
bahwa sistem manajemen risiko telah berjalan sesuai dengan rencana
yang ditentukan. Dari hasil pemantauan diperoleh berbagai masukan
mengenai penerapan manajemen risiko yang selanjutnya dilakukan
tinjauan ulang untuk menentukan apakah proses manajemen risiko
telah sesuai dan menentukan langkah – langkah perbaikannya.

Tidak ada komentar: