Dalam perusahaan keluarga penting adanya sebuah perencanaan dalam
suksesi kepemimpinan karena dengan perencanaan yang baik maka suksesi
kepemimpinan perusahaan akan jatuh pada orang yang tepat sehingga dapat
mempertahankan keberadaan perusahaan dan mengembangkannya. Susanto
(2005:146) memaparkan tentang pentingnya suksesi dalam perusahaan keluarga:
1) Pertama, karena kontinuitas penting sekali disiapkan agar tidak terjadi
Prince Charles Syndrome. Pangeran Charles yang sudah berusia 50
tahun masih tetap sebagai putera mahkota, dan kita tidak tahu kapan
dia akan menjadi raja. Sedangkan ibunya, Ratu Elizabeth, sudah
berumur 70 tahun dan belum ada tanda-tanda turun dari tahta. Kalau,
misalnya, ibunya meninggal pada usia 100 tahun, apakah Pangeran
Charles harus menunggu tiga puluh tahun lagi untuk menjadi raja?
2) Kedua, kalau generasi pertama pensiun atau menghadap Tuhan,
perusahaan diharapkan tetap bagus dan berjalan lancar.
3) Ketiga adalah untuk menjaga harmoni keluarga.
Terdapat banyak struktur kepemilikan yang bisa dianut keluarga. Carlock
dan Ward (2001) dalam Susanto (2005: 205) memiliki reverensi pendistribusian
kepemilikan:
1) Semua ahli waris.
2) Anggota keluarga yang berkerja di perusahaan.
3) Anggota keluarga pada posisi eksekutif senior di perusahaan.
4) Voting untuk anggota keluarga yang berkerja diperusahaan dan nonvoting untuk anggotakeluarga lain.
5) Kelompok ahli waris pilihan, biasanya laki-laki.
6) Ahli waris tertua, biasanya laki-laki.
7) Transisi tiap generasi untuk menyeimbangkan kepemilikan di cabangcabang keluarga yang berbeda.
Apabila benar-benar sudah waktunya bagi anak-anak untuk memegang
peran utama dalam perusahaan, maka orang tua harus mau meninggalkan
perusahaan. Kalau tidak, bisnis akan menjadi stagnan, tidak bisa meledak. Yang
perlu dipikirkan adalah bagaimana caranya agar generasi kedua dan ketiga bisa
meneruskan perusahaan keluarga dan peralihan tongkat estafet berjalan mulus.
Adapun aturan dalam suksesi kepemimpinan menurut Susanto (2005:152):
1) Semua anggota keluarga perlu berkonsentrasi pada waktu, energi dan
pengetahuan untuk memperbaiki kinerja bisnis inti.
2) Apabila terdapat bisnis sampingan, dananya sebaiknya dari milik
pribadi bukan pinjaman atau institusi keuangan lain.
3) Aktivitas-aktivitas selain bisnis inti seharusnya tidak mempengaruhi
efektivitas bisnis.
4) Prioritas harus diberikan pada bisnis inti.
5) Bisnis-bisnis bukan inti yang potensial seharusnya digabung ke dalam
satu kelompok sehingga batasan-batasan yang ada bisa dihilangkan.
6) Peran otoritas dan tanggung jawab setiap orang harus jelas, sesuai
dengan deskripsi perkerjaannya. Namun setiap anggota harus siap jika
diperlukan dalam tugas tertentu meskipun tugas tersebut tidak tertera
dalam deskripsi perkerjaan.
7) Proses pengambilan keputusan harus jelas dan meliputi aspek-aspek
penting, seperti waktu dan tanggung jawab
Minggu, 02 Januari 2022
Perencanaan Suksesi (skripsi dan tesis)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar