Keputusan pembelian dapat berupa membeli atau tidak membeli. Menurut Tatik
Suryani (2013 : 13) “keputusan pembelian barang/jasa seringkali melibatkan dua
pihak atau lebih.”
Dilihat dari proses pengambilan keputusan, proses keputusan pembelian
sangat bervariasi. Ada yang sederhana dan ada pula yang kompleks. Assael
(dalam Tatik Suryani, 2013: 13) membagi dalam dua dimensi yaitu pertama,
tingkat pengambilan keputusan dan kedua, derajat keterlibatan saat membeli.
Berdasarkan kedua dimensi tersebut terdapat empat tipe perilaku konsumen :
1. Proses pengambilan keputusan kompleks. Pada proses ini tingkat
keterlibatan konsumen tinggi dan proses keputusannya diawali dengan
keyakinan, serta evaluasi terhadap merek maupun produk sebelum
melakukan tindakan.
2. Proses pengambilan keputusan kesetiaan pada merek. Pada proses ini
konsumen cenderung tidak lagi memerlukan proses yang rumit pada
pembelian berikutnya atau pembelian selanjutnya karena konsumen sudah
merasa puas pada pemebelian pertama dan telah mengetahui secara
mendalam mengenai merek. Proses ini disebut dengan kesetiaan merek
(brand loyalty).
3. Proses pengambilan keputusan terbatas. Pada proses ini keterlibatan
konsumen pada saat melakukan pembelian suatu merek kecil sekali, tetapi
masih memerlukan pengambilan keputusan karena kayakinan konsumen
yang belum sepenuhnya percaya atas merek tersebut. Sehingga setelah
menggukannnya, konsumen masih melakukan evaluasi untuk melakukan
pengambilan keputusan berikutnya.
4. Pengambilan keputusan inertia. Dalam hal ini konsumen dapat dengan
mudah berpindah dari merek yang satu ke merek yang lain karena
disebabkan oleh beberapa faktor, seperti faktor situasional, iklan, maupun
bentuk komunikasi pemasaran lain yang dapat mempengaruhi
pengambilan keputusan konsumen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar