Minggu, 31 Maret 2024

Pembelian Kompulsif


Pembelian kompulsif (compulsive buying) menurut Roberts (1998,
dalam Felipe et al., 2023) dapat diartikan sebagai cara pembelian yang tidak
terkendali, serta individu cenderung mengidealkan rasa keberhasilan dan
kesejahteraan melalui pembelian mereka. Konsumen yang kompulsif adalah
pembeli yang membuat ketagihan dan tidak terkendali yang sering
menyebabkan konsekuensi yang merusak bagi pembelanja kompulsif dan
orang-orang di sekitarnya (Schiffman & Wisenblit, 2018). Pembeli
kompulsif membeli barang yang tidak mereka butuhkan dan seringkali
berakhir tidak digunakan. Banyak yang membutuhkan intervensi psikologis
untuk menghilangkan atau bahkan mengendalikan belanja kompulsif yang
parah. Penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan kartu kredit yang
dengan mudah mendorong perilaku pembelian kompulsif, terutama di
kalangan mahasiswa (Schiffman & Wisenblit, 2018).
Hal ini cukup berbeda dengan pembelian impulsif, menurut Rook
(1987, dalam Kshatriya & Shah, 2023) perilaku pembelian impulsif telah
diperkenalkan sebagai sifat kepribadian yang melibatkan keinginan spontan
untuk segera membeli tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Menurut
Hartney (2022) perbedaan penting antara pembelian kompulsif dan
pembelian impulsif adalah motivasi internal atau alasan pembelian.
Pembelian impulsif sebagian besar tidak direncanakan dan terjadi sebagai
respons terhadap pemicu eksternal, seperti melihat produk yang diinginkan
di toko (Hartney, 2022). Pembelian kompulsif cenderung memiliki motivasi
intrinsik yang lebih kuat, tetapi pembelian kompulsif lebih cenderung
memiliki konsekuensi negatif daripada pembelian impulsif. Efek ini dapat
mencakup kesulitan keuangan, perselisihan dengan anggota keluarga dan
masalah pekerjaan (Hartney, 2022).

Tidak ada komentar: