Materialisme mengacu pada harta duniawi yang dianggap menempati
pusat/sentral kehidupan seseorang dan diyakini sebagai sumber terbesar dari
kepuasan dan ketidakpuasan (Belk, 1985). Kashdan dan Breen (2007)
31
mendefinisikan materialisme sebagai keinginan yang kuat terhadap kekayaan dan
harta benda, karena bagi individu yang sangat materialistis, kepuasan dalam
mengejar materi adalah tolak ukur prestasi pribadi. Berkaitan dengan kepuasan,
hasil penelitian Richins dan Dawson (1992) memaparkan bahwa materialisme
berkorelasi negatif dengan beberapa pusat kepuasan hidup yakni kepuasan dengan
kehidupan secara keseluruhan, pendapatan, kehidupan keluarga, kesenangan
dalam hidup, dan sahabat-sahabat.
Memandang lewat konteks dunia uang (money worlds), Tatzel (2002)
mengintegrasikan sikap terhadap uang, nilai-nilai material dan perilaku yang
berhubungan dengan harga (perilaku belanja), dan mengungkapkan bahwa
kombinasi dari terlalu perhitungan dengan uang dan materialisme tinggi
memungkinkan area perburuan tawar menawar karena orang yang sangat
perhitungan dalam mengeluarkan uang akan lebih memilih untuk membelanjakan
uangnya dengan hati-hati, lalu kombinasi dari terlalu perhitungan dengan uang
dan materialisme rendah memungkinkan keengganan menghabiskan uang karena
orang lebih suka menahan pengeluarannya dan tidak memiliki dorongan material
sehingga tidak boros. Sedangkan kombinasi dari terlalu bebas dengan uang dan
materialisme tinggi memungkinkan pengeluaran yang mencolok atau dapat
dikatakan boros dalam membelanjakan uangnya sebab dorongan materialnya
besar, dan kombinasi dari terlalu bebas dengan uang dan materialisme rendah
memungkinkan pengeluaran yang terarah atau hanya untuk hal-hal yang
memberikan pengalaman daripada pengeluaran untuk hal-hal tidak perlu karena
memilih untuk membelanjakan uangnya pada hal-hal yang bermanfaat.
32
Umumnya materialisme dipandang sebagai nilai yang ditempatkan pada
perolehan materi (Burroughs dan Rindfleisch, 2002), namun secara khusus
individu dengan nilai-nilai materialistik tidak begitu setuju dengan filosofi
organisasi terkait tanggung jawab sosial (diluar keuntungan dan maksimalisasi
kekayaan organisasi) karena memandang bahwa memperluas sumber daya dengan
cara yang bertanggung jawab secara sosial dapat mengurangi kesempatan atau
menunda kemungkinan mencapai tujuan individu (Kolodinsky et al., 2010).
Belk (1985) memandang materialisme sebagai kumpulan dari tiga ciri/sifat
kepribadian yakni iri (envy), kikir (nongenerosity) dan posesif (possessiveness).
Karakter iri dan posesif mengacu pada sikap terhadap milik sendiri/pribadi dan
terhadap milik orang lain, sementara kikir lebih mengarah pada keengganan untuk
berbagi dengan orang lain.
Sedangkan Richins dan Dawson (1992) menawarkan
konsep serta mengembangkan skala materialisme sebagai nilai yang menjadi
pedoman pilihan bagi seseorang dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi,
termasuk di dalamnya situasi konsumtif namun tidak terbatas untuk situasi ini
saja. Skala tersebut mencakup tiga komponen yakni akuisisi/perolehan sebagai
pusat/tujuan utama dalam hidup (acqusition centrality), akuisisi/perolehan sebagai
upaya mengejar kebahagiaan (acqusition as the pursuit of happiness), dan
kepemilikan mencerminkan kesuksesan (possession-defined success). Maka dari
itu, Ahuvia dan Wong (2002) menyatakan bahwa konsep materialisme dari Belk
dapat disebut sebagai materialisme kepribadian (personality materialism) dan
konsep materialisme dari Richins dan Dawson dapat disebut sebagai nilai-nilai
pribadi terkait materialisme (personal values materialism).
33
Apabila diperhatikan dengan seksama, konsep materialisme yang
dikemukakan oleh Belk mengangkat tentang materialisme dan sifat negatif (iri,
kikir dan posesif) pada individu, sedangkan konsep materialisme milik Richins
dan Dawson lebih menekankan materialisme dan hal-hal positif (kesuksesan,
pusat/tujuan hidup dan kebahagiaan) dalam kehidupan. Penelitian ini akan
memandang tiga komponen materialisme dari Richins dan Dawson tersebut
sebagai suatu kesatuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar