Minggu, 31 Maret 2024

Aspek-aspek Perilaku Pembelian Kompulsif


Menurut Desarbo dan Edward (1996 : 235) aspek yang mempengaruhi seseorang
berperilaku kompulsif terbagi ke dalam 2 aspek, yaitu aspek predispostional dan
aspek circumstansial.

  1. Aspek Predispostional
    Faktor ini merupakan konstruk-konstruk yang mempengaruhi individu
    untuk melakukan perilaku pembelian kompulsif dan mengindikasikan
    kecenderungan secara umum yang mengarah pada perilaku pembelian
    kompulsif. Faktor predispositional terdiri dari :
    a) Kecemasan : Pada tingkat ini individu memiliki tingkat kecemasan
    yang tinggi dari pada non kompulsif. Untuk dapat keluar dari
    kecemasan ini si individu akan termotivasi untuk melakukan perilaku
    kompulsif. Pembeli kompulsif menggunakan aktivitas berbelanja
    sebagai cara untuk menghilangkan kecemasannya, dan pola ini
    dilakukan secara terus-menerus yang dalam artiannya adalah apabila
    tiap kali si individu mengalami kecemasan yang berlebihan, ia
    cenderung mengobati kecemasannya dengan berbelanja.
    b) Perfeksionis : Perfeksionis dicirikan dengan harapan yang terlalu
    berlebihan untuk mendapatkan suatu pencapaian yang lebih besar.
    Orang-orang yang perfeksionis melakukan pembelian kompulsif untuk
    mendapatkan kompetensi, kontrol dan harga diri meskipun hanya
    sementara.
    c) Harga Diri : Harga diri ini didefinisikan sebagai suatu penilaian
    terhadap diri sendiri bahwa dirinya begitu berharga. Seseorang yang
    berperilaku kompulsif cenderung memiliki harga diri yang rendah,
    karena dengan melakukan pembelian kompulsif akan memunculkan
    perasaan memiliki kekuasaan melalui aktivitas berbelanja.
    d) Fantasi : Pada tingkat ini si individu memiliki khayalan yang terlalu
    tinggi dan kebebasan akibat dari suatu perilaku yang dilakukannya.
    Pembelian kompulsif merupakan pelarian dari rasa cemas dan perasaan
    negatif seseorang yang berarti dengan melakukan pembelian kompulsif
    maka seakan-akan masalah yang dihadapi menjadi hilang. Disitulah
    letak fantasi nya.
    e) Impulsif : Pembelian impulsif terjadi karena adanya ketidakmampuan
    seseorang untuk menolak melakukan pembelian, rendahnya kontrol
    tersebut sangat erat kaitannya dengan pembelian kompulsif, dan
    perilaku impulsif umumnya terjadi karena adanya stimulus eksternal.
    Pembelian kompulsif dideskripsikan sebagai sebuah impulse control
    disorder dalam kajian ilmu psikologi. Oleh karena itu, perilaku
    kompulsif dapat dikatakan sebagai perilaku yang tidak dapat
    dikendalikan karena begitu kuatnya dorongan untuk berperilaku.
    f) Pencari Kesenangan : Para pembeli kompulsif cenderung melakukan
    aktivitas belanja sebagai kegiatan untuk mencari kesenangan semata
    yang berada di antara kontrol dan rendahnya kontrol.
    g) General Kompulsif : Dalam hal ini orang-orang yang cenderung
    memiliki perilaku kompuslif dapat diketahui dari ciri-ciri: suka
    menunda pekerjaan, sering mengalami kebimbangan, pola makan tidak
    teratur, kecanduan obat dan alkohol, dll.
    h) Ketergantungan : Orang-orang yang mudah bergantung pada orang
    lain memiliki kecenderungan untuk berperilaku kompulsif.
    i) Approval Seeking : Pembeli kompulsif memiliki kebutuhan untuk
    mendapat pujian dari orang lain dalam rangka untuk membuat diri
    mereka menjadi bahagia walaupun itu hanya untuk sementara waktu,
    seperti mendapatkan pujian dari si penjual di dalam toko akan
    mengakibatkan mereka melakukan pembelian kompulsif.
    j) Locus of Control : Orang yang memiliki hidup yang dikendalikan oleh
    faktor dari luar memiliki kecenderungan berperilaku kompulsif.
    k) Depresi : Orang yang memiliki tingkat depresi yang tinggi akan
    cederung melakukan pembelian kompulsif karena tujuannya untuk
    keluar dari perasaan depresi yang tidak menyenangkan tersebut.
  2. Faktor Circumstantial
    Faktor ini merupakan faktor yang dihasilkan dari kondisi individu pada
    saat ini dan juga mungkin menjadi pemicu munculnya perilaku-perilaku
    pembelian kompulsif selanjutnya (Desarbo dan Edwards, 1996 : 238),
    antara lain seperti :
    a) Menghindari Masalah
    Menghindari masalah adalah sebuah kecenderungan umum
    menggunakan cara-cara tertentu untuk menghindari diri dari sebuah
    permasalahan, dan para pelaku pembelian kompulsif memiliki
    kecenderungan untuk menghindari masalah.
    b) Penyangkalan
    Penyangkalan merupakan penyangkalan terhadap permasalahan yang
    dihadapi. Pembeli kompulsif memiliki kecenderungan untuk
    menyangkal keberadaan dari permasalahan yang dihadapinya. Bagi
    mereka, denial adalah cara untuk menghindari rasa cemas, rasa marah,
    rasa takut atau emosi negatif lainnya yang biasanya tidak ada
    hubungannya dengan pengalaman berbelanja.
    c) Pengasingan
    Terdapat dugaan bahwa pembelian kompulsif merupakan sebuah
    gambaran dari perilaku individu yang terisolasi dari lingkungan
    sosialnya. Isolasi tersebut mendorong individu untuk memiliki perilaku
    berlebihan yang tidak diterima secara sosial sehingga menyebabkan
    mereka mengisolasi dirinya sendiri. Kebutuhan untuk berkomunikasi
    dengan orang lain mungkin mendorong para pembeli kompulsif untuk
    berbelanja pada sebuah toko karena di sana lah merasa merasa
    mendapatkan perhatian dari tenaga penjual toko.
    d) Materialistis
    Faber dan O’Guinn menggunakan materialism scale yang
    dikemukakan oleh Belk’s untuk menilai nilai materialisme dalam
    sampel pembeli kompulsif mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa
    pembeli kompulsif lebih materialistik dibandingkan dengan populasi
    umum lainnya. Tetapi meskipun demikian, kepemilikan terhadap suatu
    barang tidak menjadi perhatian utama bagi mereka. Pembeli
    Kompulsif lebih fokus pada proses berbelanja daripada barang-barang
    yang mereka beli.

Tidak ada komentar: