Scarborough et al (1999) dalam Armstrong
(2008:149) mengartikan manajemen pengetahuan
sebagai setiap proses atau praktek membuat,
memperoleh, menangkap, berbagi, dan
menggunakan pengetahuan untuk meningkatkan
pembelajaran dan kinerja organisasi. Menurut
Tiwana (2001) dalam Tobing (2007:23)
manajemen pengetahuan adalah pengelolaan
knowledge perusahaan dalam menciptakan nilai
bisnis dan menghasilkan keunggulan kompetitif
yang berkesinambungan dengan mengoptimlkan
proses penciptaan, pengkomunikasian, dan
pengaplikasian semua konwledge yang dibutuhkan
dalam rangka pencapaian tujuan bisnis. American
Productivity and Quality Centre (APQC) dalam
Tobing (2007:23) mengartikan manajemen
pengetahuan sebagai pendekatan-pedekatan
sistemik yang membantu muncul dan mengalirnya
informasi dan knowledge kepada orang yang tepat
pada saat yang tepat untuk menciptakan nilai.
Sedangkan Award dan Ghazari (2004)
mendefinisikan manajemen pengetahuan sebagai
proses memperoleh dan mendayagunakan
sekumpulan keahlian perusahaan dimana pun
dalam bisnis, makalah, dokumen , database
(explicit knowledge) atau dalam pikiran seseorang
(tacit knowledge).
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut,
dapat disimpulkan bahwa manajemen pengetahuan
adalah serangkaian proses penciptaan,
pengkomunikasian, dan penerapan knowledge
perusahaan untuk menciptakan nilai bisnis serta
meningkatkan pembelajaran dan kinerja karyawan
maupun organisasi.
Sanchez (2004) dalam Endriana (2014:62)
menjelaskan dua pendekatan fundamental
mengenai knowledge, yaitu tacit knowledge yang
pada dasarnya bersifat pribadi sehingga sulit untuk
diekstraksi dari kepala individu (personal
knowledge) dan explicit knowledge yang
mengasumsikan bahwa pengetahuan yang
bermanfaat bagi individu dalam organisasi dapat
diartikulasikan dan dibuat explicit. Explicit
knowledge dalam penelitian ini adalah job
procedure dan technology
Tidak ada komentar:
Posting Komentar