Mengutip dalam Lina dan Lena (2018: 26) “Teknologi dapat didefinisikan
sebagai kemampuan untuk mengenali masalah-masalah teknis dan
mengeksploitasi konsep-konsep yang dapat menyelesaikan masalah teknis yang
ada”, serta di sisi lain teknologi merupakan peralatan atau perangkat, seperti
equipment, software, dan hardware yang digunakan untuk menyelesaikan masalah
operasional secara efektif dalam suatu organisasi (Autioe dan Lemanen, 1995).
Kemudian, menurut Scroeder and Sohal dalam Lina dan Lena (2018: 26),
menyatakan bahwa teknologi pada industri manufaktur mencakup Hard
Technology dan Soft Technology. Hard Technology seperti mencakup Advanced
Manufacturing Technology dan Computer Based Technology telah semakin
banyak diadopsi oleh industri manufaktur saat ini.
Disamping Hard Technology, Soft Technology juga memegang peranan
penting dalam proses operasional organisasi dan memperbaiki kinerja. Soft
technology lebih digunakan daripada hard technology dalam kultur industri
Jepang, ataupun di negara-negara berkembang. Menurut Harison dan Samson
dalam Lina dan Lena (2018: 27) soft technology merupakan sistem yang
mengendalikan proses-proses teknis dan proses sumber daya manusia dalam
organisasi, seperti TQM, JIT, TPM, MRP2, dan Benchmarking.
TQM dalam Lina dan Lena (2018: 27) merupakan optimasi kerja pada
semua bagian dan fungsi operasi, prosedur, sistem, pengendalian, struktur, dan
kultur organisasi (Warnock, 1996). Beberapa hasil studi empiris menunjukkan,
bahwa penerapan TQM memberikan hasil positif dalam meningkatkan
produktivitas, profitabilitas, ataupun kinerja keseluruhan (Sohal dan Terziovky,
2000).
JIT dalam Lina dan Lena (2018: 27) merupakan seperangkat metode atau
teknik yang diaplikasikan pada sistem pembelian, fungsi fabrikasi, dan fungsi
penghantaran. Filosofi JIT, yaitu mengeleminasi semua aktivitas yang tidak
penting dan tidak memberikan nilai tambah dimana pun aktivitas itu berada
(Yasin dan Wafa, 1997). Hasil penelitian yang ada menunjukkan, bahwa JIT
mampu mengurangi leadtime, menurunkan waktu proses, memperbaiki kualitas
produk, meningkatkan produktivitas, meningkatkan komunikasi internal dan
eksternal, dan menumbuhkan keterlibatan manajerial (Arogyaswami dan Simmon,
1991).
TPM dalam Lina dan Lena (2018: 27) merupakan pendekatan inovatif
untuk perawatan peralatan (hardware atau software) dan mesin pabrik.
Implemetasi TPM memberikan kontribusi dalam mengurangi work in progress,
meningkatkan kualitas produk, mengurangi waktu siklus produksi (Paterson et al.,
1996).
MRP2 dalam Lina dan Lena (2018: 27) merupakan sistem berbasis
komputer yang terintegrasi untuk mengendalikan dan menjalankan fungsi seperti
pemrosesan pesanan penjualan, perencanaan kapasitas produksi, pemrosesan
pesanan pembelian bahan, dan peramalan penjualan (Warnock, 1996). Organisasi
yang berhasil menerapkan MRP2 dapat meningkatkan posisi kompetitifnya
dengan peningkatan kinerja finansial, perbaikan tingkat pelayanan kepada
pelanggan, meningkatkan efisiensi mesin, mengurangi biaya manufaktur, dan
meningkatkan kordinasi semua bidang fungsional (Humpreys, et al., 2001).
Benchmarking dalam Lina dan Lena (2018: 27) merupakan suatu metode
praktis yang digunakan untuk memperbaiki kinerja dengan memahami dan
mempelajari metode dan praktik yang diterapkan oleh bidang lain atau oleh
perusahaan lain yang diacu sebagai patok duga, yaitu best performer ( Hinton et
al., 2000). Dan digunakan sebagai suatu strategi untuk melakukan perubahan
terhadap proses manajemen (Freytag dan Hollensen, 2001).
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, teknologi mencakup soft
technology dan hard technology. Yang termasuk soft technology yaitu meliputi
desain produk, hubungan interaktif antara desain dan rekayasa produksi,
manajemen dan pemasaran, yang lebih penting dibanding komponen teknis
produksi. Sedangkan hard technology meliputi garis utama produksi barang, dan
sumber daya beserta teknologi yang dihubungkan dengan rekayasa. Dalam (Lina
dan Lena, 2009: 92), Wallender mendefinisikan teknologi industri atau aktivitas
bisnis sebagai suatu proses (rekayasa), manajemen, pemasaran, dan pengetahuan
produksi.
Dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan tipe teknologi operasional,
dalam Lina dan Lena (2018: 226) untuk menghadapi kompetisi, perusahaan
manufaktur dituntut untuk mengambil dua tindakan penting, yaitu: pertama,
mengadopsi satu atau lebih hard technology seperti CAD (Computer Aided
Design) yang merupakan sistem elektronik untuk mendesain produk baru atau
mengubah produk yang telah ada, CAM (Computer Aided Manufacturing), yaitu
sistem komputerisasi untuk mengontrol langsung mesin dan peralatan dalam
proses pemanufakturan. CIM (Computer Integrated Manufacturing), yaitu
merupakan filosofi organisasi dan manajemen yang terintegrasi dengan bantuan
sistem komputer. Mencakup integrasi desain produk, perencanaan proses, dan
pemanufakturan dalam sistem komputer. Robotics, yaitu penggunaan flexible
machine dengan kemampuan menangani dan memindahkan untuk menggantikan
kerja manusia. Dan yang kedua, memilih satu atau lebih soft technology
diantaranya JIT (Just In Time), TQM (Total Quality Management), MRP
(Material Requiremment Planning), dan TPM (Total Productive Maintenance).
Minggu, 23 Juli 2023
Tipe – Tipe Teknologi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar