Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan
seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi orang lain seperti
yang ia lihat (Thoha, 1993). Kebanyakan orang menganggap gaya kepemimpinan
merupakan tipe kepemimpinan. Hal ini antara lain dinyatakan oleh Siagian (2003)
bahwa gaya kepemimpinan seseorang adalah identik dengan tipe kepemimpinan
orang yang bersangkutan. Artinya uuntuk kepentingan pembahasan, istilah tipe
dan gaya kepemimpinan dipandang sebagai sinonim. Secara relatif ada tiga
macam gaya kepemimpinan yang berbeda, yaitu otokratis, demokratis dan laissezfaire, yang semuanya mempunyai kelemahan-kelemahan dan kelebihan. Adapun
tiga macam gaya kepemimpinan (Handoko, 2001) adalah sebagai berikut :
a. Otokratis
Gaya otokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia
bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan cara segala
kegiatan yang akan dilakukan diputuskan oleh pmpinan semata-mata.
Kepemimpinan gaya otokratis antara lain berciri:
(1) Semua penentu
kebijaksanaan dilakukan oleh pimpinan.
(2) Teknik-teknik dan langkahlangkah kegiatan didikte oleh atasan setiap waktu, sehingga langkah-langkah
yang akan datang selalu tidak pasti untuk tingkat yang luas.
(3) Pemimpin
biasanya mendikte tugas kerja bersama setiap anggota. Penerapan gaya
kepemimpinan otokratis dapat mendatangkan keuntungan antara lain berupa
kecepatan serta ketegasan dalam pembuatan keputusan dan bertindak sehingga
untuk sementara mungkin kinerja dapat naik.
b. Demokratis
Gaya demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar
bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah tetapkan dengan cara
berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan
9
dan bawahan. Kepemimpinan gaya otokratis antara lain berciri:
(1) Semua
kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan
dorongan dan bantuan dari pimpinan.
(2) Kegiatan-kegiatan didiskusikan,
langkah-langkah umum uuntuk tujuan kelompok dibuat, dan bila butuhkan
petunjuk-petunjuk teknis, pemimpin menyarankandua atau lebih alternatif
prosedur yang dapat dipilih. (3) Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja
yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok. Penerapan
gaya demokratis dapat mendatangkan keuntungan antara lain berupa keputusan
serta tindakan yang lebih obyektif, tumbuhnya rasa ikut memiliki serta
terbinanya moral yang tinggi.
c. Laissez-Faire
Gaya laissez-faire adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar
bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan
cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan lebih banyak diserahkan kepada
bawahan. Kepemimpinan gaya laissez-faire antara lain berciri:
(1) Kebebasan
penuh bagi keputusan kelompok atau individu, dengan partisipasi dari
pimpinan.
(2) Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan oleh pimpinan
yang membuat orang selalu siap bila dia kan memberikan informasi pada saat
ditanya. Dia tidak mengambil bagian dalam diskusi kerja.
(3) Sama sekali
tidak ada partisipasi dari pimpinan dalam penentuan tugas.
Penerapan gaya
kepemimpinan laissez-faire dapat mendatangkan keuntungan antara lain para
anggota atau bawahan akan dapat menggembangkan kemampuan dirinya.
1. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh
seseorang untuk mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang
dilihat (Miftah, 2007).
2. Gaya kepemimpinan yang menunjukkan baik secara langsung maupun tidak
langsung tentang keyakinan seorang pemimpin terhadap kemampuan
bawahannya. Artinya gaya kepemimpinan adalah perlaku dan strategi,
sebagai hasil kombinasi dari falsafah, ketrampilan sifat, sikap yang sering
diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinerja
bawahannya (Rivai, 2009).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar