Manajemen kinerja dikenal sebagai “Achilles’
Heel” yang memiliki arti sebuah sistem kuat
namun ia merupakan kelemahan di manajemen
human capital, dan sebagai salah satu sistem
sumber daya manusia yang paling sulit untuk
diimplementasikan kepada perusahaan. Namun,
manajemen kinerja merupakan kunci bagaimana
pekerjaan karyawan dapat menyelesaikan tugasnya
dengan baik. Hal ini menunjukan bagaimana
perusahaan mengkomunikasikan ekspetasi dan
menjalankan tingkah laku karyawan untuk
mencapai tujuan yang penting (Pulakos, 2009:3).
Menurut Bernardin dan Russel dalam Kaswan
(2006) yang dikutip dari Febriani (2012:20)
mengatakan bahwa terdapat beberapa dimensi
dalam kinerja, diantaranya adalah kualitas,
kuantitas dan dampak interpersonal. Kualitas yang
merupakan kedekatan hasil pengukuran dengan
nilai sesungguhnya, sedangkan kuantitas
merupakan banyaknya jumlah yang terbentuk dari
sesuatu hal, dan yang terakhir adalah dampak
interpersonal yang merupakan kesempatan untuk
seseorang dalam mengembangkan perasaan saling
menghargai dan kerjasama kepada orang lain.
Selain itu juga kinerja karyawan dapat dilihat
perkembangannya melalui financial performance
(Coleman, 2005 dalam Bhatnagar 2007:6).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar