Minggu, 20 Agustus 2023

Perceived Trust


Kepercayaan hanya akan muncul pada situasi yang punya peluang berisiko
dan tidak akan muncul pada situasi yang sudah pasti dan tanpa risiko.
Kepercayaan konsumen pada e-retailer secara psikologi dikatakan oleh Chen
(2007:61) timbul jika adanya niat konsumen untuk menerima kritikan berdasarkan
ekspektasi positif dari perlakuan e-retailer. Tingkat kepercayaan konsumen
mempengaruhi seberapa besar risiko yang mau diambil oleh konsumen dari
hubungannya dengan e-retailer. Kepercayaan sendiri menjadi pro dan kontra
dalam bisnis e-retail. Menurut Beldad et al., (2010) dalam Suryandari dan
Paswan, (2013) menyebutkan bahwa kepercayaan merupakan sikap dari percaya
diri yang tidak akan dieksploitasi. Jika konsumen tidak cukup merasa aman,
mereka akan memutuskan interaksi dengan e-retailer walaupun hanya sekedar 
mencari informasi. (Beldad et al., 2010; Chau et al., 2007). Menurut Suryandari
dan Paswan (2013), walaupun perkembangan cyber security yang sudah ada
membantu untuk meyakinkan kepercayaan konsumen terhadap online retailers,
bagaimanapun juga beberapa konsumen mungkin masih merasa tidak nyaman
untuk menyediakan informasi pribadi kepada e-retailers. Kepercayaan konsumen
pada e-retailer umumnya terkonsentrasi pada proses transaksi yang akan
dilakukan. E-retailer harus bisa meyakinkan konsumen untuk melakukan
transaksi yang aman dan terpercaya. Ini dikarenakan karakteristik transaksi dari e-
commerce, yaitu tidak nyata, tanpa batas, dapat terjadi setiap waktu, dan tidak
secara instan. Kurangnya kepercayaan dikatakan oleh Corbitt dan Thanasankit,
(2003) dalam Zendehdel et al., (2011) menjadi hambatan utama dalam hal
transaksi online dan vendor online pada saat belanja online. Menurut beberapa
penjelasan tersebut persepsi kepercayaan dapat disimpulkan merupakan hasil dari
pertimbangan konsumen akan faktor-faktor resiko yang akan diambilnya untuk
bebrbelanja online

Tidak ada komentar: